0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Sejatinya menjadi istri adalah menjadi seorang ibu, sejatinya menjadi seorang ibu adalah menjadi guru utama dan pedidik utama bagi anak-anaknya. Sejatinya menjadi guru bagi anak-anak nya adalah sebuah proses melahirkan generasi hebat bagi bangsa dan agama ini.

Berat memang perjuangannya, berliku jalannya, penuh onak dan duri bahkan ribuan kilo jalan yang mesti ditempuh sebagaimana syairnya iwan fals dalam senandung “ibu”. Tapi meskipun begitu masih banyak diantara wanita masa kini yang meremehkan status sebagai istri ini. Kenapa saya katakan begitu?. Coba renungkan beberapa hal berikut.

– Sejak kecil sudah pernahkah kita dibekali dengan ilmu menjadi istri yang baik?, istri sebagaimana yang Allah dan Rasul ajarkan?

– Untuk ilmu dunia, ilmu karir kita menempuh jenjang pendidikan yang tinggi, mengeluarkan biaya yang mahal, bagaimana dengan ilmu menjadi istri?

– Sudah berapa banyak buku yang kita baca tentang pengetahuan menjadi wanita dalam Islam, menjadi ibu dan menjadi istri?

– Sudah berapa banyak seminar atau workshop yang membahas bagaimana menjadi istri kita ikuti?

– Sudah berapa banyak majelis ilmu yang kita hadiri dan disana membahas tentang bagaimana menjadi seorang istri yang baik dan benar?

Saya yakin jawabannya adalah sangat sedikit yang baru kita pelajari, masih sangat sedikit bekal kita untuk menjalani hidup sebagai seorang istri. Kenyataan di masyarakatpun kita lihat ilmu, buku serta lembaga-lembaga yang konsen mewadahi para muslimah untuk fokus belajar menjadi istri dan ibu sangat juga masih sedikit. Seolah-olah ilmu untuk menjadi istri dan ibu ini adalah sesuatu yang tidak terlalu penting dan sebuah ilmu yang bisa didapat sambil jalan. Ilmu yang bisa dipelajari sambil lalu, karena disepelekan dan dianggap sampingan ya hasilnyapun sampingan. So, apakah mau kita memiliki generasi sampingan?

Kenapa dahulu Islam melahirkan generasi-generasi hebat seperti Imam Syafi’i yang cerdasnya begitu luar biasa, melahirkan Said Nursi Baiduzzaman yang memiliki kekuatan menghafal sangat tinggi kekuatan menghafalnya. Bagaimana menjadi istri sebagaimana khadijah yang selalu siap dan rela mendampingi Rasulullah dalam setiap perjuangannya. Bagaimana menjadi istri sebagaimana aisyah yang pintar dan bisa meneruskan ribuan hadits-hadits dari Rasulullah SAW dan juga tentunya istri-istri hebat lainnya yang melahirkan, mendidik dan membesarkan generasi-generasi Islam.Ya, jawabannya adalah karena mereka mempersiapkan diri, mereka dididik dan diajar dengan sangat baik juga oleh para orang tuanya.

So, lagi-lagi maka persiapkanlah diri, luangkan waktu untuk belajar, untuk menuntut ilmu tentang bagaimana menjadi ibu rumah tangga yang baik. Memang profesi sebagai ibu rumah tangga adalah profesi yang sering tak dianggap, bahkan dalam beberapa formulir di kantor-kantor dalam pengurusan surat-surat tidak ada kolom untuk profesi ini, tapi yakinlah walaupun tak dianggap dinegara ini secara resmi, profesi sebagai ibu rumah tangga tetaplah profesi terbaik bagi seorang wanita.

Belajarlah jadi ibu yang baik, belajarlah jadi istri yang baik.Belajarlah bagaimana mendidik anak-anak dengan baik, belajarlah bagaimana memberi ketenangan bagi suami. Hingga suatu hari nanti tak ada penyesalan dalam diri hingga kau berucap “Istri seperti apakah diriku”?

 

 

 

%d bloggers like this: