0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

“Ketika Cinta Pada Allah sudah menjadi cinta yang PERTAMA dan UTAMA maka cinta pada yang lainnya adalah sebagai sarana perwujudan cinta Allah SWT”

Suatu ketika Umar Radhiyallahu Anha pernah berkata pada Rasulullah “Ya, Rasulullah Aku mencintaimu seperti kucintai diriku sendiri.”

Namun Rasulullah menjawab. “Tidak, wahai umar, Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.”

Dan saat itu juga, Umar berkata. “Ya, Rasulullah mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun didunia ini.

“Nah, begitulah wahai ‘Umar” Kata Rasulullah.

Kisah diatas bukan kisah dari negeri dongeng, bukan kisah rekaan tapi sebuah kisah nyata dari ‘Umar, ia begitu cepat mengubah cintanya, dari mencintai dirinya menjadi mencintai Rasulullah SAW, bahkan ia berkomitmen akan mencintai Rasulullah SAW melebih mencintai apapun didunia ini. Tentu cintanya pada Rasulullah setelah cintanya pada Allah SWT.

Sederhana memang kelihatannya, kalau hanya dalam tataran kata-kata, karena kalau kitapun ditanya tentu akan menjawab dengan enteng Allah cinta pertama dan Rasulullah cinta yang kedua. Tapi bagaimana dalam tataran amal dan perbuatan kita?, nah disinilah ujiannya.

Menjadikan Allah dan Rasulnya sebagai cinta kita yang pertama memang sebuah ujian jika kita belum begitu paham dan mengerti, akan tetapi menjadi suatu yang Indah jika kita sudah mengerti. Menjadikan Allah dan Rasulnya memiliki konsekuensi setiap amal perbuatan kita harus mendahulukan dan memprioritaskan untuk yang kita cintai. Menjadikan Allah dan Rasulnya memiliki konsekuensi kita akan selalu menjadi Allah dan Rasulnya sebagai panduan utama dalam setiap mengambil keputusan apapun dalam kehidupan ini, menjadikan aturan Allah dan Rasulnya sebagai aturan utama. Menjadikan Allah dan Rasulnya sebagai cinta yang utama dan pertama memiliki konsekuensi untuk siap mengorbankan hal-hal yang kita cintai di dunia demi Allah dan Rasulnya.

Contoh sederhana adalah dalam aktivitas berhijab, berapa banyak yang hari ini para muslimah melepas hijabnya karena tuntutan pekerjaan. Jika sudah menjadikan Allah dan Rasulnya sebagai cinta yang utama dan pertama, tentu Allah menjadi pilihan pertama. Memilih meninggalkan pekerjaan demi sebuah ketaatan tentu memang bukan hal yang ringan akan tetapi jika kita mampu maka InsyaAllah syurga buahnya, didunia kalau itu perkara rezeki Allah akan ganti dengan rezeki yang jauh lebih barokah. Barokah bisa saja lebih banyak dan bisa jadi lebih sedikit, karena parameter barokahnya rezeki bukan tentang banyak dan sedikit, tapi adalah tentang kebermanfaatannya, tentang sakinah atau ketenangan jiwa ketika menikmatinya.

InsyaAllah tak akan merugi orang yang menjadikan Allah dan Rasulnya sebagai cinta yang Utama dan pertama dalam hidupnya, Allah dekat dengannya dan InsyaAllah tentu akan selalu menolongnya.

Wahai saudariku, Jika hari ini dunia jauh lebih kau cintai, jika hari ini pekerjaanmu, karir jauh lebih kau cintai dari Allah, maka belajarlah pada Umar R.A, ubah segera cintamu, jadikan cinta pada Allah dan Rasulnya sebagai cinta yang pertama dan utama. Tak hanya dalam tataran kata, tapi juga dalam tataran tingkah, laku dan sikap.

%d bloggers like this: