Setelah sebelumnya kita mengupas bagaimana Nabi Saw mendidik anak usia 10-14 tahun, kini kita akan membahas tentang bagaimana Nabi Saw mendidik anak usia 15-18 tahun. Dalam parenting Nabawiyah konsep pendidikannya berasal dari keteladanan yang dicontohkan oleh Rasullullah Saw dan itu semua tercatat dalam hadits-hadits beliau.

Mendidik Anak Untuk Bangun Lebih Pagi

Bangun di lebih pagi adalah kebiasaan baik yang mesti ditanamkan dalam diri anak sejak dini. Bangun lebih pagi sehingga bisa melaksanakan ibadah-ibadah sunnah di pagi hari yang keutamaannya sangat banyak. Mulai dari shalat tahajud, shalat sunnah fajar, shalat shubuh berjamaah hingga shalat syuruq.

Allah limpahkan rahmatnya, bukakan pintu kebaikan dan rezeki bagi yang bangun di pagi hari. Anas bin Malik berkata, Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa siapa shalat fajar berjamaah lalu duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit lalu shalat dua rakaat, niscaya ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah.”

Anas menambahkan, Rasulullah bersabda, ‘Sempurna … Sempurna’.”

Jabir bin Abdullah berkata, “Bila Nabi shalat Fajar, beliau tetap duduk di tempatnya hingga matahari terbit.” Dalam riwayat lain Jabir menuturkan, “Rasulullah pernah berdo’a,’Ya Allah, berkatilah umatku pada waktu pagi harinya.”

Usia 15-18 tahun adalah usia anak mulai beranjak dewasa,  ini adalah masa persiapan anak memasuki kehidupan berumah tangga. Apakah akan menjadi suami atau istri. Untuk itu kebiasaan bangun pagi sudah terbentuk sebelum dia berkeluarga dan nanti bisa memberikan keteladanan bangun pagi dalam keluarganya.

Memanfaatkan Waktu Luang

Satu hal yang paling berharga dalam hidup kita dan Allah berikan sama jumlahnya kepada setiap manusia di muka bumi adalah waktu. Semua mendapat jatah waktu 24 jam dalam sehari. Ini adalah mutiara paling berharga dalam hidup kita, waktu tidak dapat disimpan, diputar ulang atau pun di tukar. Jika kita tak bisa memanfaatkannya sebaik mungkin maka ia akan pergi tidak akan kembali lagi.

Untuk itu setiap anak muda harus mampu memanfaatkan waktunya sebaik-baik mungkin. Menghasilkan karya, membantu orang lain, berolahraga dan berbagai aktivitas bernilai kebaikan lainnya.

Tentang mengisi waktu luang dengan ibadah, Nabi menganjurkan kepada anak-anak agar memanfaatkan waktu luangnya untuk hal-hal yang berguna. Untuk belajar memanah, misalnya. Salamah bin Al-Akwa’ bercerita, “Suatu hari, Rasulullah Saw berjumpa dengan sekelompok orang dari Bani Aslam sedang berlomba memanah. Melihat hal itu, beliau bersabda, “Memanahlah kalian hai keturunan Ismail, karena sesungguhnya bapak moyang kalian dahulu (Ibrahim) adalah seorang pemanah.” (H.r.Bukhari)

Abdurrahman bin Husein meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Segala sesuatu yang tidak disertai zikir kepada Allah adalah batil, kecuali empat perkara: perjalanan sesorang dintara sasaran memanah, melatih kudanya, berkasih mesra dengan istrinya, dan mengajarkanrenang.” Maksud perjalanan seseorang di antara sasaran memanah adalah perlombaan memanah untuk berbagai tujuan.

Abu Umamah bin Sahl berkata, “Umar pernah menulis surat kepada Abu Ubaidah bin Al-Jarah agar ia mengajari berenang untuk anak-anak dan mengajari memanah untuk prajurit.”

Untuk masa seperti saat ini selain olahraga yang dianjurkan Rasulullah diatas tentu anda juga bisa menganjurkan anak anda untuk melakukan olahraga lainnya seperti futsal, badminton atau mungkin kegiatan positive lainnya seperti bergabung dengan gerakan sosial, komunitas islam, menulis dan lainnya.

Dukung Anak Untuk Menekuni Bidang Keahlian Yang Sesuai Dengan Bakatnya

Setiap anak terlahir dengan bakatnya, sesuatu yang menjadi keunggulan dan juga keunikan dalam dirinya. Bakat akan menjadi keuatan dirinya. Disinilah peran utama orangtua membantu anak untuk mengenali apa bakatnya serta mendukung anak untuk menekuni bakatnya tersebut.

Ibnu Qayyim telah mengatakan bahwa diantara aspek yang harus diperhatikan oleh orang tua ialah memperhatikan kondisi sang anak dan bidang yang sesuai dengan bakatnya sampai benar-benar diketahui bahwa sang anak memang berbakat dalam bidang itu. Apabila telah diketahui, janganlah memaksanya untuk menekuni bidang lain selama bidang tersebut diperbolehkan oleh syari’at. Karena jika dipaksa untuk menekuni bidang yang tidak sesuai dengan bakatnya, besar kemungkinan pendidikannya tidak akan berhasil dan bakatnya pun jadi terabaikan.

Hari ini tak sedikit orangtua yang memaksakan kehendak diri pada anaknya, meminta anak menekuni bidang yang hanya disukai oleh orangtuanya sementara anaknya sendiri tidak menyukai bidang itu. Orangtua yang bijak tentu tidak akan memaksakan kehendak diri kepada anaknya, dia akan memberi ruang bagi anaknya untuk berkarya sesuai dengan bakat dan minatnya.

Menanamkan Kecintaan Kepada Nabi, Keluarga, dan Shahabatnya.

Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Taman orang-orang yang jatuh cinta membagi cinta menjadi 6 tingkatan. Tingkatan pertama adalah cinta kepada Allah Swt dan selanjutnya adalah kepada Nabi Muhammad Saw.

Menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulnya adalah bagian dari pendidikan yang mesti dilakukan setiap orangtua terhadap anaknya. Selain itu kita juga perlu menanamkan kecintaan kepada keluarga Nabi, para sahabatnya

Rasulullah sendiri mengikat kalbu para shahabatnya dan anak-anak mereka dengan kecintaan kepada Nabi dan bahwa kecintaan tersebut merupakan bagian dari iman. Untuk itu, beliau bersabda: “Belum sempurna iman seseorang di antara kalian sebelum diriku lebih ia cintai daripada orangtuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”(H.r.Bukhari)

Sebagaiamana pula beliau mengikat hati mereka dengan kecintaan kepada keluarga beliau. Untuk itu, beliau bersabda sehubungan dengan Al-Hasan dan Al-Husain, putra Ali, “Ya Allah, sengguh aku mencintai keduanya. Maka, cintailah keduanya dan barang siapa mencintai keduanya berarti ia telah mencintaiku.”(H.r.Bukhari)

Nabi juga telah bersabda sehubungan dengan Ali, ayah Hasan dan Husain, “Ayah keduanya lebih baik dari keduanya.”

Menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an

Sebaik-baiknya manusia adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al-qur’an kurang lebih begitu pesan Nabi Saw. Al-qur’an adalah sumber dari segala peraturan agama kita, Al-qur’an adalah panduan yang menuntun kehidupan kita.Tentu sebagai muslim kita wajib membacanya, mentaddaburi dan mengamalkan setiap ayat-ayatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun sehubungan dengan pengajaran Al-qur’an yang diberikan oleh Nabi kepada anak-anak, telah disebutkan dalam sebuah hadist dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah meletakkan tangannya pada punggung atau pundak Ibnu Abbas perawi hadist ini ragu kemudian bedo’a, “ Ya Allah, berikanlah kepadanyan pemahaman tentang agama dan ajarilah dia takwil (Al-qur’an).”

Ibnu Abbas juga menuturkan, “Rasulullah wafat saat usiaku memasuki sepuluh tahun dan aku telah mempelajari ayat-ayat muhkam.” Ibnu Abbas telah mengatakan pula kepada sa’id bin Jubair, “Aku telah menguasai semua ayat muhkam pada masa Rasulullah.” Sa’id bertanya kepadanya, “Apakah ayat-ayat muhkam itu?” Ibnu Abbas menjawab, “Surat-surat yang mufashshal (yang pendek-pendek).”

Ibnu Katsir menjelaskan, “ Dengan interpretasi apapun makna hadist ini menunjukkan kebolehan mengajari anak-anak untuk membaca Al-quran meskipun dalam usia dini, bahkan bisa jadi disunahkan atau diwajibkan. Hal ini karena apaila seorang anak telah belajar Al-qur’an sejak kecil maka saat memasuki usia balig ia mengetahui apa yang harus dibaca dalam shalatnya. Menghafal Al-qur’an pada usia dini lebih utama daripada menghafalnya setelah besar. Belajar pada masa kecil lebih terpatri dalam ingatan, lebih mantap, dan lebih kokoh dalam hafalannya sebagaimana yang telah dimaklumi oleh semua orang.”

Menjelaskan Kedudukan Nabi

Sehubungan dengan hal ini, Rasulullah telah bersabda, “Belum sempurna iman seseorang di antara kalian sebelum diriku lebih ia cintai daripada orangtuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”

Dalam riwayat lain Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Maka Nabi bersabda, “Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, hingga aku lebih kau cintai daripada dirimu sendiri.”

Umar pun berkata, “Sekarang demi Allah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada aku sendiri .” Maka nabi bersabda, “Sekarang barulah kamu benar, wahai Umar.” Yakni, sekarnag barulah imanmu sempurna.

Mengingat betapa agung kedudukan Rasulullah, berarti sudah dapat dipastikan bahwa musibah yang menimpa kaum muslimin sehubungan dengan masalah kecintaan kepada Nabi-Nya ini menjadi terasa lebih menyedihkan dibandingkan dengan musibah yang lain. Aisyah menjelaskan, “Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, siapapun diantara orang-orang beriman yang tertimpa sesuatu musibah hendaknya membandingkan musibahnya dengan musibahku karena tidak ada diantara kalian yang tertimpa musibah melebihi musibah yang menimpaku.”

Ibnu Abbas bertutur, “Rasulullah bersabda, ‘Apabila seseorang diantara kalain tertimpa musibah, hendaklah mengingat musibahnya berkenaan dengan (kecintaanya kepada diriku), karena sesungguhnya hal ini merupakan musibah yang paling besar.”

Setiap orangtua perlu mengenalkan sosok Rasulullah Saw kepada anak-anaknya, lalu mengajak anak-anaknya untuk meneladani kehidupan Rasulullah Saw. Di saat kita mengenal Rasulullah Saw melalui sirahnya maka disanalah akan tumbuh suatu ikatan cinta antara hati kita dengan Rasulullah Saw.

Jadikan Nabi Sebagai Teladan Bagi Anak

Anas berkata, “Rasulullah adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Pada suatu hari beliau menyuruhku untuk suatu keperluan. Sebenarnya, di dalam benakku aku berkata, ‘Demi Allah, aku merasa enggan.’ Akan tetapi, hati kecilku menyuruhku untuk berangkat guna memenuhi perintah nabi. Akhirnya, aku berangkat juga dan ditengah jalan aku berjumpa dengan anak-anak sebayaku yang sedang bermain dipasar. Tiba-tiba seseorang memegang tengkukku dari elakang. Ketika aku menoleh, ternyata orang itu adalah Rasulullah yang tersenyum padaku. Beliau kemudian bertanya, ‘Wahai anas kecil, apakah engkau telah pergi memenuhi perintahku?’

Aku menjawab, ‘Baiklah, wahai Rasulullah. Sekarang aku akan pergi.”

Anas melanjutkan kisahnya, “Demi Allah, aku telah melayani Nabi selama sembilan tahun, tapi aku belum pernah mendengar beliau berkata kepadaku tentang sesuatu yang kulakukan, semisal, ‘Mengapa engkau lakukan ini?’ Beliau juga tidak pernah mengatakan terhadap sesuatu yang tidak akau lakukan, semisal, ‘Mengapa engkau tidak lakukan itu?’ (H.r.Muslim)

Indahnya akhlak Rasulullah Saw terekam jelas oleh Anas (pelayan Rasulullah). Rasulullah Saw memiliki akhlak yang indah tidak hanya pada orang-orang terdekatnya bahkan pada musuh pun Rasulullah memperlakukannya dengan akhlak yang indah.

Menanamkan Sikap Mandiri dan Bekerja Keras

Ibu Qayyim berkata, “Orangtua hendaknya menjauhkan anaknya dari kemalasan, pengangguran, bersantai, dan bersenang-senang. Hendaklah anak dididik dengan menerapkan hal-hal yang kebalikannya. Janganlah anak dibiarkan bersantai-santai, kecuali untuk mengistirahatkan jiwa dan badannya dari aktivitas yang telah dilakukan. Karena, bermalas-malas dan bersantai-santai mempunyai akibat yang buruk dan menimbulkan penyesalan dikemudian hari. Adapun kesungguhan dan kerja keras membuahkan hal yang terpuji di dunia, akhirat, atau di dunia dan akhirat. Orang yang paling baik kesudahannya ialah orang paling lelah. Dan orang yang paling lelah permulaannya ialah orang yang paling senagn kesudahannya. Kejayaan didunia dan kebahagiaan di akhirat hanya dapat diraih melalui jerih payah yang melelahkan.”

Sikap mandiri, pekerja keras dan pantang menyerah adalah sikap positive yang perlu ditanamkan oleh setiap orangtua kepada anaknya. Anaknya mesti dididik untuk hidup mandiri dan tidak selalu bergantung pada orangtuanya. Terlebih lagi anak laki-laki sikap pekerja keras harus dimilikinya karena suatu saat ia akan menjadi suami dan seorang ayah.

Mengukuhkan Hak Anak untuk Menuntut Ilmu dan Belajar Al-qur’an

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik telah disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim, dan orang yang mengajarkan ilmu bukan kepada orang yang berhak menerimanya seperti halnya orang yang mengalungkan permata, mutiara, dan emas kepada babi.”

Abdul Malik bin Marwan memerintahkan kepada orang yang mendidik anak-anaknya, “Ajarilah mereka sifat jujur sebagaimana engkau ajari mereka membaca Al-qur’an dan hindarkanlah mereka dari sifat orang-orang yang rendah, karena sesungguhnya orang-orang yang rendah adalah manusia yang paling buruk kesucian dirinya dan paling minim etikanya. Jauhkanlah mereka dari para pelayan karena sesungguhnya para pelayan dapat merusak mereka. Berikanlah kepada mereka kosumsi daging yang secukupnya agar tubuh mereka menjadi kuat. Ajarilah mereka syair agar mereka menjadi orang-orang yang mulia dan bercita rasa tinggi. Perintahkanlah kepada mereka agar mereka menyukai bersiwak, tidak bernafas di dalam gelas saat minum, dan tidak meneguknya sekaligus. Apabila engkau perlu memberikan suatu pelajaran dan teguran kepada mereka, lakukanlah dengan tersembunyi tanpa seorang pun mengetahuinya karena mereka pasti akan melecehkannya.”

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan menjadi kewajiban juga bagi setiap orangtua untuk mencarikan tempat menuntut ilmu terbaik bagi anak-anaknya. Tempat belajar yang tidak hanya berorientasi pada nilai akhir tetapi juga tempat belajar yang menanamkan dalam diri anak-anak kita kecintaan kepada Allah dan Rasulnya. Tempat belajar yang membentuk akhlak dan kepribadian anak-anak kita.

Sumber referensi :

  1. Buku Islamic parenting

 

Artikel Menarik Lainnya




comments

Artikel InspiratifMuslimah

Yuk hijrah menjadi seorang muslimah yang lebih baik dengan berlangganan newsletter kami. GRATIS!

Pendaftaran kamu berhasil! Setelah ini, kami akan meberitahukan berbagai artikel terbaru melalui email yang kamu daftarkan.