Sakinah, mawadah dan warahmah tiga kata yang sudah tak asing lagi bagi kita. Hampir setiap ditanya apa tujuan dan misi pernikahan jawabannya sakinah, mawaddah dan warahmah. Dan setiap saat menghadiri pernikahan kitapun do’a ini selalu terselip “Semoga pernikahannya sakinah, mawaddah dan warahmah ya”. 

Sakinah secara bahasa artinya ketenangan, mawaddah adalah gairah cinta, sementara warahmah adalah kasih sayang. Rumah tangga yang sakinah adalah rumah tangga yang penuh dengan ketenangan, tidak buru-buru, jauh dari keributan, penuh kedamaian serta kenyamanan. Sementara mawaddah mewujud dalam gairah cinta yang menggebu, selalu bertumbuh dari hari ke hari dan waktu ke waktu. Semakin mengenal pasangan semakin bertumbuhlah cintanya, semakin mengenal pasangan semakin merindulah ia, kalau jauh ingin rasanya dekat dan kalau dekat ingin selalu bersama dalam canda serta tawa bersama pasangan. Dan, kasih sayang adalah sebuah letupan rasa yang selalu terselip dalam setiap aktivitas dalam rumah tangga dalam berbicara, dalam mendengarkan, dalam melayani pasangan, dalam bekerja mencari nafkah bagi ayah serta mengelola rumah tangga bagi ibu di rumahnya.

Memulainya dengan ketaatan dan ketakwaan

Menggapai pernikahan yang sakinah, mawaddah dan warahmah dimulai dengan ketaatan serta ketakwaan pada Allah SWT. Pernikahan dimulai dengan niat dan keyakinan yang sama yaitu ingin menjadikan pernikahan sebagai jalan untuk menggapai ridho Allah SWT. Pernikahannya bukan karena cinta semata, tidak pula tersebab pesona kecantikan atau ketampanan apalagi tergiur oleh berlimpahnya harta.

Saat memulai pernikahan masing-masing pasangan sama-sama menyadari kalau pasangannya adalah manusia bukan malaikat dan tidak juga bidadari syurga sehingga pada perjalanannya saat menemui kekurangan atau ketidaksempurnaan dalam diri pasangan bukan penyesalan dan kekesalan yang hadir namun upaya untuk melengkapi serta menyempurnakan kekurangan tersebut. Mereka yang memulai atas dasar taat dan takwa selalu menjadikan  taat dan takwa sebagai pedoman membangun rumah tangga mereka bukan pada ego pribadi.

Cinta itu ditumbuhkan bukan dimatikan

Cinta mati, sesuatu yang ngetrend dalam kalangan anak muda hari ini. Bahkan cinta mati menjadi salah satu alasan utama untuk menikah dengan seseorang dan juga sebagai alasan untuk tidak mau menikah dengan yang lain selain orang tersebut. Padahal sejatinya seindah-indahnya cinta adalah yang selalu bertumbuh dari hari ke hari dan waktu ke waktu secara pelan perlahan karena ini membuktikan kalau cintanya adalah hidup dan menghidupkan.

Maka tak perlu khawatir jika menikah dengan pasangan namun belum mencintai atau belum bisa mencintainya dengan sempurna karena sejatinya saat memilih dia karena cinta pada Allah dan rasulnya yakinlah Allah yang akan menumbuhkan cinta tersebut. Sementara mereka yang berusaha mencari cinta, menjatuhkan cinta atau bahkan mematikan cintanya pada akhirnya akan menemukan rasa kecewa.

Aku mah apa atuh, sangat bersyukur Allah pilihkan dirimu mendampingiku

Salah satu penghalang utama dalam proses menggapai sakinah, mawadah dan warahmah dalam rumah tangga adalah masing-masing pasangan merasa paling hebat, merasa paling berjasa, merasa paling banyak kontribusinya dalam rumah tangga dan selalu mengungkit-ungkit kebaikan yang dilakukannya. Ditambah lagi dengan menyalahkan pasangan, mengganggap pasangan selalu salah, dan tidak pernah melihat kebaikan pada pasangan kita.

Sementara saat kita melakukan sebaliknya, selalu merasakan kurang dalam melayani pasangan, selalu pintar melihat kekurangan diri dan selalu mengalah. Saat melihat pasangan lihatlah dia secara istimewa, katakan padanya “Saya sangat bersyukur Allah memilihkanmu sebagai pendamping hidupku”, lupakan kesalahan dan kekhilafanya dan selalu berusaha melihat sisi baik dalam dirinya. Saat marah atau menyebalkan sekalipun selalulah ingat kebaikannya, keluguannya, kelucuannya. InsyaAllah dengan seperti ini sakinah, mawaddah dan warahmah akan mewujud menghampiri.

Karena ia butuh perjuangan maka perjuangkanlah

Menggapai sakinah, mawaddah dan warahmah memang bukanlah hal sederhana. Butuh perjuangan, butuh pengorbanan dan kesabaran dalam menggapainya. Mungkin kita akan merasakan bagaimana perjuangan memberi senyum saat hati terasa ingin menangis, mungkin juga akan menikmati pengorbanan untuk berusaha memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasangan dan menguatkan semua prosesnya dengan kesabaran. Meyakini setiap hal yang dilewati selama itu bersandar pada garis yang telah ditentukan oleh Allah dan rasulnya akan bernilai ibadah.

Sumber foto : abiummi.com

Artikel Menarik Lainnya




comments