0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Pernahkah Anda mendengar bahwa Islam membolehkan memukul anak?

Terdengar menyeramkan ya, dan bisa jadi untuk mereka yang tak paham, aturan di atas akan disalahartikan dan Islam dianggap tidak melindungi hak-hak anak.

Ajaran Islam sesungguhnya sangatlah detail dan menyeluruh (syamil), sempurna (kamil) serta menyempurnakan/melengkapi (mutakamil). Tak terkecuali dalam hal pendidikan anak dimana di dalamnya berlaku pula mekanisme reward dan punishment. Namun perlu kita garisbawahi bahwa hukuman yang dimaksudkan sebagai punishment dalam pendidikan anak, pastinya memiliki adab dan ketentuan tersendiri. Hukuman juga memiliki tahapan yang perlakuannya mensyaratkan kehati-hatian.

Meski pukulan diperbolehkan, tetap saja ada hal-hal yang wajib dilakukan dan diutamakan sebelumnya dalam menyikapi perilaku anak-anak. Hal tersebut antara lain :
1.Berlaku lemah-lembut terhadap anak
“Jika Allah menginginkan kebaikan bagi sebuah anggota keluarga maka Dia akan memasukkan kelembutan kepada mereka” (HR. Ahmad 6/71, 6/104-105, hadits shahih)
2.Menegur dan menasehati dengan baik
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang anak kecil yang ketika sedang makan menjulurkan tangannya ke berbagai sisi nampan makanan, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (sebelum makan), dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah (makanan) yang ada di hadapanmu.“(HR. Muslim dan Bukhari)
3.Menggantung tongkat/alat pemukul lainnya di rumah
Hal ini bertujuan untuk pengajaran, sekedar membuat anggota keluarga segan/meninggalkan melakukan keburukan atau perbuatan tercela.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan ini dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Gantungkanlah cambuk (alat pemukul) di tempat yang terlihat oleh penghuni rumah, karena itu merupakan pendidikan bagi mereka.”(HR. Abdurrazaq dan Ath Thabrani dengan derajat hasan)

Cara lainnya dalam mendidik anak yang dicontohkan Nabi saw adalah menampakkan muka masam untuk menunjukkan ketidaksukaan, mencela atau menegur dengan suara keras, berpaling atau tidak menegur dalam jangka waktu tertentu, memberi hukuman ringan yang tidak melanggar syariat, dan lain-lain (Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitab Nida`un ilal Murabbiyyina wal Murabbiyyat, hlm. 95–97)
Sementara itu, dalil yang membolehkan memukul anak terdapat dalam hadits Nabi berikut ini, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perintahkanlah kepada anak-anakmu untuk (melaksanakan) shalat (lima waktu) sewaktu mereka berumur tujuh tahun, pukullah mereka karena (meninggalkan) shalat (lima waktu) jika mereka (telah) berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.(HR. Abu Dawud dan Hakim)

Hadits ini menunjukkan kebolehan memukul anak untuk tujuan pendidikan karena terjadi pelanggaran syariat, di usia dimana anak siap untuk menerima pukulan dan mengambil pelajaran darinya (yakni di usia 10 tahun tersebut). Dan sebenarnya perkara memukul anak saat ia tidak mau shalat, bukan hanya karena dia meninggalkan shalat saja, tetapi juga jika sikapnya meremehkan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya dan wajibnya. Jika mereka lalai dalam sebagiannya, maka kita kuatkan lagi nasehatnya, diajarkan terus menerus. Jika masih juga lalai, boleh diperingatkan dengan pukulan hingga shalatnya benar.

Dari Abu Mas’ud al-Badri, dia berkata, “(Suatu hari) aku memukul budakku (yang masih kecil) dengan cemeti, maka aku mendengar suara (teguran) dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Akan tetapi, aku tidak mengenali suara tersebut kerena kemarahan (yang sangat). Ketika pemilik suara itu mendekat dariku, maka ternyata dia adalah Rasulullah S.A.W dan Baginda berkata, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Maka aku pun melempar cemeti dari tanganku, kemudian beliau bersabda, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sesungguhnya Allah lebih mampu untuk (menyeksa) kamu daripada apa yang kami seksakan terhadap budak ini,’ maka aku pun berkata, ‘Aku tidak akan memukul budak selamanya setelah (hari) ini.” (Hadits shahih riwayat Muslim, no. 1659.)

Dan setidaknya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika kita terpaksa memukul anak :
1.Tidak memukul wajah
“Jika salah seorang dari kalian memukul, maka hendaknya dia menjauhi (memukul)     wajah.” (HR. Abu Dawud-shahih)
2.Tidak memukul dalam keadaan sangat marah
Hal ini untuk mencegah agar tidak lepas kontrol dan memukul berlebihan. Umar     bin Abdul Aziz pernah memerintahkan asistennya untuk memukul seseorang, ketika     perintah tersebut akan dilakukan, Umar bin Abdul Aziz malah memerintahkan     untuk menghentikan dan     membuat orang-orang heran. Beliau berkata, “Aku sedang marah dan aku tidak suka memukul ketika sedang marah.”
3.Tidak memukul terlalu keras sampai berbekas
Rasulullah saw bersabda, “Dan merupakan hak kalian agar mereka (istri-istri kalian)     untuk tidak membiarkan seorangpun yang kalian benci untuk masuk ke dalam     rumah kalian, dan jika mereka melakukan maka “pukullah” mereka dengan pukulan     yang tidak membekas” (HR. Muslim, II/890 no 1218)
4.Pukulan diberikan dengan berjeda; yaitu tidak dilakukan secara terus menerus. Harus ada jeda antara satu pukulan dengan pukulan lain untuk meringankan rasa sakit.
5.Pukulan harus dihentikan saat anak merasa ketakutan. Ini menandakan bahwa hukuman telah bekerja sehingga tidak diperlukan lagi.
6.Berhenti memukul jika anak menyebut nama Allah
Rasulullah saw. bersabda, “Jika seorang dari kalian memukul pelayan, lalu ia     menyebut nama Allah, maka angkat tanganmu! –yakni hentikan” (HR. Tirmidzi)

Perlu kita perhatikan pula niat dalam memukul anak, apakah benar dilandasi untuk mendidiknya tersebab ada pelanggaran syariat, atau lebih didominasi oleh perasaan marah karena nafsu. Hal ini penting karena pukulan berdampak tidak hanya pada fisik anak tetapi juga psikisnya, dan ini lebih berbahaya. Anak yang mendapat hukuman dari orangtua bisa saja mengalami trauma atau kesedihan mendalam jika kita tak berhati-hati. Jangan sampai pukulan menjadi kontraproduktif dari apa yang Islam gariskan, dan malah mengakibatkan anak melawan atau membangkang, bukan patuh dan menyadari kesalahannya. Dan sangat penting untuk diingat bahwa pukulan adalah metode terakhir setelah mengupayakan motivasi, nasehat, serta teguran yang baik sebagaimana telah Nabi contohkan.

Referensi : Kompasiana , Muslim.or.id

%d bloggers like this: