0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Salah satu tugas dari Ayah adalah mencarikan jodoh terbaik dan menikahkan dengan anaknya, ketika datang pinangan dari laki-laki biasanya sang ayah memperhatikan agama calon menantunya, melihat nasab keluarganya, melakukan penjajakan atas sikap dan karakter si calon tersebut dan meminta izin dan pendapat anaknya dari calon yang datang idealnya begitu. Namun hari ini kondisinya terbalik, si anak perempuan yang mencari calonnya, mengenali calonnya, mengenalkan dan minta pertimbangan pada orang tua, bahkan tak sedikit juga yang memaksakan pilihannya sendiri kepada orang tuanya dengan dalih sudah cinta.

Lau, semestinya apa saja yang harus menjadi pertimbangan dalam menerima atau menolak lamaran (pinangan) ?

1. Agamanya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi Rasulullah bersabda

“Jika datang kepada kalian (Wahai calon mertua) orang yang kalian sukai (ketaatan) agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia dengan putrimu. Sebab jika kamu tidak melakukannya akan lahir fitnah  (bencana) dan akan berkembang kehancuran dimuka bumi.”

Kemudian ada yang bertanya :

“Wahai Rasulullah, bagaimana jika pemuda itu cacat atau kekurangan?”

Maka Rasulullah menjawab hingga mengulanginya sampai 3 kali :

“Jika datang kepada kalian orang yang bagus agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu)!”

Jelas disini bagaimana Rasulullah mengutamakan agama dibanding hal lainnya seperti harta, keturunan dan ketampanan. Bagi para muslimah bisa mengkomunikasikan hal ini kepada orang tuanya agar lebih memilih pertimbangan agama diatas pertimbangan yang lainnya. Ini dilakukan jika orang tua masih memiliki persepsi bibit, bobot dan bebet dalam memilih pasangannya.

2. Mempertimbangkan kecocokan bagi si anak itu sendiri.

Nah kalau lamaran itu datang kepada orang tua maka orang tuanya yang minta izin pada anak, namun jika lamaran itu datang kepada sang anak lansung misalnya dalam bentuk proses taaruf, maka disinilah si anak yang mempertimbangkannya. Bagi si anak sendiri semestinya tetap menjadikan agama sebagai patokan utama akan tetapi juga boleh melihat pertimbangan-pertimbangan lain seperti ekonomi, ekonomi disini maksudnya bukan melihat seberapa banyak hartanya namun seberapa besar dia bisa bertanggung jawab dalam menyiapkan nafkah untuk istri dan anaknya kelak.

Memilih menolak dengan berbagai alasan seperti tidak cocok dan lain sebagainya boleh-boleh saja namun yang perlu diperhatikan adalah jangan terlalu “pilih-pilih” apalagi seperti tidak ada kesamaan, beda persepsi, beda warna kesukaan, beda makanan kesukaan dan hal-hal lain yang sebenarnya tidak prinsip.

Sementara dalam mengenali bagaimana jodoh terbaik dan laki-laki terbaik yang mesti diterima sebagai calon suami. Ada baiknya sahabat semua juga membaca tulisan “5 Ciri laki-laki shaleh yang jangan ditolak jika melamarmu”

Sumber foto : www.mustardcatering.com.au

%d bloggers like this: