Imam Syafi’i, tentu kita tak asing lagi dengan sosok ini, seorang ulama mazhab yang memiliki khazanah keilmuan yang begitu tinggi, bahkan negeri kita Indonesia mayoritas memilih pendapat ulama ini sebagai mazhab utamanya. Imam Syafi’i telah mengkhatamkan hafal Al-quran sejak usia 7 tahun, menghafal banyak hadits semenjak berusia 9 tahun dan telah menjadi mufti sejak usia 14 tahun. Bahkan pada suatu ketika disaat ia mengajar di bulan puasa, Ia pernah minum disaat sedang mengajar dan ketika murid-muridnya menegurnya ia menjelaskan kalau dirinya belum baligh dan belum wajib berpuasa, Maa syaa Allah.

“Ia ibarat matahari bagi bumi, dan kesehatan bagi badan..Adakah yang bisa menggantikan keduanya..?” .Begitulah Imam Ahmad bin Hambal memberikan sanjungan pada gurunya yang satu ini. Imam Asy-Syaf’i, memiliki keluasan ilmu, kecerdasan yang luar biasa dan kekuatannya dalam hafalan, Allah anugerahkan juga padanya kefasihan lisan dalam bahasa arab. Jika kita bertanya, apa rahasia sukses dari seorang Imam Syafi’i maka tak terlepas dari seorang wanita yang selalu ada dibelakangnya, selalu berjuang dan berkorban untuknya, selalu memberikan pendidikan terbaik dan memfasilitasi pendidikan terbaik untuknya. Ya, wanita itu adalah ibunda imam syafi’i ; Fathimah binti Ubeidillah.

Memilihkan ayah terbaik untuknya.

Idris, ayah dari Imam syafi’i adalah laki-laki pilihan dari ayahnya fathimah bin Ubeidillah karena kejujurannya. Dikisahkan suatu saat Idris menemukan buah delima dipinggir sungai dalam perjalanannya, dan disebabkan oleh rasa lapar ia memakan buah tersebut. Namun setelah Ia memakan buah tersebut, ia teringat jikalau buah tersebut bukanlah haknya. Khawatir ada makanan yang tidak halal masuk kedalam perutnya, iapun menyusuri sungai tersebut berusaha menemui yang punya kebun dan meminta izin agar di ikhlaskan buah yang termakan olehnya. Singkat cerita akhirnya yang empunya kebun memberikan syarat kepada si pemuda tersebut agar menjaga kebunnya selama 1 bulan lalu juga dengan menikahi putrinya.

Itulah kisah pertemuan ayah-ibundanya Imam Syafi’i. Seorang pemuda yang jujur dan sangat menjaga dirinya dengan seorang wanita yang terjaga pandangannya, terjaga pendengarannya dan juga terjaga dirinya dari maksiat.

Menjaga setiap makanan yang masuk dalam perut Imam Syafi’i

Pernah suatu ketika Imam syafi’i kecil ditinggal dirumah sendiri oleh ibunya ke pasar. Ketika sendirian dirumah, Imam syafi’i kecilpun menangis melihat hal ini tetangga Imam Syafi’i yang kebetulan juga sedang menyusui merasa iba dan iapun menyusui Imam syafi’i kecil. Sesampai ibundanya dirumah, setelah mengetahui kalau anaknya disusui oleh tetangganya, ia merasa khawatir kalau ada hal yang tidak halal masuk ke tubuh anaknya melalui susu tetangganya tersebut. Ibu Imam Syafi’i pun mengangkat tubuh Imam Syafi’i terbalik dan mengguncang-guncang perutnya sampai semua yang masuk kedalam perutnya tadi keluar lagi.

Begitulah, ibunda Imam Syafi’i menjaga anaknya dari hal-hal yang tidak halal akan masuk ke perutnya. Dari sini kita juga bisa melihat, ibunda Imam Syaf’i paham kalau ASI (Air Susu Ibu) ibu sangat berpengaruh terhadap watak, karakter dan kepribadian anaknya kelak. Makanya ia sangat berhati-hati terhadap air susu atau makanan yang masuk kedalam perut putranya.

Memberikan dan memfasilitasi tempat belajar terbaik bersama dengan ulama-ulama terbaik.

Pada usia 10 tahun, sang ibunda telah melepas Imam Syafi’i untuk belajar ke Mekkah, belajar lansung dengan para ulama di sini, menghafal hadits serta berbagai masalah ilmiah lainnya. Pada akhirnya Ia menjadi seorang ‘alim ulama besar yang namanya, yang karyanya tetap menyejarah sampai saat ini.

Mekkah adalah tempat terbaik, disini berkumpul ulama-ulama terbaik pula. Sang ibu ridho melepas anaknya meski masih sangat kecil untuk belajar di kota ini, bahkan dengan pembiayaan yang sangat minim sekalipun sebagaimana dituturkan oleh Imam Syafi’i sendiri : “Aku terlahir sebagai anak yatim dalam asuhan ibuku, Ibu tak memiliki uang sedikitpun yang bisa diberikan kepada guruku. Sebagai gantinya aku harus mengurus anak-anak didiknya ketika ia absen, dan meringankan sebagian tugasnya. Seringkali aku harus mencari potongan-potongan tulang sebagai media menulis…”

Jelaslah disini ketika kita mengingat petuah seorang ulama Hasan al banna, “Wanita adalah tiang negara, jika baik wanita dalam suatu negara maka baik pulalah negara tersebut, namun jika buruk wanitanya maka buruk jugalah negaranya”. Fathimah binti Ubeidillah telah membuktikannya, Ia tak hanya melahirkan dan membesarkan putra yang besar pada zamannya, namun juga seorang ulama yang sampai hari ini masih bersinar namanya dan bahkan makin bersinar diasah masa.

Sumber foto : www.satujam.com

Artikel Menarik Lainnya




comments