Menikah adalah peristiwa bersatunya dua jiwa, dua hati, dua pikiran dan dua fisik dalam satu ikatan. Kendatipun ada banyak perbedaan karakter, sifat dan kecenderungan antara laki-laki dan perempuan, mereka harus berusaha untuk menemukan rumus kimia (chemestry) penyatuan jiwa yang membuat suami dan istri berada dalam suasana ‘sejiwa’. Suasana sejiwa inilah yang membuat kehidupan rumah tangga menjadi nyaman, tenang, tentram, damai dan bahagia. Demikian kata Pak Cah (Cahyadi Takariawan) membuka pembahasan tentang kesejiwaan.

Awal dari segala masalah dari setiap rumah tangga berawal dari tidak adanya kesatuan jiwa ini, begitu juga dengan solusi terbaik atas permasalahan tersebut juga dengan menemukan kesejiwaan antara suami istri. Kesatuan jiwa inilah yang membuat gerak laju dalam rumah tangga selaras dan serasi. Beriringan maju bersama, berbahagia bersama dan juga mau menanggung kesulitan bersama. Ketika kesejiwaan ini tidak ada dalam rumah tangga,  maka sulit menemukan kekompakan antara suami dan istri. Tidak ada keakraban. Suami merasa dialah yang paling berjasa karena sudah capek bekerja dari pagi sampai malam, istri juga merasa dialah yang paling hebat karena merasa tugasnya di rumah juga jauh lebih berat dibanding suaminya. Saling menuntut, tidak mau memahami, saling menyalahkan dan merasa dirinyalah yang paling benar.

Ini masalah, dan setiap masalah tentu harus segara ditemukan solusinya. Tetapi sayangnya banyak pasangan yang tidak sadar kalau hubungan rumah tangganya bermasalah, dan merasa tidak membutuhkan solusi. Banyak yang tidak tau kalau antara dirinya dan pasangan belum memiliki kesatuan jiwa, tidak ada chemestry, mereka menjalani hari-hari kehidupan pernikahan bagaikan robot yang menjalankan rutinitas hariannya. Tidak ada rasa disana, tidak ada tenggang dan usaha untuk saling mengerti.

Nah, berikut kami coba munculkan 10 tanda tidak adanya kesatuan jiwa pada pasangan suami istri. 10 Tanda berikut kami sarikan dari buku wonderful love karya pak cahyadi takariawan. Yang mana beliau pun mendapatkan kesepuluh tanda ini dari berbagai persoalan banyak pasangan yang melakukan konsultasi pada beliau.

1. Merasakan suasana tidak nyaman bersama pasangan

Bertemu dengan pasangan adalah saat yang paling membosankan atau mungkin juga ditakutkan. Ketika berpisah dengan pasangan adalah sebuah kemerdekaan dan kelegaan. Inilah tanda dari tidak adanya kesatuan jiwa antara suami dan istri. Dan, boleh dibilang juga jika anda merasakan ini tidak ada cinta antara anda dan pasangan.

Sebab, salah satu tanda cinta adalah adanya rasa saling merindu, untuk selalu bertemu. Perasaan tidak nyaman pada pasangan menyebabkan antara pasangan suami istri sedikit ngobrol, kalaupun mau ngobrol hanya yang penting-penting saja. Bagi yang wanita tidak may curhat dan berbicara terbuka dengan suaminya. Begitu juga suami memilih diam dari pada berbicara pada istrinya. Rumah tangga meraka dijalani hanya sebagai rutinitas saja, dan pernikahan hanya sebagai status.

Bahayanya, permasalahan ini jika tidak segera ditemukan solusinya tentu akan membuat salah satu atau keduanya akan mencari kenyaman di tempat lain, mencari kenyaman dengan orang lain. Bermula perselingkuhan dari hal ini.

2. Lebih bahagia saat sendiri

Merasa lebih senang, lebih bahagia dan lebih lega ketika sendiri. Inilah tanda tidak adanya kesejiwaan antara pasangan suami istri. Suami mungkin merasa istrinya terlalu cerewet, banyak menuntut, tidak hormat padanya dan juga tidak mau menghargainya sehingga bertemu dengan istri adalah satu hal yang menyebalkan baginya. Begitu juga dengan istri, mungkin merasa kalau bertemu suami dia akan kena marah, selalu disalahkan atau mungkin juga dipukuli. Sehingga saat sendiri adalah pilihan terbaik bagi mereka.

Idealnya tentu pasangan suami istri merasa rindu saat berpisah dan merasakan cinta yang meluap-luap saat bersama. Ada semacam energi yang muncul dari hati mereka dan energi berusaha untuk menarik dan mempertemukan mereka satu sama lain. Inilah mawaddah, kecintaan yang bergairah dan menggebu-gebu.

3. Munculnya perasaan hambar

Awalnya mungkin ada perasaan cinta antara suami dan istri. Ada rasa istimewa yang selalu berkecamuk di dada saat bertemu maupun berpisah dengan pasangannya. Ada rasa sayang pada pasangannya. Namun karena berjalannya waktu, bertambahnya kesibukan, menumpuknya masalah membuat rasa cinta yang dulu ada semakin waktu semakin memudar, terasa hambar dan akhirnya hilang.

Jika rasa cinta pada pasangan bisa menjadi hilang atau memudar oleh waktu, maka boleh jadi itu sebagai pertanda belum adanya kesejiwaan antara anda dan pasangan. Karena dua manusia yang sudah menyatu jiwanya dan terdapat chemistru di antara mereka, cinta mereka tidak akan pudar dan hambar digerus waktu.

4. Mudah muncul emosi

Sumbu pendek ! Begitu istilah populer saat ini untuk menyebut orang yang mudah tersulut emosinya. Pasangan yang tidak ada kesejiwaan dalam dirinya bagaikan sumbu pendek ini, terbakar sedikit lansung meledak. Tersinggung sedikit lansung marah. Suami tidak bisa sabar dan menahan diri saat istrinya melakukan kesalahan atau kata-kata istri yang menyinggung perasaannya. Begitu juga istri ketika satu saja keinginan tidak diturutkan oleh suaminya lansung ngambek, marah dan ngomel.

5. Mudah tersulut konflik

Pernah melihat ada kehidupan rumah tangga yang dari pagi sampai pagi lagi selalu berantam ? Rumah tangga yang hari-harinya dipenuhi oleh konflik. Padahal kalau ditanya permasalahan yang menjadi awal konflik tersebut juga sangat sederhana. Namun, karena tidak ada kesejiwaan antara suami dan istri permasalahan yang tampak sederhana itu menjadi rumit. Bukan karena masalahnya, tetapi karena tidak ada rasa cinta yang hadir antara suami dan istri.

“Cinta itu menyederhanakan yang rumit, sementara kebencian membuat yang sederhana ini menjadi rumit”

Terkadang memang rumah tangga butuh konflik, ibaratnya masakan konflik itu bagaikan garamnya. Tapi kalau kebanyakan tentu tidak baik.

6. Sering salah paham

Suami istri yang tidak memiliki kesejiwaan akan sulit nyambung ketika berbicara. Selalu salah paham dari maksud pembicaraan pasangannya. Sehingga tak jarang dari obrolan – obrolan sederhana pun berujung konflik. Ketika suami berbicara dan belum selesai tapi lansung dipotong oleh istrinya sehingga suami merasa tidak nyaman. Begitu juga ketika istri berbicara suami memotong dan meluruskan lansung. Saat suami berbicara istri sulit menangkap apa makna yang disampaikan oleh pasangannya, begitu juga ketika istri berbicara suami sulit untuk mengerti.

7. Tidak ada yang mau mengalah

Suami dengan egonya sendiri, istri pun dengan egonya. Tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau bersabar. Istri merasa dirinya  paling benar, merasa paling pantas untuk didengarkan, merasa paling pantas untuk dimengerti. Suami pun merasa dirinya paling berjasa, merasa paling pantas diakui, merasa paling hebat dan seterusnya.

Ketika suami dan istri tidak ada yang mau mengalah, masing-masing dengan egonya sendiri maka akan cukup sulit untuk menyelesaikan konflik yang terjadi. Malah bisa memperparah konflik yang terjadi sampai-sampai akhirnya menyalahkan orangtua, dan keluarga lainnya. Jika ketika sedang bermasalah dengan pasangan tidak ada yang mengalah diantara anda, maka itu adalah salah satu tanda kalau anda belum sejiwa dengan pasangan. Sebab, hubungan yang sudah sejiwa itu akan membentuk harmonisasi. Ia akan bergerak searah dan serasi seperti kayuhan sepeda, ketika yang kanan turun yang kiri naik, begitu juga disaat yang kiri naik yang kanan mau turun. Atau yang terjadi pada tangan ketika kita melangkah, ketika yang kanan ke depan yang kiri dengan sukarale ke belakang dan sebaliknya. Kalau seandainya kayuhan sepeda tidak ada yang mau mengalah tentu sepedanya tidak jalan, kalau dalam berjalan tangannya tidak ada yang mau mundur tentu manusia berjalan dengan cara yang sangat lucu atau bahkan seperti vampir hehe.

8. Tidak bisa lagi menikmati aktivitas fisik bersama pasangan

Tidak bisa lagi menikmati aktivitas fisik bersama pasangan. Saat berduaan diranjang tidak lagi terasa istimewa, peluk dan cium dari pasangan tak lagi terasa berharga, malas melakukan aktivitas berdua seperti jalan-jalan, pergi makan berdua dan sebagainya. Bahkan merasakan aktivitas-aktivitas tersebut sebagai beban. Padahal jika dilihat dari sisi stamina mereka masih muda, tubuh pun masih sehat. Jika anda mengalama masalah serupa boleh jadi itu sebagai pertanda belum adanya kesejiwaan dan perlu segera untuk disembuhkan.

9. Menganggap diri yang selalu mengalah

Suatu ketika sujiwotejo mengatakan kalau anda merasa berkorban dalam mencintai maka saat itulah cinta anda mulai memudar. Cinta memang butuh pengorbanan, tetapi sang pecinta sejati tidak akan merasakan kalau yang dilakukannya adalah sebuah pengorbanan. Saat pasangan suami istri menganggap dirinya yang paling banyak memberi, paling sering mengalah dan merasa paling berkorban maka saat itulah cinta di antara keduanya mulai memudar. Ketika itulah titik kesejiwaan mulai menjauh.

Ketika masing – masing merasa dirinya yang paling banyak berkorban dan di saat yang sama menuduh pasangannya tidak pernah berkorban. Maka ketika itulah cinta dalam rumah tanggamu mulai memudar

10. Lebih percaya pada orang lain

Tanda tidak adanya kesejiwaan antara suami istri adalah tidak adanya kepercayaan antara keduanya. Selalu menganggap kalau pasangannya berbohong padanya. Selalu merasa dibohongi oleh pasangan. Akhirnya mereka lebih memilih percaya pada informasi dari orang lain dari pada pasangannya sendiri. Ketika ada rasa tidak percaya pada pasangan akan memunculkan rasa saling curiga terhadap pasangan sendiri. Merasa seakan-akan pasangan berbuat kesalahan. Apa yang dilakukan suami, tampak sebagai kesalahan di mata istri. Sebaliknya, apa pun yang dilakukan istri, tampak sebagai kesalahan di mata suami.

Saat istri menelpon suami dan ternyata telponnya sibuk, muncul rasa curiga kalau suami telponan dengan wanita lain. Begitu juga suami ketika mengirim pesan kepada istri lama dibalas dianggap tidak peduli atau tidak mau mendengarkannya. Saling percaya adalah pondasi dalam membangun bangunan cinta yang kokoh dalam rumah tangga, saat tidak ada saling percaya ketika itu jugalah rasa cinta itu sirna. Saat itu jugalah tidak ada lagi kesejiwaan antara suami dan istri.

Itulah 10 tanda tidak adanya kesejiwaan antara suami dan istri. Ada yang mungkin sudah memiliki tandanya 1, 2, 3 atau bahkan semuanya. Rumah tangga sebagaimana sebuah bangunan, seburuk apapun ia, serusak apapun ia selama masih ada kemauan InsyaAllah bisa diperbaiki, bisa direnovasi dan disulap menjadi bangunan yang kokoh kembali.

So, meskipun saat ini anda merasa rumah tangga anda memiliki banyak persoalan, anda merasa tidak ada kesejiwaan dengan pasangan jangan pernah menyerah dan merasa kalah. Selama ada kesempatan selama itu jugalah anda bisa berbenah untuk menjadi lebih baik.

Artikel Menarik Lainnya




comments