Memerintahkan Anak Perempuan untuk Berhijab Bila Telah Baligh

Bagi setiap muslimah yang telah memasuki akil baligh berhijab adalah sebuah kewajiban sama dengan wajibnya shalat, puasa dan zakat. Dan sudah semestinya setiap muslimah yang sudah memasuki usia baligh untuk mengenakan hijab, menutup auratnya sesuai dengan yang telah dituntunkan dalam Al-qur’an dan Hadist.

Allah swt telah memerintahkan kepada kaum wanita dan anak-anak perempuan untuk mengenakan hijab. Untuk itu, Allah berfirman kepada Nabi-Nya:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka’”
(Al-Ahzab: 59)

Seketika itu, Nabi lansung melaksanakan perintah Allah kepada semua istri, anak-anak perempuannya, dan semua wanita mukmin hingga perkara hijab telah dikenal dan membudaya di kalangan semua wanita muslimah, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa.

Bagi sebagian muslimah berhijab adalah suatu yang berat yang tak sedikit juga beranggapan hijab adalah sebuah beban. Mereka menganggap jika tampil syar’i dengan hijab akan sulit mendapat pekerjaan, akan tampak lebih tua hingga perasaan akan sulit mendapatkan jodoh jika berhijab. Padahal hijab adalah bentuk ketaatan setiap muslimah terhadap perintah tuhan-Nya, dan hikmah dari perintah berhijab juga untuk kewajiban muslimah yang mengenakannya itu.

Menikahkan Anak Laki-Laki Baligh Bila Telah Mampu

Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian mempunyai kemampuan memberi nafkah, hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan. Barangsiapa yang tidak mempunyai kemampuan, hendaklah ia berpuasa, karena puasa akan menjadi benteng baginya.”

Aisyah diserahkan kepada Rasulullah ketika berusia sembilan tahun. Umar melamar Ummu Kultsum, putri Ali, padahal Ummu Kultsum masih anak-anak yang suka bermain dengan teman-teman sebayanya.

Menanamkan Sifat Amanah dan Tanggung Jawab

Satu hal yang langka di negeri kita ini adalah orang yang amanah dan bertanggung jawab.Para orangtua terlalu sibuk memikirkan masa depan anaknya yang berhubungan dengan materi begitu juga dengan para guru lebih sibuk mengajarkan rumus-rumus untuk mencapai nilai tertinggi. Sehingga mereka abai akan penanaman sikap amanah dan bertanggung jawab dalam diri anak-anak mereka.

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi pernah bersabda:

“Seorang lelaki yang mengurus harta ayahnya kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepengurusannya. Tiap-tiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.”

Padahal amanah dan tanggung jawab adalah dua hal penting dalam kehidupan kita. Segala hal yang kita dapatkan, manfaatkan dan kita rasakan saat ini adalah amanah dari Allah Swt yang mana setiap amanah akan diminta pertanggung jawabannya.

Waktu itu amanah akan dipertanggung jawabkan untuk apa kita habiskan waktu kita, harta itu amanah akan diminta pertanggung jawaban untuk apa kita habiskan harta kita, bahkan hidup ini juga amanah dan akan diminta pertanggungjawaban untuk apa kita habiskan usia kita.

Meminta Anak Menceritakan Pengalamannya untuk Melihat Cara Berpikirnya

Jabir berkata, “Ketika aku kembali kepada Rasulullah setelah hijrah dari negeri Habasyah, beliau bersabda, “Tidakkah kalianmenceritakan kepadaku pengalaman menakjubkan yang pernah kalian alami di negeri Habasyah?”  Seorang pemuda di antara mereka menjawab dengan menceritakan kisah berikut:

“Baiklah, wahai Rasulullah. Ketika kami sedang duduk, tiba-tiba seorang nenek dari kalangan para rahib mereka berjalan di hadapan kami. Dia membawa wadah berisi air yang dipanggulnya di atas kepala, kemudian ia berpapasan dengan seorang pemuda dari kalangan mereka. Tiba-tiba pemuda itu mendorong nenek itu dari arah belakang dengan salah satu tangannya sehingga si nenek jatuh berlutut dan wadah airnya pecah.

Setelah nenek itu bangun, ia menoleh kepada pemuda yang mendorongnya dan berkata, ‘Hai pengkhianat, kelak kamu akan tahu manakala Allah memasang singgasana-Nya dan menghimpun seluruh manusia dari awal sampai yang paling akhir. Saat itu, semua tangan dan kaki berbicara tentang apa yang telah mereka usahakan. Kamu akan tahu bagaimana kesudahan dari tindakanmu ini di sisi-Nya nanti.”

Orangtua perlu mengenal anaknya dengan baik, saah satunya adalah mengenali cara berpikir anak. Untuk mengenali bagaimana anak kita berpikir dan mengambil keputusan banyak hal bisa dilakukan seperti :

  1. Meminta anak menceritakan pengalamannya sebagaimana kisah diatas.
  2. Mengajak anak berdiskusi dan bertukar pendapat
  3. Dan, meminta pendapat anak untuk menyelesaikan suatu persoalan.

Menasihati Anak dengan Lebih Dulu Memujinya Agar Lebih Mengena

Orangtua bijak adalah yang tak hanya melihat keburukan dalam diri anaknya tetapi juga jeli melihat kebaikan yang ada pada anaknya. Ia tidak hanya bersemangat dalam menasihati dan memberi teguran tetapi mudah memberi apresiasi dan pujian. Hal ini pun dicontohkan oleh Rasulullah Saw sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Umar.

Ibnu Umar berkata, “Pada masa Rasulullah, ketika aku masih muda dan belum menikah, aku sering tidur di masjid. Dalam tidurku, aku bermimpi seakan-akan ada dua malaikat yang membawaku ke neraka.” Ibnu Umar melanjutkan kisahnya, “Kami didatangi oleh malaikat lain yang berkata, ‘Kamu jangan takut’.”

Selanjutnya, dia menceritakan mimpinya itu kepada Hafshah. Kemudian, Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah. Maka, beliau bersabda, ‘Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah, seandainya ia mengerjakan shalat malam’.”

Melatih fisik

Samurah bin Jundub berkata, “Ibuku menjanda, lalu hijrah ke Madinah dan orang-orang datang melamarnya. Kemudian ia berkata, ‘Aku hanya mau menikah dengan seorang lelaki yang mau menjamin anak yatimku ini.’ Akhirnya, ada seorang lelaki dari kalangan Anshar yang mau menikahinya.”

Samurah melanjutkan kisahnya, “Dahulu, Rasulullah setiap tahunnya melatih anak-anak muda kaum Anshar perihal kemiliteran. Beliau kemudian memasukkan pemuda lain dan menolakku pada tahun tersebut. Maka, aku pun mengajukan protes, ‘Wahai Rasulullah, engkau telah menerima dia dan menolak diriku. Padahal senadainya aku disuruh berlatih tanding dengannya, tentulah aku dapat mengalahkannya.’

Akhirny Rasulullah bersabda, ‘Kalau begitu kalahkanlah dia.’

Mukmin yang kuat tentu lebih Allah cintai dibanding mukmin yang lemah. Untuk itu setiap orangtua perlu melatih anaknya menjadi anak yang kuat secara fisik. Salah satu latihan yang bisa dilakukan adalah latihan militer. Sebab, di negara kita tidak ada wajib militer kita bisa melatih fisik anak dengan mengajaknya berkemah, mendaki gunung dan sebagainya.

Melatih Beladiri Para Pemuda

“Musuh tidak dicari, bertemu tidak lari.”

Sebuah pepatah dari tanah minang tentang bagaimana semestinya kita bisa menjaga diri. Berlatih beladiri selain bertujuan olahraga dan seni juga bertujuan untuk mempertahankan diri jika suatu waktu nanti bertemu dengan orang jahat yang ingin berbuat zalim.

Pada zaman Rasulullah Saw dahulu bergulat adalah salah satu beladiri yang biasa dipakai. Untuk saat ini tentu anda bisa memilih dari sekian banyak beladiri yang ada di negara kita.

Menpersiapkan Anak untuk Berjuang di Jalan Allah

Anas bin Malik menceritakan bahwa seorang pemuda dari Bani Aslam (golongan Anshar) berkata, Wahai Rasulullah, saya ingin maju berperang tapi saya tidak mempunyai perlengkapan perang.” Rasullullah bersabda, “Datanglah kamu kepada si Fulan, karena ia telah mempersiapkan perlengkapan perang tapi ia malah jatuh sakit.”

Pemuda itu pun mendatanginya dan berkata, “Rasulullah menitipkan salam untukmu.” Pemuda itu melanjutkan ucapannya, “Berikanlah kepadaku perlengkapan perang yang telah kau persiapkan.”

Mendengar permintaan tersebut, lantas si Fulan berkata kepada istrinya, “Wahai Fulanah, berikanlah kepadanya pelengkapan perang yang telah kupersiapkan. Jangan sampai engkau menahan sesuatu pun terhadapnya, melainkan sesuatu itu tidak membawa berkah kepada kita.”

Mengajarkan Bahasa Asing Kepada Anak

Zaid bin Tsabit berkata, “Rasulullah memerintahkan kepadaku untuk mempelajari bahasa Ibrani guna menerjemahkan surat orang-orang Yahudi.” Zaid berkata dengan penuh semangat, “Demi Allah, sungguh akan kubuktikan kepada orang-orang Yahudi bahwa aku mampu menguasai bahasa mereka.”

Zaid melanjutkan, “Setengah bulan berikutnya aku mempelajarinya dengan tekun dan setelah aku menguasainya maka aku menjadi juru tulis Nai. Apabila beliau mengirim surat kepada mereka, akulah yang menuliskannya. Dan apabila beliau menerima surat dari mereka, akulah yang membacakan dan menerjemahkannya untuk beliau.”

Menurut riwayat lain, Zaid telah menceritakan bahwa Rasulullah pernah bersabda kepadanya, “Apakah kamu mengetahui bahasa Suryani? Karena, aku sering menerima surat yang berbahasa Suryani.”

“Tidak,” jawabku.

Rasulullah kemudian bersabda, “Pelajarilah.”

Mempelajari bahasa asing adalah salah satu sunnah dari Rasulullah Saw. Dengan menguasai bahasa asing akan memudahkan kita untuk belajar kepada siapapun dan dimana pun. Selain itu dengan menguasai bahasa asing kita juga memiliki kesempatan lebih banyak untuk mensyiarkan agama ini ke pelosok dunia.

Mengajarkan Baca Tulis Bahasa Arab

Ibnu Sa’ad menyebutkan bahwa dalam perang Badar Rasulullah berhasil menawan tujuh puluh orang dari kalangan pasukan musuh. Beliau menerima tebusan sesuai dengan kemampuan harta mereka. Penduduk Mekah adalah orang-orang yang pandai dalam baca tulis maka Nabi menetapkan bahwa barang siapa diantara para tawanan tidak mempunyai harta untuk menebus dirinya, diserahkanlah kepadanya sepuluh orang anak dari kalangan anak-anak Madinah agar ia mengajari mereka baca tulis. Hal itu sebagai ganti tebusan hartanya.

Ibnu Sa’ad melanjutkan, “Tebusan setiap orang dari tawanan perang Badar pada saat itu kurang lebih 4.000 dirham. Jika tawanan yang bersangkutan pandai menulis maka diputuskanlah terhadapnya agar mengajari menulis.

Orang-orang Arab dahulu sangat menghargai kepandaian menulis dan menganggapnya termasuk hal yang paling bermanfaat karena mereka merasakan kegunaannya yang sangat penting. Kedudukannya  yang tinggi, dan manfaat serta pengaruhnya yang sangat besar. Allah telah berfirman:

“Bacalah, dan Rabbmulah yang Maha pemurah Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.” (Al-‘Alaq: 3-4)

Allah mensifati diri-Nya bahwa Dia mengajari manusia dengan perantaraan qalam (pena) sebgaiamana Dia menasihati diri-Nya sebagai Zat Yang Maha Pemurah. Allah memasukkan hal tersebut sebagai salah satu di antara nikmat-nikmat-Nya yang paling agung dan tnda-tanda kekuasaan-Nya yang paling besar. Untuk itulah, Allah berfirman: “Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis.” (Al-Qalam: 1).

Allah dalam ayat ini bersumpah dengan menyebut nama al-qalam (pena) sebagaiamana Dia telah bersumpah pula dengan apa yang ditulis oleh qalam.

Diri dan Harta Anak adalah Milik Ayahnya

Kakek Amru bin Syu’aib menceritakan bahwa pernah ada seorang lalaki datang menghadap Nabi, kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta dan anak, dan ayahku memerlukan hartaku.” Rasulullah menjawab, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu. Sungguh, anak-anakmu termasuk modal terbaikmu, maka makanlah dari usaha anak-anakmu.”

Bahkan andai seorang ayah telah memberikan sesuatu kepada anaknya, kemudian sang ayah hendak mencabut pemberiannya kembali, ini diperbolehkan. Berbeda seandainya sang ayah memberikannya kepada orang lain, bukan anaknya. Kepada orang lain ia tidak boleh mencabut kembali pemberiaanya. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, keduanya merafa’kan hadist sampai kepada Rasulullah. Disebutkan bahwa ia berkata, “Bila seseorang telah memberikan suatu pemberian ia tidak boleh menarik kembali pemberiannya, kecuali pemberian seseorang ayah kepada anaknya sendiri. Perumpamaan orang yang memberikan sesuatu, kemudian menariknya kembali pemberiannya, seperti anjing yang memakan sesuatu, manakala telah kenyang dimuntahkannya, lalu memakan kembali muntahnya.”

Tirmidzi mengatakan bahwa Iman Syafi’i telah mengatakan, “Seseorang yang telah menghibahkan sesuatu, ia tidak boleh menariknya kembali kecuali pemberian orang tua yang diberikannya kepada anaknya.” Iman Syafi’i mengatakan demikian berdalilkan hadist ini.

Melepas Kepergian Anak yang Berhaji dengan Doa

Nabi memberi perhatian besar kepada anak yang hendak menunaikan ibadah haji. Diceritakan oleh Ibnu Umar bahwa seorang anak remaja datang kepada Nabi lalu berkata, “Saya hendak menunaikan haji.” Nabi berjalan bersamanya untuk melepas keberangkatannya seraya bersabda, “Wahai anak muda, semoga Allah membakalimu dengan ketakwaan dan mengarahkanmu pada kebaikan serta menghidarkanmu dari kesusahan.” Setelah anak muda itu kembali kepada Nabi, seusai melakukan ibadah hajinya, Nabi bersabda, “Wahai anak muda, semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosa-dosamu, dan mengganti biaya ang telah kamu keluarkan.” Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosamu, dan memudahkan kebaikan untukmu di mana pun kamu berada.”

Dalam Faidhul Qadir, Al-Manawi berkata, “Seseorang datang kepada beliau dan berkata, ‘Aku ingin berpergian karena itu bekalilah diriku.’ Tambahilah. ‘Beliau bersabda, ‘Semoga Allah memudahkan kebaikan untukmu di mana pun kamu berada.’ Tidak disebutkan bahwa kepergian tersebut untuk haji.”

Sebaiknya para orangtua mendorong anak-anaknya untuk bisa menunaikan ibadah haji dan umroh. Karena ini adalah salah bagian dari rukun Islam.

Mengingatkan Anak Kepada Allah Saat Ditimpa Kesulitan

As-Sudi berkata, “Salah seorang shahabat Nabi yang dikenal dengan nama Auf bin Malik memiliki anak laki-laki. Kaum musyrik menawannya sehingga ia berada di dalam kalangan mereka. Sang ayah pun datang kepada Rasulullah mengadukan nasib yang dialami oleh anaknya dan juga keadaan keluarganya yang susah. Rasulullah berpesan kepadanya untuk bersabar dan bersabda kepadanya, ‘Allah pasti akan memberikan jalan keluar kepadamu.’

Tidak lama berselang, sang anak dapat lolos dari tangan musuh. Ia berhasil melarikn diri saat musuh sedang lengah. Di tengah jalan, sang anak menjumpai ternak kambing musuh. Ia pun lansung mengiringnya dan membawanya kepada ayahnya. Berkat ternak kambing yang diabawa oleh anaknya, sang ayah menjadi berkecukupan. Selanjutnya turunlah firman Allah yang menyebutkan:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka –sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
(Ath-Thalaq: 2-3).

Itulah beberapa teladan bagaimana nabi mendidik anak usia 15 – 18 tahun. Semoga kita sebagai orangtua bisa mengamalkannya untuk anak-anak kita.

Sumber referensi :

  1. Buku Islamic parenting

Artikel Menarik Lainnya




comments

Artikel InspiratifMuslimah

Yuk hijrah menjadi seorang muslimah yang lebih baik dengan berlangganan newsletter kami. GRATIS!

Pendaftaran kamu berhasil! Setelah ini, kami akan meberitahukan berbagai artikel terbaru melalui email yang kamu daftarkan.