Menitipkan anak pada pembantu rumah tangga atau pada saat ini lebih familiar dengan sebutan asisten rumah tangga (ART) sudah menjadi  budaya kekinian bagi pasangan suami-istri yang kedua-duanya sama-sama bekerja di luar. Tak jarang anak dititipkan pada ART dari pagi hingga malam tiba, bahkan tak sedikit juga menitipkan anaknya hingga 24 jam bahkan lebih di saat suami-istri pasangan ini lembur kerja. Sehingga kalau dihitung-hitung waktu kebersamaannya akan lebih banyak bersama ART dibanding dengan ayah-ibunya.

Menitipkan anak pada ART memang bukanlah sebuah pilihan ideal yang tentu setiap orang tua menyadari hal ini. Namun, entah karena dalih sayang anak, mencari nafkah untuk masa depannya, mengejar aset-aset masa depan seperti mengejar cicil rumah, cicil mobil dan sejenisnya sehingga membuat suami-istri harus “banting tulang dari pagi sampai malam”, atau juga mungkin ingin mengejar karir dan mewujudkan impiannya, dan yang pasti alasan kuat para orang tua sampai menitipkan anak pada ART bukan karena masalah keterbatasan ekonomi karena pada realitanya rata-rata yang menitipkan anak pada ART adalah para orang tua dengan kelas ekonomi menengah keatas.

Tulisan kali ini bukan berarti hendak menjudge kalau orang tua yang menitipkan anak pada ART tidak sayang atau mengabaikan anaknya, tidak juga mengatakan kalau orang tua yang selalu membersamai anaknya di rumah akan jauh lebih baik. Namun tulisan kali ini hanya mengajak para orang tua untuk menjadi lebih bijak, dan merenung sebelum menitipkan anak pada ART melalui beberapa hal penting berikut :

Allah menitipkan anak sebagai amanah kepada ayah dan ibunya

Allah menguji setiap hamba-hambanya dengan beragam ujian, dan salah satu ujian terberat yang terasa begitu perih dan menyayat hati adalah saat para orang tua Allah uji dengan tidak memberi karunia anak. Kita dapat menyaksikan realita kehidupan para orang tua yang belum Allah amanahkan anak padahal sudah menikah belasan bahkan puluhan tahun. Kita dapat melihat bagaimana mereka melakukan banyak sekali ikhtiar untuk memiliki anak seperti datang ke dokter, datang ke tabib, ruqyah, meminum beragam macam ramuan, melakukan beragam ritual hingga ritual-ritual yang bersifat kesyirikan hanya dengan tujuan mendapat anak. Semua dilakukan karena kerinduan akan buah hati, rindu akan tangisan bayi dan rindu akan gelak canda bayi.

Tak cukup disitu lihat jugalah bagaimana ekspresi mereka para orang tua yang merindukan anak tersebut saat melihat ada anak kecil. Tersirat disana rasa kerinduan yang sangat mendalam, yang mana dengan hal ini tentu kita sepakat semua orang tua menginginkan anak, namun sayangnya tak semua orang tua Allah beri anugerah dan amanah anak. Anak adalah rezeki yang mesti disyukuri dan sekaligus anak juga amanah dari Allah SWT yang harus dijaga. Dan, tentu sudah semestinya setiap orang tua yang Allah beri amanah anak bisa menjaga amanah dari Allah SWT sebaik-baiknya.

Menjaga hatinya agar tertanam tauhid yang benar, terjaga pikirannya, terjaga penglihatan dan pendengarannya serta terjaga juga ikatan kemesraannya dengan sang ibu. Lalu, pertanyaannya apakah dengan menitipkan anak kepada ART adalah cara terbaik menjaga amanah dari Allah SWT ? Tentu hanya kita masing-masing yang mampu menjawabnya.

Saat anak kehilangan kasih sayang berharga di saat-saat yang berharga

Masa-masa anak lahir kedunia, saat-saat dia disapih hingga balita, pertumbuhannya menuju masa remaja adalah saat-saat berharga orang tua bersama sang anak (meminjam istilah ustadz faudhil azim). Yang mana pada masa ini anak sangat membutuhkan kebersamaan dengan orang tuanya terlebih khusus adalah ibunya. Oleh tersebab ini jugalah Allah dan Rasulnya memberi tuntunan kalau wanita yang telah menjadi seorang ibu di rumah membersamai anak-anaknya sebagai sekolah bagi anak-anaknya.

Ketika orang tua menitipkan anak-anaknya di usia ini kepada ART tentu orang tua khususnya ibu akan kehilangan momen berharga ini bersama anaknya. Selain itu bu Elly Risman salah satu pakar parenting di negeri ini juga mengingatkan kepada para ibu untuk menahan dirinya dulu dari  bekerja dan mengejar karir yang membuat ibu terpisah dengan anaknya hingga anak paling kecil berusia minimal 10 tahun. Yang artinya kalau mengacu kepada pendapat bu elly risman masa-masa berharga yang jangan terlewatkan adalah usia anak dibawah 10 tahun.

Lagi-lagi menjadi pilihan bagi setiap orang tua apakah masa-masa berharga bersama anak ini akan dibiarkan hilang begitu saja atau memilih membersamainya ? It’s your choice.

Saat ART mengabaikan pengasuhan terhadap anak

Salah satu pengalaman pahit tentang ART adalah peristiwa 5 tahun silam yang menimpa salah satu kerabat kami, ART yang dititipkan 2 orang anak berusia 1 tahun dan 2 tahun di cubit oleh ART berkali-kali, bahkan tak sering juga dibentak-bentak. Entah berapa kali ia melakukannya, tapi ketika kedapatan di depan mata melakukan tindakan buruk tersebut kerabat kami lansung memutuskan untuk memecatnya.

Selain peristiwa diatas kami juga sering menyaksikan banyak ART mengabaikan pengasuhan terhadap anak seperti membiarkan anak bermain sendiri tanpa kontrol hingga terjatuh, membiarkan menonton televisi seharian penuh tanpa kontrol, bahkan dalam kasus yang lebih parah lagi ada yang sampai menyewakan bayi majikannya sebagai sarana minta sedekah di lampu merah. Ya, tentu tak semua ART seperti ini, dari sekian ART yang mengecewakan dengan abai terhadap pengasuhan anak majikannya masih banyak ART-ART lain yang benar-benar bekerja setulus hati dan benar-benar memberikan pelayanan terbaik dalam pengasuhannya.

Tapi satu hal yang perlu diketahui oleh kita semua, sebaik-baiknya ART dalam mengasuh anak tentu lebih baik anak diasuh lansung oleh orang tuanya, semoga kita semua Allah karuniakan waktu dan kesempatan untuk membersamai putra-putri dengan kualitas dan kuantitas waktu terbaik.

Artikel Menarik Lainnya




comments