Syarat utama bagi seorang laki-laki agar bisa menikahi wanita adalah menyiapkan maharnya, dan mahar adalah haknya seorang wanita. Setiap wanita berhak meminta mahar apapun kepada calon suaminya, jika sang calon suami tak mampu memenuhinya maka hilanglah kesempatan laki-laki tersebut untuk bisa mempersunting si wanita untuk menjadi istrinya.

Menjadi parameter kesiapan menikah bagi seorang laki-laki yang akan menikah adalah kesiapan memenuhi mahar yang diminta oleh wanita calon istrinya. Betapapun besarnya cinta, berapapun banyaknya harta tak akan mampu menguasai seorang wanita jika seorang laki-laki tak mampu memenuhi mahar yang diminta oleh calon istrinya. Sebagaimana kisah seorang wanita mulia Ruimasha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid yang lebih akrab dipanggil dengan ‘Ummu Sulaim, beliau adalah ibunda seorang sahabat terbaik Rasulullah SAW yang meriwayatkan banyak hadits Anas Bin Malik.

‘Ummu Sulaim terkenal dengan kebaikan hatinya, kemuliaannya dalam menjaga kehormatan serta keteguhannya dalam mendidik dan membesarkan anaknya Anas bin Malik sepeninggal Malik . Hingga suatu ketika pesona kebaikan ‘Ummu Sulaim membuat tertarik hati seorang laki-laki hartawan Abu Thalhah namanya. Abu Thalhahpun datang menemui ‘Ummu Sulaim menyampaikan maksud hatinya untuk memperistri ‘Ummu Sulaim, tak lupa juga dengan harta berlimpah yang dia miliki untuk menakhlukkan hati ibundanya Anas bin Malik ini.

Menanggapi kedatangan Abu Thalhah dengan mahar termahal dan terbaik yang dimilikinya Ummu Sulaim berkata ” Sungguh tak pantas bagiku menikah dengan seorang musyrik. Apakah engkau tahu wahai Abu Thalhah, sesungguhnya tuhan-tuhanmu dibuat oleh seorang budak dari keluarga si fulan. Tahukah engkau bahwa tubuh tuhan-tuhanmu itu akan terbakar bila kalian membakarnya dengan api”.

Mendapati jawaban sedemikian rupa terkejutlah Abu Thalhah, tak disangka olehnya kalau mahar terbaik yang dibawanya akan ditolak mentah oleh wanita yang sangat dicintainya. Tak menyerah dengan penolakan pertama akhirnya Abu Thalhah mencoba datang kembali dengan mahar yang lebih banyak, lebih mewah, lebih istimewa serta janji-janji yang lebih menggiurkan agar mampu meluluhkan hati ‘Ummu Sulaim dan menerima lamarannya.

Dan, ternyata cinta Abu Thalhah masih bertepuk sebelah tangan lamarannya ditolak lagi untuk yang kedua kalinya sembari berkata, “Sebenarnya laki-laki sepertimu tidak patut ditolak, wahai Abu Thalhah. Akan tetapi engkau adalah laki-laki kafir dan aku wanita muslimah. Tidak layak bagiku menikah denganmu.” 

Abu Thalhah bertanya, “Lantas apa keinginanmu?”

‘Ummu Sulaim balik bertanya, “Apa keinginanku ?”

Abu Thalhah bertanya, “Yang kuning (emas) atau yang putih (perak) ? “

‘Ummu Sulaim berkata lagi “Aku tidak menginginkan emas atau perak, yang kuinginkan adalah keislamanmu” 

Abu Thalhah bertanya, “Pada siapa aku mendapatkan itu.”

‘Ummu Sulaim menjawab, “Engkau bisa mendapatkannya dari Rasulullah SAW.” Maka segeralah Abu Thalhah menemui Rasulullah untuk berislam. Setelah berislam barulah dia bisa menikahi ‘Ummu Sulaim, Islam adalah mahar pernikahannya. ‘Ummu Sulaim mengajarkan pada banyak wanita hingga akhir zaman agar tak mudah silau oleh indahnya rupa dan banyaknya harta dan tak mudah terpedaya oleh bujuk rayu dan kuatnya cinta. Kemuliaan agama haruslah tetap menjadi hal utama dan pertama.

Ummu Sulaim memberi teladan pada banyak wanita agar menjadikan pernikahan hanyalah jalan untuk menjadi semakin taat pada Allah SWT, pernikahan adalah jalan untuk semakin dekat dengan Allah SWT maka salah satu syarat utamanyapun adalah memilih calon suami yang akan semakin mendekatkan dirimu pada Allah SWT.

“Mungkin banyak laki-laki yang tampan menghampirimu, banyak laki-laki berharta ingin meminangmu, banyak laki-laki hebat ingin mempersuntingmu maka pilihlah laki-laki yang jika kamu menikah dengannya syurga terasa semakin dekat”

Sumber foto : uangmahar-pernikahan.blogspot.com

 

 

Artikel Menarik Lainnya




comments