0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Siapa sih yang tidak menginginkan pernikahan bahagia?, tentu semua orang menginginkannya, semua orang memimpikannya. Tapi ternyata tidak semua orang bisa merasakan kebahagiaan dalam rumah tangganya. Ketidakcocokan yang berujung terjadinya cekcok, tidak mau mengalah antara suami dan istri, terlalu banyak menuntut, saling menyalahkan, saling merasa benar serta seabrek permasalahan lainnya.

Ternyata modal saling mencintaipun tidak cukup untuk membuat sebuah rumah tangga bahagia, tak sedikit yang sebelum menikah sudah cinta-cintaan dan sayang-sayangan namun ternyata setelah menikah malah berantam dan tak sedikit juga berujung pada perceraian. Harapan sakinah, mawadah dan barakah terkadang mesti sirna ketika datang orang ketiga, rumah yang seharusnya menjadi syurga bagi suami istri akhirnya menjadi syurga yang tak lagi dirindukan mengutip istilahnya bunda asma nadia.Ya begitulah dinamika rumah tangga

Lalu mungkin muncul pertanyaan dalam benak kita, seperti apa sih kebahagiaan itu?, dan seperti apa kebahagiaan dalam rumah tangga. Karena terkadang kita keliru mempersepsikan bahagia, kita sering beraanggapan bahagia itu tentang sesuatu yang menyenangkan, bahagia itu ketika kehidupan tanpa masalah, bahagia ketika semua berjalan mulus-lurus tanpa hambatan. Benarkah seperti itu bahagia?

Mari kita coba simak bagaimana baginda Muhammad Rasulullah SAW menyampaikan kepada kita tentang kebahagiaan sebagaimana ditulis oleh buya hamka dalam bukunya tasawuf modern. Rasulullah bersabda :

“Allah telah membagi akal kepada tiga bagian; siapa yang cukup mempunyai ketiga bagiannya, sempurnalah akalnya; kalau kekurangan walau sebagian, tidaklah ia terhitung orang yang berakal.”

Sahabat bertanya : “Ya Rasulullah, manakah bagian yang tiga macam itu?”

Kata beliau :”Pertama baik ma’rifatnya dengan Allah, kedua, baik taatnya bagi Allah, ketiga baik pula sabarnya atas ketentuan Allah.” (Hadits Riwayat Aisyah R.A)

Begitulah Rasulullah menjelaskan kepada tentang arti kebahagiaan. Ada yang kita perlu garis bawahi khususnya adalah pada poin ketiga baik sabarnya atas ketentuan Allah .Tentu disini termasuk didalamnya ketentuan baik dan buruk, ketentuan yang enak dan tidak enak, ketentuan yang membuatmu tertawa maupun menjadikanmu menangis itulah sejatinya bahagia.

Dalam berbagai forum kami sering menyampaikan kebahagiaan dalam rumah tangga jika dilandasi dengan rasa syukur dan sabar ibarat kita minum madu dan jamu. Ketika menemukan hal-hal yang menyenangkan layaknya minum madu  tentu itu akan terasa manis dan nikmat, membuat kita tersenyum dan tertawa. Namun ada masanya kita akan melalui masa-masa tidak sesuai dengan keinginan kita, disaat kesabaran di uji, disaat rasa syukur kita dipertanyakan dan ketika bisa melewati hal ini dengan penuh rasa syukur dan kesabaran tentu ia kita akan merasakan pahitnya bagai pahitnya jamu, pahit tapi tetap menyehatkan, pahit tapi tetap menyegarkan. Akan tetapi jika kita menjadikan persoalan, konflik dalam rumah tangga sebagai sebuah petaka, sebagai sebuah musibah maka ia akan menjadi pahitnya racun, sudahlah pahit tidak enak dan iapun mematikan.

Sahabatku semua baik yang sudah menikah atau belum. Ketahuilah yang namanya kehidupan rumah tangga itu adalah bertemunya dua insan manusia bukan malaikat. Yang namanya manusia tentu tidak sempurna, manusia tentu tidak akan luput dari salah dan khilaf, maka ketika menikah janganlah sekali-kali berharap kesempurnaan dari pasanganmu, disaaat menemui kesalahan dan kekhilafan pasangan maka ingatkanlah baik-baik, disaat menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita maka belajarlah menerima dengan ikhlas karena terkadang kita bisa memaknai kebahagiaan itu disaat bisa menerima, disaat bisa memahami dan ketika memaafkan.

Sumber foto : www.yatimmandiri.org

%d bloggers like this: