Baca juga : Cara Nabi Mendidik Anak Usia 10 – 14 Tahun Part 1

Melarang anak laki-laki menyerupai perempuan

Abdullah bin Yazid berkata, “Ketika kami sedang berada di rumah Abdullah bin Mas’ud, datanglah seorang anaknya yang mengenakan baju gamis dari kain sutera. Ibnu Mas’ud bertanya, ‘Siapa yang memberimu pakaian ini?’ Anaknya menjawab, ‘Ibuku.’ Ibnu Mas’ud pun merobek baju gamisnya dan berkata, ‘Katakanlah kepada ibumu agar dia memberimu pakaian selain kain sutera ini’.” 

Tidak diragukan lagi bahwa Ibnu Mas’ud merobek baju gamis anaknya karena ia telah elajar dari Rasulullah Saw bahwa kain sutera itu hanya untuk wanita, bukan laki-laki.Rasulullah Saw telah bersabda

“Kaum lelaki dari umatku diharamkan mengenakan kain sutera dan emas, dan kaum wanitanya dihalalkan (mengenakan keduanya).”
(H.r.Tirmidzi)

Selain memakai pakaian sutera di atas anak laki-laki juga dilarang untuk menyerupai perempuan dari cara berpakaian, berpenampilan dan berbicara. Saat ini banyak kita melihat  banyak kaum laki-laki yang berusaha tampil layakya perempuan dan sebaliknya perempuan layaknya laki-laki. Hal ini jelas dilarang oleh agama.

Memperlakukan anak perempuan dengan baik dan menjelaskan kedudukan mereka dalam Islam

Aisyah r.a berkata, “Aku tidak mengetahui seorang pun yang bicaranya mirip Rasulullah selain Fathimah. Apabila ia masuk menemui beliau, beliau bangkit menyambutnya dan menciumnya serta mendudukkannya di tempat duduk beliau. Begitu pula sebaliknya, apabila beliau masuk menemuinya, ia bangkit menyambut dan mencium beliau serta menggandeng tangan beliau” (Shahih Ibnu Hibban)

Dalam riwayat lain, Aisyah berkata, “Fathimah pernah berjalan dan jalannya seperti berjalan Nabi Saw Maka beliau bersabda, ‘Selamat datang wahai putriku. ‘ Kemudian beliau mempersilakannya duduk di kanan atau kiri beliau.”

Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah bila datang dari perjalanan beliau mencium putrinya, Fathimah.”

Rasulullah Saw bersabda :

“Barang siapa memiliki tiga anak perempuan, atau tiga saudara perempuan, atau dua anak perempua atau dua saudara perempuan lalu memperlakukan mereka dengan baik dan bertakwa kepada Allah dalam mengasuh mereka, maka baginya surga.”
(H.r.Thabrani)

Jauh sebelum Rasulullah hadir di Makkah, perempuan adalah manusia yang dianggap hina oleh kaum kafir Quraisy. Bagi mereka perempuan hanya sebatas pemuas nafsu syahwat belaka, untuk diperjual belikan bahkan memiliki anak perempuan adalah sebuah aib. Tak jarang pada masa itu orang-orang kafir Quraisy membunuh anaknya jika yang terlahir adalah perempuan.

Rasulullah Saw hadir mengubah semua itu, wanita dimulaikan, anak perempuan dihormati dan diperlakukan spesial sebagaimana hadits diatas.

Mendidik anak agar tidak merendahkan orang lain

Usia 10 – 14 tahun adalah usia  anak sudah mulai banyak teman, ikut bergaul dengan lain. Dalam pergaulannya tentu anak kita akan menemukan teman dari berbagai latar belakang keluarga, status ekonomi, tampilan fisik dan perbedaan lainnya. Bisa menerima perbedaan, menghargai teman yang berbeda dengannya dan tidak merendahkan adalah salah satu sikap yang perlu ditanamkan dalam diri anak sejak dini. Jangan sampai anak memiliki sikap sombong merasakan dirinya lebih baik dari yang lain, merasa diri lebih hebat dan kaya dari yang lain hingga akhirnya merendahkan teman-temannya.

Sehubungan hal ini Allah Swt berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.”
(Al-Hujurat : 11)

Mendidik anak agar tidak main senjata apalagi sampai mengancam temannya dengan senjata tajam

Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda :

“Barang siapa yang mengacungkan besi kepada saudaranya, maka sungguh para malaikat melaknatnya sampai ia meninggalkan perbuatnnya, meski yang diacungi itu saudara kandungnya. Para malaikat melaknat orang yang melakukan hal itu walaupun bercanda.”

Anak-anak dilarang bercanda dengan senjata tajam tentu bertujuan agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan semisal anak melukai temannya dengan senjata tajam. Perlu pengawasan orangtua agar anaknya tidak dengan mudah bermain dengan senjata tajam.

Mendidik anak agar tidak mengganggu orang lain terutama tetangga

Orang terdekat setelah keluarga kita sendiri tentu adalah tetangga. Makanya Nabi Saw jauh-jauh hari mengingatkan kita agar memuliakan tetangga. Terkait memuliakan tetangga ada banyak pesan Nabi Saw diantaranya :

“Jika salah seorang di antara kalian memasak hendaknya ia memperbanyak kuahnya lalu membaginya kepada tetangganya.”
(Shahih Al-Jami’)

Dalam hadits lain Rasulullah juga bersabda :

“Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur malam dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan dan ia mengetahuinya.”
(Shahih Al-Jami’)

Sementara dalam hadits lain beliau mengingatkan :

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya dan berwasiatlah kepada para wanita yang baik.”
(H.r.Bukhari)

Al-Ghazali mengatakan, “Hendaknya seorang anak tidak dibiarkan berbangga diri di depan teman-teman sebayanya dengan harta yang dimiliki oleh orang tuanya atau dengan sesuatu dari makanannya, pakaiannya, atau buku dan penanya. Akan tetapi, hendaklah anak dibiasakan bersikap rendah diri, menghormati setiap orang yang bergaul dengannya, dan lemah lembut tutur sapanya dengan mereka.”

Anak-anak mesti dibiasakan sejak dini untuk berlaku baik kepada tetangganya, tidak mengganggu tetangganya. Hal ini tentu dimulai dari keteladanan oleh orangtuanya.

Mengingatkan anak agar tidak berteman dengan orang yang berprilaku buruk

Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda :

“Seseorang itu mengikuti agama orang kesayangannya. Karena itu, hendaklah seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman kesayangannya.”

Abu Musa berkata, “Rasulullah Saw bersabda :

“Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti orang yang membawa misik dan pandai besi. Pembawa minyak misk adakalanya memberikannya kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu beroleh bau yang harum darinya, tetapi pandai besi adakalanya baju kamu terbakar oleh percikan apinya atau kamu beroleh bau yang tidak enak darinya’.”
(H.r.Bukhari)

Teman pergaulan akan sangat mempengaruhi anak-anak kita, maka penting bagi setiap orangtua untuk memastiakn teman anaknya adalah teman yang baik dan mengingatkan jika anak bergaul dengan teman yang tidak baik.

Mengajarkan anak etika minta izin ketika masuk kamar orangtuanya

Anak perlu diajarkan etika untuk minta izin atau mengetuk pintu kamar orangtuanya jika ingin masuk ke kamar orangtuanya. Terutama pada tiga waktu, pertama menjelang subuh, saat waktu dhuhur, dan sesudah shalat ‘isya. Orangtua perlu membiasakan hal ini pada anak sedari dia masih kecil agar menjadi kebiasaan hingga dia beranjak dewasa nanti.

Dahulu Anas, pelayan Nabi Saw sering masuk ke tempatNai tanpa izin. Pada suatu hari Anas datang dan hendak masuk begitu saja, maka Nabi Saw bersabda kepadanya, “Tetaplah di tempatmu wahai anakku, karena sesungguhnya telah terjadi suatu perintah berkenaan denganmu, maka jangan lagi kamu masuk kecuali meminta izin terlebih dahulu.”
(H.r.Bukhari)

Mendidik anak cara pengobatan alami

Ibnul Atsir menyebutkan dalam buku An-Nihayah bab Qahama, sebuah hadits Umar menyebutkan bahwa Umar pernah menemui Nabi, sedangkan di dekat beliau terdapat seorang anak remaja berkulit hitam yang memijiti punggungnya. Umar bertanya, “Apa yang telah terjadi?” Nabi Saw menjawab, “Tadi malam aku terjatuh dari untaku.” Yakni, unta yang dikendarainya telah menjatuhkan beliau di lubang yang dalam.

Ketika Nabi sedang mengendarai untanya, tiba-tiba untanya gelisah hingga menjatuhkan Nabi Saw ke dalam sebuah galian dan mengakibatkan beliau sedikit memar pada bagian tubuhnya serta ada bagian yang terkilir. Selanjutnya, beliau mengajari anak remaja itu bagaimana cara memijat otot-otot beliau agar memperingan rasa sakit.

Begitulah Nabi Saw mencontohkan pada kita agar kita memiliki kemampuan untuk melakukan pengobatan secara alami. Selain kemampuan memijit dan mengurut, kemampuan untuk melakukan bekam juga dibutuhkan oleh setiap anak. Serta juga mengenalkan anak sejak dini kepada obat-obatan herbal yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw seperti madu, habbatusauda, susu kambing dan berbagai jenis herbal lainnya.

Sumber referensi :

  1. Buku Islamic Parenting

Baca juga tulisan kami yang membahas tentan cara Nabi mendidik anak  : Konsep Parenting Nabawiyah

 

Artikel Menarik Lainnya




comments

Artikel InspiratifMuslimah

Yuk hijrah menjadi seorang muslimah yang lebih baik dengan berlangganan newsletter kami. GRATIS!

Pendaftaran kamu berhasil! Setelah ini, kami akan meberitahukan berbagai artikel terbaru melalui email yang kamu daftarkan.