Setiap orang tua bahkan calon orang tua tentu menginginkan anak yang shaleh dan shaleha, anak yang taat pada Allah, anak yang patuh pada ibu dan bapaknya, anak yang hormat pada guru-gurunya, anak yang menyayangi teman sebayanya, anak yang bagus akhlaknya, anak yang indah tutur katanya dan menyenangkan setiap tingkah prilakunya. Namun pada perjalanannya ada saja orang tua yang mengeluhkan anaknya entah karena anaknya suka usil disekolah, berantem dengan teman-temannya, menganggu ketenangan tetangga sebelah rumahnya, malas ibadah dan selalu membantah jika dinasihatkan oleh orang tua. Dan, pada akhirnya umpatan seperti “dasar anak nakal!” , “bandel sekali kamu ini” , “ibu malu punya anak sepertimu”, atau lebih parah lagi tak jarang juga yang melayangkan jeweran hingga pukulan pada anak-anaknya, tentu hal seperti sangat tidak kita inginkan bukan ?

Pada dasarnya semua anak kita memiliki fitur ketaatan dalam dirinya sebagaimana Allah firmankan dalam surah Adz Dzariyat ayat ke 56 yang berbunyi :

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku “

Kalau saja tujuan penciptaan utama kita sebagai manusia adalah untuk beribadah pada Allah tentu Allah juga ciptakan fitur ketaatan itu satu paket dalam diri manusia, artinya dalam diri setiap manusia ada fitur ketaatan termasuk juga anak-anak kita. Dalam bahasa lain hal ini disebut juga sebagai nurani, bagian dalam diri kita yang tau dan paham sekali mana yang benar dan mana yang tidak bahkan hingga seseorang yang sangat ingkar atau jahat sekali tetap ada bagian ini dalam dirinya. Yang mana jika bagian ini tersentuh akan bisa mengubah diri seseorang bagai bumi dan langit, dari sinilah kita sering mendengar ada kisah preman tobat serta orang-orang yang berhijrah ke jalan kebaikan. Karena bagian baik dalam diri orang tersebut sudah tersentuh.

Anak – anak kitapun begitu, ia terlahir kedunia ini dalam keadaan bersih suci bagaikan selembar kertas putih tanpa noda kita sebagai orang tuanyalah pelukis pertama yang menorehkan tinta-tinta pada lembaran kertas putih tersebut, apakah yang kita torehkan selama ini tinta kebaikan atau keburukan hal itulah yang membentuk kepribadiannya. Dan, jika memang anak-anak kita berprilaku buruk hari ini maka disana ada kontribusi kita sebagai orang tuanya yang menjadikan dia seperti itu, menyesali atau menyalahkan diri sendiri yang belum sempurna mendidik anak tentu bukanlah sesuatu yang bijak . Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah evaluasi diri mengambil hikmahnya serta kembali berusaha mengaktifkan “fitur” ketaatan dalam diri anak kita yang mungkin selama ini tertutup oleh debu-debu keburukan. Sehingga dengan aktifnya “fitur” kebaikan dan ketaatan dalam dirinya ini prilaku buruknya bisa teratasi.

Berikut adalah 6 tips yang bisa kita lakukan sebagai orang tua.

1. Dengarkan suara hati anak kita

Terkadang yang menjadi permasalah kenapa anak kita nakal dan berprilaku buruk karena jarangnya kita sebagai orang tua memberinya ruang untuk berbicara menyampaikan pendapat, mengekspresikan dirinya atau kurang perhatian dari orang tuanya sehingga hal ini menyebabkan anak suka cari mencari perhatian di luar rumah apakah itu dengan cara berantam dengan temannya, berlaku usil serta hal-hal negative lainnya.

Perlu bagi orang tua untuk meluangkan waktu dan mendengarkan apa yang diinginkan oleh anak-anaknya, ajak anak untuk diskusi dan saling bertukar pendapat serta hindari kebiasaan memerintah-memerintah anak sesuai dengan ego pribadi orang tuanya misalkan dengan cara “Ibu kamu ingin seperti ini”, “kamu harus melakukan hal ini” , “kamu jangan begini” dan kalimat sejenis lainnya.

Dengarkan suara hati anak kita dengan penuh kasih sayang kalau perlu peluk dia sembari mendengar kisah dan keluh kesahnya. Anak yang dekat hatinya dengan hati orang tuanya, InsyaAllah akan sangat mudah dinasihati dan diingatkan untuk menjadi anak yang baik.

2. Perhatikan pergaulan anak kita dan pastikan dia bergaul dengan anak-anak yang baik 

Setuju atau tidak pergaulan sangat mempengaruhi perilaku anak-anak kita, anak-anak akan cenderung mencontoh dan meneladani teman-teman sepergaulannya. Jika dia bergaul dengan teman yang baik InsyaAllah dia akan menjadi baik begitu juga sebaliknya, maka tugas utama kita sebagai orang tualah untuk selalu memperhatikan dengan siapa saja anak kita berteman dan selalu ingatkan agar anak-anak kita selalu bergaul dengan anak yang baik-baik.

3. Beri anak ruang untuk berekspresi dan berikan apresiasi atas setiap pencapaiannya

Sejatinya anak-anak kita sejak lahir memiliki bakat bawaan entah itu dalam membaca, menghitung, bernyanyi, olahraga dan hal-hal lainnya. Tugas orang tualah untuk menemukan lalu mengasahnya hingga bakatnya tersebut bisa menjadi sebuah prestasi. Ketika anak-anak telah menemukan bakatnya, hal yang dia sukai dan diapun mendapat apresiasi serta pujian untuk hal tersebut, tentu akan mengurangi aktivitas dirinya untuk melakukan perilaku buruk.

4. Hindari menghukum, membentak dan memaki-maki anak jika ia melakukan perilaku buruk. 

Memarahi anak secara berlebihan adalah hal yang sangat membahayakan kepribadian anak serta bisa merusak mental dan kejiwaan anak. Anak yang dibesarkan dalam tekanan ketakutan akibat marah berlebihan oleh orang tuanya akan mengakibatkan dirinya memiliki tingkat kecemasan yang tinggi, temperamen, susah diatur dan sulit dalam mengambil keputusan setelah dia remaja dan dewasa nanti.

5. Ajak anak untuk berdiskusi dan menyadari kesalahannya

Jika anak melakukan kesalahan maka ajaklah dia berdiskusi secara baik-baik, tanyakan padanya apa yang menyebabkan dia melakukan hal tersebut, tanyakan padanya apa resiko dan konsekuensi dia melakukan hal tersebut. Munculkan kesadaran dalam diri anak dengan diskusi bukan dengan kemarahan serta larangan-larangan yang mengekang.

6. Terapkan metode BMM-K ala bu Elly risman

Salah satu metode terbaik menurut kami untuk mengatasi prilaku buruk dan menyimpang pada diri seorang anak adalah metode BMM-K, metode ini digagas oleh ibu Elly risman salah seorang praktisi parenting kondang di negeri ini. BMM-K adalah singkatan dari “Berfikir, Memilih, Mengambil keputusan dan menerima konsekuensinya”. Dalam metode ini kita membangun kesadaran dalam diri anak kalau setiap pilihan yang diambil oleh seorang anak untuk dilakukannya mengandung konsekuensi yang harus dia terima dan tanggung sendiri. Maka dengan paham hal ini anak akan selalu berfikir sebelum memilih dan mengambil keputusan, anak akan terbiasa menimbang baik buruk dari akibat suatu perbuatannya jika dia lakukan. Sehingga pada akhirnya anak akan selalu berhati-hati dalam setiap tindakan dan prilakunya.

Itulah 6 tipsnya semoga bermanfaat untuk ayah bunda semua serta juga para calon ayah-bunda. Anak adalah amanah besar yang Allah karuniakan pada kita,jadi sudah semestinya kita menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya.

Sumber foto : google.com

 

 

 

Artikel Menarik Lainnya




comments