follow muhammad never misguided

Dalam berbagai forum, saya mengamati antusiasme orangtua tentang pendidikan anak mereka. Betapa mereka ingin sekali mendidik dengan sebaik-baik pendidikan, dan karenanya mereka tak lelah mencari ilmu, bertanya, berdiskusi, juga bertukar pikiran. Support group berbentuk forum-forum yang bertebaran di dunia maya setidaknya membantu mereka merasa tak sendiri. Minimal begitu. Karena mendidik anak tak melulu beratmosfer rasa happy. Ada kejenuhan disana, mungkin juga kekesalan, kelelahan, dan bertumpuk emosi negatif.

Manusia. Wajarlah jika demikian. Yang menjadi tantangan kemudian adalah bagaimana menjaga emosi positif dan ilmu itu terus ada. Juga bagaimana kita sebagai sesama bisa saling menyemangati satu sama lain.

Kabar baiknya, akses terhadap illmu mendidik anak sekarang kian terbuka lebar. Keran-keran informasi menjadi tanpa batas dengan berkembangnya teknologi. Meski, di sisi lain, kita perlu memiliki saringan yang mumpuni untuk segala macam info tersebut: karena info sampah dan info yang bernas seringkali tertabur bercampur-baur.

Saya termasuk penikmat ilmu parenting dimana-mana. Meski pasti masih sangat terbatas, setidaknya saya jadi terpaksa belajar ketika harus berbagi pada orangtua yang lain dalam forum seminar atau sharing parenting. Berbagi dengan ‘teko’ kosong tentu tak mungkin, maka saya harus mengisinya terlebih dulu agar penuh, dan dengan begitu saya bisa menuangkannya pada gelas-gelas di sekeliling.

Tapi jujur, saya tak pernah menemukan ilmu sepuas setahun terakhir ini, setelah sedikit mendalami bagaimana Nabi mendidik generasi. Belum puas sebenarnya, karena semakin belajar, semakin saya merasa bodoh serta kecil. Dan tentu masih jauh sekali pemahaman saya mengenai ini, dibandingkan orangtua-orangtua lain yang sudah lebih dulu mendalaminya. Atau guru-guru saya -rahimakumullah- yang bersibuk mempelajari sekian banyak literatur demi mendapatkan ilmu yang shahih lagi teruji.

Tidak banyak penelitian. Mungkin juga belum terbukti dalam lab-lab observasi. Tapi sejarah senantiasa bertutur dengan jujur mengenai dirinya, dan ia hanya menunjukkan pembuktian. Kita bisa berkata bahwa zaman pasti berbeda. Tapi sesiapa yang yakin, hanya perlu percaya.

Iman ini -sesuatu yang naudzubillah semakin menipis dalam diri kita- hanya menuntut kita untuk percaya. Bagaimana bisa?

Saya tidak tahu dengan Anda. Tapi saya hanya ingin bilang, saya mencintai Nabi saya. Nabi kita. Muhammad bin Abdullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Mungkin belum cukup bukti cinta saya. Mungkin juga hanya sebatas penghias bibir, atau juga retorika dalam tulisan ini. Tapi saya sungguh ingin berjumpa dengan beliau, sekedar menatapnya saja agar ia tahu bahwa disini ada cinta. Bahwa dalam hidup ini, saya berusaha mengikutinya. Bukankah jika kita cinta, kita akan turuti dan berusaha penuhi segala kemauan orang yang kita cinta?

Begitulah. Persinggungan dengan pendidikan anak ala Nabi membimbing saya untuk banyak menggali lagi. Lebih tepatnya menampar saya dan mempertanyakan : kemana saja kamu selama ini? Jangan-jangan ilmu yang saya pernah bagi malah tak tepat, naudzubillah bertolak belakang dengan ajaran Rasulullah.

Ilmu, ilmu dan ilmu.

Sudahkah kita mengilmui bagaimana Nabi berinteraksi dengan anak-anak di usia dini? Juga bagaimana bentuk kurikulum untuk usia sebelum baligh dan sesudahnya? Remaja, mengapa tak ada dalam kamus parenting islam? Hukuman, mengapa ia diijinkan untuk dikenakan pada anak? Pada kesalahan yang bagaimana dan sebesar nan segenting apa?

Kita bisa berkata bahwa jaman telah berubah. Dan perubahan adalah niscaya, keluwesan mengikuti gelombang hidup dan menari di atasnya -bukan terbawa arus olehnya- bisa jadi mutlak pula. Namun poin saya bukan luwes-tidaknya kita mengikuti perkembangan ilmu atau jaman yang kian ganas ini.

Tetapi, lagi-lagi, saya akan bertanya (lebih untuk diri sendiri) : bukankah kita cinta pada Rasulullah yang mulia? Maka mengapa kita tak belajar pertama kali dari diri beliau?

Mengapa yang kita buka bukan lembar-lembar sejarahnya, bukan tentang bagaimana beliau menegur anak, mengapresiasinya, menemani mereka bermain, memerintahkan untuk shalat, mengajaknya berdialog laksana teman sebaya, menegur dengan tepat dll?

Mengapa bukan literatur Islam, bukan literatur Nabi, yang kita jadikan referensi dan rujukan pertama dan utama dalam mengemban tugas mulia mendidik anak-anak kita?

Jangan pernah mengulang kesalahan saya.

Percayalah, yang terjadi di forum-forum adalah pertanyaan serupa meski redaksionalnya tak sama, sejenis meski tampak berbeda. Dan jawaban yang diharapkan adalah “tips-tips”, “trik-trik”, dan lain sebagainya, yang semakin konkrit-operasional akan semakin disukai.

Tahukah Anda bahwa tips yang satu tak selalu bisa cocok untuk kita terapkan di keluarga kita? Dan sadarkah kita bahwa anak-anak adalah manusia -sekelumit makhluk dinamis yang seringkali bersikap dan berperilaku sesuka hati mereka- dan antara anak yang satu dengan anak yang lain demikian unik serta berbeda?

Yap. Treatment A tak selalu membuahkan respon B. Begitu pula trik C tak selalu menghasilkan perilaku D. Sayangnya kita, khususnya saya, lebih suka mendapatkan jawaban instan lagi cepat. Browsing-lah dan cari artikel-artikel parenting kebanyakan. Biasanya yang disukai adalah yang sangat teknis, yang konkrit menggambarkan bagaimana orangtua menghargai anak, bagaimana memuji, bagaimana berkomunikasi dengan mereka agar didengar, agar mereka menurut, patuh dan sebagainya.

Apakah salah?

Tidak. Saya tidak katakan itu semua salah. Saya malah justru terbantu sekali mendapatkan referensi jawaban saat teman-teman bertanya dalam forum diskusi. Juga saat saya mendidik buah hati di rumah yang beragam polahnya.

Tetapi, wahai, orangtua akhir jaman, wahai diriku yang bercita ingin melahirkan anak-anak penghuni surga, surga mana yang ingin engkau capai? Jalan apa yang sedang engkau tempuh? Cara siapa yang engkau ikuti sesungguhnya?

Mempelajari parenting Nabi membuka mata saya bahwa Nabi juga mengajarkan tips dan trik yang sangat operasional. Adab makan adalah duduk dengan tenang, mengucapkan doa, mengambil makanan yang paling dekat, makan dengan tangan kanan, dan bersyukur dengan apa yang tersuguh di meja.

“Wahai anakku, jika engkau hendak makan ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Thabrani)

Tetapi jangan pula kecewa jika dalam banyak hal tak kita jumpai sumber-sumber yang merinci bagaimana Nabi bersikap. Keterbatasan dokumen dan juga literatur membuat kita kehilangan jejak sejarah. Setidaknya ada hikmah disini untuk memahami konsep besar dan hal-hal prinsip dari pola pendidikan Nabi pada anak, untuk selanjutnya kita berkreasi tanpa keluar dari koridor prinsip tersebut.

Kita tahu prinsip-prinsip dalam tata cara makan atau table manner ala Islam yang diatur dalam adabnya. Tapi tak ada rincian bagaimana membuat anak betah duduk dalam waktu lama. Maka tugas kitalah berkreativitas tentang itu. Ibu A mungkin akan menemani sambil duduk bercerita menjaga fokus si anak. Ibu B mungkin akan melucu di depan mereka. Ibu C akan mengawasi dengan tegas. Ibu D menjanjikan hadiah. Apa saja, sekreatif kita mencari apa yang paling cocok untuk kita dan anak-anak kita.

Kita paham koridor tentang tata cara mendidik anak dari Nabi. Panduannya yang terekam di hadits adalah mendoakan mereka, berlemah-lembut, membelai kepala, berlari bersama, mendidik dengan keras saat anak memakan yang haram, dan sebagainya. Maka disinilah kita dapat tarik garis merah itu : tidak ada amarah sama sekali kecuali  hanya ketegasan untuk zat halal-haram yang masuk ke tubuh, tidak ada bentakan, tidak ada pengabaian, menikmati kebersamaan dan terlibat bermain bersama anak, dan sebagainya.

Inilah Rasulullah yang kita cinta…

Semakin digali ajarannya, maka sungguh, akan kautemukan bahwa cintanya pada kita, melebihi cinta kita atas segala yang fana, bahkan cinta kita pada beliau. Semakin kita pelajari  bagaimana kesehariannya menjadi suami yang hebat serta ayah yang penyayang, maka akan semakin kita pastikan bahwa hanya dialah yang layak dijadikan rujukan. Family man telah ada sejak masa Lukman Al Hakim, nabiyullah Ibrahim a.s, serta tentu saja Muhammad saw. Fathering telah mereka contohkan sejak ratusan abad lalu, dan sekarang baru saja happening kembali. Cari, ajaran yang mana dan apa saja yang kita ingin gali. Maka akan kautemukan ribuan layer kisah abadi yang selalu tepat diaplikasi di segala tuntutan zaman.

Jadi, seberapa besar cinta di dalam sini untuk sang Nabi?

Seberapa ingin kita mengikuti dan mempelajari kembali apa yang telah diwarisi?

Saya memulainya sekarang, dan mengajak kita semua menjadikan parenting Nabi sebagai rujukan. Yang utama dan pertama.

Temani saya, dan kita bisa berjalan bersisian. Saling mengajari, saling mengingatkan, dan saling berjanjian untuk reuni kembali di surga Ar-Rahman, bersama segenap keluarga yang kita sayang.

Adakah yang ingin ikutan?

-o0o-

Rajab/02 Mei 2016
Di tengah gelisah atas fenomena keluarga islam

Artikel Menarik Lainnya




comments