Setelah di bagian sebelumnya kita mengupas bagaimana Nabi Saw mendidik anak di usia 0 – 3 tahun, pada bagian ini kita akan melanjutkan pendidikan anak di usia 4 – 10 tahun. Fase ini disebut fase takwin (pembentukan). Apabila di fase sebelum ini hubungan antara orang tua dan anak dibayang-bayangi sisi emosional, maka di fase ini sudah mulai dimasukkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan pada anak.

Fase takwin, masa ini adalah fase utama dalam tahapan mendidik anak. Beberapa hal penting dalam fase ini adalah penanaman nilai-nilai, konsep benar-salah terutama dalam hal akidah , membiasakan hal-hal baik serta mulai menjalankan ibadah sederhana.

Baca juga  : Mendidik Anak Cara Nabi Usia 0 – 3 tahun

Mengajarkan Akhlak Mulia

Anas menuturkan bahwa Nabi bersabda,.

“Wahai anakku, jika engkau mampu membersihkan hatimu dari kecurangan terhadap seseorang, baik pagi hari maupun petang hari, maka lakukanlah.” Beliau melanjutkan, “Wahai anakku, yang demikian itu termasuk tuntunanku. Barang siapa yang menghidupkan tuntunanku, berarti ia mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku niscaya akan bersamaku di dalam surga.”
(HR.Tirmidzi)

Nabi Muhammad Saw mendidik anak-anak baik saat petang maupun pagi hari dengan mengamalkan firman Allah Swt dalam surah Ar-Rum 17 – 18 yang berbunyi :

“Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh. Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur.”

Akhlak mulialah yang diajarkan oleh Rasulullah pada anak-anak  di pagi maupun petang. Rasulullah Saw mendidik mereka agar berhati suci, berjiwa bersih, dan berlapang dada, untuk persiapan menghadapi suatu hari yang tak berguna lagi harta benda atau anak-anak, kecuali orang yang datang dengan membawa hati bersih. Rasulullah Saw mendidik anak-anak agar berhati bersih serta akhlak mulia di waktu pagi ketika memulai hari dan di waktu petang untuk mengakhirinya.”

Ibnul Qayyim berkata, “Di antara aspek yang sangat perlu diperhatikan dalam pendidikan anak adalah persoalan akhlak. Sebab anak akan tumbuh sesuai dengan kebiasaan yang ditanamkan oleh pendidik di masa kecilnya, apakah galak, suka marah, keras kepala, terburu-buru, cepat tergoda hawa nafsu, ceroboh, dan cepat naik darah. Bila sudah demikian, orang tua akan sulit menghilangkannya saat anak telah dewasa. Semua akhlak buruk itu berubah menjadi sifat dan karakter yang tertanam dalam dirinya.

Lebih lanjut Ibnul Qayyim menuturkan agar para orang tua menjauhkan anak-anaknya dari kebiasaan berkumpul dalam perbuatan sia-sia, kebatilan, nyanyian, mendengarkan kata-kata keji, bid’ah, dan ucapan buruk. Bila anak telah terbiasa mendengarkan hal itu, ia akan kesulitan menjauhinya ketika dewasa. Orang tuanya pun akan kesulitan menyelamatkan anak dari itu. “

Jika akhlak buruk telah mengkristal menjadi karakter dalam diri anak maka akan sangat sulit untuk mengubahnya, maka lebih baik dari awal membentuk karakter baik dalam diri anak dengan mengajarkan akhlak mulia padanya.

Masih tentang akhlak mulia, Al-Ghazali mengingatkan,.

“Anak harus dibiasakan agar tidak meludah dan mengeluarkan ingus di majelisnya, menguap di hadapan orang lain, membelakangi orang lain, bertumpang kaki, bertopang dagu, dan menyandarkan kepala ke lengan, karena beberapa sikap ini menunjukkan pelakunya sebagai orang pemalas. Anak harus diajari cara duduk yang baik dan tidak boleh banyak bicara. Perlu dijelaskan pula bahwa banyak bicara termasuk perbuatan tercela dan tidak pantas dilakukan. “

Akhlak mulia ibarat mutiara, jika dia telah tumbuh maka akan sangat bernilai harganya. Ia akan menjadi kebanggaan dan membawa kemuliaan bagi siapa saja yang memilikinya. Ia akan menjadi sebab kebaikan di dunia maupun di akhirat. Akhlak mulia, mari bersama kita ajarkan pada anak-anak kita agar mereka pantas mendapat predikat mutiara kehidupan. Dan saat anak berusia 4 – 10 tahun adalah waktu yang tepat untuk mengajarinya.

Menanamkan Akidah

Jika seorang muslim ditanya apa yang membuat dirinya begitu berharga, maka akidahlah jawabannya. Yang menjadikan seseorang menjadi muslim sejati atau hanya sekadar Islam KTP atau bukan muslim ada pada akidahnya. Dan, setiap orang tua tentu memiliki cita dan harapan yang sama, anak-anaknya memiliki akidah yang kuat, benar lagi lurus. Akidah yang kuat adalah akidah yang kokoh, tak mudah goyah apalagi tergadaikan oleh tipu daya dunia. Akidah yang benar dan lurus adalah saat dia hanya menjadikan Al-qur’an dan Sunnah sebagai tuntunan hidupnya, tidak ada penyimpangan, kemusyrikan dan hal-hal lain yang bisa membelokkan akidah.

Menanamkan akidah dalam diri anak adalah satu hal yang begitu penting, sebab Allah Swt hanya akan menghargai kebaikan yang dilandasi oleh akidah dan keimanan pada-Nya. Tidak ada artinya seseorang melakukan kebaikan tapi di hatinya tidak meyakini Allah Swt dan beriman pada-Nya.

Allah Swt berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 65 yang berbunyi :

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.”

Tentu sangat menyedihkan jika amalan anak-anak kita tidak diterima lantaran akidahnya goyah dan bermasalah. Untuk itulah kita sebagai orang tua mesti berupaya sebaik mungkin untuk menanamkan akidah dalam diri anak kita. Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menanamkan akidah dalam diri anak.

1. Penanaman Tauhid

Tauhid adalah fondasi utama dari akidah, untuk itulah Rasulullah Saw menganjurkan agar para orang tua memperdengarkan kalimat-kalimat tauhid pada semenjak lahir. Seperti memperdengarkan Adzan dan Iqamah dan membacakan ayat suci Al-quran yang mengandung makna tauhid.

Pada fase takwin (usia 4 – 10 tahun) mengenalkan tauhid sudah bisa dilakukan dengan mengajarkan nilai-nilai sederhana. Sebagaimana yang dilakukan oleh Luqman kepada anaknya agar menjauhi syirik. Ini adalah teladan bagaimana Luqman mengajarkan tauhid pada anaknya untuk pertama kali.

Dalam Al-quran disebutkan :

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata pada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
(Q.s.Luqman : 13)

Penanaman tauhid adalah kebutuhan penting bagi anak, jangan sampai orang tua terlalu sibuk memikirkan kebutuhan anak yang bersifat fisik dan menjadi abai memenuhi kebutuhan hatinya. Akan hal ini Nabi Muhammad Saw juga mengingatkan para orang tua agar tidak hanya memikirkan kebutuhan fisik dan materi anaknya saja. Sebagaimnaya sabda belia yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, dia berujar :

Nabi Saw bersabda, “Cukuplah sebagai dosa bagi seseorang saat ia menyia-nyiakan orang yang ia nafkahi.”
(H.R Abu Dawud)

Sejatinya pertanggung jawaban orang tua atas anaknya tidak hanya berhenti sampai di dunia saja, tetapi juga hingga akhirat kelak.Tempat kembali kita yang sesungguhnya. Dan agar kita mendapat kebaikan di dunia dan akhirat akidah dan tauhidlah yang menjadi modal utamanya.

Sungguh menyedihkan saat para orang tua terlalu sibuk memikirkan keberhasilan anaknya di dunia dan menjadi abai untuk urusan akhirat anaknya. Lupa menanamkan tauhid dalam diri anaknya sehingga saat telah dewasa kelak dengan mudahnya sang anak menukar tauhid dengan dunia yang semu. Tidak menanamkan tauhid dalam diri anak semenjak kecil sehingga setelah beranjak besar dia dengan mudah melakukan aktivitas syirik. Menyekutukan Allah Swt.

2. Mengenalkan konsep halal haram

Setelah penanaman tauhid hal penting yang perlu dilakukan agar anak memiliki akidah yang kokoh adalah mengenalkan konsep halal dan haram. Islam mengatur kehidupan kita dalam berbagai sisi kehidupan dengan konsep halal dan haram. Mulai dari makanan, pergaulan, tata hukum negara, ekonomi dan berbagai lini kehidupan lainnya lengkap ada aturannya dalam islam.

Memahami konsep halal haram bukan hanya teori semata, tidak juga hanya berdampak dunia saja jika kita melanggarnya. Akan tetapi konsep halal haram memiliki konsekuensi dunia akhirat. Jika kita mematuhi aturannya InsyaAllah kita akan bahagia dengan surga-Nya akan tetapi jika melanggar aturannya maka bersiaplah untuk mendapatkan siksa neraka.

Allah Swt mengingatkan kepada setiap keluarga untuk menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka sebagaimana tercantum dalam firmannya :

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan
(Q.S At-Tharim : 6)

Ibnul Qayyim Al – Jauziyah berpendapat bahwa dengan pengenalan dan penerapan konsep ini tentu saja bertujuan agar anak-anak kita kelak tidak terbiasa dengan hal-hal yang haram. Karena kalau sudah terbiasa, sulit untuk dilepaskan darinya.

3. Mengajarkan anak untuk mencintai Rasul

Rasulullah Saw bersabda :

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, dia berkata : Rasulullah Saw bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku menjadi orang yang lebih dicintainya daripada ayah dan anaknya sendiri.”
(H.R Al-Bukhari)

Mengajarkan anak-anak kita agar mencintai Rasulullah Saw adalah salah satu bagian dari proses mengokohkan akidah anak. Bahkan Rasulullah Saw mengingatkan tidak sempurna keimanan kita hingga menjadikan Rasulullah menjadi orang yang lebih kita cintai dari keluarga sendiri.

Dengan mencintai Rasulullah Saw, ketika cinta itu sudah tumbuh dalam jiwa anak-anak kita maka dengan sendirinya dia akan bersemangat untuk lebih mengenal sosok agung Rasulullah Saw melalu sirah kehidupannya, anak-anak kita juga akan bersemangat mengikuti setiap sunnah-sunnah Rasulullah Saw.

Banyak hal bisa dilakukan agar anak kita mencintai Rasulullah Saw, beberapa diantaranya adalah dengan mengenalkan sosok agung rasulullah pada anak-anak kita melalui buku-buku sirah atau buku sirah nabawiyah khusus untuk anak, mengisahkan kisah-kisah hebat dari episode kehidupan Rasulullah Saw, mengisahkan para sahabat yang membersamai Rasulullah Saw dan menyampaikan hikmah kebaikan dari setiap sunnah Rasulullah Saw.

Setelah mencintai Rasulullah Saw orang tua juga perlu mengenalkan keluarga Nabi pada anak-anaknya. Sebab mencintai keluarga Nabi adalah bagian dari mencintai beliau.

4. Mengajarkan anak untuk mencintai Al-qur’an

Dari Utsman Ra, Nabi Muhammad Saw bersabda,

“Sebaik-baiknya kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur;an”
(H.R Bukhari)

Al-quran adalah kitab suci umat muslim, di dalamnya lengkap pedoman serta petunjuk hidup agar tidak tersesat dalam mengarungi lautan dunia ini. Rasulullah Saw menjanjikan banyak keistimewaan bagi mereka yang bergiat mempelajari dan mengamalkan Al-quran dalam kehidupan mereka.
Anak-anak pun perlu kita tanamkan kecintaan pada Al-qura’n sejak dini. Mereka bangga dengan kitab sucinya dan menjadikan kita suci Al-quran sebagai panduan hidup.

Mengajarkan anak cinta Al-quran akan menguatkan penanaman akidah dalam diri anak. Semakin dekat seseorang dengan Al-quran semakin bertambahlah imannya dan semakin kokoh akidahnya. Sebagaimana disebutkan oleh salah seorang sahabat.

Diriwayatkan dari Jundab bin Abdulah, ia mengatakan,

“Dulu sewaktu kami masih beliau bersama Nabi Muhammad Saw, kami belajar dulu tentang iman sebelum belajar Al-qur’an. Setelah itu, kami baru belajar Al-quran sehingga iman kami pun bertambah.
(H.R Bukhari)

5. Mengajarkan anak mencintai sunnah Rasulullah Saw

Agar anak mengikuti sunnah Rasulullah Saw tentu dia mesti tau apa-apa yang dibolehkan dan apa-apa yang tidak dibolehkan oleh Rasulullah Saw. Dan semua perkataan Rasulullah Saw yang menjadi nasihat-nasihat ini ada dalam haditsnya. Untuk menghafal hadits adalah bentuk dari mencintai sunnah Rasulullah Saw dan akan memperkokoh akidah seorang anak.

Diriwayatkan dari Abu Haura ‘ As-Sa’di Rabi’ah bin Syaiban : Aku pernah bertanya kepada Hasan bin Ali Ra, “Apa hadits Rasulullah Saw yang anda hafal?”

“Aku hafal hadits : ‘Tinggalkanlah hal yang kamu ragukan untuk yang tidak kamu ragukan. Sebab, kejujuran itu ketenangan dan kebohongan itu ragu-ragu,”jawab Hasan
(HR. At-Tirmidzi)

6.Mempertahankan akidah

Dan yang terakhir bagian tak terpisahkan dalam pengokohan akidah adalah komitmen untuk mempertahankannya. Akidah adalah harta paling berharga setiap muslim, maka setiap muslim layak untuk mempertahankannya dari berbagai godaan. Baik dari godaan harta, wanita dan hal yang bersifat duniawi lainnya.

Para Nabi terdahulu juga melakukan hal ini pada anak-anaknya, sebab mereka sangat khawatir jika akidah hilang dalam diri anak-anak mereka. Kita bisa melihat bagaimana kisah Nabi Ya’qu As bersama anak-anaknya.

“Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-ananya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata), “Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim” Apakah kamu menjadi saksi saat mau menjemput Ya’qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku? “Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya berserah diri pada-Nya.”
(Q.S Al-Baqarah : 132 – 133)

Begitulah kekhawatiran Nabi Ya’qub akan akidah anak-anaknya, hingga saat ajal menjemput yang pertama kali dipastikannya adalah keselamatan akidah dari anak-anaknya.

Mengajarkan Anak Menyimpan Rahasia

Abdullah bin Ja’far bercerita, “Pada suatu hari Rasulullah memboncengku di belakangnya. Beliau kemudian membisikkan suatu pembicaraan kepadaku agar tidak terdengar oleh seorang pun (HR.Muslim)

Begitulah Rasulullah Saw mengajari anak agar menyimpan rahasia. Rasa percaya kepada anak kecil untuk menyimpan rahasia akan membangun rasa percaya diri dalam jiwa anak. Sikap ini membuat anak merasa dapat dipercaya dan dapat memberi pemahaman betapa pentingnya tugas rahasia yang diembankan pada dirinya

Menghibur Anak Yatim

Rasulullah Saw memberikan kabar gembira kepada siapa yang mengasuh anak yatim dengan kasih sayang akan masuk surga. Beliau bersabda, “Aku dan pengasuh anak yatim itu di surga seperti ini.” Beliau menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah dengan merenggangkan sedikit saja. (HR. Al-Bukhari)

Menjadi kemulian bagi siapa saja yang meluangkan waktunya dan mengorbankan hartanya untuk anak yatim. Selain itu Rasulullah Saw juga mengingatkan kita agar tidak merampas hak anak yatim.

Rasulullah Saw bersabda :

“Ya Allah, sesungguhnya aku mengharamkan hak dua orang lemah, yaitu anak yatim dan wanita” (HR.Ibnu Majah)

Allah Swt pun memberi peringatan dan ancaman bagi mereka yang menzalimi anak yatim sebagaimana firman Allah :

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”
(Q.S : An-nisa’ : 10)

Mengasah intelektualitas anak

Pendidikan intelektual adalah sesuatu hal yang sangat diperhatikan oleh Islam, begitu juga dengan parenting nabawiyah salah satu outputnya adalah melahirkan generasi-generasi yang cerdas secara intelektual. Sejarah pun telah membuktikan dengan lahirnya manusia-manusia hebat yang turut membangun peradab dunia dari rahim umat ini. Sebut saja tokoh-tokoh hebat seperti para Imam Mazhab, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al Jabar, Ibnu Khaldun, Muhammad Al fatih, dan banyak lagi yang lainnya.

Mereka adalah manusia yang sangat taat pada Allah, sangat mencintai Rasulullah dan juga mencintai ilmu. Rasulullah Saw pun memotivasi umat Islam untuk terus belajar menuntut ilmu. Sebagaimana sabda beliau yang berasal dari Abu Hurairah Ra.

Rasulullah Saw bersabda :

“Siapa pun yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, pasti Allah mudahkan jalannya menuju surga.” (H.r At-Tirmidzi)

Anak-anak kita hidup di era yang penuh dengan tuntutan akan kecerdasan serta keahlian. Seorang generasi muslim harus menjadi muslim yang cerdas, tangguh dan memiliki keilmuan yang bermanfaat bagi kehidupan banyak orang.

Untuk itulah setiap orang tua perlu mengasah intelektualitas anaknya agar mampu bersaing di era global ini serta juga mampu menorehkan prestasi di dunia keilmuan yang akan membanggakan umat muslim. Dalam mengasah intelektualitas anak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan serta dipersiapkan sebaik mungkin, hal itu diantaranya adalah :

1. Memperhatikan calon guru

Jika ingin menyekolahkan anak kita di suatu lembaga pendidikan tertentu maka perhatikanlah calon gurunya. Dalam proses mengasah intelektualnya tentu anak akan menghabiskan waktunya lebih banyak bersama guru. Secara tidak lansung anak akan meneladani apa yang dilakukan oleh gurunya. Maka sebelum memilihkan tempat belajar atau pun guru untuk anak perhatikan terlebih dahulu karakter gurunya. Perhatikan apakah ada ia adalah guru yang taat dan bertakwa pada Allah Swt, lihat juga akhlaknya apakah dia memiliki akhlak yang baik atau tidak dan yang terakhir adalah kapasitas keilmuan serta keahlian yang dimiliki guru tersebut terkait pelajaran yang akan diajarkannya.

Itulah sebabnya Rasulullah Saw perlu mengingatkan orang tua. Beliau berpesan kepada orang tua agar berhati-hati terhadap guru yang buruk, yang tidak punya belas kasihan dalam mengajar dan suka bertindak kasar. “Para guru anak-anak kalian adalah orang yang paling buruk.  Paling tidak punya rasa kasihat kepada anak yatim dan paling kasar kepada orang miskin (Ibnul Arabi)

2. Menjadikan Al-quran sebagai dasar keilmuannya

Banyak orang yang cerdas memiliki wawasan yang begitu luas, keahliannya dalam suatu bidang tak perlu diragukan lagi. Untuk prestasi tak perlu ditanya lagi banyak sudah karya-karya yang dihadirkannya. Tapi sayangnya dia tidak mengakui keberadaan Allah Swt, dia menanggap kecerdasan yang dimilikinya itu berasal dari dirinya sendiri tanpa campur tangan Allah Swt. Banyak orang yang demikian sebab saat belajar mereka mengabaikan Al-qur’an.

Al-quran adalah pondasi utama umat muslim, jadi sudah semestinya jika ingin mempelajari ilmu apapun di bumi jangan mengabaikan Al-quran. Tetap pelajari, telusuri ayat demi ayat dan rengkuh maknanya.

Untuk itulah mempelajari Al-quran menjadi bagian terpenting dalam mengasah intelektual. Untuk belajar Al-qur’an bisa mengikuti 6 tahapan berikut :

  1. Belajar mengenali huruf-hurufnya
  2. Belajar membacanya
  3. Belajar melancarkannya
  4. Belajar kandungannya
  5. Menghafalkannya
  6. Mengamalkan isinya.

Sangat menyedihkan semakin kesini banyak keluarga yang mengabaikan Al-quran. Belajar Al-quran sudah tak begitu penting lagi dibanding belajar matematika, bahasa asing, ilmu pengetahuan alam , komputer dan berbagai ilmu duniawi lainnya. Untuk itu perlu kesadaran bagi setiap orang tua betapa pentingnya mengajarkan Al-quran pada anak.

3. Belajar tulis menulis

Buku adalah jendela ilmu, untuk bisa memasukinya tentu anak kita memiliki kemampuan untuk membaca. Dengan membaca akan bertambah ilmu serta wawasan anak. Islam mengajarkan umatnya agar menjadikan membaca sebagai satu hal pertama dan utama, bahkan ayat yang pertama kali turun adalah perintah membaca.

Begitu pentingnya membaca Rasulullah Saw pernah membebaskan tawanannya dengan tebusan mengajari umat muslim baca tulis. Begitu juga dengan Khalifah Umar bin Khattab. Di dalam salah satu pesannya kepada warga Saym, Umar memerintahkan : “Ajarilah anak – anak kalian menulis dan berenang. Usia 4-10 tahun adalah periode yang cukup bagus untuk mulai mengasah kemampuan baca – tulis anak.

4. Belajar berhitung

Setelah membaca kemampuan yang juga perlu dimiliki oleh setiap anak muslim adalah berhitung. Kemampuan berhitung yang dimiliki oleh anak akan berdampak baik bagi kecerdasan akal, pergaulan sosial serta ketika dia memecahkan suatu masalah.

5. Pengetahuan agama dasar

Agar sang buah hati kita tak tersesat dalam menjalani kehidupan ini kita sebagai orang tua perlu membekalinya dengan pengetahuan agama dasar. Yang di dalamnya terangkum ilmu fikih dasar, ilmu tafsir dasar, ilmu hadits dasar dan lainnya.

6. Jauhkan anak dari TV

Meskipun banyak manfaat serta kebaikan dari televisi tapi dampak buruk yang didapat anak dari menonton televisi jauh lebih banyak dibanding kebaikannya. Terlebih lagi kondisi pertelevisian negeri kita acak-acakan seperti ini. Tak ada satu pun acara tanpa mengumbar aurat, musik-musik yang melenakan, sinetron atau drama yang menyesatkan. Sehingga pada akhirnya pilihan menjauhkan anak dari TV dan bahagia tanpa TV adalah pilihan terbaik orang tua demi anaknya.

Terlalu sering menonton televis akan membuat hati anak keras, sulit bergaul, kecanduan menonton, sulit bergaul dan berbagai keburukan lainnya. Pada intinya tak ada manfaat dari menonton dan lebih baik ditinggalkan dan dijauhi.

7. Mengajarkan anak mengelola waktu

Salah satu modal dasar yang dimiliki oleh setiap manusia dalam jumlah yang sama adalah waktu. Setiap kita memiliki waktu yang sama, tetapi samanya jumlah waktu yang kita memiliki tidak membuat sama prestasi serta karya yang berhasil kita hadirkan. Segalanya sangat bergantung pada bagaimana kita mengelola dan memanfaatkan waktu yang kita miliki.

Untuk itulah setiap anak muslim perlu memiliki keterampilan dalam mengelola waktu. Tujuannya agar anak-anak kita tidak borors dengan waktu dan bisa memaksimalkan setiap waktu yang ada untuk melakukan kebaikan.

Tentang waktu Rasulullah Saw mengingatkan kita. Beliau bersabda :

“Dua nikmat yang sering dilupakan banyak orang : kesehatan dan waktu luang.”
(H.r.Muslim)

Amr bin Maimun pernah mengatakan, “Bekerjalah selagi sehat, sebelum sakit. Selagi hidup sebelum mati. Selagi muda sebelum tua. Selagi santai, sebelum sibuk

Mengajarkan Anak Etika Makan

Di usia 4 – 10 tahun atau di masa pembentukan kepribadian anak ada satu hal yang perlu diajarkan oleh orang tua pada anaknya yaitu etika makan. Banyak orang tua yang mengabaikan hal ini, sehingga anak-anaknya tumbuh hingga dewasa bersama kebiasaan makan yang jauh dari adab dan etika Islam.

Berikut adalah 10 etika makan yang kami rangkumkan dari buku Islamic parenting karya Syaikh Jamal Abdurrahman :

  1. Mengambil makanan dengan tangan kanan
  2. Membaca doa dan basmalah sebelum makan dan hamdalah saat selesai
  3. Mengambil makanan yang dekat dengan kita
  4. Tidak terburu-buru apalagi berebutan dalam mengambil makanan
  5. Tidak memeloti makanan
  6. Tidak berantakan sehingga tangan, pakaian dan mulut tampak kotor
  7. Tidak makan dengan cepat
  8. Tidak mencela makanan
  9. Membiasakan anak makanan seadanya dan apa adanya.

Itulah  9 poin etika dan adab saat makan yang perlu kita biasakan pada anak-anak kita sejak mereka masih kecil.

Sumber referensi :

  1. Buku Islamic parenting
  2. Buku prophetic parenting

 

 

Artikel Menarik Lainnya




comments