Anak, salah satu ujian bagi para orang tua, terlebih adalah ujian kesabaran. Di saat orang tua sibuk, capek dalam memikirkan nafkah untuk si anak terkadang disaat lelah inilah anak sering berulah. Tak jarang pada akhirnya hal ini memancing memuncaknya kemarahan orang tua hingga tanpa disadari terucap sumpah, serapah, serta berbagai macam celaan terhadap anaknya sendiri.

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara isteri-isteri dan anaka-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S At-Taghabun : 14)

Kami yakin tentu anda juga sering menjumpai orang tua yang marah kepada anaknya hingga menyumpah dan mencelanya, tak puas dengan sumpah serta celaan ditambah lagi dengan cubit serta pukulan, banyak sekali orang tua yang seperti ini tentu tak perlu juga kami tulis redaksi ucapan celaannya disini.

Mencela dan memarahi anak secara berlebihan sangatlah berbahaya bagi perkembangan emosionalnya, hal ini bisa saja menyebabkan si anak menjadi minder, tidak percaya diri, menjadi khawatir berlebihan atau bahkan anak menjadi semakin membandel. Kasih sayang dan pengertian itulah sejatinya yang dibutuhkan oleh anak-anak bukan malah ancaman serta amarah, disinilah kesabaran kita sebagai orang tua diuji, ya namanya saja ujian.

Ada satu hal penting yang mesti kita pahami sebagai orang tua, kalau anak tidak akan berubah karena ancaman, karena amarah kita, karena celaan kita, jikapun memang dia berubah maka itu dilakukannya karena takut bukan atas kesadaran diri untuk menjadi lebih baik.

Begitu juga sebaliknya, bersikap lemah lembut, penuh kasih sayang dan pengertian pada anak tidak akan membuat si anak menjadi susah di atur atau malah bebas bersikap se enaknya. Justru sikap seperti inilah yang akan membangun mental serta kepribadian anak menjadi lebih baik kedepannya.

Memberikan contoh teladan yang baik, inilah cara terbaik dalam membentuk keperibadian anak, mencontohkan hal-hal yang baik sejak dia kecil bahkan ketika dalam kandungannya. Nabi Muhammad SAWpun tidak pernah membentak dan mencela anak-anak, beliau selalu mengambil sikap menanamkan rasa malu  serta menumbuhkan sikap mawas diri berkaitan dengan akhlak mulia sebagaimana di kisahkan oleh Anas yang diriwayatkan dalam hadits riwayat bukhari :

“Aku telah melayani Rasulullah selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah sekalipun mengatakan, ‘Ah’ tidak pernah menanyakan, ‘mengapa engkau melakukan itu?’ dan tidak pula mengatakan, ‘mengapa engkau melakukan itu?”

Jikakalau nabi saja menerapkan kasih sayang dan penuh pengertian dalam mendidik anak-anak, tentu ini jugalah metode pendidikan terbaik. Metode yang dilakukan Rasulullah SAW.

Apa yang menjadi sikap serta kebiasaan anak kita hari ini adalah buah dari berbagai macam aktivitas yang telah tertanam dalam dirinya semenjak dia kecil bahkan semenjak dia berada dalam kandungan. Apa yang dia dengar, apa yang dia lihat baik itu lansung dari lingkungan terdekat atau dari media seperti televisi itulah yang membentuk kepribadiannya hari ini.

Jadi, jika memang kita menginginkan anak yang shaleh, taat, patuh maka pastikan ia mendapat asupan hal-hal positive dari lingkungannya semenjak ia kecil. Namun jika memang sudah terlanjur anak kita menjadi “nakal” maka tak ada cara lain selain bersabar dalam mendidiknya, berusaha merubah lingkungannya menjadi lebih baik dan lebih positive lagi.

Terakhir sebagai pengingat untuk kita sebagai orang tua dan calon orang tua mari kita simak nasihat Al-ghazali dalam kitab ihya ‘Ulumud din berikut :

“Janganlah banyak mengarahkan anak didik dengan celaan karena yang bersangkutan akan menjadi terbiasa dengan celaan. Dengan celaan anak akan bertambah berani melakukan keburukan dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi. Hendaklah seorang pendidik selalu menjaga wibawa dalam berbicara dengan anak didiknya”.

Sumber foto : ayahkita.blogspot.com

 

 

Artikel Menarik Lainnya




comments