Sebuah impian setiap muslim atau muslimah tentu adalah menyempurnakan separuh agama melalui pernikahan. Membangun Istana cinta yang megah berharap istana itu akan selalu utuh hingga ke syurga kelak.

Restu orang tua, adalah hal penting yang mesti dimiliki oleh setiap anak sebelum menikah. Namun terkadang tak sedikit yang memiliki kendala disini. Di saat ada laki-laki yang datang kerumah untuk meminang tapi disaat itulah orang tua tidak merestui lamaran tersebut. Apakah karena belum cukup umur, pekerjaan dan penghasilan yang tidak sesuai dengan harapan orang tua, kriteria keturunan yang tidak sesuai standar keinginan orang tua, atau mungkin karena alasan agama, akhlak serta sikap calon menantu yang tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan orang tua.

Dalam beberapa daerah ada istilah “Bibit, Bobot, Bebet”, “Bibit” melihat calon menantu berdasarkan asal usul keluarga dan keturunannya, “Bobot” mempertimbangkan calon menantu dari kepribadian calon yang dipilih mulai dari sikap, watak, akhlak, pekerjaan, penghasilan, ilmu, serta berbagai kapasitas pribadi lainnya, sementara “Bebet” adalah teman atau pergaulan dengan siapa si calon bergaul dan berteman.

Setiap orang tua tentu hanya punya satu keinginan untuk anaknya yaitu mendapatkan yang terbaik, orang tua ingin anaknya bahagia, orang tua ingin orang yang kelak akan menjadi suami anaknya bisa menjaga dan melindungi anaknya layaknya dirinya melindungi anaknya. Nah, terkadang cara orang tua ingin mendapatkan menantu yang terbaik untuk anaknya sering terjadi perbedaan “persepsi” dengan anak. Ada orang tua yang memiliki persepsi agar anaknya bahagia harus menikah dengan orang yang kaya raya sehingga orang tua dengan tipe seperti ini akan menjadikan jenis pekerjaan dan penghasilan , ada orang tua yang memiliki persepsi agar anaknya bahagia harus menikah dengan orang keturunan bangsawan, keturunan terhormat, namun tentu ada juga yang menjadikan ketaatan serta ketakwaan sebagai dasar kebahagiaan anaknya sehingga para orang tua yang memiliki persepsi seperti ini tentu akan menjadikan ketaatan dan ketakwaan sebagai parameter utama dalam memilih jodoh bagi anaknya.

***

Perbedaan persepsi antara orang tua dan anak inilah yang terkadang sering menjadikan hal pernikahan tidak direstui oleh orang tua atau dalam kasus lain terjadi pemaksaan untuk menikah dengan orang yang menjadi pilihan orang tua, yang menjadi penyebab utama hal ini terjadi adalah tidak adanya atau kurang komunikasi antara orang tua dengan anak.

Maka solusi utama untuk menyesuaikan agar pendapat anak dengan orang tua selaras adalah dengan membangun komunikasi antara anak dengan orang tua. Jika memang dari orang tua sendiri tidak memulai komunikasi dengan anaknya mengenai jodoh, maka kita sebagai anaklah yang memulai komunikasi dengan orang tua tentang urusan jodoh, dan tentu komunikasinya dibangun jauh-jauh hari tidak dadakan ketika akan menikah.

Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah menanyakan kepada orang tua calon menantu seperti apa yang mereka inginkan, calon menantu seperti apa yang menjadi harapan mereka. Jika persepsi orang tua kita masih menjadikan hal-hal yang bersifat materi sebagai acuan utamanya dalam menentukan jodoh maka tugas kitalah mengkomunikasikan hal ini kepada orang tua sebaik-baik mungkin tanpa menyakiti hati mereka.

Terkadang komunikasi untuk menyamakan persepsi dengan orang tua ini tidak cukup hanya satu kali pembicaraan, butuh kesabaran dan konsistensi untuk selalu menyampaikannya pada orang tua. Jadikan ini sebagai bentuk birrul walidain kita kepada orang tua, seperti yang kami sampaikan di awal apapun yang disampaikan orang tua maka niat mereka hanya satu, yaitu ingin yang terbaik untuk kehidupan kita kelak. Sementara persepsi tentang kebaikan yang diinginkan orang tua kitalah yang terkadang berbeda-beda. Sangat bergantung pada latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, latar belakang masa lalu dan juga latar belakang sosial keluarga kita.

Semoga dengan mengerti tentang hal ini kita bisa menerima dengan lapang dada apapun keputusan orang tua tentang jodoh kita. Jodoh sudah diatur oleh Allah SWT, jodoh itu pasti namun cara menjemputnya yang tidak pasti dan terkadang penuh dengan ujian, yang bisa jadi salah satunya adalah ujian dari orang tua sendiri. Jangan sampai ego kita ingin menikah dengan seseorang menjadikan kita durhaka dan tidak taat kepada orang tua, tetap utamakan ketaatan kepada orang tua, tetap utamakan ridho orang tua, In syaa Allah, Allah akan karuniakan jodoh terbaik dunia akhirat untuk kita. [Uda Agus/Elmina]

Sumber : lukihermanto.com

 

 

 

Artikel Menarik Lainnya




comments