Mungkin istilah-istilah berikut sudah tidak asing bagi kita, “Jika orang tua kencing berdiri, maka anak kencing berlari” atau dengan peribahasa serupa, “Buah tidak akan jauh jatuh dari pohonnya”. 

Benar, istilah maupun peribahasa diatas tidak sepenuhnya benar, tapi  faktanya dalam kehidupan sehari-hari memang seperti itulah kenyataan yang banyak terjadi. Tingkah laku, karakter, watak bahkan berbagai sifat lainnya diturunkan oleh orang tua. Disinilah peran penting orang tua dalam mendidik anaknya, anak yang terlahir kedunia ibarat kertas putih kosong, mau apa yang akan ditulis di atas kertas putih tersebut. Apakah tulisan-tulisan kebaikan atau malah keburukan atau malah abu-abu percampuran antara kebaikan dan keburukan, lagi-lagi itu sangat tergantung kepada orang tuanya dan tentu menjadi tanggung jawab orang tuanya.

“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?” (HR.Abu Hurairah)

Jelas disini, peran orang tua tidak hanya menafkahi anaknya secara fisik saja, namun juga harus memberikan bekal ketauhidan, akhlak muliah, ibadah serta berbagai karakter yang bagus lainnya sebagai bekal bagi anak untuk menatap masa depan yang tentu sudah sangat jauh berbeda dengan masa dimana waktu orang tuanya mendidik anaknya.

Sebab anak adalah cerminan diri dari orang tuanya, anak menerima “pantulan” dari apa yang ia lihat, dari apa yang ia dengar dan dari apa yang ia contoh bersumber dari orang tuanya. Jika yang selalu ia dengar keburukan-keburukan dari orang tuanya tentu hal itulah yang terekam dalam kepalanya, jika kejelekan-kejelakan yang dilihat dan disaksikannya sehari-hari dari orang tuanya tentu itu pulalah yang ia teladani dan jadikan sebagai sikap serta tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dan, pendidikan terbaik bagi anak adalah terbentuk dari apa yang dilihat, didengar dan disaksikannya sehari-hari. Itulah sebab banyak kita lihat banyak anak-anak yang masih saja nakal prilakunya, hanya keburukan-keburukan yang keluar dari ucapannya sementara jika dilihat dari pendidikan ia bersekolah di sekolah terbaik dengan harganyapun melangit, tentu akan muncul pertanyaan. “kenapa ya kok masih begitu?”. Ya, jawabannya adalah karena hal seperti itulah yang sering dia lihat, dia dengar dirumahnya dan inilah yang membentuk kepribadiannya.

Sebab anak adalah cerminan diri dari orang tuanya, sudah semestinya kita mempersiapkan diri menjadi orang tua yang memiliki kualitas kepribadian yang baik, sehingga juga dapan mencerminkan hal yang baik-baik pada anak kita nanti. Mempersiapkan diri menjadi ayah dan ibu bagi yang belum menikah, dan terus menimba ilmu, tidak berhenti belajar serta lansung mempraktekkannya dengan memberikan teladan-teladan yang baik kepada putra-putri kita.

Sumber foto : stiba.ac.id

 

Artikel Menarik Lainnya




comments