Dinanti sekaligus ditakuti, dirindui sekaligus dikhawatiri, Begitulah malam pertama. Setiap yang masih sendiri, yang merindukan menikah maka tentu juga merindukan malam pertama. Akan tetapi disisi lain malam pertama menjadi suatu hal yang ditakuti dan dikhawatirkan.

Ada rasa malu, canggung, deg-degan, kikuk, rikuk dalam malam ini. Tentu ini dirasakan oleh mereka yang memulai pernikahan tanpa pacaran. Menikah dengan cara yang Allah ridhoi. Bagi mereka yang telah memulai ikatan sebelum pernikahan, saat sentuhan tangan sudah biasa, pelukan menjadi lumrah tentu malam pertama tak lagi menjadi kejutan dan hadiah yang istimewa bagi mereka.

Inilah sebagian dari indahnya menikah tanpa pacaran, merasakan bagaimana nikmatnya malam pertama. Sehingga malam ini patut diingat, dikenang dan sulit untuk dilupakan selamanya.

Ustadz Mohammad Fauzil Adhim menyebut semua rasa yang dirasakan di malam pertama seperti malu, canggung, kikuh, rikuh dan sejenisnya adalah rahmat dari Allah Swt. Patut disyukuri dan rasa inilah yang membuat malam pertama menjadi begitu indah.

Tak mudah memang bagi seorang wanita yang selama ini menjaga dirinya dari bersentuhan tangan dengan lawan jenis, menutup rapat seluruh tubuhnya bahkan sehelai rambut pun berusaha ia lindungi, menjaga hati dengan menghindari komunikasi tidak penting dengan lawan jenisnya dan tidak bercanda dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Dan saat malam pertama ia harus melepas semuanya, menjadi kebolehan untuk menampakkan semuanya di hadapan seorang laki-laki yang telah menjadi suaminya. Tak mudah memang, tapi harus dilewati dan disitulah indahnya.

Pun, begitu juga bagi seorang laki-laki yang selama ini menundukkan pandangannya, menjaga dirinya, dan menghindari segala macam hal yang menyebabkan maksiat dengan lawan jenisnya. Saat itu, di malam pertama ia bebas untuk menyalurkannya. Bahkan menjadi ibadah yang berbuah pahala. Gagap tentu, malu pasti tapi disitulah keindahannya. Selalu ada keindahan dibalik ketakwaan, selalu ada manis buah dari ketaatan.

Lalu ngapaian di malam pertama ? Ya, mungkin ini adalah pertanyaan hampir dari setiap mereka yang masih dalam kesendirian (jomblo) . Setiap amalan ada tuntunannya, setiap aktivitas ada ilmunya, begitu juga dengan malam pertama. Agar malam pertama menjadi lebih berkah, berlimpah kebaikan, berbuah pahala maka ikutilah tuntunan dan sunnahnya.

Berikut adalah beberapa hal yang  perlu diperhatikan, diamalkan dan dilakukan saat malam pertama.

1. Menjaga kebersihan badan, gigi dan mulut

Kesan pertama begitu menggoda, selebihnya terserah anda.

Kurang lebih seperti itulah guyonan yang sering kita dengar. Malam pertama mungkin saat pertemuan pertama kita dengan pasangan dalam jarak yang begitu dekat, saat pertama mengobrol berdua dan juga saat pertama saling bersentuhan.

Tentu kita tak ingin pasangan kita malah mendapatkan kesan buruk atas diri kita sebab badan yang bau, gigi yang tidak bersih, bau mulut serta aura tidak enak lainnya dari tubuh kita. Sebagaimana kita sendiri tentu tak ingin mendapati pasangan kita dalam kondisi demikian.

Jangan sampai pertemuan pertama menjadi kesan yang tidak enak, kenyamanan komunikasi terganggu sehingga hilang mood untuk melakukan aktivitas berdua lainnya.

Aisyah r.a pernah ditanya

“Pekerjaan apa yang mula-mula dilakukan Rasulullah Saw saat memasuki rumahnya ?” Ia menjawab, “Siwak!” (H.r Muslim)

Saat malam pertama, setelah perjamuan selesai dan tamu-tamu tak ada lagi yang datang. Maka sangat dianjurkan masing-masing pasangan untuk mandi, membersihkan badannya, menggosok gigi, menyiapkan permen penghilang bau mulut, merapikan janggut bagi yang laki-laki . Tampillah seindahnya, secantik dan seganteng mungkin pada malam itu, untuk pasangan anda.

Setelah membersihkan badan, maka sebaiknya memakai wewangian, menyiapkan minyak wangi jauh-jauh hari. Dan memakai wangi-wangian InsyaAllah juga bagian dari sunnah Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw bersabda

“Yang sangat aku cintai dari duniamu adalah istri dan haruman. Dan dijadikanlah shalat sebagai penyejuk mataku.”(H.r. Ahmad, Nasa’i, dan Baihaqi)

Rasulullah Saw sendiri memiliki kebiasaan memberi haruman pada seluruh tubuhnya, tanpa terkecuali. Dalam peristiwa Shulhul Hudaibiyah, Ummu Salamah mengabarkan bahwa beliau meratakan parfum ke seluruh tubuh baginda Nabi. Kemudian Rasulullah sendiri memberi parfum pada bagian farji (kemaluan) beliau.

Ustadz Moh. Fauzil Adhim pun menyebutkan tempat-tempat yang sebaiknya diberi parfum diantaranya adalah daerah-daerah lipatan, yaitu lipatan telinga, lipatan jari-jemari, maatif (daerah leher dan geraham), kening, lipatan payudara, serta kemaluan, yakni pada permukaan dan dinding-dindingnya jika memungkinkan. Khusus wanita juga bisa menyiapkan sabun kebersihan khusus untuk wilayah kewanitaan.

2. Membersihkan lima perkara

“Lima hal termasuk fitrah; istihdaad (mencukur bulu di sekitar farj), khitan, memangkas kumis, mencabuti bulu ketiak, dan memotong kuku.” (H.r.Jamaah)

Istihdaad yaitu membersihkan rambut yang tumbuh disekitar kemaluan, baik untuk laki-laki dan perempuan. Bisa dibersihkan menggunakan gunting, pisau cukur dan sejenisnya. Hikmah dari sunnah ini adalah meningkatnya kenikmatan dalam berhubungan intim yang dirasakan baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Setelah istihdaad (mencukur bulu sekitar kemaluan) yang perlu juga diperhatikan adalah mencabut bulu ketiak. Bulu ketiak sunnahnya dicabuti, namun jika tak kuat karena rasa sakit maka boleh mencukurnya. Imam syafi’i membolehkan penggunaan alat cukur untuk mencukur bulu ketika. Selanjutnya adalah memotong dan membersihkan kuku, merapikan jenggot.

3. Berhiasan untuk tampil secantik dan setampan mungkin

“Perhiasaan lelaki adalah yang tampaknya baunya, namun tersembunyi warnanya. Dan perhiasaan wanita adalah yang tampak warnanya namun tersembunyi baunya.”
(H.r Tirmidzi dan Nasa’i)

Dari hadits diatas dapat kita maknai berhiasnya laki-laki adalah menonjolkan sisi baunya. Memakai wewangian, mewakain pengharum mulut dan seterusnya. Sementara wanita yang ditonjolkan adalah tampilannya. Maka sangat dianjurkan wanita untk berihias serta tampil secantik mungkin dihadapan pasangannya di malam pertama.

4. Mengucapkan salam

Rasulullah Saw bersabda pada Anas.

“Wahai anakku, jika engkau datang pada keluargamu, maka ucapkanlah salam. Jadilah kebarakahan atasmu dan atas ahli rumahmu” (H.r Tirmidzi)

Saat malam pertama boleh jadi yang masuk kamar pertama istri dan suami mengikuti. Maka saat memasuki kamar pengantin, menemui pasangan ucapkanlah salam. InsyaAllah ini sunah nabi dan ada kebarakahan di dalamnya.

5. Mendoakan istri

Rasulullah Saw bersabda

“Apabila kalian menikah atau membeli budak, peganglah bagian keningnya, ucapkan asma Allah, mohonkan keberkahan dengan mengucapkan : Aku mohon perlindungan-Mu (ya Allah) dari kejahatannya dan kejahatan naluriahnya. “(H.r Bukhari dan Abu Dawud)

Ini adalah sunnah nabi yang perlu dilakukan oleh seorang suami pada istrinya. Mendoakan istrinya dengan cara meletakkan tangan kanan ke bagian kening istri (tempat tumbuhnya rambut), sembari mengucapkan do’a sebagaimana yang disebutkan oleh hadist diatas.

Mendoakan istri ini bisa dilakukan setelah akad pernikahan dan juga bisa dilakukan setelah walimah saat sudah berdua dengan istri di dalam kamar.

6. Shalat sunnah bersama

Diriwayatkan oleh Abu Sa’id, budak Abi asid, ia berkata

“Saya menikah padahal posisi saya waktu itu masih sebagai budak. Saya mengundang beberapa sahabat Rasulullah Saw., antara lain Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzaifah. Shalat hendak dimulai dengan bacaan iqamah. Abu dzar bangkit dan maju ke depan untuk mengimami. Para hadirin menyuruh saya untuk maju: Engkau saja. Saya bertanya kepada mereka, apakah saya pantas menjadi imam ? Serentak mereka menjawab, “Ya.” Kemudian saya maju ke depan menjadi imam, padahal saya masih budak.

Mereka mengajarkan kepada saya, “Kalau engkau masuk menemui istrimu, shalatlah bersama dua rakaat, kemudian mohonlah kepada Allah agar dianugerahi kebajikan dan dilindungi dari kejatahan. Sesudah itu terserah engkau dan istrimu”

Diriwayatkan oleh Syaqiq bahwa telah datang seorang laki-laki bernama Abu Jarir, lalu berkata, “Saya telah menikahi seorang perempuan muda (perawan) dan saya khawatir ia akan membangkitkan marah saya.” Ibnu Mas’ud menjawab, “Kerukunan itu datangnya dari Allah dan kemarahan itu datangnya dari setan. Ia ingin engkau membenci apa yang dihalalkan Allah kepadamu. Kalau istrimu masuk menemuimu, ajaklah ia shalat dua rakaat di belakangmu.”

Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud ada tambahan, “Ucapkanlah do’a : Ya Allah berilah keberkahan kepadaku dengan istriku dan berikan keberkahan kepada mereka (keluarga istri) dengan aku. Ya Allah, persatukanlah kami berdua selama persatuan itu mengandung kebajikan-Mu, dan pisahkanlah kami berdua jika perpisahan itu menuju kebaikan-Mu.”
(Hr. Abu Bakar bin Abi Syaiban)

7. Obrolan ringan penuh cinta

Asma’ binti Yazid menceritakan tentang bagaimana kikuk berujung akrab antara Aisyah dan Rasulullah Saw di malam pengantin. Imam Ahmad meriwayatkannya :

“Aku menghias Aisyah untuk Rasulullah Saw, lalu aku datang pada beliau. Kupanggil beliau agar memandang Aisyah secara jelas. Lalu beliau menuju ke sampingnya.

Maka didatangkanlah sebuah wadah besar berisi susu dan beliau meminumnya. Kemudian Nabi Muhammad Saw mengulurkannya pada Aisyah. Aisyah hanya menundukkan kepala dan tampak dipenuhi rasa malu.”

Kata Asma’ kemudian, “Akupun membentaknya dan berkata padanya : Ambillah dari tangan Nabi Saw! Lalu ia menerimanya dan meminumnya sedikit. Kata Nabi padanya : Berilah juga temanmu itu!”

Banyak cara bisa anda lakukan untuk membuka obrolan dengan pasangan saat malam pertama, salah satunya adalah minum dalam satu wadah yang sama sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Selain itu anda juga bisa menyiapkan hidangan lain seperti berbagai jenis buah-buahan, camilan, coklat atau apapun itu.

Bagi yang laki-laki ajaklah pasangannya untuk mengobrol ringan, menanyakan kabar, buat pasangan anda merasakan nyaman. Bagi yang wanita meskipun untuk pertama kalinya berduaan dengan lelaki yang pada mulanya adalah lelaki asing, tentu akan muncul rasa sungkan, malu, deg-degan atau mungkin juga perasaan cemas. Tetaplah tenang, bersahabat dan sama-sama berusaha membangun keakraban penuh cinta dengan laki-laki yang saat itu telah menjadi suami anda.

Tentang obrolan di malam pertama ada satu kisah menarik yang disampaikan oleh Ustadz Mohammad Fauzil Adhim. Ini kisah tentang al-Qadhi Syuraih yang sering dipanggil dengan kuniyah Abu Muayyah dan istrinya, Zainab bintu Jarir. Berikut adalah kisahnya.

“Aku shalat,” kata Syuraih, “dan dia pun ikut shalat sebagaimana shalatku. Setelah aku selesai shalat, dia mengambil baju-bajuku lalu memakaikanku sebuah kain yang sangat harum. Setelah sunyi aku mendekat ke arahnya, lalu kuulurkan tanganku ke arah pelipisnya.”

Ia berkata, “Sabarlah sebentar wahai Abu Mu’ayyah.”

Kemudian ia berkata, “Alhamdulillah, sesungguhnya segala puji bagi-Nya. Aku memuji-Nya. Kepada-Nya aku minta pertolongan dan kepada-Nya aku memohon ampunan. Semoga salawat dan salam atas Muhammad dan keluarganya.

Sesungguhnya aku adalah seorang asing yang tidak mempunyai pengetahuan tentang dirimu. Karenanya, terangkanlah padaku apa-apa yang kaubenci untuk aku tinggalkan. Sesungguhnya engkau dulu telah menikah dengan seorang muslimah dari kaummu dan aku telah menikah dengan seorang muslimah dari kabilahku, akan tetapi apa yang ditetapkan Allah pasti berlaku untuk semua hamba-Nya. Kini aku telah mejadi milikmu. Karenanya perlakukanlah aku sebagaimana yang telah diperintahkan Allah, yakni engkau perlakukan aku dengan baik atau kaupisah aku dengan baik pula. Sekian dariku, semoga Allah, mengampuni dosaku, dosamu, dan dosa kaum muslimin.”

Syuraih berkata, “Demi Allah aku dituntut untuk mampu berkhutbah sebagaimana yang diucapkannya. Maka aku pun berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, kepada-Nya aku menyembah, mohon pertolongan, dan kepada-Nya pula aku mohon ampunan. Semoga shalawat atas Muhammad dan keluarganya. Amma ba’d.

Sesungguhnya engkau telah mengucapkan suatu perkataan yang jika engkau berpegang teguh di dalamnya, sungguh berbahagialah aku. Dan jika engkau mengingkarinya, maka hal itu akan menjadi hujjah atas dirimu karena aku juga menyukai sesuatu dan membenci sesuatu. Karenanya, jika engkau melihat yang baik bantulah aku untuk terus melaksanakannya. Dan jika engkau melihat sesuatu yang buruk, tutuplah dan jangan engkau sebarkan kepada orang lain”

Ia (sang istri) bertanya, “Apakah engkau suka jika ada yang menziarahi kita ?”

Aku berkata, “Aku tak suka jika mereka bertamu terlalu lama”

Ia bertanya, “Siapa yang engkau sukai di antara tetangga kita sehingga aku dapat mengizinkan mereka masuk, dan siapa yang tidak engkau sukai sehingga aku akan mencegahnya?”

Aku menjawab, “Anak-anak si Fulan adalah anak-anak yang jahat”

Maka, kata syuraih, “aku lalui malam itu bersamanya dengan penuh kebahagiaan dan selama setahun ia bersamaku, tak pernah aku dapati kecuali yang aku sukai.”

Sebuah obrolan sederhana dan penuh makna telah dicontohkan oleh syuraih dan istrinya untuk kita. Bagi sahabat semua, malam pertama juga bisa diisi dengan perkenalan singkat, saling mengenali diri kembali, menyampaikan yang kita sukai, apa yang tidak kita sukai serta apa harapan kita tentang rumah tangga yang akan dijalani bersama.

Selain obrolan penuh makna sebagaimana contoh diatas anda juga bisa menyelingi obrolan di malam pertama dengan canda dan tawa. Jika mau menggombal dan mengobral kata-kata romantis atau mungkin juga ingin menyatakan cinta “Aku mencintaimu” juga saat yang tepat.

8. Hubungan suami istri

Apakah hubungan suami istri mesti dilakukan di malam pertama ? Mungkin pertanyaan semacam ini sering muncul di benak kita semua, khususnya bagi yang masih sendiri. Mitos yang sering beredar dan sayangnya diyakini oleh banyak orang khususnya kaum wanita adalah tentang rasa sakit saat pertama kali melakukan hubungan seksual. Sehingga hal ini tak jarang membuat wanita takut untuk melakukan hubungan suami istri.

Tentu hal diatas manusiawi, oleh sebab itu saat malam pertama alangkah baiknya diawali dengan aktivitas-aktivitas yang mengakrabkan dan membuat kenyamanan masing-masing pasangan sebagaimana bahasan kita sebelumnya. Untuk hubungan suami istri boleh dilakukan bahkan sangat dianjurkan untuk dilakukan di malam pertama dan tentu juga boleh juga dilakukan pada malam-malam lainnya saat sama-sama telah memiliki kesiapan. Namun, sebaiknya dilakukan di malam pertama. “Ibarat berpuasa menyegerakan berbuka adalah lebih baik dan lebih dekat pada sunnah Nabi Muhammad Saw.”

Dalam sirah Nabawiyah pun kita mengenal ada Hanzhalah yang menyegerakan hubungan suami istri di malam pertamanya. Kisah ini sangat populer karena Hanzhalah tak sempat mandi setelah melakukan hubungan suami istri lalu pergi berjihad dan mendapatkan syahid. Lalu pada akhirnya Hanzhalah dimandikan oleh malaikat.

Jika ada ketakutan yang dirasakan saat malam pertama baik oleh laki-laki maupun wanita maka perlu dipahami lagi beberapa hal berikut :

  1. Hubungan suami istri (Jima’) adalah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari pernikahan, bahkan ini menjadi salah satu syarat mampunya seseorang menikah. Dan yang menjadikan hukum nikah menjadi sunnah atau bahkan wajib juga karena naluri untuk melakukan jima’.
  2. Salah satu tujuan pernikahan adalah melahirkan generasi yang shaleh dan shaleha. Maka ketahuilah perantara untuk melahirkan generasi terbaik tentu adalah jima’
  3. Jika kata orang jima’ untuk pertama kali itu sakit, bisa saja itu benar. Tapi perlu diketahui jima’ yang sakit biasanya disebabkan oleh beberapa hal seperti kurangnya pemanasan, mental yang tidak siap serta kurangnya ilmu seputar hubungan suami istri.
  4. Perlu dipahami juga pernikahan adalah ibadah, dan segala aktivitas dalam pernikahan tentu juga akan bernilai ibadah termasuk hubungan suami istri.

Dengan melakukan hubungan suami istri di malam pertama tentu akan menjadi kenangan indah tak terlupakan dalam hidup anda.  Keluguan, kekakuan, kikuk, penasaran, cemas, bahagia membaur menjadi satu dipadu oleh rasa cinta pada ilahi.

Untuk mempelajari lebih lengkap bagaimana hubungan suami istri sesuai panduan islam silakan baca tulisan Panduan berhubungan intim dalam Islam

9. Mandi berdua

Aisyah r.a menceritakan,

“Saya pernah mandi berdua dengan Rasulullah Saw dalam satu tempat yang terletak antara saya dan beliau. Tangan kami berebutan menciduk air yang ada di dalamnya. Nabi Saw. menang dalam perebutan itu, lalu saya berkata, “Sisaan untuk saya, sisakan untuk saya…Padahal pada saat itu kami sedang dalam keadaan junub.”
(HR.Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain Muawiyah bin Haidah bercerita bahwa ia bertanya kepada Rasulullah Saw.,

“Ya Rasulullah, aurat manakah yang dapat kami perlihatkan dan yang tidak boleh diperlihatkan?” Beliau Saw.menjawab, “Jagalah auratmy itu kecuali terhadap istri dan hamba sahayamu”
(Hr. Ashabus Sunan, kecuali Nasa’i)

Aktivitas mandi berdua, bisa anda lakukan juga di malam pertama. InsyaAllah aktivitas mandi berdua ini selain bernilai ibadah karena sunnah Rasulullah Saw juga bermanfaat untuk saling mengakrabkan pasangan suami istri. Menumbuhkan kemesraan dan akan membuat masing-masing pasangan saling dan lebih mencintai lagi.

Sumber referensi

  1. Buku Jodohmu Dekat, Dia Ada Dalam Dirimu karya Agus Ariwibowo
  2. Buku Barakallahu laka bahagianya merayakan cinta karya Ustadz Salim A.Fillah 
  3. Buku Wonderful Marriage karya Ustadz Cahyadi Takariawan

 

Artikel Menarik Lainnya




comments