Di tulisan sebelumnya, Cara Mengajarkan Pendidikan Seksualitas pada Anak (1),  kita telah mempelajari 5 cara mengajarkan pendidikan seksualitas pada anak. Berikut ini adalah lanjutannya.

6. Kenalkan Konsep Mahrom dan Adab Pergaulan

Setelah mengenalkan pentingnya menutup aurat, kita perlu mengajarkan konsep mahram pada anak. Mahram adalah orang-orang yang haram kita nikahi, atau secara sederhana dapat kita jelaskan pada anak bahwa mahram adalah orang yang tidak boleh melihat dan menyentuh aurat kita. Jelaskan pula batasan aurat mana yang boleh dilihat oleh mahram dan non-mahram. Untuk hal ini kita dapat menyimak madzhab Hambali mengenai batasan aurat anak kecil, dan rinciannya sebagaimana dipaparkan dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah (yang dikutip dalam muslimah.or.id), “Tidak ada aurat bagi anak kecil yang belum berusia 7 tahun, maka boleh dilihat dan dipegang seluruh bagian badannya. Dan anak kecil laki-laki usia 7 sampai 10 tahun, auratnya adalah kemaluannya saja. Baik dalam shalat maupun di luar shalat. Adapun anak kecil perempuan usia 7 sampai 10 tahun auratnya dalam shalat adalah antara pusar hingga lutut. Dan dianjurkan baginya untuk menutup seluruh aurat dan memakai jilbab sebagaimana wanita baligh, dalam rangka ihthiyath (berhati-hati). Adapun auratnya (anak kecil wanita 7-10 tahun) di depan lelaki ajnabi (yang bukan mahramnya) adalah seluruh badannya,  kecuali kepala, leher, kedua tangan hingga siku, betis, dan kaki. Dan anak perempuan usia 10 tahun auratnya sama sebagaimana wanita dewasa”

Membiasakan anak menutup aurat di hadapan mahram dan non-mahramnya akan membuat anak mampu menjaga dirinya saat dewasa nanti. Oleh karena itu kita perlu perhatikan benar pengajaran serta memberi contoh pada mereka.

Selain itu kita juga perlu mengajarkan adab dalam pergaulan untuk lebih peduli terhadap aurat diri dan teman-temannya. Kita dapat mengajarkan anak agar tidak bercanda berlebihan, seperti memelorotkan celana teman karena itu  akan menampakkan auratnya.

7. Didik Anak tentang Konsep Menundukkan Pandangan (Ghadhul Bashar)

Menundukkan pandangan bermakna mengendalikan pandangan dari yang haram. Selain menutup aurat, kita juga perlu mengajarkan anak agar memalingkan penglihatan dari hal-hal yang dilarang Allah. Misalnya, ajarkan anak untuk mengucap istighfar dan memalingkan pandangan ketika melihat aurat orang lain. Persering diskusi dan masukkan nilai di saat anak-anak bertanya, karena ini adalah golden moment untuk membangun pemahaman mereka.

8. Kenalkan Konsep Thaharah (Bersuci)

Mengenalkan pada anak bisa kita lakukan sejak ia menjalani toilet training. Kita dapat mengajarkan anak untuk buang air di toilet, beristinja’ (cebok), dan seiring usianya bertumbuh, kita juga bisa mengajarkan mereka tentang najis serta perihal wudhu dan sholat. Sejak usia 3 tahun kita juga dapat memberitahukannya tentang siapa saja yang boleh membantu mandi dan beristinja’, sambil terus melatih kemandiriannya agar dapat melakukan sendiri tanpa dibantu siapapun. Sudah banyak kasus pelecehan seksual saat anak dibantu orang lain ketika buang air. Jadi pastikan anak-anak kita mampu melakukan skill dasar dalam thaharah untuk mencegah hal yang tak diinginkan dari orang lain.

Ajarkan pula agar anak tidak telanjang/menampakkan auratnya begitu keluar dari kamar mandi. Tanamkan rasa malu agar ia mampu menjaga aurat dari pandangan orang lain.

9. Jelaskan Ayat Qur’an dan Hadits yang Berkaitan dengan Penciptaan Makhluk

Terkadang anak bertanya, “Ibu, aku muncul dari mana?” atau “Dari mana adik bayi lahir?”. Menjawab hal ini tidak melulu harus kita kupas secara ilmiah, karena itu tidak selalu diperlukan. Berikanlah jawaban sebagaimana al Qur’an menjawab, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” [An-Nahl:78]

Jangan berikan jawaban yang akan memancing rasa penasaran anak karena tidak semua penjelasan memberikan manfaat yang lebih besar daripada mudharatnya.

***

Demikianlah 9 cara mengajarkan pendidikan seksualitas pada anak. Memahami ilmunya tentu akan membuat kita lebih baik dalam mendidik dan mengurangi resiko kesalahan yang mungkin terjadi. Dengan memperhatikan pengajaran pendidikan seksualitas di usia dini dan kanak-kanak, kita dapat meminimalisasi masalah-masalah yang muncul di usia remaja dan dewasa. Selain itu fungsi ayah dan ibu yang berperan sangat besar dalam peneladanan juga akan berpengaruh terhadap kesuksesan pendidikan seksualitas ini. Maka perhatikanlah baik-baik setiap perkembangan anak dan terapkanlah pengajaran pendidikan seksualitas sesuai dengan Qur’an dan sunnah sebagaimana Rasulullah saw mencontohkan.

Artikel Menarik Lainnya




comments