0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Surga, Tentang Janji Allah Swt

Ini tentang janji Allah Swt, bahwa Allah akan memberikan hadiah surga baginya, tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk keluarganya. Allah akan masukkan dia ke surga bersama dengan keluarganya, kebahagiaan yang mereka rasakan di dunia akan kembali dirasakan (bahkan lebih indah lagi) ketika kembali bertemu di surganya Allah Swt. Inilah jamuan istimewa Allah Swt bagi setiap keluarga yang benar-benar membangun kehidupan rumah tangganya dengan tuntunan Al-quran, dengan berpedoman pada sunnah Rasulullah dan bercita-cita menggapai ridho Allah Swt.

“Yaitu surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama orang yang saleh dari nenek moyangnya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dar berbagai pintu.”
(Q.S.Ar-Ra’d : 23)

Inilah orang-orang yang terpilih, pada mereka disematkan satu gelar istimewa yaitu Ulul Albab dalam Al-qur’an, yaitu orang-orang yang berakal. Ibnu Katsir menafsirkan makna ulul albab, yaitu mereka yang mengambil nasihat, mengambil suri teladan, dan memikirkannya sebagaimana orang yang memiliki akal. Ada sembilan kriteria ulul albab yang dijamin masuk surga ‘Adn di antaranya adalah :

  1. Mereka yang memenuhi janji Allah Swt
  2. Tidak merusak perjanjian dengan Allah
  3. Menyambung Apa yang diperintahkan Allah
  4. Takut kepada Allah Swt
  5. Takut kepada hisab buruk di hari kiamat
  6. Sabar karena Allah
  7. Mendirikan shalat
  8. Menafkahkan sebagian rezekinya
  9. Menolak kejahatan dengan kebaikan

Bagi siapa saja mereka yang memenuhi kriteria ini akan Allah berikan padanya hadiah istimewa yaitu mempertemukan kembali mereka dengan keluarganya di dunia dengan sebaik-baik cara di tempat yang terbaik juga. Mereka adalah keluarga yang memegang teguh dan istiqomah di jalan Allah Swt. Serta bersabar saat diterpa oleh berbagai ujian duniawi.

Mereka ini jugalah yang selalu mendidik dan mengajak segenap anggota keluarganya untuk selalu berjuang di jalan Allah Swt. Menyampaikan syiar kebaikan, hadir sebagai asbab hidayah bagi saudara-saudaranya yang lain. Dan, mereka selalu memastikan anak istrinya untuk menjejaki jalan ke surga sesuai tuntunan Allah Swt dan Al-qur’an.

Jalan menuju surga ini jelas tak mudah, sudah pasti tidak ringan. Akan banyak hambatan dan rintangan yang akan ditemui dalam setiap langkah perjalanannya. Banyak yang tidak berhasil dan berguguruan sebelum sampai tujuan karena lebih memilih takhluk pada tipu daya dunia. Allah Swt pun menyampaikan, jalan ini hanya untuk mereka yang memiliki kesabaran.

“Selamat sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian. Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.”
(QS Ar-Ra’ad : 24)

Masuk ke dalam surga bersama dengan keluarga tercinta tentu menjadi harapan setiap muslim, ini akan menjadi cita – cita utama kita jika kita memahami akan janji ini, jika kita mengetahui betapa indahnya surga itu. Tentang surga, Allah Swt mengabarkan keindahanannya melalui firman-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 25 :

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka disediakan surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan disana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.”

Seperti apa keindahan surga ? Seperti apa kira-kira nikmatnya di dalam surga ?

Jelas hal ini tidak akan bisa terjawab oleh akal kita, surga jauh lebih indah dari apa yang kita bayangkan dan jauh lebih nikmat dari apa yang kita angankan. Cara untuk mengetahui seperti apa keindahannya tentu hanya dengan memasukinya, dan mempersiapkan diri dari saat ini agar perkenankan masuk ke surga-Nya bersama dengan orang-orang yang kita cintai. Sehingga cinta yang telah kita jalin dan perjuangkan di dunia kembali kita rasakan nikmatnya di surga kelak.

Membangun Rumah Tangga  Surga Dengan Pondasi Takwa

Agar kehidupan pernikahan dan rumah tangga kita berbuah surga tentu harus dipersiapkan semenjak kehidupan di dunia. Kita mesti menyemaikan benih-benih kebaikan, memupuknya agar tumbuh subur dan berbuah lebat, yang mana buahnya inilah yang kelak akan kita petik dan nikmati.

Hal pertama dan utama sekali yang perlu dilakukan agar pernikahan berbuah surga adalah memilih pasangan hidup yang sekiranya kebersamaan kita dengannya membuat surga semakin dekat. Kebersamaan dengannya sama-sama meningkatkan ketaatan dan ketakwaan kita pada Allah Swt. Pilihlah pasangan yang cintanya pada Allah dan Rasul melebihi cintanya pada dunia, pilihlah pasangan yang sedari awal sudah memiliki visi yang jelas yaitu ingin membangun kehidupan rumah tangga bahagia di dunia hingga ke surganya. Sudah tumbuh kesadaran akan hal ini sejak awal.

Banyak yang akhirnya kesulitan dalam mewujudkan kehidupan pernikahan yang akan berbuah surga lantaran keliru dalam memilih pasangan. Tidak ada kesamaan visi dan tidak ada kesadaran sedari awal. Satu atau kedua dari pasangan yang menikah lebih memilih mengejar kebahagiaan dunia dan mengabaikan kehidupan untuk akhirat nanti. Materi selalu jadi parameter utama dalam kehidupannya, kebahagiaan di dunia selalu menjadi tujuan utamanya. Tanpa mereka sadari kalau dunia ini hanya sementara dan ada kehidupan yang lebih kekal nantinya.

Maka, bagi sahabat muda yang belum menikah kami sampaikan agar memilih pasangan karena agamanya, karena ketaatan dan ketakwaannya. Sebisa mungkin hindari memilih hanya karena perasaan atau materi semata. Sebab, jika keliru dalam memilih pasangan hidup bisa jadi kehidupan anda akan keliru sepajang usia. Inilah pondasi utamanya, pilih pasangan memiliki visi yang sama.

Selanjutnya adalah memastikan ikhtiar dalam memilih pasangan dan juga memulai pernikahan dengan cara yang Allah ridhai. Menjauhi maksiat serta aktivitas yang tidak Allah ridhoi dalam setiap proses menuju pernikahan. Sebutlah itu pacaran, mendapatkan jodoh dengan cara perdukunan atau aktivitas penyelenggaraan pernikahan yang penuh mengandung kemusyrikan. Itulah dua pondasi utama sebelum menikah.

Lalu setelah menikah ?

Cukup sederhana sebenarnya, meskipun dalam menjalankannya butuh ujian dan kesabaran. Semua hal tentang panduan kehidupan kita dari mulai dalam kandungan hingga meninggal bahkan kehidupan di akhirat nanti sudah ada tuntunannya di dalam Al-qur’an. Termasuk juga di dalamnya bagaimana membangun kehidupan rumah tangga. Lengkap di dalam Al-quran, ditambah lagi melalui hadist-hadist Rasulullah Saw. Sementara bagaimana mengimplementasikannya tinggal kita buka sirah kehidupan Rasulullah Saw, sahabat dan juga ulama terdahulu. Sumber utama sudah ada dan tentu juga sudah teruji.

Tinggal yang menjadi pertanyaannya adalah apakah kita dan pasangan mau menjadikan Al-qur’an sebagai pedoman utama dalam berumah tangga ? Apakah kita mau membangun kedekatan dengan Allah Swt ? Apakah kita mau patuh dan tunduk terhadap perintah dan larangan dari Allah Swt.

Jika jawabannya ‘mau’ maka terbukalah jalan menuju surga, tinggal menyiapkan kesabaran, kemauan dan keistiqomahan sebagai bahan bakarnya.

Pernikahan adalah ladang pahala bagi suami, dan juga istri

Pernikahan adalah aktivitas yang Allah Swt perintahkan, dan juga sunnah dari Rasulullah Saw. Disini jelaslah kalau pernikahan adalah ibadah, aktivitas yang mendekatkan diri pada Allah Swt. Yang namanya ibadah tentu berbuah pahala, begitu juga dengan pernikahan. Mungkin ini adalah sebaik-baiknya dan juga seindah-indahnya ibadah. Setiap aktivitasnya berlimpah pahala kebaikan bagi suami maupun istri.

Suami berbuat baik, memberikan kasih sayang pada istri Allah beri pahala. Istri taat dan patuh pada suami Allah janjikan sedekah. Suami istri melakukan hubungan suami istri dapat lagi pahala. Begitu juga ketika mereka Allah karuniakan putra putri, tentunya bertambah lagi pahala.

Jadi, fitrahnya pernikahan adalah semakin mendekatkan setiap yang menikah pada Allah Swt. Dan semestinya setiap pasangan yang sudah menikah meningkat keimanannya, bertambah ketakwaannya dan berlipat juga amal-amalnya. Pernikahan adalah ladang pahala bagi suami dan juga istri, jika ini tidak dirasakan oleh pasangan yang berumah tangga mungkin ada yang keliru dalam kehidupan rumah tangga mereka. Entah karena meninggalkan Al-qur’an dan sunnah atau lalai terhadapnya.

%d bloggers like this: