Istri sebagai perhiasan bagi suaminya, sebagai guru bagi anak-anaknya, teladan bagi masyarakat yang lain menjadi dambaan bagi setiap setia laki-laki shaleh. Bagaimana menjadi istri shaleha ? Istri shaleha adalah yang mengutamakan ketaatan kepada Allah Swt, selalu merasa diawasi oleh Allah Swt, selalu memperbaiki diri dan meningkatkan kapasitas keilmuan sebagai seorang istri maupun ibu. Berikut adalah beberapa hal penting yang perlu diketahui dan diamalkan oleh setiap wanita yang ingin menjadi istri shalihah.

Tampil cantik dari hatinya

Kecantikan memang satu hal berharga bagi setiap muslimah, saking berharganya tak jarang diantara mereka yang rela mengeluarkan biaya yang tak kecil. Jika niatnya untuk menyenangkan hati suami tentu ini tak masalah, dengan catatan tidak berlebih-lebihan. Tapi yang lebih utama bagi seorang muslimah adalah tampil cantik dari hatinya. Kecantikan dari hati akan memancarkan dalam ketaatan pada Allah Swt, kecantikan dari hati akan memunculkan rasa malu sehingga membuat muslimah tersebut menjadi muslimah yang menjaga dirinya dari berbagai interaksi dengan yang bukan mahram.

Kecantikan dari hati akan melahirkan tutur kata yang indah, penuh kejujuran dan ketawadhuan. Wanita shaleha adalah sebaik-baiknya perhiasan dunia, dan sebaik-baiknya perhiasan dari wanita shaleha adalah akhlak mulia.

Memiliki kesiapan menjadi istri dan seorang ibu

Beberapa waktu yang lalu melalui rubrik konsultasi elmina ada yang mengajukan pertanyaan. Bagaimana meyakinkan seorang wanita agar mau menikah dengannya, alasan wanita tersebut belum mau menikah karena ingin mengejar karirnya dulu. Kami pun mencoba memberikan jawaban sederhana, kalau sebenarnya wanita tersebut belum siap untuk menikah. Dan jika belum siap menikah untuk apa dipaksakan ?

Sejatinya pernikahan adalah untuk melahirkan generasi shalih dan shaliha, saat seorang wanita menyatakan siap untuk menikah maka saat itu juga sebenarnya dia sudah siap untuk menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu bagi anak-anaknya kelak. Istri shaliha menyadari betul akan perannya ini, kalau dia memiliki tugas dan pekerjaan yang amat mulia yaitu menjadi istri yang taat pada suaminya dan sayang pada anaknya. Ia mengerti perannya sebagai madrasah peradaban.

Selalu menjaga kehormatan dirinya

Istri shalihah adalah mereka yang selalu menjaga kehormatan dirinya. Ia tutup auratnya dengan sempurna sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah Saw.

“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang beriman : hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.s. al-ahzab : 59)

Ibnu Abbas r.a berkata, “Allah memerintahkan istri-istri orang beriman, apabila mereka dikenal dengan tertutup rapi, bersih, dan suci. Sehingga tidak akan diganggu orang-orang yang jahat. Ironis jika wanita Muslim “sulit dikenali” karena tidak mengenakan identitas Muslimah.

Istri shaliha juga menjaga dirinya saat suami tidak di rumah, ia tidak melakukan interaksi dengan laki-laki lain yang bukan mahramnya. Ia menjaga hatinya dan juga hati suaminya. Tidak menerima tamu laki-laki saat suami tidak di rumah, tidak bepergian bersama laki-laki lain.

Mengenali batasan auratnya

Istri yang shaliha adalah mereka yang mengenali batasan auratnya, dan tau siapa yang boleh dan tidak boleh melihat auratnya. Tentang batasan aurat Rasulullah Saw bersabda,

“Hai Asma! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah datang waktu haid, tidak patut diperlihatkan tubuhnya itu, melainkan ini dan ini,” sambil menunjuk muka dan dua telapak tangannya.”
(H.r.Abu Dawud)

Dari Jarir bin Abdullah, dia berkata, saya bertanya kepada Rasulullah Saw tentang melihat dengan mendadak. Maka jawab Nabi :

“Palingkanlah pandanganmu itu”
(H.r.Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

“Hindarilah keluar masuk rumah seorang perempuan”

Kemudain ada laki-laki Anshar bertanya, “Ya Rasulullah ! Bagaimana pendapatmu tentang ipar ?” Maka jawab Nabi :

“Bersendirian dengan ipar itu sama dengan menjumpai kematian.”
(H.r. Bukhari)

Kriteria pakaian istri shalihah

Rasulullah Saw bersabda :

“Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya : (1) Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi (cemeti), (2) Perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, cenderung berbuat maksiat dan menarik orang lain kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka ini tidak akan bisa masuk surga, dan tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian.”
(H.r.Muslim)

Dalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda :

“Barang siapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan nanti di hari kiamat.”
(H.r. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’iy dan Ibnu Majah)

Istri shaliha berpakaian sesuai kaidah pakaian seorang muslimah

Ada beberapa syarat penting dari pakaian seorang muslimah agar benar-benar sesuai dengan syariat Allah Swt.

  1. Tidak menampakkan bagian tubuh yang menimbulkan fitnah, tidak pula tipis seperti pakaian mode “you can see” atau pakaian tradisional seperti kemben, basahan, kebaya yang menonjolkan bagian dada, atau pakaian yang membentuk lekuk-lekuk tubuh wanita.
  2. Bukan pakaian khusus yang dipakai orang laki-laki seperti celana di zaman sekarang ini. Sebab, Rasulullah Saw pernah melaknat perempuan-perempuan yang menyerupai laki-laki, dan laki-laki yang menyerupai wanita.
  3. Bukan pakaian khusus atau kebesaran atau ritual yang biasa dipakai oleh orang-orang kafir seperti pakaian ibadah agama lain. Rasulullah Saw bersabda : “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia itu termasuk dari golongan mereka.” (H.r.Thabrani)
  1. Khusyuk dan bersahaja, baik dalam cara berjalan maupun berbicara ; dan menjauhkan gerak-gerak yang tidak baik pada tubuh maupun wajahnya, Allah Swt berfirman : “Janganlah perempuan-perempuan melembut-lembutkan tutur katanya, sebab orang-orang yang hatinya ada penyakit akan menaruh perhatian. (Q.s.al-Ahzab : 32)
  1. Tidak bermaksud untuk menarik perhatian kaum laki-laki supaya mereka mengetahui apa yang disembunyikan baik dengan bau-bauan ataupun dengan bunyi-bunyian. Sehinga bagi kaum wanita diharamkan mengenakan parfum ketika keluar rumah karena bisa menimbulkan fitnah bagi kaum laki-laki.
  2. Jika sudah berhijab pastikan hijab yang dipakai menutup aurat dengan baik, tidak mencolok, tidak ribet dan membuat pandangan terpusat pada dirinya. Semakin kesini semangat untuk berhijab syar’i semakin meningkat, tapi perlu kita perhatikan juga banyak yang akhirnya berhijab dengan niat untuk mengikuti trend, terlihat lebih cantik dan menjadi pusat perhatian. Tentu yang seperti ini perlu diluruskan kembali niatnya.

Istri shalihah mengenali berbagai istilah pakaian muslimah

Istri yang shaliha tentu perlu mengenali berbagai jenis istilah pakaian muslimah, selain untuk dirinya juga perlu sebagai bahan untuk mendidik anak-anaknya nanti.

  1. Jilbab Jilbab berasal dari bahasa Arab yang artinya pakaian lapang, dapar menutup aurat wanita, kecuali muka dan dua telapak tangan.
  2. Kerudung Kerudung berarti tudung atau kerudung yang menutup kepala, leher hingga dada wanita.
  3. Hijab Hijab berasal dari bahasa Arab yang artinya tabir atau dinding penutup. Sekarang istilah hijab identik dengan kerudung . Dan menjadi sebuah trend yang kekinian hingga bermunculan banyak komunitas hijab dan diantaranya banyak juga yang ternyata tidak menampakkan pakaian yang syar’i.
  4. Purdah adalah pakaian luar atau tirai yang berjahit
  5. Cadar Cadar adalah penutup muka atau sebagian wajah wanita, hingga hanya mata saja yang nampak.

Memakai jilbab hukumnya wajib bagi setiap muslimah sementara memakai cadar dan purdah tidak diwajibkan oleh syariat. Meskipun ada beberapa pendapat yang mewajibkannya. Berhijab adalah sesuatu yang sakral dan istimewa bagi setiap muslimah, kita akan bagaimana taatnya kaum muslimah terdahulu saat Allah turunkan perintah berhijab, sebagaimana yang diceritakan oleh Aisyah R.a.

Aisyah berkata, “Mudah-mudahan Allah memberi rahmat atas perempuan-perempuan Muhajirat yang dahulu, di waktu Allah turunkan ayat kewajiban berkerudung itu, mereka koyak-koyak kain-kain mereka yang belum berjahit, lalu mereka jadikan kerudung.” (H.r.Bukhari)

Begitulah ketaatan kaum muslimah terdahulu, tanpa banyak bertanya, tidak beralasan dan tidak mengeluh mereka lansung melaksanakan setiap perintah Allah turunkan melalui Rasulullah Saw. Tanpa tapi dan nanti.

Menjadi hiasan yang indah bagi suaminya

Rasulullah Saw bersabda,

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita (istri) shaliha, yakni wanita yang apabila kamu memandangnya ia menyenangkanmu, apabila diperintahkan ia taat dan apabila ditinggal (bepergian) suaminy ia menjaga diri dan harta suaminya.”
(H.r. Muslim)

Istri shaliha adalah yang menjadi hiasan bagi suaminya, ia menyukkan mata, menenangkan hati dan menjaga diri.

Istri shaliha tidak melanggar larangan Allah ketika berhias diri

Berhias bagi seorang muslimah tentu dibolehkan apalagi jika niat untuk menyenangkan suami. Tetapi perlu diperhatikan ada beberapa cara berhias yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah Saw.

  1. Berhias yang mengubah ciptaannya. Sesungguhnya setan telah berikrar akan mempengaruhi umat manusia untuk melanggar perintah Allah dan merubah ciptaan Allah Swt sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nisa’ ayat 119 : “Sungguh akan kami pengaruhi mereka itu, sehingga mereka mau merubah ciptaan Allah.”. Saat ini banyak para muslimah yang berhias dengan merubah ciptaan Allah diantaranya adalah operasi wajah dan sejenisnya.
  1. Tato, kikir gigi, operasi dan kecantikan. Rasulullah Saw bersabda : “Dilaknat perempuan – perempuan yang menjarangkan giginya supaya cantik, yang mengubah ciptaan Allah Swt.” (H.r.Bukhari dan Muslim)
  1. Mencukur alis Rasulullah Saw bersabda : “Rasulullah Saw melaknat perempuan – perempuan yang mencukur alisnya atau minta dicukurkan alisnya.” (H.r.Abu Dawud)
  1. Menyambung rambut Menyambut rambut adalah salah satu prilaku yang dilaknat oleh Allah Swt. Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah, Asma’, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dan Abu Hurairah ra. “Rasulullah Saw melaknat perempuan yang menyambung rambut atau minta disambung rambutnya”. Seorang perempuan Anshar telah kawin, dan sesungguhnya dia sakit sehingga gugurlah rambutnya kemudian keluarganya bermaksud menyambung rambutnya, tetapi sebelumnya mereka bertanya dulu kepada Rasulullah, maka jawab Rasulullah Saw, “Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang meminta disambung rambutnya.” (H.r.Bukhari)

Menyambung rambut baik dengan yang asli maupun imitasi tetap terlarang dilaknat oleh Allah Swt. Karena itu istri shaliha tidak akan berhias kecuali yang dibolehkan oleh syariat.

Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh setiap muslimah yang ingin menjadi istri shaliha. Semoga menjadi bahas pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan cita-cita menjadi istri shaliha terwujud.

Sumber referensi :

  1. Buku Kado Nikah Pengembang Dakwah.

Artikel Menarik Lainnya




comments