Tak ada satu pun ibadah yang Allah perintahkan melalui Rasulullah Saw yang tidak memiliki hikmah kebaikan di dalamnya. Begitu juga dengan khitan untuk laki-laki maupun perempuan. Khitan adalah tradisi Nabi, berawal dari Nabi Ibrahim As, begitu juga untuk kaum wanita juga berawal di masa Nabi Ibrahim As dengan wanita yang pertama kali dikhitan adalah siti Hajar.

Al khitan diambil dari bahasa Arab kha-ta-na, yaitu memotong. Sebagian ahli bahasa mengkhususkan lafadz khitan untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan disebut dengan khifadh. Adapun dalam istilah syariat, dimaksudkan dengan memotong kulit yang menutupi kepala zakar bagi laki-laki, atau memotong daging yang menonjol di atas vagina, disebut juga dengan klitoris bagi wanita

Ibadah karena menjalankan perintah Allah dan Mengikuti Rasulullah

Sebab khitan adalah syariat Allah Swt maka menjalankannya akan bernilai ibadah. Berkhitan juga sebagai wujud ketaatan pada Allah Swt dan kecintaan akan sunnah Rasulullah Saw. Sesungguhnya Allah saat membuat perjanjian dengan Ibrahim untuk menjadikannya sebagai pemimpin (imam), menjanjikannya sebagai bapak beraneka macam ras dan golongan, dan menjadikannya para Nabi dan para raja terlahir dari tulang rusuknya serta diperbanyak keturunannya. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-Baqarah ayat 124 :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “JanjiKu (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim”.

Terkait khitan Rasulullah Saw bersabda,.

“Lima dari fitrah yaitu khitan, istihdad (mencukur bulu kemaluan), mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan mencukur kumis”.
(HR.Muslim)

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, fitrah itu terbagi dua. Fitrah yang berhubungan dengan hati dan dia adalah makrifat kepada Allah Swt, mencintai serta mendahulukan-Nya dari yang lain. Dan yang kedua, fitrah amaliah dan dia hal-hal yang disebut di atas. Yang pertama mensucikan ruh dan membersihkan kalbu, sedangkan yang kedua mensucikan badan, dan keduanya saling membantu serta saling menguatkan. Dan pokok fitrah badan adalah khitan.

Khitan bermula dari ajaran Nabi Ibrahim, sedangkan sebelumnya tidak ada seorangpun yang berkhitan. Setelah Nabi Ibrahim Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tradisi dan sunnah khitan berlanjut bagi semua rasul dan para pengikut mereka, sampai kepada al Masih, bahwa dia juga berkhitan. Orang Nashrani mengakui dan tidak mengingkari khitan tersebut.Sebagai tanda khusus bagi umat muslim

Allah Swt berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 138 :

“Shibgah (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibgahnya daripada Allah ?”

Khitan bagi umat muslim seperti halnya memberi tanda dan pembatisan bagi pemeluk nasrani. Kaum nasrani membaptis anak cucu mereka dengan memberi tanda kepada mereka di tiang yang ditegakkan, seraya berkata, “Sekarang kamu sudah menjadi nasrani.”

Allah menyematkan tanda tersebut sebagai ciri khas bagi orang yang disematkan tanda oleh-Nya. Karena itu, orang-orang memberi tanda binatang-binatang ternak mereka dengan berbagai macam tanda yang menjadi ciri khasnya. Terkadang tanda tersebut menjadi ciri khas yang turun temurun dari generasi ke generasi. Allah menjadikan khitan sebagai tanda khusus bagi orang-orang yang melaksanakannya (kaum muslimin), bagi agama dan ajarannya. Kepada khitanlah, orang tersebut dinisbatkan dengan nisbat penghambaan dan kehanifannya. Sehingga, jika seseorang tidak diketahui apa agamanya, maka dapat diketahui dengan khitan yang melekat sebagai tanda khusus baginya. Pada masa dahulu, orang-orang mengaku dirinya sebagai umat khitan.

Sebab itu, dalam hadits dikabarkan bahwa heraclius berkata, “sesungguhnya saya menemukan kerajaan khitan telah muncul.” Kemudian para ajudannya berkata, “Janganlah perkara ini membuatmu gelisah. Hanya orang-orang yahudi yang berkhitan, maka bunuh saja mereka.” Ketika mereka (Heraclius dan para ajudannya) dalam kondisi seperti itu, maka datanglah surat dari Rasulullah Saw (yang berisi ajakan untuk masuk Islam). Heraclius pun memerintahkan para ajudannya untuk mencari tahu dan melihat apakah dia (Rasulullah Saw) dikhitan. Ketika ajudannya tersebut mengabarkan bahwa orang-orang Arab itu dikhitan, Heraclius berkata, “Ini adalah penguasa umat sekarang.”
(HR.Bukhari)

Khitan memiliki banyak unsur keindahan

Khitan termasuk shibghah (celupan) karena mengandung unsur bersuci (thaharah), kebersihan (nadzafah), menghias diri, memperindah ciptaan, meminimalisir gejolak syahwat yang jika berlebihan akan menyerupai binatang.

Khitan menetralkan nafsu syahwat

Ibnu Qayyim Al jauziyah dalam bukunya Kado menyambut si buah hati menerangkan bahwa khitan itu mengendalikan syahwat. Laki-laki dan perempuan yang belum dikhitan mereka tidak merasakan kepuasaan saat bersetebuh (tidak terkendali nafsu syahwatnya). Sehingga mereka dijuluki sebagai Ibnu Al-Qulafa (anak dari kuluf) sebagai isyarat dari kekanak-kanakan.

Dengan berkhitan (terutama seorang wanita) dapat menetralkan nafsu syahwat. Jika dibiarkan tidak berkhitan, maka akan serupa dengan prilaku binatang. Dan jika dipotong habis, maka membuat dia akan sama dengan benda mati, tidak mempunyai rasa. Oleh karenanya, kita mendapatkan, orang yang tidak berkhitan, baik dia laki-laki maupun perempuan, tidak puas dengan jima` (hiperseks). Dan sebaliknya, kesalahan ketika mengkhitan bagi wanita, dapat membuatnya menjadi dingin (tidak memiliki nafsu syahwat) terhadap laki-laki.

Harb telah menyebutkan dalam Masa’ilnya, bahwa Maimunah, Isrtri Rasulullah, berkata kepada wanita yang mengkhitan, “Ketika kamu sedang mengkhitan, maka muliakanlah dan jangan menghabiskan semuanya. Karena hal itu lebih menyegarkan wajah dan baginya lebih terhormat di sisi suaminya.”

Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits dari Ummu Athiyyah, bahwa Rasulullah Saw memberi pengarahan kepada seorang perempuan yang sedang mengkhitan melalui sabdanya,

“Apabila kamu mengkhitan (anak perempuan), janganlah kamu habiskan (klitorisnya), karena (dengan tidak menghabiskan semuanya) itu, perempuan tersebut lebih beruntung dan lebih disukai oleh suaminya.”

Manfaat khitan dari sisi kesehatan bagi laki-laki dan wanita

Ditilik dari sisi kesehatan pun berkhitan memberikan banyak dampak kebaikan bagi laki-laki maupun wanita. Bagi laki-laki manfaat khitan dari sisi kesehatan diantaranya adalah berkurangnya resiko tertular penyakit menular seksual, mencegah terjadinya penyakit pada penis seperti fimosis, memudahkan untuk membersihkan penis, penis lebih terjaga, berkurangnya resiko kanker penis.

Sementara bagi wanita khitan memiliki manfaat untuk menjauhkan dari berbagai jenis penyakit kelamin, membuat wajah lebih ceria dan bahagia dan menstabilkan ransangan syahwat

Sumber referensi :

  1. almanhaj.or.id
  2. Buku Kado menyambut buah hati

Artikel Menarik Lainnya




comments