Beberapa hari terakhir ini mungkin kita begitu akrab dengan warna-warna pink, coklat dan bunga. Berbagai media cetak maupun eletronik, toko-toko dan mall-mall tak luput dengan warna ini. Ya, untuk menyambut sebuah hari yang disepakati sebagai hari kasih sayang (kata mereka), dimana tak sedikit juga anak-anak muda menganggap momen ini sebagai “lebarannya” orang yang pacaran, valentine day.

Hari kasih sayang yang lebih sering kita kenal sebagai valentine diakrabi sebagai sebuah momen penting untuk menunjukkan kasih sayang, lebih spesifik lagi kasih sayang bagi mereka yang berpacaran. Mereka yang berpacaran meyakini valentine sebagai momen penting yang tak boleh dilewatkan dalam hubungan mereka, berbagai halpun disiapkan untuk menyambut hari istimewa ini, biasanya dengan memberikan coklat spesial, bunga istimewa bahkan memberikan hal yang begitu istimewa untuk pasangannya, ya kehormatan. Sebab tak sedikit diantara mereka yang berpacaran menjadikan hari valentine ini aktivitas-aktivitas maksiat. Terbukti tahun lalu, sebuah perusahaan kondom membagi-bagikan kondomnya secara gratis kepada anak-anak muda untuk menyambut hari valentine, begitu juga dengan salah satu brand coklat ternama yang menjual secara paket produk coklatnya dengan kondom.

Menurut laporan berbagai media (silakan googling sendiri) , penjualan selalu meningkat tajam beberapa hari menjelang valentine dan beberapa hari setelah dirayakannya valentine. Ini sebagai bukti begitu banyaknya kalangan generasi muda kita yang menjadikan hari valentine sebagai hari maksiat berkedok kasih sayang, dan jika kita telusuri sejarah hari valentine tentu sangat jauh dari nilai-nilai islam bahkan ini adalah salah satu ritual dari kaum pagan.

Ketika cinta dipahami secara keliru, memahami cinta harus diekspresikan dan cara mengekspresikan cinta melalui pacaran tentu awal dari musibah yang sesungguhnya. Entah berapa banyak wanita yang menjadi korban cinta buta seperti ini, dan entah berapa banyak lagi para laki-laki yang tergoda dan terkoyakkan keimanannya. Terlebih berbagai media seperti musik, sinetron, perfilman yang menjadi pemicu utama bagaimana semestinya anak muda berpacaran, mereka memberikan contoh-contoh yang sangat jauh dari nilai-nilai islam.

Cinta menjadi musibah, membawa petaka bagi generasi muda, dikeluarkan dari sekolah, membuat malu keluarga, hingga membunuh janin yang tak memiliki dosa melalui aborsi adalah buah dari musibah bernama pacaran tersebab pergaulan bebas. Padahal sejatinya Allah menciptakan cinta sebagai anugerah bagi setiap manusia, Allah beri rasa suka dan sayang kepada laki-laki dan perempuan bukan untuk diumbar dan diluapkan dalam ikatan nafsu syahwat belaka.

Sejatinya cinta adalah anugerah, nikmat terindah dari Allah SWT kepada setiap hambanya, dengan cinta kepada lawan jenislah sebab kita ada sampai hari ini, dan dengan cinta itu jugalah Allah jadikan sebab terus berlanjutnya generasi. Tak ada yang salah dengan cinta, selama kita memahaminya dalam koridor ketaatan kepada Allah SWT, selama kita mengikuti rambu-rambu yang telah Allah dan rasulnya tetapkan untuk kita.

Dan pada akhirnya cinta harus memilih, memilih menjadi jalan kebaikan atau jalan keburukan, memilih menjadi musibah atau anugerah. Dan pilihan itu ada pada diri kita, yang Allah amanahkan sebuah rasa bernama cinta.

Sumber foto : qz.com

Artikel Menarik Lainnya




comments