Pernikahan, sebuah momen spesial dalam kehidupan seseorang atau bahkan sejatinya momen ini juga spesial untuk seluruh alam. Betapa tidak, pernikahan adalah sebuah perjanjian yang Al-quran menyebutnya sebagai Mitsaaqan Ghaliizaa , kata ini hanya muncul 3 tiga kali dari 30 juz di dalam Al-quran.

Pernikahan juga serah terima, bagaimana seorang ayah dan ibu yang telah merawat gadisnya semenjak dari kandungan, saat lahir, masa kanak-kanak, remaja hingga beranjak dewasa dan akhirnya ia serahkan kepada laki-laki lain. Termasuk kewajiban dan berbagai hak-haknya. Dan, di saat lain seorang laki-laki menerima tanggung jawab tersebut, mengambil hak untuk memikul berbagai beban kehidupan lahir batin serta juga tanggung jawab dunia dan akhirat atas anak gadis tersebut. Disinilah orang tua “deg-degan” khawatir laki-laki dihadapannya itu tak mampu menyayangi anak gadisnya sebagaimana ia menyayanginya, ia khawatir laki-laki itu tak mampu memberikan kebahagiaan kepada anak gadisnya sebagaimana yang telah ia berikan selama ini.

Pernikahan bukanlah kerja individu atau aktivitas keluarga saja. Tapi ia adalah sebuah kerja peradaban. Apapun aktivitas yang dilakukan oleh sepasang suami istri yang telah menikah tak hanya berdampak pada dirinya dan pasangannya saja tapi memiliki andil besar terhadap banyak orang. Karena buah dari pernikahan akan menyatukan dua keluarga, dimana akan ada persinggungan anak dengan mertua, kakak dengan adik ipar, besan, tetangga dan yang lebih besar lagi adalah anak-anaknya dan cucunya yang terlahir dari pernikahan tersebut.

“Jika seorang hamba menikah, maka telah menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah pada sebagian yang lainnya.” (HR. Al Hakim dan Ath Thabrani dari Anas bin Malik )

Rasulullah SAW menyampaikan kalau pernikahan menyempurnakan setengah agama seseorang dan sebagiannya adalah bertakwa pada Allah SWT. Sebagai pertanda pernikahan bukanlah sesuatu yang main-main, tidak layaklah dimulai dengan cara yang main-main apalagi menjadikannya sebagai permainan. Butuh kesadaran, kesiapan mental, kesiapan fikiran dan amal untuk memulainya. Saat kita menyadari betul hal ini maka pernikahan bukanlah lagi semata untuk mengejar kesenangan dan kenikmatan di dunia  namun juga tentang akhirat nanti, tentang syurga dan neraka.

Mungkin saat ini banyak diantara kita yang berpikir kalau menikah untuk bahagia, menikah adalah sebuah kesempatan untuk bisa hidup bersama dengan orang yang dicinta, menikah adalah perayaan dari suksesnya sebuah hubungan bernama pacaran atau mungkin pernikahan adalah sesuatu yang begitu indah saat ada yang mendampingi dan melayani.

Namun sayangnya ekspetasi yang berlebihan seperti ini menimbulkan kekecewaan dihati. Kecewa saat pacarannya gagal sampai pernikahan, kecewa ternyata menikah dengan orang yang bukan dia cinta, kecewa saat menyadari ternyata pasangannya tak sebaik dan se-romantis kala masih berpacaran, kecewa saat tak menemukan kebahagiaan dalam pernikahannya serta kekecewaan-kecewaa lainnya.

Cinta kita semai agar ia selalu bersemi hingga syurga-Nya

Pernikahan adalah sebuah ibadah yang Allah dan Rasulnya perintahkan. Jadi sudah semestinya visi dan misi pernikahan kita adalah untuk meraih ridho-Nya Allah SWT. Sebagai bentuk penghambaan seorang hamba yang beribadah kepada Rabbnya dan pernikahan adalah bagian dari itu. Saat hal ini telah menjadi konsep dalam diri kita maka tentu memulai pernikahan dengan cara yang Allah ridhoi adalah hal utama bagi kita, membangun rumah tangga dengan cara-cara yang Allah dan Rasulnya tuntunkan adalah sebuah landasan pernikahan kita dan saat ada konflik maka Al-quran dan sunnahlah sebagai tuntunan utamanya.

Saat ridho Allah menjadi cita utama, maka InsyaAllah kebahagiaan akan diraih, rasa cinta akan selalu bersemi dan bertumbuh tak hanya di dunia saja namun juga hingga ke syurga-Nya kelak.

Sumber foto : ilmuislami.com

Artikel Menarik Lainnya




comments