0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Kapankah Anda biasanya menasehati anak?

Saat anak berperilaku negatif, terkadang kita secara refleks mengomel dan mengeluarkan kalimat bernada nasehat. Ketika anak berlarian dan menyenggol gelas hingga pecah misalnya, apa kalimat yang biasanya Anda lontarkan?

“Duh adek, hati-hati dong!”
“Gimana sih bisa kesenggol… Makanya jangan lari-larian di rumah.”
“Ya ampuuun…Ini gelas keberapa yang pecah?? Kan Mama sudah bilang kalau jalan hati-hati, matanya dipakai, jangan meleng, lihat yang benar…”

Nah… Nah…

Dalam Islam sendiri, menasehati anak ternyata ada waktu efektifnya, lho. Kapankah itu?

Menurut Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid dalam buku Cara Nabi Mendidik Anak, ada 3 waktu yang tepat untuk menasehati anak. Waktu-waktu tersebut adalah :

1. Saat Berjalan-jalan atau Di Atas Kendaraan

Suatu waktu Ibnu Abbas berjalan bersama Rasulullah saw menaiki seekor baghal yang dihadiahkan Kisra. Ibnu Abbas duduk membonceng di belakang. Setelah beberapa lama berjalan, Rasulullah saw menoleh ke belakang dan bersabda, “Wahai Anak muda!”
Ibnu Abbas menjawab, “Saya, ya Rasulullah.”
Jawabnya, “Jagalah Allah, kamu pasti akan dijaga-Nya…!” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah saw juga pernah mengajak anak kecil ke sebuah tempat rahasia secara sembunyi-sembunyi untuk diberikan nasehat kepadanya. Hal ini dialami oleh Abdullah bin Ja’far yang tertuang dalam hadits berikut,
“Pada suatu hari Rasulullah saw pernah memboncengkanku. Beliau mengatakan sesuatu kepadaku dengan berbisik. Perkataan beliau itu tidak pernah kuceritakan pada siapapun.” (HR. Muslim)

2. Saat Makan

Ketika anak-anak makan, mereka sering melakukan hal-hal yang kurang baik. Maka kita sebagai orangtua perlu mendampingi mereka makan dan memberitahukan bagaimana ‘table manner’ yang benar atau nasehat-nasehat lainnya.

Rasulullah saw sendiri menemani anak-anak makan dan memperhatikan segala perilaku mereka. Beberapa kesalahan anak langsung diluruskan dengan baik dan mengesankan. Seperti dikatakan oleh Umar bin Salamah ra dalam hadits ini,
“Ketika masih anak-anak, aku pernah dipangku Rasulullah saw. Tanganku melayang ke arah sebuah nampan berisi makanan. Rasulullah saw berkata kepadaku, ‘Nak, bacalah basmallah, lalu makanlah dengan tangan kanan dan ambillah makanan yang terdekat denganmu!’ Maka seperti itulah cara makanku seterusnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di kesempatan lain Rasulullah bersabda, “Mendekatlah Nak! Bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kanan dan ambillah yang terdekat” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Disini terlihat bagaimana Rasulullah mengundang anak-anak dengan lembut agar menyantap makanan di dekat beliau. Setelah itu beliau membimbing mereka tentang cara makan yang baik.

Ada lagi kisah lain tentang nasehat Rasulullah di meja makan.
Sepulang dari mengebumikan jenazah, seorang lelaki datang menemui Rasulullah saw dan menyampaikan bahwa beliau diundang makan oleh seorang perempuan. Makanan pun segera dihidangkan ketika orang-orang sudah duduk. Rasulullah saw mulai mengambil makanan dan segera diikuti oleh orang-orag. Anak-anak kecil duduk bersama ayah-ayah mereka.
Tiba-tiba Rasulullah saw berhenti mengambil makanan dan orang-orang pun memperhatikan beliau yang diam sambil mengunyah makanan. Ketika itu ada seorang ayah yang memukul tangan anaknya hingga keringatnya memercik. Nabi bersabda, “Aku melihat ada tangan yang mengambil daging kambing tanpa seizin pemiliknya.” (HR. Daruquthni)

3. Saat Anak Sakit

Waktu efektif lainnya untuk memberi nasehat adalah saat anak sedang sakit. Dalam kondisi sakit biasanya baik orang dewasa maupun anak-anak akan lebih lembut hatinya dan mudah menyadari kekeliruannya.

Rasulullah saw pernah menenguk seorang anak Yahudi yang tengah sakit. Anak itu biasa melayani Nabi. Saat Rasulullah saw datang ke rumahnya dan duduk di samping kepalanya, beliau bersabda, “Islamlah!”
Maka dia memandang ke arah ayahnya yang berada di dekatnya.
Ayahnya berkata, “Ikutilah Abul Qasim (yakni Rasulullah saw)!”
Anak itu pun menyatakan keislamannya. Maka Rasulullah saw keluar sambil bersabda, “Alhamdulillah, Allah telah menyelamatkannya dari api neraka.” (HR. Bukhari dari Anas)

Kisah ini menarik sekali, sebab Rasulullah baru mengajak anak itu berislam dan tidak melakukannya di waktu lain padahal selama anak ini selalu melayani beliau. Barulah di waktu yang tepat (saat anak ini sakit) beliau mengajaknya masuk Islam.

Begitulah contoh-contoh dari Rasulullah tentang waktu yang tepat dalam menasehati anak. Memberi nasehat di waktu yang sesuai tentu sangat besar pengaruhnya. Sebagai orangtua kita harus mampu memperhatikan kapan saat yang tepat agar anak-anak dapat menerima nasehat kita secara mengesankan. Hal ini penting karena pemilihan waktu yang tepat berguna untuk memantapkan pikiran mereka, meluruskan perilaku yang menyimpang dan membangun kepribadian yang bersih dan sehat. Bukankah kita tidak ingin nasehat yang kita sampaikan hanya ‘numpang lewat’ dan sama sekali tak berbekas pada diri anak?

Selamat mencoba 🙂

Referensi : Buku Cara Nabi Mendidik Anak, karya Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid, Penerbit Al I’tishom 2009

%d bloggers like this: