Menjadi muslimah adalah representasi janji yang telah kita ucapkan dahulu, saat masih berada di alam ruh. Bahwa kita beriman pada Allah Yang Esa, juga tertunduk taat atas segala kehendak-Nya. Inilah hubungan vertikal kita kepada Sang Khaliq, yang harus ditegakkan dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Bersamaan dengan lahirnya kita ke dunia, menjadi muslimah adalah juga representasi nilai-nilai Islam dalam hubungan horisontal kepada semesta. Islam yang ramah, yang sejuk, yang tak menyakiti tetangga, yang menjaga lisan, yang bersih, yang setiap makhluk selamat dari kejahatan diri ini, yang penuh kebajikan, dan segala macam  hal baik yang terpancar dari kebersihan hati dan akhlaq mulia.

Indah!

Betapa di satu sisi, Islam itu luar biasa sempurna. Namun di sisi lain, sebagai seorang muslimah kita juga menjadi wakil yang menunjukkan kesempurnaan itu, dengan berbagai ketidaksempurnaan diri. Ajaran Islam sesungguhnya tercermin dari apa yang ditampilkan oleh ummatnya. Yang sayangnya, masih banyak ketidaksesuaian antara apa yang menjadi nilai Islam, dengan apa yang umat tampakkan.

Tidak usah jauh-jauh. Mari lihat sosok di depan cermin itu. Sudahkah kita memperhatikan penampilan fisik dan hati kita yang jelas sekali mewakili agama ini? Setiap yang melihat hijab kita, melihat kita sebagai muslimah, tanpa bisa kita tolak. Bagaimana tidak, hijab adalah simbol sekaligus bentuk ketaatan kita akan perintah-Nya. Sesiapa yang melihat kita bercacat cela, maka bisa jadi ia akan menganggap Islam turut bercacat cela.

Maka lihatlah diri kita, mulai dari penampilan fisik kita. Apakah jilbab ini, busana ini, sudah cukup rapi ditata? Bagaimana bau badan kita, apakah mengganggu dan menyebabkan orang lain lebih senang menyingkir daripada mendekat? Bagaimana pula raut wajah kita, sudahkah ia terhiasi dengan senyum sedekah yang tulus pada sesama saudara? Bibir kita, lisan kita, apakah sudah terlekat dengan kata-kata yang penuh makna?

Setelah itu, mari telusuri segumpal daging di dalam sana. Apakah selalu ada niat ikhlas yang terpancar untuk berbuat kebaikan? Apakah masih ada prasangka yang menghantui interaksi kita dengan sesama manusia? Apakah masih banyak kumparan amarah ketimbang kerelaan memaafkan setiap yang salah dan alpa?

Maka menjaga penampilan dan akhlaq sebaik-baiknya merupakan cara kita menjaga ketinggian izzah atau harga diri Islam itu sendiri.

Rasulullah saw tentu tidak keliru memilih seorang Mush’ab bin Umair dengan tampilannya yang rapi parlente untuk menjadi duta da’wah ke Madinah. Tapi tak hanya casing-nya yang menawan. Pembawaannya santun dan tidak grasa-grusu, tuturnya tenang lagi sopan, menimbulkan kharisma tersendiri yang membuat lawan bicaranya segan serta terkesan. Dan di tengah-tengah perjuangan Nabi ia membuktikan keberanian serta pengorbanan yang nyata : terlahir di tengah keluarga kaya, bergabung dalam barisan da’wah Sang Rasul mulia, lalu berpulang pada Rabb-nya dengan kain kafan yang bahkan tak dapat menutup tubuh dengan sempurna. Sang Ibunda mungkin memprotes penuh murka atas pilihan sang putra pada Islam. Tetapi keindahan akhlaq Mush’ab meluruhkan hati kaum musyrikin dan membalikkan keangkuhan mereka untuk tunduk menyerah di atas keagungan agama ini.

Inilah Islam. Ia indah pada penampakan, dan hidup bersamanya adalah kedamaian yang penuh keselamatan. Maka orang-orang yang memeluknya dengan baik adalah mereka yang memunculkan keindahan, membawa serta menda’wahkan kedamaian serta keselamatan di muka bumi. Apakah kita sudah demikian?

Bisa jadi kita masih jauh dari yang Islam harapkan.  Lidah kita masih sering berghibah, sibuk membicarakan update kehidupan artis A atau mengurusi orang lain, ramai berkomentar di media sosial, mematut diri dengan kostum gamis terbaru dan koleksi jilbab kekinian tapi lupa menjaga kelurusan niat berpakaian muslimah, rajin mengeluarkan ratusan ribu untuk berbagai kostum namun berpikir seribu kali untuk bersedekah bahkan melakukannya dengan sangat perhitungan…

Ah, siapalah kita sesungguhnya. Mengaku muslimah tapi tak menghidupi nilai Islam sebenar-benarnya. Masih jauh sungguh kualitas diri kita dari ummul mukminin dan para shahabiyah. Masih tertinggal parah level taqwa kita dibanding mereka. Jauh sekali…

Tapi tentu saja ini bukan pembenaran bagi kita untuk bersikap seadanya. Menjadi muslimah adalah kebanggaan karena kita yakin, hanya disinilah jalan keselamatan dan keridhoan. Menjadi muslimah adalah proses perbaikan tiada henti yang mensyaratkan perubahan, terus dan berkesinambungan. Bahwa kita masih bercacat cela, itu benar adanya. Tetapi setidaknya kita berupaya menjaga lurusnya niat setiap saat. Menjaga pikiran dari buruk sangka. Menjaga lisan dari dusta dan sia-sia. Juga menjaga laku dari sifat tercela.

Inilah kita, yang terlahir perempuan dan bangga berkata, “Aku adalah muslimah”. Lalu kita sibuk menggali ilmu. Memperbaiki diri. Juga menyeru sesama agar selalu kembali pada Ilahi.

Bismillah. Dengan nama Allah, kita bersama menata pribadi, dan terus melangkah lagi.

Artikel Menarik Lainnya




comments