Memilih jodoh itu gampang-gampang susah, yang terkadang lebih banyak susahnya daripada gampangnya. Terlebih lagi di era yang serba materialistik seperti saat ini. Ukuran materi, kedudukan, status keluarga selalu menjadi pertimbangan utama.

Banyak lelaki yang menjadi ciut untuk melamar seorang gadis lantaran baru datang sudah disodori pertanyaan-pertanyaan yang menekan batin merumukkan jiwa.

“Kamu kerja dimana dan penghasilannya berapa ?”

“Sudah menyiapkan dana berapa untuk pesta pernikahan nanti ?”

“Sudah punya mobil ?”

“Sudah punya rumah ?”

Dan, pertanyaan serupa lainnya. Memang tak semua orangtua seperti itu. Bersifat materialistik. Namun, karena memang banyak yang begitu sehingga akhirnya menjadi gambaran tersendiri bagi kaum laki-laki untuk kalau semua orangtua wanita memang begitu. Yang pada akhirnya membuat mereka ragu untuk melangkah, dan memilih menunda menikah.

Setiap wanita, berikut keluarganya tentu menginginkan calon suami terbaik baginya. Tidak hanya membawa kedamaian dan keselamatan di dunia tapi juga menjadi perantara untuk lebih dekat pada-Nya hingga akhirnya nanti bersua lagi di surga-Nya Allah Swt. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh setiap wanita maupun orangtuanya dalam memilih suami atau calon imam dunia akhirat.

Memastikan kalau dia adalah laki-laki yang shalih

Rasulullah Saw bersabda :

“Apabila seseorang yang agama dan akhlaknya baik meminang kepadamu, hendaknya engkau nikahkan dia dengan anakmu. Jika engkau tidak melaksanakannya, niscaya akan terjadi fitnah dan bencana yang luas di muka bumi.”
(H.r.Tirmidzi)

Selama masih sendiri (belum menikah) maka anak perempuan adalah milik ayahnya. Jika ada laki-laki yang tertarik padanya, lazimnya laki-laki itu akan menemui ayah si perempuan untuk menyampaikan maksudnya ingin menikahi putrinya. Si ayah lah yang memiliki hak penuh untuk menerima maupun menolak laki-laki yang meminangnya. Meskipun sebelumnya tentu meminta persetujuan dari anak dan juga musyawarah dengan pihak keluarga lainnya.

Laki-laki seperti apa yang ditolak ? Laki-laki seperti apa yang diterima ? Gambaran sederhananya sudah terangkum dalam pesan Rasulullah Saw diatas. Selama yang datang itu baik agama dan akhlaknya maka terimalah ia, begitu kata Rasulullah Saw.

Jika anak memahami hal ini sementara orangtua belum begitu paham maka anak boleh menyampaikan pesan kebaikan ini kepada orangtuanya. Terlebih lagi jika orangtuanya termasuk orang yang menjadikan materi sebagai ukuran utama.

Mengutamakan Allah, Rasul dan Agamanya

Parameter laki-laki shalih itu sebenarnya sederhana, saat dia mengutamakan Allah, Rasulullah dan agama diatas kepentingan dunia. Yang mana hal ini dapat terlihat dari ibadahnya kepada Allah Swt, bagaimana ia bertutur kata, bagaimana ia membela agama dan lain sebagainya.

Seorang laki-laki yang mengutamakan Allah dan Rasul-Nya maka dalam kehidupan berumah tangga pun akan selalu menjadikan perintah Allah, sunnah Rasul dan aturan agama sebagai acuan utama dalam membangun rumah tangga. Dia akan berusaha memastikan semaksimal mungkin bagaimana semestinya menjadi keluarga yang sesuai dengan tuntunan syariah, dan bagaimana menghadapi masalah dalam keluarga yang selaras dengan.

Dan, untuk muslimah tidak perlu khawatir juga dengan persoalan materi. Sebab laki-laki yang benar agamanya tentu akan paham tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang suami termasuk juga di dalamnya memberikan nafkah terbaik untuk keluarga.

Memilih dari keturunan yang baik-baik

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, anak tidak akan jauh berbeda dengan orangtuanya. Meskipun ini tidak selalu benar, karena memang pada kenyataannya banyak juga anak yang menjadi baik dan taat pada Allah Swt sementara orangtuanya tidak baik. Begitu juga sebaliknya, ada juga yang orangtuanya taat kepada Allah Swt tetapi anaknya malah menjadi ingkar pada Allah.

Tapi yang perlu digarisbawahi adalah tentang pembentukan karakter seseorang, mau tidak mau yang memberi pengaruh paling besar tentu adalah orangtuanya. Maka alangkah lebih baik dalam memilih calon pendamping terlebih dahulu melihat juga bagaimana kondisi keluarga calon suami. Pilihlah calon suami dari keluarga yang baik agamanya, bagus akhlaknya dan mulia kedudukannya dalam masyarakat. Mulai bukan karena harta atau jabatan tetapi karena indahnya akhlak yang dimiliki.

Tidak memilih dari keluarga dekat

Rasulullah Saw mengingatkan kita agar tidak menikah dengan orang yang memiliki hubungan nasab atau keluarga, tujuannya agar tidak melahirkan anak yang lemah pertumbuhannya dan tidak mewarisi kelemahan-kelemahan dari orangtuanya.

Sementara tujuannya lainnya agar semakin tersebar dan berkembangan hubungan sosial. Terjalin hubungan sosial dengan masyarakat dari latar dan kondisi yang berbeda.

Memilih laki-laki yang paling sedikit atau bahkan tidak memiliki riwayat cinta masa lalu

Tak sedikit wanita yang kehidupan rumah tangganya tersiksa lantaran memiliki pasangan yang belum ‘move on’ dari mantan masa lalunya. Sudah menikah, tetapi secara diam-diam masih menjalin hubungan dengan mantannya di masa lalu. Jangan sampai kehidupan rumah tangga yang diidam-idamkan menjadi rusak dan berantakan gara-gara masalah hati pasangan yang belum selesai.

Membangun cinta tanpa komitmen memang banyak sekali mudharatnya, salah satunya adalah menyisakan luka bagi yang cintanya kandas di tengah jalan. Dan semakin rumit lagi jika luka ini terus dibawa hingga setelah menikah.

Maka untuk para muslimah sebelum menikah tidak ada salahnya menanyakan terlebih dahulu kepada calon pasangannya apakah memiki kisah cinta di masa lalu ? Jika memiliki riwayat cinta di masa lalu tanyakan juga apakah kisah cintanya sudah selesai atau masih menyisakan luka ?

Terlihat sepele tapi ini memang penting. Dan lebih bagus lagi jika anda menemukan pasangan yang tidak memiliki riwayat cinta di masa lalu, karena dia memang benar-benar menjaga hati dan dirinya dari maksiat pacaran.

Pilihlah yang berkomitmen menikahi berkomitmen menafkahi

Melalui rubrik konsultasi elmina banyak yang mengadukan permasalahannya tentang penafkahan. Ternyata banyak laki-laki hanya mau menikahi tapi enggan untuk menafkahi. Indikasi dia malas bekerja, malas mencari pekerjaan, hanya pasrah saja dan ujung-ujungnya menyuruh istrinya untuk bekerja.

Tanggung jawab penafkahan ada pada laki-laki, jadi sudah menjadi  keharusan bagi setiap laki-laki yang akan menikah harus memiliki komitmen untuk memberi nafkah. Berani menikahi, berani menafkahi.

Pilihlah laki-laki yang siap untuk menjadi ayah

Banyak laki-laki yang siap untuk menikah tetapi belum siap untuk menjadi ayah, paramater sederhananya adalah setelah menikah dia tidak begitu mempedulikan istrinya yang sedang hamil, saat anaknya lahir ia cuek, dan suatu saat nanti ia lebih mementingkan kebutuhan pribadinya dibanding kebutuhan anaknya. Saat mencari seorang suami tentu anda secara tidak lansung sedang mencari seseorang yang mampu menjadi ayah bagi anak-anak anda nanti. Orang yang mampu berjuang dan berkorban untuk anaknya.

Pilihlah laki-laki yang mengajak anda menikah dengan jalan yang Allah ridhoi

Laki-laki yang shaleh tentu akan paham seperti apa ikhtiar memulai pernikahan yang Allah ridhoi. Ia tentu akan menghindari mengumbar kata cinta sebelum akad pernikahan, tidak gampang memberikan harapan dan tidak akan mengajak seorang muslimah untuk menjadi pacarnya. Jika dia memang sudah benar-benar siap untuk menikah maka dia akan lansung untuk menyatakan niat baiknya untuk menikahi, mengajak ta’aruf dengan cara yang benar atau pun lansung menemui orangtua wanita untuk lansung meminang.

Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan saat akan menikah khususnya bagi seorang muslimah dalam memilih calon suaminya.

Artikel Menarik Lainnya




comments