Mengerti dan memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh sang anak jauh lebih penting dibanding “memaksakan” keinginan orang tua pada anak. Kami yakin setiap orang tua tentu mencintai dan menyayangi anaknya, namun yang berbeda-beda adalah ekspresi menunjukkan rasa cintanya terhadap si anak. Kami yakin setiap orang tua tentu inginkan yang terbaik untuk anaknya namun terkadang sering keliru ketika cara menunjukkan kebaikan tersebut tidak tepat pada anaknya.

Orang tua melihat kebutuhan anak adalah biaya sekolah, biaya hidup, pakaian terbaik, tempat pendidikan terbaik, perlengkapan main terbaik. Orang tua merasa jika sudah memberikan fasilitas terbaik untuk anak-anaknya maka lepas sudah tanggung jawabnya, orang tua merasa jika sudah memberikan yang terbaik untuk anaknya maka itulah bukti dari cinta dan sayangnya. Tidak ada yang salah dengan hal ini. Akan tetapi sangat keliru jika para orang tua merasa cukup dengan hanya memberikan ini itu, memenuhi kebutuhan ini itu.

Jika kita lihat banyak anak-anak yang “kesepian” pada akhirnya mencari tempat pelarian dengan teman nongkrong, menjadi gameholic, dugem ke klub malam, pacaran, merokok, minum-minuman serta berbagai aktivitas negative lainnya. Kebanyakan dari mereka tidaklah dari keluarga yang tidak mampu atau kesulitan secara ekonomi. Justru mereka adalah orang-orang yang memiliki kelebihan secara ekonomi. Mereka menjadi “nakal” bukan karena kurang fasilitas karena kurangnya “cinta-kasih” dirumahnya, dia merasakan “kebersamaan” dengan keluarganya. Yang disaksikannya adalah kesibukan-kesibukan dari orang tuanya, pergi pagi dan pulang malam, sementara diwaktu libur adalah waktu istirahat orang tuanya.

Setiap anak merindukan “cinta-kasih” dari orang tuanya, cinta kasih yang diharapkan tidak hanya berupa materi saja. Namun ada yang jauh lebih berharga dari itu semua ialah “kebersamaan” dengan orang tuanya. Merasakan lansung sentuhan cinta dan kasih orang tuanya melalui perhatian tulus ikhlas dari orang tua, bercengkrama dan bercanda dengan orang tua serta keteladanan-keteladanan tentang hidup dari orang tuanya.

“Kegagalan orang tua adalah ketika mereka dapat melebihi kehebatan orang tuanya, tetapi jiwa mereka gersang dan hati mereka rapuh, sementara iman hampir-hampir tidak dapat ditemukan bekasnya” (Ustadz Moh. Fauzil Adhim)

Menjadi orang tua meski memiliki multiperan terhadap anak-anaknya, berperan sebagai orang yang bertanggung jawab atas nafkah anak-anaknya karena ini tentu ia mesti giat bekerja mencari nafkah yang halal lagi tayyib untuk anaknya, selain itu ia juga berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya mengajarkan ilmu tauhid, mengajarkan tentang keesaan Allah SWT, mengajarkan tentang beribadah kepada Allah SWT, mengajarkan tentang kisah dan sejarah para nabi dan rasul, mendidik tentang akhlak kepada anak-anaknya. Setiap orang tua juga menjadi sahabat dan teman bagi anak-anaknya membangun keakraban dengan anak semenjak dini. Selalu setia mendengarkan keluh kesah sang anak, jadi teman serta sahabat terbaik anak. Sehingga anak merasakan kasih dan cinta yang sebenarnya dari orang tua, dengan begitu tentu ia tidak akan mencarinya lagi diluar.

 

Artikel Menarik Lainnya




comments