0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Siapa yang tak kenal dengan kisah roman apik karangan Shakespeare, romeo dan juliet. Kisah cinta yang menjadi acuan anak muda tentang perjuangan sebuah cinta, tentang arti pengorbanan bagi mereka yang dimabuk cinta, ah mungkin tepatnya yang lagi digila cinta.

Romeo dan juliet berkisah tentang perjuangan cinta dua sejoli yang cintanya terhalang oleh orang tua, Romeo adalah putra tuan besar Montague yang bermusuhan dengan tuan besar Capulet, ayah juliet. Ketika romeo berkata, “What’s in a name?”, bagi juliet nama montague dibelakang romeo sangat merisaukan. Nama musuh yang nyata bagi keluarganya. Orang tua mereka tidak akan mungkin merestui pernikahan ini, lalu seperti apa ujung dari cerita ini?, ya seperti yang sama-sama kita ketahui, cerita ini berujung pada kematian romeo dan juliet, mati karena meneguk racun, mati bunuh diri, mati karena cintanya yang tak direstui, mati yang karena dia tak bisa saling memiliki dan hidup bersama didunia.

Di lain waktu dan tempat muncul lagi kisah yang tak sama tapi hampir serupa, masih tentang perkara cinta. Kali ini goresan apik nizami dalam romannya “layla majnun”. Yang konon katanya cerita ini jadi inspirasi juga bagi Shakespeare dalam menulis kisah romeo-juliet. Kalau rome-juliet kisah cintanya berakhir dengan kematian, maka layla majnun kisah cintanya berkahir dengan kegilaan. Ya, gila gara-gara cinta.

Itulah kisah masa lalu, cerita-cerita tentang cinta yang kerap dijadikan anak muda masih kini sebagai dalih untuk memperjuangkan cintanya. Sebagai alasan kalau cinta itu adalah suatu hal yang harus diperjuangkan meski harus mati seperti Romeo dan juliet atau mungkin gila seperti Qais (yang dijuluki majnun karena gila). Hari inipun kita tak bisa menampik munculnya kisah-kisah serupa dalam kehidupan nyata bukan di novel atau roman tapi benar-benar nyata. Entah berapa banyak putra-putri bangsa ini yang bunuh diri hanya karena diputus pacar, entah berapa banyak yang bunuh diri hanya karena cintanya dilarang atau tidak direstui oleh orang tua. Begitu juga dengan yang “sakit jiwanya” karena cinta, galau dan gelisah berkepanjangan. Putus asa tidak mau menikah lagi, susah makan, tidak bisa tidur dan ah sudahlah, makin banyak kalau seandainya kita teruskan penyakit-penyakit jiwa karena cinta.

Benarkah seperti itu cinta?, benarkah cinta menjadikan seseorang sakit jiwanya (baca : gila), untuk menjawab ini semua tentu kita perlu mendefenisikan ulang itu cinta. Apa itu cinta?, dan yang terpenting bagaimana islam memandang cinta khususnya kepada lawan jenis?

Mari kita urai satu-persatu, bagi mereka yang akhirnya menjadi “gila” gara-gara cinta mendefenisikan kalau cinta itu adalah sebuah keintiman, kemelekatan, kedekatan, kebersamaan. Jadi orientasi atau makna dari cinta pada lawan jenis adalah ketika hidup bersama. Sayangnya referensi tentang studi cinta ini jarang dibahas di lembaga pendidikan negeri kita bahkan sama sekali tidak pernah, karena sampai saat ini memang belum ada mata pelajaran atau mata kuliah khusus cinta. Akhirnya anak muda mendefenisikan bagaimana proses cinta itu melalui apa yang dia lihat dan dengar salah satunya melalui sinetron, film, musik, cerita-cerita atau kisah-kisah novel seperti romeo-juliet dan layla majnun diatas. Sehingga tak sedikit yang menjadikan kisah-kisah roman diatas sebagai panduan dalam mencintai, tak sedikit juga yang berpikiran cinta sejati itu ya seperti yang dicontohkan oleh romeo juliet, layla majnun. Itulah perjuangan cinta, itulah pengorbanan cinta.

Sementara Islam mengajarkan kepada kita kalau cinta itu adalah sebuah Anugrah (baca : nikmat), yang namanya anugarah tentu tidak akan merusak jiwa, merusak tatanan kehidupan sebagaimana kata bunda Asma nadia dalam roman “Assalamualaikum beijing” nya.

“Cinta itu menjaga, tergesa-gesa itu nafsu belaka” 

Ada 3 defenisi cinta dalam Islam :

  1. Cinta yang selalu berada dalam koridor syariat (ridho Allah SWT)
  2. Cinta yang sejati ingin selalu membahagiakan orang yang dicintainya walaupun itu meski tidak bersama.
  3. Cinta yang selalu menjaga dirinya dan yang dicintainya termasuk menjaga dari dosa maksiat.

Ya, begitulah Islam memaknai cinta, kalau cinta itu merusak, kalau dia menyakiti bisa jadi itu bukan cinta tapi adalah nafsu syahwat yang mengatasnamakan cinta.

 

%d bloggers like this: