0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

 

Sebagai muslimah yang mendambakan pernikahan, seringkali kita membuat banyak kriteria untuk calon pasangan kelak. Termasuk soal kepribadian.

Karena kita merasa mengenal diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, maka kemudian kita mencari sosok yang dapat melengkapi. Sebab, bukankah kita adalah pakaian yang akan menutup kekurangan pasangan kita, dan begitu pula sebaliknya?

Maka kita pun sibuk menganalisa diri. Taruhlah kelebihan kita antara lain, memiliki sifat periang, mudah akrab dengan lingkugan baru, dan lincah kesana-kemari. Sementara kekurangan kita di antaranya, mudah meledak, cepat emosi dan tidak sabaran. Dengan sifat-sifat ini, kemudian kita mencari pasangan dengan gambaran kepribadian yang bisa melengkapi. Kita merasa membutuhkan sosok penyabar yang bisa menenangkan di kala kita terletup amarah. Mungkin juga mengagumi sosok yang tenang dan tidak mudah terbakar emosi.  Semuanya demi mengimbangi sifat buruk kita.

Setelah membuat sejumlah kriteria itu, kita pun mulai mengamati sekitar. Mengobservasi. Mencari-cari sekiranya ada pangeran impian yang sesuai dengan gambaran ideal yang kita dambakan. Ketika ada lelaki yang datang, kita melakukan ‘scanning’, apakah ia cocok dengan kriteria yang kita buat? Jika ia tak masuk kategori, maka kita akan membuat 1001 alasan untuk menolaknya.

Sebagai contoh, sebut saja telah datang ikhwan A pada kita. Rajin sholat dan aktif ikut kajian agama. Tapi sayang,  dia sama emosionalnya dengan kita. Mudah marah, meski mudah pula ademnya. Pribadinya bersemangat, tapi tampak pula sifat tidak sabarnya.

Akal kita berpikir panjang. Analisa kita, tidak mungkin rumah tangga akan tenang jika suami dan istri sama-sama mudah terletup emosi. Pasti bisa meletus perang dunia ketiga. Itu sebabnya harus ada salah satu yang pengalah dan penyabar. Ketika istrinya mudah marah, maka suaminya haruslah bisa menenangkan. Demikian pikiran kita bicara.

Maka A pun kita tolak. Meski kita tahu ia baik agamanya. Meski kita tahu ia sosok yang bertanggung jawab.

Sampai di sini, mari kita lihat lagi tulisan di atas. Sekilas tidak ada yang salah dengan membuat sejumlah kriteria. Tidak ada yang ganjil dengan mengharapkan sosok dengan spesifikasi tertentu, yang kita rasa klik dengan kita. Bukankah memang benar, akan lebih baik jika pasangan kita memiliki sifat penyabar untuk menghadapi pribadi kita yang pemarah?

Namun seorang kawan pernah memberi nasihat. “Jika kamu masih menginginkan ikhwan yang penyabar untuk bisa menghadapi sifat pemarahmu, maka kamu belum siap menikah.”

Ah, benarkah? Mengapa bisa begitu?

“Ya, sebab kamu egois, hanya memikirkan dirimu sendiri. Kamu hanya menuntut pasanganmu untuk bisa memahami kamu, untuk mengerti sifat-sifatmu, dan kamu ingin dia bisa menerimanya. Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri? Kamu benar-benar hanya memikirkan kepentinganmu sendiri.”

Sampai disini, apakah bisa kita cerna nasihat itu?

(bersambung ke bagian 2 http://www.elmina-id.com/apakah-kriteria-jodoh-yang-saya-buat-sudah-pasti-terbaik-di-mata-nya-bagian-2/

***

picture : http://ekroth.spotlife.se/2012/06/13/en-appelmelodi/

%d bloggers like this: