“Bagaimana aku bisa mencintainya ?”…

“Bagaimana pernikahan akan bahagia tanpa cinta?”…

“Aku belum mencintainya….”

“Sulit bagiku untuk mencintainya…”

Dilema terberat saat akan mengambil jalan menikah tanpa pacaran adalah kekhawatiran saat pernikahan tersebut tak didasari cinta. Terlebih lagi bagi pasangan yang memulai proses dengan tidak saling kenal kecuali hanya beberapa waktu saat ta’aruf. Ketakutan akan tidak bahagia, ketakutan saat pernikahan mengecewakan dan ketakutan akan rumah tangga yang hancur berantakan hanya gara-gara tidak saling mengenal atau mencintai.

Berikut adalah 6 kiat bagaimana menumbuhkan cinta bagi sahabat yang memilih menikah tanpa pacaran.

1. Memulai dengan dasar yang sama yaitu cinta pada Allah SWT.

Kita pertama adalah masing-masing pasangan memastikan terlebih dahulu kalau dasar dari mereka menikah adalah cinta pada Allah SWT, niatnya untuk menikah untuk menggapai ridho Allah SWT serta memastikan gerak setiap alur kehidupan rumah tangga mengacu pada nilai-nilai yang sudah Allah dan rasulnya tentukan.

Lurusnya niat ini sangat penting dalam sebuah pernikahan, karena ini adalah modal awal untuk membangun pondasi cinta. Saat menjadikan Allah sebagai alasan utama sebuah pernikahan maka (InsyaAllah) Allah akan tumbuhkan rasa cinta di hati-hati mereka, rasa yang hadir sebab keinginan serta harapan agar setiap kebersamaan dalam rumah tangga semakin mendekatkannya pada Allah SWT.

2. Belajar menerima, belajar memberi

Dua ilmu penting dalam sebuah pernikahan adalah ilmu menerima. Dengan ilmu ini harapannya masing-masing pasangan bisa saling menerima kekurangan maupun kelebihan pasangannya. Pada tingkatan yang lebih tinggi lagi, masing-masing pasangan semestinya juga saling memahami dan mengerti, menghindari sikap menuntut kesempurnaan, membandingkan dengan orang lain dan menyalahkan.

Ilmu yang kedua adalah memberi, energi cinta itu ada pada memberi. Cinta seorang ibu begitu tumbuh menggelora disebabkan karena cinta tersebut dipupuk terus oleh sikap memberi seorang ibu yang begitu tulus ikhlas kepada anaknya. Pun, begitu di dalam rumah tangga sikap inipun perlu utntuk menumbuhkan cinta pada pasangan kita, tidak hanya menumbuhkan namun juga merawat agar cinta tersebut semakin kokoh dan mengakar.

3. Meningkatkan kesabaran

Pasangan kita baik itu istri maupun suami kita adalah manusia. Dia bukan malaikat yang luput dari salah dan khilaf, bersabar atas kesalahan, kekeliruan dan kekurangan pasangan adalah cara termanis untuk membuat cinta selalu bersemi dan bertumbuh.

Tersenyum saat ada rasa kesal di hati, mengalah saat akan marah, memaafkan saat tak merasa salah serta diam saat ada waktu dan alasan untuk meluapkan kemaharan memang berat. Namun dengan kesabaran InsyaAllah semua hal-hal buruk diatas akan mengubah menjadi energi kebaikan yaitu cinta.

4. Meluangkan waktu berkualitas untuk saling berkenalan.

Rumah tangga yang gersang tanpa adanya kasih sayang, tak ada rasa merindukan dan juga rasa ingin selalu bersama banyak disebabkan oleh pasangan-pasangan yang terlalu sibuk sehingga tak memiliki waktu untuk berdua saling belajar bersama, saling mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan. Aktivitas berharga seperti ini InsyaAllah akan menumbuhkan dan mengokohkan cinta dalam rumah tangga.

5. Selalu menyadari semua yang bermula dari ketaatan akan berbuah kebaikan

Kekhawatiran muncul karena ketidakyakinan seseorang pada sesuatu, dalam pernikahan tanpa pacaranpun seperti itu. Saat selama ini keyakinan yang terbentuk adalah menikah dengan pacaran adalah sebuah “kewajiban” agar pernikahannya bahagia dan tidak salah pilih pasangan tentu menerima hal baru seperti menikah tanpa pacaran akan menjadi sulit kecuali saat menyadari kalau segala sesuatu yang berdasarkan pada ketaatan pada Allah SWT akan berbuah kebaikan.

6. Meyakini pasangan kita adalah pilihan terbaik dari Allah SWT

Siapapun orang yang menjadi pasangan kita apakah suami atau istri kita maka itu adalah pilihan dari Allah SWT entah itu melalui pacaran atau tanpa pacaran. Tapi yang membedakannya adalah cara pertemuannya, yang satu melalui jalan maksiat dan yang satu melalui jalan ketataan pada Allah SWT.

Pasangan kita adalah cerminan diri kita, terutama adalah akhlak, kepribadian dan ketaatannya pada Allah SWT, orang yang memiliki kualitas ketaatan yang baik tentu akan Allah pilihkan juga pasangan hidup yang sesuai dengan kapasitas ketaatannya. Saat meyakini hal ini tentu bagaimana mempersiapkan diri menjadi lebih baik jauh lebih penting dari bagaimana cara menemukan pasangan.

Sumber foto : www.vemale.com

 

Artikel Menarik Lainnya




comments