0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Dalam tulisan bagian pertama kita sudah membahas 5 tips mengendalikan marah kepada anak. 5 tips selanjutnya tak kalah penting untuk kita simak dan coba amalkan.

6. Meninggalkan anak sebentar

Keluar dari suasana yang menjengkelkan dapat membantu kita meredam emosi dan amarah. Jika kita tidak cukup kuat untuk diam dan berusaha tenang, maka keluar dari ruangan atau situasi tersebut dan meninggalkan anak sementara dapat menjadi alternatif pilihan. Ini akan memberi kita kesempatan untuk berpikir jernih dan mengelola perasaan menjadi lebih baik.

7. Berwudhu atau mandi.

Syekh Sayyid Nada mengatakan bahwa marah adalah api setan yang bisa mengakibatkan darah mendidih dan urat syaraf terbakar.  “Maka dari itu, wudhu, mandi atau semisalnya, apalagi mengunakan air dingin dapat menghilangkan amarah serta gejolak darah,”.

8. Tunggu sejenak sebelum memberi hukuman pada anak

Saat anak berperilaku menjengkelkan dan melakukan kesalahan, seringkali kita terbakar amarah dan langsung memberinya hukuman. Dalam keadaan yang penuh emosi dan minim logika ini, kita sangat mungkin menghukum anak dengan cara yang kurang tepat. Sebaiknya tenangkan diri dulu, lalu setelah tenang kita dapat bicara baik-baik dengan anak mengenai kesalahan dan konsekuensinya.

9. Berdialog dengan diri sendiri

Terkadang marah pada anak hanyalah bentuk pelampiasan perasaan negatif yang ada dalam hati kita. Lelah sepulang bekerja, ada masalah dengan pasangan, dan berbagai masalah diri sendiri yang tak selesai, sering berbuah marah pada buah hati kita. Jika ini yang terjadi, ada baiknya kita mengambil waktu untuk berdialog secara jujur dengan diri sendiri. Menanyakan “Ada apa dengan saya? Mengapa saya marah pada anak-anak? Apakah perilaku anak benar-benar layak dimarahi atau dapat dimaafkan? Apakah kemarahan saya pada mereka adalah benar karena Allah?” dan sebagainya, dapat membantu kita berpikir lebih jernih dan menata ulang positioning diri kita saat berhadapan dengan perilaku anak yang kurang menyenangkan.

10. Mengingat-ingat keutamaan menahan amarah

Allah berfirman dalam Al Qur’an, ” …dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran:134).

Sementara itu Rasulullah juga bersabda dalam haditsnya, “Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.” (HR Ahmad).

Balasan mengenai menahan amarah telah jelas dalam dalil tersebut. Dalam riwayat lainnya, Rasul saw juga mengaitkan kemampuan menahan marah dengan kekuatan diri dalam mengendalikan syahwat. Dengan mengingat-ingat keutamaan menahan amarah, maka kita akan lebih mudah mengendalikan diri saat terpancing untuk melampiaskan kemarahan.

 

Tips di atas tentu saja tidak selalu mudah untuk dijalani, terutama saat kita sedang benar-benar dikuasai amarah. Namun sebagaimana sabda Rasul dalam hadits di awal tulisan ini, “Jangan marah, maka bagimu surga”, sesungguhnya ini menggambarkan bahwa keutamaan menahan marah sepadan dengan balasan terbaik (surga), yang perlu dicapai dengan usaha yang kuat.

Kita juga perlu mengingat-ingat bahwa anak-anak memodel orangtuanya dalam manajemen emosi. Jika kita menjadi orangtua yang mudah marah, anak-anak juga akan menjadi pemarah saat berhadapan dengan sekelilingnya kelak. Namun sebaliknya, jika kita mampu mengelolanya dengan baik, anak juga akan belajar dan mencontoh sikap tersebut.

Dengan demikian kita perlu berpikir panjang, terus berdoa dan berlatih serta saling mengingatkan dengan pasangan agar mampu menampilkan sikap terbaik saat terpaksa berhadapan dengan situasi yang mengundang kemarahan, yang muncul dari putra-putri kita.

 

Referensi :

Gambar dari huffpost.com

%d bloggers like this: