Pacaran sebagai “Life Style”

Setuju atau tidak, bagi sebagian anak muda pacaran sudah menjadi “Life style” atau gaya hidup. Tidak lagi hanya sebagai sebuah usaha untuk menemukan jodoh, ini terbukti ketika kita lihat banyak anak-anak diusia yang sangat beliau sudah melakukan aktivitas pacaran. Mulai dari sekolah menengah pertama, bahkan tak jarang juga sudah berpacaran sejak masih memakai celana atau rok merah (baca : sekolah dasar ).

Bagi remaja masa kini mungkin berpacaran adalah suatu hal yang lumrah, hal yang biasa saja bahkan suatu hal yang wajib. Karena tanpa aktivitas pacaran masa muda seolah-olah menjadi hambar, bahkan ada juga yang merasa bahwa “jomblo” itu adalah suatu aib yang memalukan, kalau nggak pacaran dianggap nggak laku, dianggap kuper dan berbagai ejekan-ejekan lainnya.

Dicintai dan mencintai adalah fitrah kehidupan manusia, karena memang Allah memberikan rasa tersebut kepada kita sebagai sebuah anugrah.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar. Ruum (30):21]

Allah menciptakan kita berpasang-pasangan, ada laki-laki dan perempuan dan Allah juga sertakan rasa ketertarikan diantara keduanya untuk sebuah maksud mulia yaitu melanjutkan keturunan. Namun sayangnya terkadang kita “khilaf” (termasuk kami juga dahulu) dalam memaknai hal ini, karena memang pendidikan tentang cinta tidak pernah diberikan di sekolah atau lembaga pendidikan maka kita memahami bahwa mengekspresikan cinta itu melalui aktivitas pacaran.

Pacaran maksiat ?

Mungkin banyak juga yang bertanya-tanya mempertanyakan kenapa pacaran itu dilarang?, bagaimana kalau pacaran nggak ngapa-ngapain?, bagaimana kalau pacaran hanya untuk saling mengenal ?, bagaimana kalau pacaran hanya untuk saling memotivasi belajar ?  serta berbagai dalih argumen lainnya yang mengatakan kalau pacaran tidak selalu identik dengan maksiat. Sebelum lanjut mari kita tengok firman Allah SWT dalam surah Al-israa’ ayat : 32 berikut :

“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)

Di ayat diatas Allah perintahkan kepada kita “Janganlah kalian mendekati zina” , lihat Allah menggunakan kata “mendekati” bukan melakukan, padahal kan bisa saja perintahnya “Janganlah kalian melakukan zina” . Karena larangannya adalah mendekati, berarti kita harus menjauhi segala hal yang akan mendekatkan kita kepada perzinaan termasuk pacaran. Mungkin awalnya ketika mau pacaran tidak ada niatan sama sekali untuk bermaksiat zina, tapi ketika diperjalannya syetan tentu tidak akan tinggal diam untuk menjerumuskan kita dalam maksiat perzinaan.

Allah tentu mengerti betul bagaimana tabiat manusia yang mudah goyah dan cenderung kepada kenikmatan-kenikmatan semu. Makanya Allah mengingatkan kita dengan kata “mendekati”. 

Maka, setelah ini bagi yang masih sendiri sudah semestinya menjaga diri, menjauhi diri dari maksiat perzinaan dan tentu juga dari hal-hal yang akan mendekatkan diri kepada zina besar. Jika belum siap dan mampu menikah maka isilah waktunya dengan hal-hal produktif seperti beribadah pada Allah, belajar memperbaiki diri serta aktivitas kebaikan lainnya.

Sumber foto : www.andriuye.com

Artikel Menarik Lainnya




comments