0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Ada 2 ilmu yang sangat fundamental dalam kehidupan kita bahkan ia jadi “jantungnya” kehidupan, ilmu yang pertama adalah ilmu uang dan ilmu yang kedua adalah ilmu cinta (khususnya cinta pada lawan jenis). 2 Hal ini selalu menjadi hal menarik untuk dibicarakan bahkan tidak pernah habisnya, kenapa?, karena 2 hal ini menyangkut naluri manusia yaitu :

  1. Ilmu uang berhubungan dengan “bagaimana cara bertahan hidup”
  2. Ilmu cinta berhubungan dengan “bagaimana melanjutkan keuturunan”

Bahkan semua manusia selalu menjadikan ini sebagai prioritas utama kehidupannya, karena 2 hal ini memang intisari dari kehidupan semua makhluk hidup ciptaan Allah, namun sebagai umat islam kita tentu punya aturan serta rambu-rambu dalam menjalani 2 hal diatas. Pada tema kali ini tentu kita tidak akan membahas tentang uang akan tetapi membahas tentang cinta lagi, tentang pernikahan lagi yang berkaitan dengan bagaimana melanjutkan keturunan.

Ibarat akan melakukan perjalanan panjang maka sebelum memulainya tentu kita harus menyiapkan bekal terlebih dahulu, kita harus tau bagaimana medannya, kita juga harus paham dan mengerti apa saja yang boleh dan tidak boleh selama diperjalanan.

Pernikahan adalah sebuah petualangan panjang, perjalanan yang tak akan kembali, banyak kerikil, rintangan serta berbagai onak yang akan menghadang di tengah perjalanan. Butuh bekal yang cukup untuk memulainya walaupun mesti tak sempurna. Salah satu bekal yang harus dimiliki khususnya oleh kaum muslimah adalah Hal-hal yang mesti ketahui sebelum menempuh perjalanan panjang tersebut, pada tulisan kali ini, In syaa Allah ada 3 hal yang mesti kita ketahui diantaranya adalah :

1. Kesiapan mental dan ridho menerima apapun ketentuan Allah

Banyak muslimah yang bertanya seperti apa parameter kesiapan seseorang untuk menikah?, maka parameter pertama dan utamanya seseorang siap menikah adalah siap menerima dan ridho apapun ketentuan Allah. Ikhlas menerima bagaimanapun ketentuan Allah tentang jodoh pada dirinya.

– Ridho menerima jika pernikahannya cepat 

– Ridho menerima jika pernikahannya lama (telat)

– Ridho menerima dengan siapapun jodoh yang Allah anugrahkan

– Ridho menerima jika seandainya Allah tidak pertemukan dia dengan jodohnya di dunia

– Ridho menerima kelebihan serta kekurangan suaminya ketika sudah menikah kelak

Berapa banyak muslimah yang galau, susah move on, kecewa, putus asa hanya karena tidak jadi menikah dengan orang yang ia cintai,hanya karena sang pujaan hati menikah dengan yang lain. Merasa menyesal menikah muda ternyata sangat susah, atau malah merasa galau dan berprasangka yang tidak-tidak ketika jodohnya tak kunjung datang, tak kunjung hadir padahal usia makin menua.

Tak sedikit jua kita lihat orang-orang yang sudah menikah namun tidak bisa menerima pasangannya, hidup bersama tapi hatinya tak pernah menyatu, menyesali pernikahan hingga berujung pada perselingkuhan, menjalin cinta “terlarang” dengan sang mantan.

Atau mungkin juga mereka yang sampai mengatakan “Allah tidak adil” ketika apa yang didapatkan tak sesuai dengan jodoh yang diimpikan. Inilah beberapa contoh dari ketidaksiapan menikah, tidak siap menerima apapun ketentuan dari Allah. Sebagai manusia kita hanya bisa berikhtiar, memantaskan diri, meningkatkan ibadah dan perkara hasilnya tentu menjadi haknya Allah SWT. Kita hanya bisa berdoa dan berikhtiar semaksimal dan sebaik mungkin setelah itu berserah dirilah pada Allah. Ikhlas dan lapang dada menerima apapun jodoh yang Allah berikan.

Sejatinya jodoh itu adalah ujian, sementara ujian dari Allah bisa dalam bentuk yang kita sukai dan juga tidak mungkin dalam bentuk sesuatu yang kita tak suka.So, siapkan diri menerima apapun ujian, namun tetaplah yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk hamba-hambanya yang dicintaiNYA.

2. Bangun komunikasi dengan orang tua

“Sejatinya pernikahan bukanlah hanya pertemuan kamu dan dia, tapi juga pertemua keluargamu dengan keluarganya dia”

Ya, begitulah pernikahan menyatukan dua keluarga besar yang berbeda, berbeda latar belakang, berbeda adat kebiasaan, berbeda pendidikan dan berbeda juga seleranya. Maka sudah semestinyalah setiap anak mendiskusikan perihal jodoh pada orang tuanya jauh-jauh hari sebelum menikah.

Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah ketika anak menginformasikan kalau ia akan menikah secara dadakan pada orang tua, tidak mengkondisikan orang tua jauh-jauh hari. Akibatnya terjadi perseteruan antara anak dengan orang tua apakah itu tentang kriteria jodoh yang tidak direstui orang tua padahal si anak udah suka, apakah terkait biaya dan mahar (ada sebagian keluarga yang memberi standar dengan angka rupiah tertentu), termasuk juga dengan kebiasaan-kebiasaan dalam proses pernikahan dan pesta seperti injak telor, prosesi-prosesi yang bertentangan dalam islam, pesta dangdutan dengan biduan-biduan wanita.

Kalau hal ini dibicarakan secara dadakan dengan orang tua tentu tidak mudah apalagi bagi orang tuanya yang memegang kuat adat. Jadi hal ini dibicarakan pelan perlahan sejak jauh-jauh hari secara baik-baik dengan orang tua. Adapun hal-hal penting yang perlu dibicarakan dengan orang tua adalah :

  1. Kriteria Jodoh diskusikan dengan orang tua, tanya ayah – ibu kita beliau menginginkan calon menantu dengan kriteria seperti apa? usia, agama, kedudukan, pendidikan, keturunan, dan lain-lain. Tentu dengan mengutamakan agama sebagai kriteria utamanya.
  2. Terkait mahar, biaya “antaran” atau istilah lainnya. Sampaikan pada orang tua tentang bagaimana islam dalam menentukan mahar. Komunikasikan pada orang tua tentang pernikahan sederhana dan islami
  3. Pesta dan segala pendukungnya, harus dikomunikasikan dan didiskusikan mau seperti apa nanti pestanya jika itu pesta.
  4. Pasca pernikahan, ini juga penting karena tak sedikit juga masalah timbul disini seperti mau tinggal dimana, ada beberapa orang tua yang mengharuskan anaknya tinggal dirumahnya, ada juga yang meminta untuk tinggal berdekatan tidak boleh jarak jauh dan ada juga yang membebaskan anaknya. Biasanya jika orang tuanya sudah usia lanjut maka orang tua akan minta anaknya untuk tinggal bersama atau berdekatan.
  5. Waktu menikah, ada beberapa orang tua meminta anaknya menikah cepat sedini mungkin, namun ada juga yang meminta anaknya menikah di usia yang sudah matang. Jadi hal ini juga perlu dibicarakan

3.  Mengetahui kalau kamu menikah dengan “manusia”

Banyak pernikahan yang gagal disebabkan karena terlalu menuntut kesempurnaan, atau disaat kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Berharap ketika sudah menikah ada suami yang mendampingi semua terasa bahagia, serba menyenangkan ketika berduaan, berharap ada yang mengayomi dan selalu ada yang mendengar setiap saat, berharap ada yang membeli apapun yang diminta serta harapan-harapan lainnya. Namun setelah menikah ternyata tidak merasakan apa yang diharapkan, kekecewaan mulai dirasakan mungkin karena sang suami yang cuek, tidak mau mendengarkan keluh kesah, tidak ada kesepakatan dalam setiap komunikasi hingga ketika berbicara hanya berujung pada pertengkaran.

Saudariku, sadarilah kamu menikah dengan “Manusia” bukan malaikat, sadarilah pernikahan bukan taman bunga yang serba indah, manis dan menyenangkan. Sadarilah pernikahan membutuhkan kesadaran untuk saling menerima dan memahami. Menerima apapun kondisi jodoh yang Allah pilihkan untuk kita, menerima dengan lapang dada jika ada kekurangannya, coba ingatkan pelan perlahan. Memahami bagaimana ia berbicara, memahami sikapnya, sifatnya dan lain sebagainya. Jangan mencari kesempurnaan tapi belajarlah menerima dengan sempurna, In syaa Allah akan bahagia.

Ya, saudariku muslimah semua, itulah 3 hal penting yang mesti diketahui sebelum menikah, semoga bermanfaat bagi sahabat semua sebagai bekal dalam hari-hari penantiannya.

 

Sumber foto : pojoksatu.id

%d bloggers like this: