0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Maraknya kasus pelecehan seksual akhir-akhir ini seperti pemerkosaan, sodomi serta beragam kasus lainnya, memunculkan ide pendidikan seksual dini pada anak, beragam panduan pendidikan seks anak berusia dini pun muncul diantaranya adalah mengajarkan pada anak untuk mengenali bagian-bagian tubuh sensitivenya, menjaga diri agar si anak tidak membiarkan orang asing menyentuh bagian-bagian sensitivenya serta mengajarkan agar berteriak jikalau ada yang mencoba menyentuh bagian tubuh sensitivenya. Apakah ini saja cukup tentang pendidikan seksual dini pada anak?. Jika tujuannya hanya untuk melindungi dari kasus-kasus pelecehan seksual tentu hal ini sudah sangat lebih dari cukup bagi anak. Namun pertanyaannya, apakah tujuan pendidikan seksual hanya untuk melindungi anak dari kasus pelecehan seksual?, berdasarkan hemat kami yang berkecimpung di dunia anak muda dan remaja jawabannya tentu tidak.

Sementara kalau kita lihat di dunia khususnya barat (yang masih dijadikan acuan) dalam pendidikan seksual pada anak ternyata tujuan pendidikan seks pada anak tidak hanya untuk menjaga diri dari pelecehan seksual, itu hanya salah satu dari sekian banyak tujuannya. Ada beberapa tujuan pendidikan seks menurut konsep barat diantaranya “Menekankan pentingnya kesetiaan terhadap pasangan, menghindari kehamilan di usia dini, menghindari pelecehan seksual, mampu menghindari hubungan seks yang tidak diinginkan atau seks tidak aman, keuntungan menunda seks”, kalau kita lihat poin-poin pendidikan seks dibarat acuannya lebih kepada mengamankan diri si anak dari pelecehan seksual serta menjaga agar tidak terkena penyakit menular. Artinya dibolehkan melakukan hubungan seksual selagi itu aman, selama itu suka sama suka (tidak ada paksaan) yang alhasil output dari pendidikan ini adalah seks bebas.

Lalu bagaimana dengan pendidikan seks usia dini untuk anak dalam Islam?, dalam islampun sangat memperhatikan hal ini namun perlu diketahui output dari pendidikan seks dalam Islam adalah terjaganya seorang anak dunia akhirat , terjaga di dunia dari pelecehan serta berbagai penyakit seks menular dan kedua adalah terjaga keselamatan dunia akhiratnya dengan menyalurkan naluri seksual secara halal (melalui pernikahan), lalu bagaimana pendidikan seks dalam islam kepada anak?, berikut akan kita coba urai satu persatu tentang pendidikan seks usia dini pada anak.

1. Menanamkan kebiasaan menutup aurat pada anak sejak dini.

“Tidak ada asap kalau tidak ada api” , mungkin kita semua sudah sangat familiar dengan istilah ini yang maknanya adalah segala sesuatu ada sebab akibatnya termasuk juga berbagai kasus pelecehan seks yang terjadi pada anak-anak. Tentu tidak akan mungkin atau kecil kemungkinan terjadinya jika tidak ada hal yang memancing seseorang untuk melakukan pelecehan seksual salah satunya adalah cara berpakaian anak-anak perempuan, mungkin ini adalah yang terlupakan oleh berbagai penggerak pendidikan seks usia dini yaitu membiasaakan si anak menutup aurat sejak dini. Karena kalau kita lihat kebanyakan para orang tua membiarkan atau malah dengan sengaja memakaikan anak-anak perempuannya pakaian yang terbuka, serba pendek, minim dan transparan. Bahkan tak sedikit yang membiarkan anak perempuannya bermain di jalan (luar rumah) hanya dengan memakai celana dan baju dalam, mungkin dalih mereka anak kecil belum berdosa jika belum menutup auratnya.

Memang anak kecil sebelum masa baligh (datangnya haid pertama) belum berdosa jika auratnya terbuka, namun anak-anak usia dini tersebut adalah saat yang tepat membentuk kebiasaannya menutup aurat, saat yang tepat mengenalkan padanya mana saja bagian tubuhnya yang termasuk aurat dan tidak boleh dilihat oleh orang lain (bukan mahromnya). In syaa Allah ini termasuk pada bagian penting dan utama dalam pendidikan seks anak usia dini, karena dengan menjaga diri atau menutup aurat sejak kecil si anak sudah berusaha untuk tidak menjadi “api” atau meminimalisir penyebab terjadinya pelecehan seksual terhadap dirinya.

2. Mengenalkan pada anak mana yang Mahram dan mana yang bukan mahram 

Lagi-lagi dengan dalih masih kecil para orang tua terkadang tidak terlalu menghiraukan anaknya bersentuhan dengan siapa saja, apakah itu dengan temannya, orang lain dan dengan orang-orang yang bukan mahramnya, pada poin kedua ini para orang tua mengajarkan pada anak siapa saja yang mahramnya (orang-orang yang boleh menyentuh dia serta melihat auratnya), dengan mengajarkan hal ini, tentu akan membangun kebiasaan untuk selalu menjaga diri pada si anak, tidak dengan mudah bersentuhan dan disentuh oleh siapapun. Salah satu contoh kasus yang menarik adalah kebiasaan yang diajarkan di salah satu Sekolah dasar islam terpadu cahyati di kota bukittinngi yang mana disana terlihat anak-anak perempuan sejak usia kelas 1 SD sudah tidak bersalaman secara bersentuhan dengan guru laki-lakinya. Artinya anak-anak disana memahami kalau guru laki-laki tersebut bukan mahramnya.

Pemahaman ini tentu akan sangat berguna bagi si anak untuk menjaga dirinya dari berbagai pelecehan seksual dan juga untuk menjaga dirinya hingga dewasa dari berbagai aktivitas-aktivitas seperti pacaran, pergaulan atau kumpul bebas dengan laki-laki dan perempuan serta aktivitas-aktivitas yang memungkinkan terjadinya seks bebas.

3. Memisahkan tempat tidur anak laki-laki dengan anak perempuan

“Suruhlah anak-anakmu shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (tanpa menyakitkan jika tidak mau shalat) ketika mereka berumur sepuluh tahun; dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)

Memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan ketika sudah berumur 7 tahun, dimana pada usia ini anak sudah mengenali perbedaan jenis kelamin, maka salah satu cara terbaik yang juga mengajarkan pada anak kalau laki-laki perempuan itu terpisah adalah memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan.

4. Menjauhi anak dari tontonan dan musik-musik yang bermuatan “seks”, “cinta” dan “pacaran”

Salah satu keputusan besar dalam keluarga kami untuk tidak memiliki televisi adalah karena sejauh  pengamatan kami hampir semua materi tontonan di televisi apakah itu sinetron, musik, film atau apapun itu hampir semuanya bermuatan cinta, pacaran dan seks. Meskipun tidak terang-terangan namun semua hal yang berbau cinta yang akhirnya disalurkan dalam aktivitas pacaran yang mana dalam setiap aktivitas pacaran tentu tidak lengkap jika tidak ada aktivitas pegangan, gandengan tangan, ciuman serta adegan-adegan lainnya. Hal ini secara tidak lansung mengajarkan tentang “seks” karena yang namanya cinta pada lawannya tentu tidak bisa dipisahkan dengan naluri seks, Ibnul qayyim al jauzi menyebut ini sebagai “al hawa” cinta yang memiliki muatan syahwat.

Begitu juga dengan berbagai nyanyian musik dan lagu yang notabene tema-temanya adalah cinta dan pacaran semua, bahkan kita semua tentu tau ada musik dengan penyanyi  anak-anak berusia sekolah dasar yang menyanyikan lagu bertema cinta dan pacaran. Tak dipungkiri hal ini menyebabkan terjadinya pacaran di usia dini, pelecehan seksual usia dini, anak-anak kecil yang sudah memiliki pemikiran terlalu dewasa melebihi usianya dan berbagai hal-hal negatif lainnya.

5. Mengajarkan anak untuk dekat pada masjid, dekat dengan Al-quran serta mempelajari sejarah-sejarah Islam di masa lalu.

Selain aktivitas-aktivitas diatas yang bisa dimasukkan sebagai bagian dari pendidikan seks usia dini pada anak adalah mengajarkan anak-anak kita dekat dengan masjid (jika laki-laki) biasakan shalat berjamaah dimasjid, setelah itu mengajarkan alquran pada anak sejak kecil (bahkan bisa dilakukan sejak dia berada dalam rahim) tentu dengan melakukan hal ini berarti menanamkan nilai-nilai ilahi pada dirinya sejak dini akan memudahkan kita memberikan pemahaman-pemahaman Islam padanya.

Dan yang terakhir, sering terlupakan adalah menceritakan sejarah Islam, tokoh-tokoh islam pada anak sejak dini agar anak tidak kehilangan teladan (idola) tidak salah pilih idola atau teladan. Sangat disayangkan jika anak-anak kita malah menjadikan idolanya kartun-kartun buatan barat, artis-artis hollywood yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Ya, itulah 5 hal yang bisa dijadikan sebagai bahan pendidikan seks pada anak kita sejak usia dini, begitulah mengajarkan tentang seks pada anak dalam Islam, lebih berfokus pada pembangunan karakter dan kepribadian Islamnya. Karena jika karakter dan kepribadian Islam sudah terbangun tentu akan memudahkan si anak untuk memahami hal-hal lain termasuk pergaulan dalam Islam.

Sumber foto : Voa-islam.com

%d bloggers like this: