Ada satu hal yang menggelisahkan di hati para wanita, mungkin. Apalagi kalau bukan persoalan tentang masa depan dan harapan. Mau menjadi wanita karir yang berakrir diluar, menggapai dan mengejar cita-citanya, memiliki penghasilan sendiri, melahirkan banyak karya-karya hebat atau wanita “full mother” yang setia dirumah sebagai istri yang taat pada suaminya, sebagai ibu yang menjadi guru dan sekolah pertama bagi anak-anaknya ia luangkan sepenuh waktu, tenaga dan pikiran untum mengabdi kepada suaminya dan mengajar dan mendidik anak-anaknya sebab menurut mereka inilah peran wanita yang sebenarnya, atau manakah yang terbaik dan ideal diantara keduanya?, atau mungkin juga pertanyaan mana yang lebih realitis diantara keduanya?

Islam sebagai agama yang begitu sempurna jauh-jauh hari telah memberikan tuntunan untuk semua lini kehidupan kita, mulai dari hal yang paling sederhana sekali hingga pada sesuatu yang besar. Termasuk juga tentang hak dan kewajiban suami istri, pembagian peran wanita dan laki-laki.

Sebelum panjang lebar memilih mana yang terbaik menjadi wanita karir dengan mengejar karir, gelar, dan bersaing dengan laki-laki diluar atau malah tinggal dirumah, melayani suaminya, menjadi guru dan pelayan bagi anak-anaknya dengan gelar sederhana ibu rumah tangga coba mari kita lihat bagaimana parameter seorang muslimah shalihah yang seharusnya menurut Allah dan Rasulnya.

Ia yang taat kepada Allah SWT

Dalam Al-quran, salah satu karakter wanita yang shaliha adalah yang taat kepada Allah sebagaimana firmannya dalam surah An-nissa’ : 34

“….Maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka…”

Inilah hal mendasar parameter wanita yang baik untuk menjadi pasangan hidup, mereka yang taat kepada Allah SWT, taat kepada rasulnya, sehingga dalam setiap aktivitas kehidupannya tentu akan selalu berhati-hati dan selalu berusaha agar berada dalam koridor yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya.

Mereka yang mencintai anak-anaknya

Sebab, dia adalah calon ibu. Tentu wanita itu adalah mereka yang paling belas kasih dan cinta pada anak-anaknya. Cintanya tak hanya sekedar namun dia memberikan cinta yang besar untuk putra dan putrinya. Dalam suatu haditsnya yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari Rasulullah SAWpun pernah memuji wanita quraisy karena kasih sayang yang besar terhadap anak-anaknya.

“Wanita Quraisy adalah sebaik-baik wanita arab. Merekalah yang paling belas kasih terhadap anak-anaknya, dan paling perhatian terhadap urusan suaminya”

Mereka yang berasal dari keturunan yang shalih lagi berbakti kepada orang tua

Memang tak semua wanita yang berasal dari keturunan yang kurang baik juga kurang baik orangnya. Sebab boleh jadi ayahnya tidak begitu baik, ibunya juga tidak baik dan boleh jadi dia berasal dari keluarga yang broken home dan memiliki keluarga yang jauh dari ketaatan. Namun Allah mencintainya dengan cara menunjukkanya ke jalan kebenaran, Allah sayang padanya hingga ia kirim seorang untuk menunjuk mengajarinya akan agama ini sehingga iapun menjadi wanita yang Taat.

Namun, akan lebih baik jika menikah dengan wanita yang juga memiliki keturunan yang baik-baik, shalih lagi taat. Sebagaimana pesan Utsman bin ‘Affan kepada anak-anaknya :

“Wahai anak-anakku, sesungguhnya orang yang hendak menikah itu ibarat orang yang yang hendak menyemai benih; maka hendaklah ia memerhatikan dimana ia akan menyemainya. Dan ingatlah bahwa (wanita yang berasal dari) keturunan yang buruk jarang sekali melahirkan keturunan yang baik; maka pilih-pilihlah terlebih dahulu meskipun sejenak.”

Hal ini juga diperkuat oleh firman Allah SWT dalam surah Al-A’raf ayat ke 58 :

“Tanah yang baik itu, tanamannya akan tumbuh subur dengan seizin Allah SWT; sedang tanah yang tandus, maka tanamannya akan tumbuh merana…”

Ia yang mengerti tugas dan perannya

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. 33:33)

Sebab wanita adalah guru bagi anak-anaknya, sebab wanita adalah sekolah bagi putra-putrinya. Tugasnya istimewa, perannya begitu penting. Maka Allahpun menetapkan perannya agar tetap dirumah. Tentu bukan untuk merendahkannya, namun untuk mengistimewakan dan mengangkat derajatnya.

Ya, begitulah parameter seorang wanita shalihah didalam Al-quran, begitu ukurannya. So, sekarang tentu kita semua bisa memilih dan membuat pilihan akan menjadi wanita seperti apakah kita?. Jalan manakah yang akan dipilih? [Uda Agus/Elmina]

Sumber foto : globalcitizen.org

Artikel Menarik Lainnya




comments