Kuntum bunga peradaban yang harum semerbak mewangi tercium hingga saat ini adalah sosok seorang Ummul Mukminin yang begitu istimewa di hati Rasulullah Saw. Ia adalah orang tercinta di hati Nabi Saw setelah ayahnya. Dialah yang meneguk air kejujuran dari kedua orang tuanya , dan makan diatas jamuan makanan nubuwah. Dialah wanita suci lagi disucikan yang dibebaskan Allah dari tuduhan keji yang dialamatkan kepadanya dari langit ketujuh. Dialah wanita yang bertakwa, suci, wara’, dan zuhud; Aisyah binti Abu Bakar.

Mengenal Sosok Aisyah Ra

Suaminya adalah pemimpin orang-orang terdahulu dan kemudian; Muhammad bin Abdullah yang diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ayahnya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, dimana mentari tiada terbit menyinari seorangpun yang lebih baik darinya setelah para nabi dan rasul. Dialah yang menemani Rasulullah ketika keduanya berada di dalam gua. Dialah orang tercinta di hati Rasulullah.

Abu bakar Ash Shiddiq sahabat yang begitu istimewa di hati Nabi Saw, hal ini bisa kita telusuri dalam beberapa sabdanya berikut.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘sungguh, di antara orang yang paling murah hati padaku dalam persahabatan dan harta benda adalah Abu Bakar. Andai aku boleh mengambil seorang kekasih selain Rabbku, tentu aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Tapi, persaudaraan islam dan cinta kasihnya sudah cukup bagiku. Semua pintu yang mengarah kemesjid harus ditutup, selain pintu Abu Bakar.”
(Muttaq ‘Alaih)

Diriwayat lain dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘umatku yang paling sayang terhadap umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam perintah Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah ustman, dan yang paling mengetahui hukum adalah Ali.”
(Hr.Ahmad)

Riwayat lain menyebutkan, Rasulullah bersabda, “Umatku yang paling sayang terhadap umatku adalah Abu Bakar.”
(Hr.Abu Ya’la dari Ibnu Umar)

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, dari Nabi. Beliau bersabda, “Sungguh, para penghuni tingkatan-tingkatan tinggi bisa melihat orang yang ada diatasnya, seperti kalian melihat bintang terang di ufuk Langit. Abu Bakar dan Umar termasuk golongan mereka, dan keduanya bersenang-senang”
(Hr. Ahmad)

Nabi Saw bersabda, “Tak seoarang pun yang berjasa pada kami melainkan sudah kami balas, kecuali Abu Bakar, kecuali Abu Bakar. Ia memiliki jasa yang akan dibalas Allah pada hari Kiamat. Harta siapa pun tiada membawa manfaat bagiku seperti halnya manfaat harta yang diberikan Abu Bakar untukku. . Andai aku boleh mengambil seorang kekasih, tentu aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Ketahuilah, sungguh teman kalian ini (Abu Bakar) adalah kekasih Allah.”
(Hr.Tirmidzi)

Begitulah istimewanya sang ayah di mata Rasulullah Saw, sementara ibunya adalah seorang shahabiyah mulia, Ummu Rauman binti Amir. Dialah shahabiyah mulia yang banyak berjasa untuk agama nan agung ini.

Saudarinya adalah Asma’ binti Abu Bakar, Dzatun Nithaqain.

Suami saudarinya adalah pembela Rasulullah.

Saudara sepupunya, satu diantara sepuluh sahabat yang dijamin surga, dan orang pertama yang menghunus pedang dijalan Allah; Zubair bin Awwam.

Kakek dari garis ayahnya Abu Quhafah yang masuk Islam (saat penaklukan Mekah) dan meraih kemuliaan dengan mendampingi Nabi. Nenek dari garis ayahnya adalah Ummul Khair, Sulma binti Shakr yang masuk Islam dan meraih kemulian pernah mendampingi Nabi. Tiga bibinya termasuk kalangan shahabiyah, mereka adalah; Ummu Amir, Quraibah, dan Ummu Farwah. Mereka ini adalah putri-putri Abu Quhafah.

Saudara sekandungnya, Abdurrahman, terbilang seorang pemberani, dan salah seorang pemanah ulung. Jumlahnya hanya bisa dihitung dengan jari.

Imam Adz-Dzahabi menuturkan tentang Aisyah, “Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq (khalifah Rasulullah), Al- Qurasyiyyah, At-Taimiyyah, Al-Makkiyyah, An-Nabawiyah, Ummul Mukminin, istri Nabi, wanita paling memiliki pemahaman ilmu. , wanita paling memiliki pemahaman ilmu yang mendalam di antara umat ini.”

Aisyah adalah wanita putih nan cantik. Untuk itulah ia disebut  Al-Humaira’ (wanita yang kemerah-merahan). Nabi, tidak menikahi perawan selainnya, dan tidak mencintai seorang wanita pun seperti cinta beliau padanya. Di antara umat Muhammad dan bahkan di kalangan kaum wanita, saya tidak mengetahui seorang pun yang lebih berilmu melebihinya.

Sebagian ulama berpendapat, Aisyah lebih baik dari ayahnya. Pendapat ini tidak  bisa diterima,  karena Allah sudah menetukan ukuran untuk segala sesuatunya. Lebih dari itu, kita bersaksi bahwa Aisyah adalah istri nabi kita di dunia dan akhirat. Adakah kebanggaan lain lebih dari itu ?

Imam Masruq bin Abdurrahman Al-Hamdani Al-kuhfi, seorang tabi’in mulia dan tergolong salah satu tokoh tabi’in, saat menyampaikan hadist dari Aisyah selalu mengatakan, “Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq, kekasihnya kekasih Allah, wanita yang dibebaskan (dari tuduhan keji yang dialamatkan kepada)nya tertera dalam kitab Allah, bercerita kepadaku.”

Abu Nu’aim Al-Asbahani menuturkan dalam biografi Aisyah;

“Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq, Al-Atiqah binti Al-Atiq (kekasihnya kekasih Allah), kekasih orang dekat, pemimpin para rasul; Muhammad Al-Khathib. Wanita yang dibebaskannya dari segala aib, jauh dari keraguan hati karena ia pernah melihat Jibril, urusan Rabb Yang Mengetahui segala hal gaib, Aisyah Ummul Mukminin.”

Persahabatan sang ayah dengan Rasulullah Saw

Sebelum kenabian, Abu bakar adalah teman Rasulullah Saw . Abu Bakar tahu betul amanah, kejujuran, dan akhlak beliau nan menawan serta penuh berkah. Dalam hitungan tahun, mentari Islam terbit di atas Jazirah, wahyu turun kepada Rasulullah. Khadijah adalah wanita pertama yang masuk Islam, sementara Abu Bakar adalah lelaki pertama yang masuk Islam. Tidak lama setelah itu, Abu Bakar menyampaikan dakwah ke segala penjuru agar semuanya merasakan nikmatnya iman seperti yang ia rasa. Dakwahnya direspon enam di antara sepuluh shahabat yang dijamin surga setelah itu. Bahkan, keluarga dan seluruh anak-anaknya juga masuk Islam.

Aisyah lahir di era Islam. Tatkala muncul ke dunia, ia mendapati dirinya berada diantara du orang tua mulia yang beriman. Bahkan, ia mendapati dirinya sebagai putri orang terbaik setelah Rasulullah.

Aisyah menuturkan, “Saat aku akil balig, kedua orang tuaku sudah memeluk agama (Islam).”

Aisyah tumbuh berkembang dirawat dua orang tua mulia, tumbuh dewasa di bawah naungan taman yang pepohonannya ditanam ditanah keimanan dan disirami dengan wahyu. Kedua orangtuanya laksana pohon penuh berkah yang buahnya dekat untuk dipetik, yang berbuah setiap saat atas izin Rabbnya.

Kedua orang tua Aisyah mengamati berkah dari putrinya nan menebarkan aroma wangi. Hanya saja mereka berdua sama sekali tidak pernah berpikir jika suatu hari nanti putri mereka ini akan menjadi istri pemimpin seluruh umat manusia, Rasulullah, Ummul Mukminin sepanjang masa, menara ilmu di mana pun dan kapan pun. Kalau Allah sudah menghendaki sesuatu, ia cukup berfirman padanya, “Jadilah!” maka jadilah seuatu itu. Allah menghendaki Aisyah dirawat dibawah pengawasan-Nya, memilihnya sebagai istri kekasih-Nya. Allah pilih ia sebagai istri pemimpin umat, pemimpin peradaban Islam. Nabi Muhammad Saw.

Jodoh Dunia Akhirat Muhammad Saw

Pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah adalah bagian perintah Allah Swt, ini adalah skenario terindah dari Allah Swt untuk Nabi Muhammad Saw dan Aisyah. Nabi menikahi Aisyah berdasarkan wahyu dari langit. Nabi memimpikan Aisyah selama tiga malam. Jibril membawa gambarnya dan berkata kepada beliau, “Dia istrimu di dunia dan akhirat.” Sungguh sebuah kemulian besar bagi ibunda kita Aisyah Ra .

Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Aku diperlihatkan kepadamu dalam mimpi, selama tiga malam, malaikat (Jibril) membawa (gambar)mu dalam sepotong kain sutera, ia kemudian berkata kepadaku, ‘Ini istrimu.’ Aku kemudian menyingkap kain dari wajahmu, rupanya kamu, lalu aku berkata, ‘Jika ini (ketentuan) dari Allah, pasti ia tunaikan’.”
(Muttafaq ‘Alaih)

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Aisyah, bahwa Jibril datang membawa gambarnya dalam kain sutera hijau kepada Nabi. Ia lalu berkata, “Dia istrimu di dunia dan akhirat.”
(Hr. Tirmidzi)

Pernikahan Rasulullah Saw dengan bunda Aisyah Ra adalah pernikahan penuh berkah, berawal dari tawaran shahabiyah kepada Rasulullah Saw agar menikah kembali sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah Ra , ia berkata, “Setelah Khadijah meninggal dunia, Khaulah binti Hakim, istri Ustman bin Mazh’un datang kepada Rasulullah. Ini terjadi di Mekah. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak menikah lagi?’ Dengan siapa?’ tanya beliau. ‘Kalau engkau mau yang perawan ada, kalau engkau mau yang janda juga ada,’ kata khaulah. ‘Yang perawan dan yang janda siapa?’ tanya beliau.

‘Yang perawan adalah putri orang yang paling engkau cintai; Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan yang janda adalah Saudah binti Zam’ah. Ia beriman kepadamu dan mengikutimu,’kata khaulah. ‘Maka sampaikan (keinginanku) pada keduanya,’ pinta beliau.

Khaulah menuturkan, ‘Aku kemudian menemui Ummu Rauman, ibu Aisyah, lalu aku berkata,’Wahai Ummu Rauman, kebaikan dan keberkahan apa kiranya yang Allah masukkan ke tengah-tengah (keluarga) kalian, Rasulullah menyuruhku supaya melamar Aisyah untuk beliau!’ ‘Aku menyetujuinya, tapi tunggu sebentar, Abu Bakar sebentar lagi akan datang,’ kata Ummu Rauman. Abu Bakar tak lama setelah itu datang, lalu khaulah berkata kepadanya , ‘Wahai Abu Bakar, kebaikan dan keberkahan apa kiranya yang Allah masukkan ketengah-tengah (keluarga) kalian, Rasulullah menyuruhku supaya melamarkan Aisyah untuk beliau!’ Namun Abu Bakar bergumam, ‘Apakah (Aisyah) pantas untuk beliau sementara (Aisyah) adalah putri saudaranya sendiri?’ Setelah itu Khaulah  kembali dan menyampaikan perkataan Abu Bakar kepada Rasulullah . Beliau pun bersabda, ‘Kembalilah kepada Abu Bakar dan sampaikan kepadanya, Engkau adalah saudaraku (Nabi) dalam Islam dan Aku (Nabi) adalah saudaramu, Dan putrimu layak untukku’.”

Khaulah menemui Abu Bakar. Abu Bakar kemudian berkata, ‘Panggilkan Rasulullah kemari.’ Rasulullah datang lalu menikahkan beliau (denganku). Saat itu, aku berusia enam tahun’.
(Hr. Ath-Thabrani)

Khaulah seorang ibu yang berpengalaman mengetahui rumah tangga nubuwah memerlukan seseorang untuk mengisi kekosongan dan cinta kasih. Berdasarkan kematangan, pandangan jauh kedepan, dan iman yang mendalam, Khaulah mengetahui kondisi-kondisi kejiwaan, sosial, dan krisis yang menimpa sang pengemban risalah, Rasulullah Saw . Setelah mempelajari dan berpikir, Khaulah akhirnya menawarkan Rasulullah untuk menikah.

Dengan penawaran ini, sepertinya Khaulah mengincar seseorang untuk mengurus rumah tangga nabawi melalui sosok Saudah, dan membenahi luka hati beliau dengan sosok Aisyah. Juga untuk memperkuat hubungan Nabi dengan Ash-Shiddiq dengan ikatan pernikahan.

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Nabi menikahi Saudah setelah Khadijah meninggal dunia. Secara bersamaan, beliau menikahi Saudah dan Aisyah. Beliau menggauli Saudah dan hidup berdua selama tiga tahun lamanya, setelah itu baru menggauli Aisyah pada bulan Syawal selepas perang Badar. Beliau tidak menikah perawan selain Aisyah.”

Keistimewaan Aisyah dibanding istri yang lain adalah dia satu-satunya wanita gadis (perawan) yang dinikahi oleh Nabi Saw. Sebagaimana hal ini dituturkan oleh Aisyah Ra

Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, katakan kepadaku; seandainya engkau singgah di sebuah lembah yang disana ada sejumlah pohon yang buahnya sudah dimakan, lalu engkau mendapati sebuah pohon yang buahnya belum dimakan, di pohon yang mana engkau mengembalakan untamu?’ ‘Di pohon yang belum dimakan buahnya,” jawab beliau. Maksudnya, Nabi tidak menikahi perawan selainnya.
(Hr.Bukhari)

Aisyah memasuki rumah tangga nubuwah rumah terbaik di dunia nan luas terbentang ini, meski sangat sederhana bentuknya. Rumah berupa bilik kecil, namun penghuninya dikuatkan wahyu dari langit.

Rumah yang tidak diisi dengan perabotan-perabotan dunia fana, namun penghuninya menebarkan aroma harum Al-Qur’an dan As-Sunnah ke seluruh bumi. Hidayah yang Allah berikan kepada siapa yang ia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, semata muncul dari bilik yang diberkahi ini.

Ibunda Aisyah hidup bersama Rasulullah. Ia mempelajari akhlak, ilmu, wara’, kesabaran, dan tindak tanduk beliau, hingga menjadi mentari di dunia manusia yang tidak bisa dikesampingkan siapa pun juga.

Kebahagiaan Rumah Tangga Rasulullah Saw

Kehidupan rumah tangga Rasulullah Saw dan Aisyah Ra adalah salah satu kehidupan rumah tangga terbaik, ini adalah kehidupan rumah tangga teladan yang perlu kita jadikan role model bagi setiap umat muslim dalam membangun rumah tangganya.

Kebahagiaan berkibar di atas rumah-rumah Nabi, meski kehidupan sengsara yang beliau jalani bersama ahlul bait. Hari berlalu, pekan berganti tanpa adanya api menyala di rumah-rumah Nabi. Mereka hanya memakan aswadain; kurma dan air.

Hidup akan terasa bahagia selama hati terhubung dengan Allah. Hidup nan lembut meski susah dan sengsara. Bahagia karena kasih sayang yang dicurahkan Rasulullah kepada keluarga dan orang-orang tercinta. Sehingga, harta benda dunia tidak setara dengan debu sekecil apa pun.

Inilah yang membuat Ummul Mukminin Aisyah menjadi pemimpin segala kemuliaan; kemurahan hati, zuhud, dan seluruh nilai-nilai utama. Sejarahnya nan cemerlang menuturkan kemuliaan –kemuliaan yang ia petik dari rumah tangga nabawi itu dan ia rengkuh hingga hembusan nafas terakhir.

Mari kita memasuki relung hati ibunda Aisyah untuk memasuki rumahnya nan suci. Nabi sendiri menyebut Aisyah dengan muwaffaqah (wanita sukses). Mari kita memasuki bilik nabawi yang secara khusus dihuni Aisyah.

Sejak hari-hari pertama menikah, Aisyah ingin menggantikan posisi Khadijah dirumah tangga Muhammad nan suci, dan meraih posisi Khadijah di hati beliau.

Namun sosok paling setia, Rasulullah , tulus untuk Khadijah semata, kedudukan dan posisinya tidak akan pernah digantikan oleh wanita manapun dan seperti apa pun kedudukannya. Sebelum Aisyah memasuki rumah tangga nabawi, sudah ada istri lain; Saudah binti Zam’ah Al-Amiriyah. Saat itu Aisyah sudah melalui masa kekanak-kanakan. Selain berdasarkan wahyu, pernikahan beliau dengan Aisyah adalah pernikahan cinta kasih dan pelipur lara. Hikmah nabawi memancarkan rahmat yang diutus Allah untuk seluruh alam.

Aisyah mencintai Rasulullah dan ingin punya anak dari beliau, seperti halnya Khadijah. Hari-hari berlalu namun Aisyah tidak kunjung punya anak. Hanya saja Rasulullah bersabda kepadanya, “kenakanlah kuniah keponakanmu; Abdullah bin Zubair.” Ummu Abdullah akhirnya menjadi kuniah bagi Aisyah.

Beginilah Cinta Rasulullah pada Aisyah

Rasulullah mengetahui dan menghargai usia Aisyah yang masih kecil. Selain berbagi ilmu, hikmah, dan akhlak, beliau sama sekali tidak menghalangi Aisyah untuk menikmati segala keinginan anak-anak seusianya. Beliau membiarkan Aisyah bermain boneka, dan bahkan memanggil anak-anak sebaya untuk bermain dengannya agar merasa bahagia dan senang di dalam rumah Al-Habib.

Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah berdiri di depan pintu kamarku, sementara orang-orang Habasyah tengah berlatih tombak di mesjid. Beliau menutupiku dengan pakaian beliau agar aku melihat permainan mereka. Beliau berdiri untukku hingga aku sendiri yang pergi. Untuk itu, hargailah anak perempuan yang masih keil, yang suka bermain.”

Lafazh riwayat Ma’mar dari Az-Zuhri menyebutkan,”Aku terus melihat hingga aku sendiri yang pergi. Untuk itu, hargailah anak perempuan yang masih kecil, yang suka mendengar nyanyian.”

Lafazh riwayat Al-Auza’i dari Az-Zuhri menyebutkan; Aisyah berkata, “Aku melihat Nabi menutupiku dengan pakaian beliau, sementara aku melihat mereka bermain di Masjid hingga aku sendiri yang bosan. Untuk itu, hargailah anak perempuan yang masih kecil, yang suka bermain.”
(HR.Bukhari)

Diriwayatkan dari Aisyah, ia bermain boneka-boneka di dekat Rasulullah. Beliau kemudian menyuruh mereka menghampiriku.”
(Hr.Bukhari)

Kecemburuan Aisyah Pada Rasulullah

Aisyah mencintai Nabi dan sangat cemburu kepada beliau.

Diriwayatkan dari Aisyah, suatu malam Rasulullah keluar dari tempatnya. Ia menuturkan, “Aku cemburu pada beliau. Setelah itu beliau kembali dan melihat kondisiku. Beliau bertanya, ‘Kamu kenapa Aisyah, cemburu?!’ ‘Bagaimana wanita sepertiku tidak cemburu pada orang sepertimu?’ sahutku. ‘Apa setan datang menghampirimu? Tanya beliau. ‘Wahai Rasulullah, apakah ada setan yang menyertaiku?’ tanyaku. ‘Ya,’ jawab Beliau. ‘Menyertai setiap orang? Tanyaku. ‘Ya,’ jawab Beliau. ‘Menyertaimu juga wahai Rasulullah?’ tanyaku. ‘Ya. Hanya saja Rabbku membantuku (menundukkan)nya hingga ia masuk Islam, “jawab Beliau.
(HR.Muslim)

Diriwayatkan dari Aisyah, suatu ketika Rasulullah meminta izin pada hari jatah salah seorang istri di antara kami setelah ayat ini turun, “Engkau boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang engkau kehendaki di antara mereka (para istrimu) dan (boleh pula) menggauli siapa (di antara mereka) yang engkau kehendaki. Dan siapa yang engkau ingini untuk menggaulinya kembali dari istri-istrimu yang telah engkau sisihkan, maka tidak ada dosa bagimu.” (Al-Ahzab:51).

Aku (Mu’adzah) kemudian bertanya padanya, “Apa yang kau katakan (pada beliau)?’ Ia menjawab, ‘Aku berkata kepada beliau, ‘’Apabila putusannya ada padaku, maka aku tidak ingin mendahulukan siapa pun atas dirimu’.”(HR.Bukhari)

Kecemburuan Aisyah

Berikut sebuah pelajaran nabawi yang menjelaskan kepada kita bagaimana Rasulullah mengatasi apa pun persoalan dengan bijak dan kasih sayang meski sebesar apa pun.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Suatu ketika Nabi berada di tempat salah seorang istri beliau. Lalu, salah seorang Ummahatul Mukminin mengirim piring berisi makanan. Lalu, istri Nabi yang ketempatan memukul tangan istri  yang membawakan nasi hingga piring jatuh dan pecah. Nabi mengumpulkan pecahan piring, lalu mengumpulkan makanan yang ada di piring itu. Beliau kemudian berkata, ‘Ibu kalian cemburu’ Nabi memerintahkan istri yang membawakan nasi menunggu hingga beliau mengambilkan piring dari rumah istri yang ketempatan. Beliau kemudian menyerahkan piring yang tidak pecah kepada istri yang piringnya dipecahkan, dan beliau menaruh piring pecah di tempat istri yang memecahkan piring tersebut’.”
(HR. Bukhari)

Kisah serupa diriwayatkan dalam Sunan An-Nasa’i dengan sanad shahih dari hadist Ummu Salamah. Ia membawa makanan buatannya dlam piring untuk Rasulullah dan para shahabat. Aisyah kemudian datang dengan mengenakan sarung, ia membawa batu lalu memechkan piring tersebut. Nabi kemudian mengumpulkan pecahan piring dan berkata, “Makanlah! Ibu kalian cemburu,” sebanyak dua kali. Setelah itu, Rasulullah mengambil piring milik Aisyah kemudian Beliau  kirimkan kepada Ummu Salamah, dan menyerahkan piring Ummu Salamah kepada Aisyah.
(HR. An-Nasa’i)

Abu Ya’la Al-Mushili meriwayatkan dengan sanad hasan dari hadist Aisyah, ia berkata, “Aku membawakan khazirah (daging yang diiris kecil-kecil lalu dimasak dengan air, setelah mendidih dicampur dengan tepung gandum)  yang aku masak untuk Nabi. Aku lalu berkata kepada Saudah sementara Nabi berada di antara aku dan Saudah, ‘Makanlah!’ Saudah tidak mau. Aku berkata, ‘Makanlah atau aku oleskan makanan ini kewajahmu.’ Saudah tetap tidak mau. Aku akhirnya meletakkan tangan di atas  khazirah lalu aku oleskan ke wajah Saudah dan beliau letakkan di atas khazirah. Setelah itu, beliau berkata, ‘Olesilah wajahnya (Aisyah)!’ Nabi kembali tertawa. Setelah itu  Umar lewat, ia memanggil-manggil, ‘Hai Abdullah ! Hai Abdullah ! beliau mengira Umar akan masuk, lalu beliau berkata, ‘Ayo sana, basuhlah wajah kalian berdua !’ Aisyah berkata, ‘Sejak saat itu, aku segan kepada Umar karena sikap segan Rasulullah Saw (kepadanya)’.”
(HR. Abu Ya’la)

Kecemburuan Aisyah pada Khadijah

Aisyah paling cemburu pada seorang wanita, beliau juga ummul mukminin. Wanita ini tak tergantikan oleh Rasulullah Saw di hatinya. Ialah ibu kita Khadijah Ra. Kisah-kisah kecemburuan Khadijah ini tercatat dalam beberapa hadits sebagaimana berikut.

Diriwayatkan dari Aisyah Ra, ia berkata, “Aku tidak cemburu pada seorang istri Nabi Saw pun seperti kecemburuanku terhadap Khadijah. Aku tidak melihatnya, hanya saja Rasulullah Saw sering menyebutnya. Beliau kadang menyembelih seekor kambing, kemudian beliau potong-potong menjadi beberapa bagian, setelah itu beliau kirimkan kepada teman-teman Khadijah Ra. Aku kadang berkata pada beliau, ‘Seakan di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah Ra!’ Beliau menjawab, ‘Dia begini dan begitu, aku memiliki anak darinya’.”
(HR.Bukhari)

Juga diriwayatkan dari Aisyah Ra, ia berkata, Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah, meminta izin kepada Rasulullah Saw. Beliau tiba-tiba teringat kala Khadijah meminta izin, beliau merasa senang karenanya. Beliau mengucapkan, ‘Halah binti Khuwailid’. Aku merasa cemburu lalu aku berkata, ‘Untuk apa engkau teringat pada seorang wanita tua di antara wanita – wanita Quraisy bermulut merah yang sudah lama mati, Allah pun sudah memberimu pengganti yang lebih baik darinya’.” (HR. Muslim)

Masih dalam riwayat Aisyah Ra , ia berkata, “Aku tidak cemburu pada istri – istri Nabi Saw selain kepada Khadijah Ra , aku tidak menjumpainya.’ Ia meneruskan, ‘Ketika Rasulullah Saw menyembelih kambing, beliau berkata, ‘Kirimkan ini kepada teman – teman Khadijah.’ Ia meneruskan, ‘Suatu hari, aku membuat beliau marah, aku berkata, ‘Khadijah !’ Rasulullah Saw berkata, ‘sungguh, aku dikarunia cintanya’.” (HR. Muslim)

Imam Adz-Dzahabi menjelaskan; Aneh kepada Aisyah Ra merasa cemburu pada wanita tua yang sudah meninggal dunia sebelum Nabi Saw menikah dengannya. Selanjutnya, Allah menjaganya dari rasa cemburu pada sejumlah istri Nabi Saw lainnya. Ini termasuk salah satu kelembutan Allah Swt padanya dan juga Nabi Muhammad Saw, agar tidak memperkeruh kehidupan mereka berdua. Di antara yang meredakan kecemburuan Aisyah terhadap Khadijah adalah cinta Nabi Saw padanya.

Dalam riwayat lain Aisyah Ra berkata, “Datanglah seorang wanita hitam kepada Nabi Saw , beliau menyambutnya dengan baik. Setelah wanita tua itu pergi, Aisyah Ra berkata, “Wahai Rasulullah, engkau menyambut si wanita tua itu demikian!’ Beliau menjawab, ‘Dulu, ia sering menemui Khadijah, dan menjaga hubungan baik adalah bagian dari iman’.” (HR.Ahmad)

Begitulah beberapa kisah kecemburuan Aisyah Ra pada Rasulullah Saw. Kecumburuan seorang Aisyah tentu kecemburuan seorang beriman, tidak membabi buta, tidak melukai hati Rasulullah Saw. Tetapi hanya sebuah kecemburuan yang secara tidak lansung menunjukkan betapa besar cintanya pada Rasulullah Saw.

Sedihnya Aisyah Saat ditinggal Rasulullah

Waktu berlalu tahun berganti, setiap yang hidup pasti akan mati. Kematian terkadang menjadi satu hal yang ditakuti. Tetapi cepat atau lambat setiap di antara kita pasti akan menemuinya. Begitu juga dengan Rasulullah Saw. Sebagaimana manusia pada umumnya beliau juga memiliki batas usia, dan menemui akhir dari kehidupannya.

Kini sampailah kita pada satu episode yang mungkin menjadi episode paling menyedihkan dalam kehidupan ibu kita Aisyah Ra. Yaitu episode akhir kehidupan Rasulullah Saw.

Pada pagi hari di mana Nabi Saw pulang keharibaan ilahi, beliau keluar untuk menyaksikan buah jerih payah dan kesabaran beliau. Beliau kemudian melayangkan tatapan perpisahan kepada para shahabat yang mencintai beliau dan juga sebaliknya. Mereka yang saat itu tengah shalat nyaris saja tergoda karena rasa senang melihat Nabi Saw melayangkan tatapan perpisahan kepada mereka hingga bertemu nanti di telaga beliau dan surga Allah Swt. Andai tahu, tentu hati mereka remuk redam.

Diriwayatkan dari Aisyah Ra, Rasulullah bersabda saat masih sehat, “Tidak ada seorang Nabi pun meninggal dunia hingga ia melihat tempatnya di surga, setelah itu diberi pilihan.’ Aisyah berkata, ‘Saat Rasulullah Saw jatuh sakit dan kepada beliau berada di pahaku, beliau tidak sadar untuk sesaat. Setelah itu beliau siuman. Tatapan beliau mengarah ke atap lalu mengucapkan, ‘Ya Allah ! (bersama) golongan tertinggi. ‘Aisyah kemudian berkata, ‘Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Rasulullah Saw ‘Ya Allah (bersama) golongan tertinggi’.” (HR.Muslim)

Riwayat lain dari Aisyah Ra menyebutkan; Rasulullah Saw bertanya saat sakit yang menyebabkan beliau meninggal dunia, “Di mana aku besok? Di mana aku besok ? Maksud beliau giliran Aisyah. Istri – istri beliau kemudian mempersilakan beliau tinggal di rumah Aisyah hingga beliau meninggal dunia di sana. Aisyah berkata, ‘Beliau meninggal dunia pada hari giliran di rumahku. . Allah mewafatkan beliau sementara kepada beliau berada di antara leher dan dadaku. Air liur beliau bercampur dengan air liurku.’ Setelah itu ia berkata, ‘Abdurrahman bin Abu Bakar masuk dengan membawa siwak, ia mengenakan siwak itu. Rasulullah Saw melihatnya lalu aku berkata kepadanya, ‘Berikan padaku siwak itu, wahai Abdurrahman !’ Ia memberikan siwak itu kepadaku, lalu aku lunakkan dan aku berikan kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw kemudian bersiwak dengan bersandar di dadaku’.” (HR.Bukhari)

Sementara riwayat lain menyebutkan ; Aisyah Ra berkata, Rasulullah Saw wafat pada hari dan malam giliranku, di antara leher dan dadaku. Abdurrahman bin Abu Bakar masuk membawa siwak basah. Beliau melihat siwak itu hingga aku mengira beliau menginginkannya. Aku mengambil siwak itu lalu aku kunyah, aku kibaskan, dan aku beri wewangian, lalu aku serahkan kepada beliau. Beliau kemudian bersiwak dengan sangat baik sekali, belum pernah aku melihat beliau bersiwak sebaik itu. Setelah itu beliau menyerahkan siwak kepadaku, tangan beliau lemah lunglai. Aku kemudian membacakan do’a untuk beliau dengan do’a yang dibacakan Jibril untuk beliau. Do’a yang biasa beliau baca saat sakit. Namun dalam sakit kali ini, beliau tidak membacanya. Beliau mengarahkan pandangan ke langit dan mengucapkan, ‘(Bersama ) golongan tertinggi!’ dan beliau pun wafat. Segala puji bagi Allah yang menyatukan air liurku dengan air liur beliau di hari terakhir (beliau di) dunia’.” (HR.Ahmad)

Dalam riwayat lain melalui Anas ia berkata, “Saat sakit Nabi Saw kian parah, beliau pingsan, lalu Fatimah berkata, ‘Oh, beratnya musibah yang menimpa ayahanda!’ Nabi Saw berkata, ‘Ayah tidak akan lagi tertimpa musibah setelah hari ini, wahai putriku!’ Setelah beliau wafat Fatimah berkata,

‘Oh, ayahanda ! Engkau penuhi panggilan Rabb yang memanggilmu.

Oh, ayahanda ! Surga Firdaus tempat kembalimu.

Oh, ayahanda! Kepada Jibril aku menyampaikan kabar kematianmu.’

Setelah Nabi Saw wafat, Fatimah Ra berkata kepada Anas bin Malik. “Wahai Anas! Senangkah kalian menaburi Rasulullah Saw dengan tanah ?” (HR. Al-Bukhari)

Masih dari Anas Ra, ia berkata, “Pada hari Rasulullah Saw memasuki Madinah, segalanya menjadi terang. Namun pada hari beliau wafat, segalanya menjadi gelap. Belum juga kami mengibaskan tangan (dari tanah setelah memakamkan) Nabi Saw, kami mengingkari hati kami.” (HR. At-Tirmidzi)

Al-Hafzh Ibnu Hajar menuturkan, “Saat Nabi Saw wafat, kaum muslimin terguncang. Ada yang shock hingga berkata tidak karuan, ada yang terduduk lemas hingga tidak mampu berdiri, ada yang kelu lidah hingga tak mampu berkata, dan ada pula yang mengingkari kematian beliau secara keseluruhan dan mengatakn, “Beliau hanya dipindahkan ke haribaan ilahi.”

Ketika akan mengurus jenazah Rasulullah Saw terdapat beberapa perbedaan pendapat di kalangan para sahabat tentang bagaimana semestinya mengurus jenazah Rasulullah Saw. Diriwayatkan dari Aisyah Ra, ia berkata, “Saat orang-orang hendak memandikan Nabi Saw, mereka berkata, ‘Demi Allah, kami tidak tahu apakah kami melepas pakaian Rasulullah Saw seperti kita melepas pakaian mayit-mayit kita (lainnya), ataukah kita mandikan beliau dengan pakaian tetap menempel di tubuh beliau?’ Saat mereka berselisih pendapat, Allah Swt menurunkan kantuk pada mereka hingga dagu mereka semua menempel di dada.

Setelah itu ada yang berbicara kepada mereka dari sisi rumah tanpa diketahui siapa dia, ‘Mandikan Nabi Saw dengan pakaian tetap menempel di tubuh beliau.’ Mereka kemudian menghampiri Rasulullah Saw dan memandikan beliau dengan pakaian tetap menempel di tubuh beliau. Mereka menuangkan air di gamis beliau, mereka menekan-nekan gamis tanpa menyentuh kulit beliau.’ Aisyah Ra berkata, ‘Andai aku mengetahui masalah ini sejak dulu dan bukan baru-baru ini, tentu tidak ada yang memandikan beliau selain istri-istri beliau’.”(HR.Ahmad) . Beliau dikafani dengan tiga helai kain putih buatan Sahul.

Para pecinta ilmu sepakat, Rasulullah Saw meninggal dunia dalam usia 63 tahun; 40 tahun beliau habiskan sebelum kenabian, 13 tahun setelah kenabian di Makkah, dan 10 tahun di Madinah setelah Hijrah. Beliau meninggal dunia pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 11 hijriyah tanpa meninggalkan satu dinar, dirham, budak lelaki, budak perempuan, atau apa pun; selain bighal putih yang biasa beliau tunggangi, pedang dan sebidang tanah yang beliau berikan kepada ibnu sabil sebagai sedekah.

Sedihnya Aisyah Saat ditinggal Abu Bakar

Setelah meninggalnya Rasulullah Saw, kesedihan kembali menemui Aisyah Ra. Kali ini adalah kematian ayahandanya tercinta. Abu Bakar Ash Shiddiq Ra.

Aisyah Ra menuturkan, “Saat Abu Bakar jatuh sakit yang membuatnya meninggal dunia, aku datang menjenguk kala ia menghadapi kematian dengan nafas terengah di dada. Aku kemudian menuturkan bait syair ini;

Sungguh, kekayaan sama sekali tiada membawa guna bagi seseorang.
Kala nafas tersendak di tenggorokan dan dada sempit diuatnya.

Ia menatapku denganrona seperti marah lalu berkata, ‘Tidak seperti itu wahai Ummul Mukminin. Firman Allah Swt lebih benar; ‘Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.’ (Qaf:19)

Setelah itu ia berkata, ‘Wahai isyah, tak seorang pun di antara keluargaku yang lebih aku cintai melebihimu. Dulu, aku pernah memberimu sebidang kebun. Namun aku merasa tidak berkenan akan hal itu. Untuk itu, kembalikan (sebidang kebun itu) pada warisan.’ ‘Baiklah’,” sahut Aisyah. Ia kemudian mengembalikan sebidang kebun itu.

Penyakit Abu Bakar terus berlajut selama 15 hari, hingga pada hari senin malam selasa, tepatnya tanggal 22 jumadil Akhir 13 Hijriyah. Abu Bakar bertanya kepada Aisyah Ra, “Pada hari apa Rasulullah Saw meninggal dunia?’ ‘Hari senin, ‘Jawabnya. ‘Andai (Allah) berkehendak, aku ingin (meninggal) antara saat ini hingga nanti malam. Dengan apa kalian dulu mengafani beliau,’ tanya Abu Bakar.

‘Tiga kain putih buatan Sahul (nama sebuah perkampungan) Yaman tanpa gamis atau pun surban, ‘jawab Aisyah.

‘Lihatlah dua bajuku ini. Baju ini ada minyak za’faran atau masyqnya. Cuciah baju ini dan sertakan dua kain lainnya,’ pintta Abu Bakar.

‘Ayah ! Baju ini sudah lapuk,’ kata Aisyah. ‘Yang masih hidup lebih memerlukan pakaian baru. Itu (kafan) hanya untuk sesaat saja,” tukas Abu Bakar. (HR. Ibnu Sa’ad)

Masih dalam riwayat Aisyah Ra, ia berkata, “Saat kematian datang, Abu Bakar bertanya, “Hari apa ini ?’ ‘Senin,’ jawab orang-orang. ‘Jika aku meninggal malam ini, jangan kalian tunggu sampai esok. Karena hari dan malam yang paling aku suka adalah yang paling dekat dengan (hari wafatnya Rasulullah Saw.” (HR.Ahmad)

Abu Bakar Ra meninggal dunia dalam usia 63 tahun. Seluruh riwayat sepakat dengan angka tersebut. Sama seperti usia Rasulullah Saw.

Aisyah tutup usia

Sekarang tibalah kita pada akhir dari kehidupan Aisyah Ra. Goresan dalam lembaran terakhir ini akan menceritakan akhir usia ibu kita, Ummul Mukminin Aisyah Ra.

Diriwayatkan dari Umar bin Sa’id bin Abu Husain, ia berkata, “Ibnu Abi Mulaikah bercerita kepadaku, ia berkata, ‘Ibnu Abbas meminta izin masuk menjenguk Aisyah sebelum ia meninggal dunia kala ia tidak sadarkan diri (karena beratnya beban kematian). Ia berkata, ‘Aku khawatir jika aku dipuji.’ Setelah itu ada yang memberitahukan kedatangan Ibnu Abbas, ‘Saudara sepupu Rasulullah Saw datang .’ ‘Izinkan dia masuk,’ kata Aisyah. Ibnu Abbas kemudian berkata, ‘Kau akan baik-baik saja InsyaAllah. Karena kau adalah istri Rasulullah Saw. Beliau tidak menikah seorang perawan selainmu, dan pembebasanmu (dari tuduhan keji) turun dari laingit.’ Ibnu Zubair kemudian masuk setelah Ibnu Abbas pergi, Aisyah berkata, ‘Abdullah bin Abbas tadi memuji-mujiku (padahal hari ini aku tidak mendengar seorang pun menyampaikan pujian kepadaku). Andai saja aku ini tiada berarti dan dilupakan sama sekali.” (HR.Ahmad)

Sementara Qais juga meriwayatkan. Ia berkata, “Aisyah berkata –sebelumnya ia pernah berkeinginan untuk dimakamkan di rumahnya, ‘Dulu setelah Rasulullah Saw meninggal, aku melakukan sesuatu. Maka makamkan aku bersama istri-istri beliau.’ Ia pun dimakamkan di Baqi’.” (HR. Ibnu Sa’ad)

Yang dimaksud melakukan sesuatu disini adalah kepergian Aisyah di perang Jamal. Ia sangat menyesal dan bertobat dari hal itu dengan menakwilkan dan bermaksud baik, seperti halnya ijtihad yang dilakukan Thalhah bin Ubaidullah, Zubair bin Awwam, dan sejumlah tokoh shahabat lainnya. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Pada bulan Ramadhan 59 Hijriyah, Ummul mukminin Aisyah jatuh sakit. Ia berwasiat untuk dimakamkan di Baqi bersama teman-teman sesama Ummahatul Mukminin dan Ahlul bait Rasulullah Saw.

Pada malam selasa, tanggal 17 Ramadhan, Ummul mukminin Aisyah meninggal dunia. Ruhnya naik menuju Rabb dalam keadaan ridha lagi diridhai. Saat Ummul Mukminin Umm Salamah mendengar teriakan menangisi kematian Aisyah Ra, ia berkata, “Demi Allah, ia adalah orang yang paling dicintai Rasulullah Saw setelah ayahnya.”

Ia dimakamkan pada malam itu juga selepas shalat witir.

Abu hurairah maju lalu menshalatkan jenazahnya. Orang-orang berkumpul, para penduduk kawasan dataran tinggi Madinah turun menghampiri jenazahnya. Belum pernah terlihat perkumpulan orang-orang pada suatu malam yang lebih baik melebihi malam itu.

Kala melepas kepergian ibunda nan tak ternilai, kita tiada mampu berbuat apa pun selain membaca firman Allah Swt :

“Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai – sungai, di tempat yang disenangi di sisi Rabb Yang Mahakuasa.” (Al-Qamar : 54 – 55)

Itulah sekelumit kisah bunga surga, ibunda kita tercinta Ummul Mukminin. Aisyah Ra.

Sumber referensi : Buku 35 Shahabiyah Rasul karya Syaikh Mahmud Al-Mishri

 

Artikel Menarik Lainnya




comments