Ta’aruf adalah salah satu metode untuk penjajakan serta mengenali calon pasangan lebih mendalam sebelum melangkah pada jenjang pernikahan. Dan, ta’aruf bukanlah satu-satunya metode untuk memulai pernikahan yang islami, sebab jika kita tinjau sejarah pernikahan para nabi, para sahabat dan ulama ada banyak metode yang mereka lakukan untuk memulai pernikahan seperti dijodohkan, dipertemukan oleh sahabatnya dan lain sebagainya. Bahkan ada yang mengiyakan untuk menikahi tanpa melihat terlebih dahulu wajah calonnya.

Melalui proses ta’aruf kita bisa mengenal calon pasangan mulai dari latar belakang keluarga, tentang pribadi, tentang visi dan misi pernikahan dan berbagai hal lainnya yang dirasa perlu. Makin kesini proses menikah dengan di awali ta’aruf sudah begitu populer seiring dengan semakin banyaknya orang yang meninggalkan aktivitas pacaran, bahkan akhir-akhir ini metode ta’aruf sudah dilakukan oleh beberapa artis dan tokoh publik. Namun sayangnya ada beberapa yang keliru dalam memahami ta’aruf seperti menganggap kalau ta’aruf adalah pacaran islami atau mengganggap ta’aruf adalah jalan pasti untuk menuju pernikahan.

Agar kita bisa memahami lagi ta’aruf sebagaimana yang semestinya dan tidak keliru lagi dalam setiap prakteknya, pada kesempatan kali ini kita akan bahas 8 hal penting yang mesti diketahui dalam ta’aruf.

1. Kesiapan menikah

Hal pertama yang mesti diketahui adalah proses ta’aruf hanya untuk mereka yang siap menikah baik itu laki-laki maupun wanita, bahkan siap untuk menikah di hari berlansungnya proses ta’aruf tersebut. Banyak kekeliruan terjadi adalah melakukan proses ta’aruf akan tetapi belum siap menikah, ta’arufnya hari ini rencana menikahnya 3 atau 6 tahun yang akan datang. Kalau yang seperti itu tentu tak ada bedanya dengan pacaran kecuali hanya nama saja.

Siap menikah disini maksudnya siap semuanya mulai dari kesiapan fisik, mental, keuangan serta restu dari kedua orang tua serta keluarga yang lainnya. Jangan sampai sudah melakukan proses ta’aruf namun ketika ta’arufnya selesai malah orang tua belum mengizinkan untuk menikah.

2. Bersihkan hati luruskan niat

Yang kedua adalah tentang niat, memang niat ini hal yang sangat penting dalam setiap amalan ibadah yang kita lakukan termasuk juga pernikahan. Membersihkan hati dari perkara-perkara yang akan menodai pahala kebaikan dari ibadah pernikahan. Luruskan niat menikah hanya untuk ibadah, menggapai ridho Allah SWT.Bersihkan hati dari noda-noda keinginan untuk menikah karena harta, nafsu, kecantikan atau ketampanan dan hal duniawi lainnya.

Parameter dari bersihnya hati dan lurusnya niat adalah menerima dengan ikhlas apapun ketentuan Allah SWT atas proses ta’aruf yang sedang dijalani. Baik itu proses ta’arufnya berlanjut pada pernikahan maupun tidak ada kecocokan sehingga batal menikah. Tidak ada kecewa, tidak ada putus asa dan menyalahkan siapapun terhadap hasil ta’aruf serta selalu meyakini apapun ketentuan dari Allah adalah yang terbaik.

3. Lebih dianjurkan melalui perantara

Sebenarnya tak ada salahnya jika dilakukan lansung berdua, namun untuk menjaga hati agar terhindar dari hal-hal yang bisa melalaikan dan juga agar bisa menilai secara objektif calon pasangan akan lebih baiknya melalui perantara. Pilih perantara orang, sahabat atau teman yang dipercaya lebih bagus lagi jika perantaranya sudah menikah.

4. Komitmen untuk saling menjaga rahasia

Dalam proses ta’aruf akan ada aktivitas saling bertukar biodata diri, melakukan pertemuan dan saling mempersantasikan diri. Tentu dalam prosesnya masing-masing calon akan tau kelebihan calon pasangan, kekurangan yang dimiliki, kondisi keluarga bahkan kalau ada penyakit yang sedang diderita. Komitmen untuk saling menjaga rahasia calon pasangan sangat dibutuhkan disini, apalagi jika ta’arufnya gagal menikah.

5. Waktu yang tidak terlalu lama

Menyegerakan menikah adalah hal utama setelah ta’aruf jika memang ditemukan kecocokan antara kedua pasangan. Sebagai batasan waktu kami menyarankan paling lama 6 bulan hingga 1 tahun. Jika memang mengharuskan sampai waktu tersebut pastikan alasannya benar-benar syar’i, seperti jarak yang terlalu jauh atau mungkin dalam masa kontrak kerja. Tapi rentang waktu lebih idealnya adalah 1 hingga 3 bulan setelah proses ta’aruf.

6. Menjaga hati dengan membatasi komunikasi

Setelah selesai ta’aruf dan kedua belah pihak sama-sama sepakat untuk melanjutkan kejenjang pernikahan, maka ada hal penting yang sering diabaikan disaat-saat seperti ini, contohnya adalah komunikasi dan interaksi antara kedua belah pihak. Meskipun sudah sama-sama sepakat untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan bukan berarti sudah bebas melakukan interaksi, masing-masing pihak tetap bukan mahram dan tentu masih berlaku semua ketentuan-ketentuan yang mengatur hubungan antara yang bukan mahram.

7. Ta’aruf bukan berarti pasti menikah

Nah, hal yang perlu juga diketahui adalah ta’aruf hanya sebuah ikhtiar untuk memulai pernikahan yang Allah ridhoi. Bukan berarti ta’aruf itu pasti menikah, karena bisa jadi ta’aruf tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan saat tidak bertemu kecocokan antara masing-masing pihak.

8. Perbanyak do’a mohon petunjuk pada Allah SWT

Selama masa ta’aruf disarankan untuk melakukan shalat istikharah, minta petunjuk kepada Allah SWT agar diberikan jodoh terbaik, agar Allah beri ketenangan hati dan juga kemantapan hati.

Sebab pernikahan adalah ibadah untuk menggapai ridho Allah, mari lewati setiap proses menuju pernikahan dengan penuh ketaatan pada Allah SWT agar prosesnya pun bernilai ibadah, dan pernikahan kitapun berbuah barakah.

 

 

Artikel Menarik Lainnya




comments