Setiap insan yang menikah tentu memiliki harapan agar pernikahannya membawa kebahagiaan serta ketenangan di dunia hingga segalanya berlanjut ke akhirat kelak. Cinta yang disemai di dunia diharapkan tumbuh subur hingga ke surga-Nya nanti. Inilah cinta sejati, inilah cinta yang sesungguhnya.

Cinta ini tidak hadir hanya karena pesona kecantikan, tidak muncul hanya karena tergiur harta dan jabatan. Akan tetapi Allah lansung yang menumbuhkannya di hati setiap hamba yang terpilih.

Allah Swt berfirman :

“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia telah menjadikan untuk kamu pasangan dari jenis kamu sendiri agar kamu menjadi sakinah kepadanya dan Dia menciptakan kecintaan dan kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya dalam hal tersebut sungguh-sungguh terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mau berpikir”
(Q.s.ar-Rum : 21)

Ayat di atas menjelaskan pada setiap manusia kalau Allahlah yang akan menumbuhkan sakinah, mawaddah dan warrahmah dalam setiap diri manusia yang menikah. Allahlah yang saling menjalin keterikatan di antara jiwa mereka, Allah jugalah yang menanamkan rasa peduli, rasa ingin saling menjaga dan melindungi dalam setiap diri mereka. Inilah cinta yang indah, cinta yang Allah ridhai, cinta sehidup sesurga.

Lalu,

Kenapa tidak semua orang bahagia dengan pernikahannya ?

Kenapa tidak semua orang bisa menerima pasangannya ?

Kenapa tidak semua orang merasakan penyesalan yang mendalam akibat dari pernikahannya ?

Kenapa masih banyak rumah tangga yang dihiasi oleh konflik berkepanjangan ?

Mengapa itu semua terjadi ?

Tentu banyak hal bisa menjadi penyebabnya. Tapi ada dua penyebab yang sangat mendasar.

  1. Memulai pernikahan dengan cara yang tidak Allah ridhoi sebutlah memulai lewat aktivitas pacaran
  2. Menjalani kehidupan pernikahan tidak dengan cara yang Allah tunjukkan

Jika awalnya baik InsyaAllah akhirnya juga baik. Memulai pernikahan dengan cara yang Allah ridhoi atau malah dengan jalan maksiat akan mengurangi kebarakahan dari pernikahan tersebut. Namun, ini masih ada penawarnya. Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha pengampun. Allah selalu memberikan kesempatan pada hamba-hamba-Nya yang ingin bertaubat. Jika memang pada awalnya tidak atau mengalami kekhilafan masih ada kesempatan untuk bertaubat dan memohon ampun pada Allah Swt. Lalu kembali kepada ajaran Islam, mungkin cara memulai pernikahannya tidak baik tapi pastikan kalau anda menjalani kehidupan pernikahan dengan cara yang Allah ridhoi.

Sementara permasalahan mendasar yang kedua adalah tidak menjalani kehidupan pernikahan dengan cara yang Allah ridhoi. Allah Swt dan Rasulullah Saw telah memberikan tuntunan yang jelas dalam mengarungi kehidupan berumah tangga. Ada ilmunya, ada pembagiannya dan ada aturannya. Jika itu diabaikan tentu anda akan kesulitan mencapai cinta yang sesungguhnya, kesulitan mewujudkan rumahku adalah surgaku.

Semisalnya seorang wanita fitrahnya menjadi seorang ibu dan istri tempatnya di rumah. Sementara laki-laki pergi untuk mencarikan nafkah bagi keluarganya. Jika peran ini saja tidak dijalankan sebagaimana mestinya, misal laki-laki di suruh di rumah dan wanita di suru bekerja untuk mencari nafkah di luar tentu akhirnya akan menggoyahkan kelanggengan dalam hubungan rumah tangga.

Seorang suami fitrahnya sebagai pemimpin, pengayom dan pelindung dia adalah pemimpin dalam keluarga. Tetapi jika peran ini diambil oleh istri untuk menjadi pemimpin bagi suaminya tentu hubungan rumah tangga tidak berjalan dengan baik.

Kehidupan rumah tangga yang bisa menumbuhkan cinta menggelora dalam hatinya. Yang mana rasa cinta ini tumbuh dan bersemi hingga ke surga-Nya kelak adalah pernikahan yang selalu menjadikan Al-qur’an dan Sunnah sebagai tuntunannya berkeluarga. Ridho Allah menjadi visi utama mereka. Yang mana visi tumbuh dalam diri setiap anggota keluarganya.

 

Artikel Menarik Lainnya




comments