0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Poligami, sebagai seorang wanita apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata poligami?, mungkin yang terbayang adalah kesedihan, sakit hati, tidak rela, memaki dan mencaci laki-laki yang poligami. Tak heran memang ini yang timbul di masyarakat kita, seolah-olah poligami menjadi suatu “aib” dan kalau seorang laki-laki berpoligami maka dengan senang hati boleh menghujat dan membully dia sebagai orang yang hanya mengikuti nafsunya dan tidak memikirkan nasib wanita. Namun yang menjadi pertanyaan kita tentu adalah, apakah poligami tersebut hal yang menjijikkan?, apakah laki-laki yang poligami tidak sayang kepada istrinya?, apakah laki-laki yang poligami tidak mengerti perasaan wanita ?, apakah laki-laki yang poligami itu hanya untuk memperturutkan nafsunya ?.

Kami menulis hal ini bukan berarti mau poligami atau pro-poligami ya hehe, tapi hanya ingin memberikan pandangan yang adil kepada istilah poligami. Tidak melihatnya dengan mata penuh kebencian dan sarana untuk menyudutkan islam, tidak juga melihatnya dengan kacamata perasaan wanita yang tidak ingin diduakan akan tetapi mencoba menilik dari pandangan secara syariatnya serta melihat manfaat, hikmah serta mudharatnya. Terlalu istimewa rasanya jika kami yang masih memiliki secuil ilmu ini memberikan pandangan apalagi men-judge poligami, maka untuk itu kami sampaikan disini pandangan seorang ulama besar dari ranah minang buya hamka tentang poligami yang ditulis oleh anak inyiak (kakek) irfan hamka dalam bukunya yang berjudul “Ayah”.

Semasa hidupnya buya hamka sering menerima tamu ditiap sore dirumah beliau untuk berkonsultasi, karena memang banyak yang berkonsultasi kepada buya hamka seputar syariah, sosial, hukum, rumah tangga serta permasalah lainnya. Pada sore datanglah dua orang wanita yang berkonsultasi kepada beliau, seorang ibu dan anaknya. Wanita tersebut bercerita kepada buya kalau dia dan suaminya sudah menikah selama 9 tahun. Mereka dikarunia 5 orang anak. Empat bulan yang lalu suaminya minta izin untuk menikah lagi, dan si istri ingin meminta cerai pada suaminya.

Mendengar hal ini buya hamka menjelaskan dengan bijak, beliau mengatakan begini :

“Ananda tahu perceraian adalah suatu perbuatan halal yang tidak disukai Allah, perceraian bukan saja perbuatan yang menyebabkan berpisahnya dua orang suami istri, tetapi juga merusak hubungan kedua keluarga. Membuat anak-anak kehilangan pegangan. Ada dua macam pribadi seorang laki-laki yang memiliki kelebihan bakat alam seperti suami anda. Pertama , laki-laki beriman. Laki-laki ini takut kepada Allah. Takut menjalani perbuatan zina, takut bermaksiat, dia juga takut kehilangan istrinya dan sayang kepada keluarganya, istrinya juga tidak mau dimadu. Maka jalan pintas yang dilakukan laki-laki ini untuk menyalurkan bakat biologis yang susah ditahannya adalah dengan menikah diluar sepengetahuan istrinya secara diam-diam; nikah siri atau dibawah tangan. Menikah dengan cara ini halal, tidak dimurkai oleh Allah. Yang kedua adalah laki-laki yang tidak takut pada Allah, apalagi istrinya. Dia akan berbuat semaunya, termasuk berzina. Malah jika tidak dapat menahan hasratnya dia malah memilih untuk memperkosa orang sebagai pelampiasannya. Sementara hukum Islam jelas membolehkan untuk menikah satu, dua, tiga dan empat dengan syarat berlaku adil. Namun bila tidak sanggup berlaku adil sebaiknya satu saja. Begitu pesan buyah Hamka kepada wanita tersebut.”

Itulah pandangan buya hamka tentang poligami, buya hamka mengajak wanita untuk lebih takut kepada Allah, buya mengajak wanita untuk lebih menaati Allah dan Rasulnya, buya juga mengajak para istri agar menjaga suaminya dari maksiat zina. Semoga tulisan ini menambah khazanah pengetahuan kita seputar poligami dan bisa menyikapinya secara dewasa.

%d bloggers like this: