Banyak keutamaan yang dimiliki oleh ibu kita ini, Ummul Mukminin Aisyah Ra. Berikut adalah beberapa keutamaan yang terekam dalam beberapa hadits dengan berbagai riwayat.

Dipilihkan lansung oleh Allah Swt untuk menjadi istrinya Rasulullah Saw

Aisyah Ra adalah jodoh dunia akhirat bagi Muhammad Saw. Allah lansung yang memilihkan Aisyah untuk Rasulullah Saw.

Diriwayatkan dari Aisyah Ra, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Aku diperlihatkan kepadamu dalam mimpi selama tiga malam, malaikay (Jibril) membawa (gambarmu) dalam sepotong kain sutera, ia kemudian berkata kepadaku, ‘Ini istrimu.’ Aku kemudian menyingkap kain dari wajahmu, rupanya kamu, lalu aku berkata, ‘Jika ini (ketentuan) dari Allah, pasti ia tunaikan’.” (HR. Ahmad, Muttafaq ‘Alaih)

Satu-satunya wanita yang dinikahi Rasulullah saat masih perawan

Dalam beberapa riwayat disebutkan Aisyah dinikahi Rasulullah Saw pada usia 6 tahun, dan baru tinggal serumah dengan Rasulullah Saw pada ia berusia 9 tahun. Meskipun riwayat lain mengatakan di usia 14 tahun.

Baca Kisah Aisyah Ra Binti Abu Bakar Ash Shiddiq

Terlepas di usia berapa beliau dinikahi oleh Rasulullah Saw, ada satu hal yang menjadi keistimewaan bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain keistimewaan ini tidak didapat pada istri-istri Nabi yang lain. Keutamaan yang hanya dimilikinya itu adalah, beliau adalah satu-satunya wanita perawan yang dinikahi oleh Rasulullah Saw.

Diriwayatkan dari Aisyah Ra, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, katakan padaku : seandainya engkau singgah di sebuah lembah yang di sana ada sejumlah pohon yang buahnya sudah dimakan, lalu engkau mendapati sebuah pohon yang buahnya belum dimakan, di pohon yang mana engkau mengembalakan untamu?’ ‘ Di pohon yang belum dimakan buahnya,” jawab beliau. Maksudnya, Nabi Saw tidak menikahi perawan selainnya. (HR. Bukhari)

Kepandaian dan kecerdasan Aisyah

Dalam satu riwayat diceritakan Rasulullah Saw marah. Disinilah Aisyah Ra unjuk kecerdasan dan kepandaianya. Ketika Rasulullah Saw begitu bersemangat berbicara dengan nada agak marah, Aisyah merubah tutur katanya menjadi pertanyaan.

Ketika itu Rasulullah baru pulang dari Baqi’ diminta oleh Allah Swt untuk mendatangi para penghuni (maqam) Baqi’ untuk memintakan ampun.

Untuk menjawab itu Aisyah lansung merubah tutur kata menjadi pertanyaan, ‘Apa yang harus aku ucapkan untuk mereka (para ahli kubur), wahai Rasulullah ?’ Beliau menjawab, ‘Ucapkanlah, ‘Kesejahteraan semoga terlimpah kepada para penghuni kubur dari golongan orang-orang mukmin dan muslim, semoga Allah merahmati orang-orang yang telah terdahulu dari kami dan yang kemudian, dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian’.” (HR. Muslim)

Pertanyaan yang cerdas inilah yang akhirnya meredakan amarah dari Rasulullah Saw.

Putri Abu Bakar, Shahabat sejati Rasulullah Saw

Aisyah Ra adalah putri dari Abu Bakar Ash Shiddiq inilah keutamaan dari Aisyah lainnya. Tentu kita semua sudah tau Abu Bakar adalah sahabat yang sangat dekat dan sangat mencintai Rasulullah Saw. Yang Rasulullah Saw pun begitu mencintainya. Abu bakar adalah laki-laki pertama yang beriman kepada Allah dan Rasululullah dan juga laki-laki yang selalu setia mendampingi Rasulullah Saw bahkan di saat – saat yang sangat sulit ketika perjalanan hijrah.

Tentang Abu Bakar Rasulullah Saw bersabda, “Tak seorang pun yang berjasa pada kami melainkan sudah kami balas, kecuali Abu Bakar. Ia memiliki jasa yang akan dibalas Allah pada hari kiamat. Harta siapa pun tiada membawa manfaat bagiku seperti halnya manfaat harta yang diberikan Abu Bakar untukku. Andai aku dibolehkan mengambil seorang kekasih. Ketahuilah, sungguh teman kalian ini (Abu Bakar) adalah kekasih Allah.” (HR. Tirmidzi)

Selalu mengutamakan Allah, Rasulnya dan negeri akhirat

Aisyah Ra adalah istri Nabi yang selalu mengutamakan Allah, Rasulnya dan negeri akhirat. Hal ini sebagaimana dalam suatu riwayat yang dikisahkan oleh Umar Bin Khattab Ra.

Dari Abdullah bin Abbas Ra, “Aku tetap berkeinginan untuk bertanya kepada Umar tentang dua istri Rasulullah Saw yang terkait firman Allah Swt :

‘Jika kamu berdua bertaubat pada Allah, maka sungguh, hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebenaran).’ (At-Tahrim:4)

Hingga suatu ketika Umar pergi untuk menunaikan ibadah haji, aku pun ikut bersamanya. Saat pulang dan kami berada di salah satu jalan, Umar berbalik menuju pohon Arok untuk buang hajat. Setelah itu, aku berjalan bersamanya.

Lalu aku bertanya, ‘Wahai Amirul mukminin, siapa dua istri Nabi Saw yang Allah Swt berfirman kepada keduanya, ‘Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh, hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebenaran).’ At-Tahrim : 4)

Umar menjawab, ‘Aneh kami ini, wahai Ibnu Abbas. Dia Hafshah dan Aisyah. ‘Umar meneruskan penuturannya, ia berkata, ‘Aku dan seorang tetanggaku dari kaum Anshar tinggal di tengah-tengah Bani Umayyah bin Zaid – kawasan dataran tingi Madinah. Kami bergantian turun menemui Nabi Saw, hari ini dia yang turun, dan esoknya aku yang turun. Setelah aku turun, aku menemui tetanggaku itu lalu aku sampaikan berita pada hari itu. Dan apabila ia yang turun, dan esoknya aku yang turun. Setelah aku turun, aku menemui tetanggaku itu lalu aku sampaikan berita pada hari itu. Dan apabila ia yang turun, ia melakukan hal yang sama. Kami, kaum Quraisy, adalah orang-orang yang mengalahkan kaum wanita. Namun saat kami tiba di Madinah, kami mendapati bahwa kami yang kalah oleh kaum wanita, hingga istri-istri kami terpengaruh oleh mereka.

Suatu ketika, aku marah pada istriku. Setelah itu ia menuntut padaku, lalu aku ingkari tuntutan itu. Ia kemudian berkata, ‘Kenapa kau mengingkariku untuk menuntut ? Demi Allah ! Istri – istri Nabi Saw pernah menuntut beliau. Salah seorang di antara mereka pun pernah menjauhi beliau sehari semalam. Aku kemudian pergi lalu menemui Hafshah. Aku bertanya, ‘Apa kalian pernah menuntut Saw ? Ya, pernah jawabnya. ‘Apakah seseorang di antara kalian pernah menjauhi beliau sehari semalam ? Tanyaku. ‘Ya pernah, ‘jawabnya.

Aku kemudian berkata, ‘ Rugi sekali yang melakukan hal itu di antara kalian. Bisakah seseorang di antara kalian menjamin tidak terkena murka Allah karena membuat karena membuat rasul-Nya marah, sehingga ia pun binasa. Jangan pernah lagi menuntut Rasulullah Saw. Jangan meminta apa pun pada beliau, minta saja padaku semaumu. Jangan sampai kau terpedaya, madumu itu lebih cantik dan lebih dicintai Rasulullah Saw daripada kamu (maksudnya Aisyah)

Umar menuturkan, ‘Kami membicarakan tentang kabilah Ghassan yang menunggangi kuda untuk menyerang kami. Saat itu, giliran sahabatku yang turun untuk menemui Rasulullah Saw. Setelah itu, ia datang menemuiku pada waktu Isya. Ia mengetuk pintu, memanggilku, aku lalu keluar. Sahabatku itu kemudian berkata, ‘Hal besar telah terjadi’. Ada yang lebih panjang dari itu. Nabi Saw telah menceraikan istri-istri beliau’ jawab sahabatku. Aku akhirnya berkata, ‘Sungguh, rugi sekali si Hafshah.’ Aku mengira Nabi Saw benar-benar sudah menceraikan istri-istri beliau.

Setelah shalat shubuh, aku mengemas baju, lalu turun ke Madinah. Setelah itu menemui Hafshah yang tengah menangis, aku kemudian bertanya, ‘Kenapa kau menangis, bukankah aku sudah pernah mengingatkanmu ? Apakah Rasulullah Saw telah menceraikan kalian?’ ‘Aku tidak tahu. Beliau sedang menyendiri di perkampungan ini,’ jawabnya. Aku kemudian keluar dan menghampiri mimbar. Rupanya, di sekitarnya ada sejumlah orang, sebagian di antara mereka menangis.

Aku kemudian duduk sesaat bersama mereka. Aku tidak bisa menahan emosi, lalu aku pergi ke perkampungan di mana beliau berada. Aku kemudian menemui salah seorang budak hitam milik beliau, aku berkata padanya, ‘Mintakan izin untuk Umar.’ Budak beliau masuk, setelah itu keluar menemuiku, ia berkata, ‘Aku sudah minta izin untukmu, tapi beliau diam saja.’ Aku kemudian pergi menghampiri mimbar lalu duduk, ternyata di sana ada beberapa orang yang tengah duduk, sebagian di antara mereka menangis. Aku duduk sesaat.

Karena tidak bisa menguasai perasaan, aku akhirnya kembali menemui budak yang tadi dan aku berkata padanya, ‘Mintakan izin untuk Umar. Ia masuk, setelah itu keluar menemuiku. Ia berkata, ‘Saya sudah meminta izin untukmu, tapi beliau diam saja.’ Aku kemudian berlalu, namun tak lama setelah itu budak tersebut memanggilku, ia berkata, ‘Silahkan masuk, kau sudah diizinkan. Aku kemudian masuk dan mengucapkan salam kepada Rasulullah Saw. Beliau tengah bersandar di atas pasir hingga pasir-pasir menempel pada punggung beliau, aku kemudian bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau telah menceraikan istri-istrimu?’ Beliau menatap ke arahku dan menjawab, ‘Tidak’.

Aku diam kemudian berkata, ‘Andai saja engkau mengetahui kondisi kami, wahai Rasulullah Saw. Kami, kaum Quraisy, adalah orang-orang yang mengalahkan kaum wanita. Namun saat kami tiba di Madinah, kami mendapati suatu kaum yang dikalahkan oleh kaum wanita, ingga istri-istri kami terpengaruh oleh mereka. Suatu ketika, istriku marah padaku, setelah itu ia menuntut padaku, lalu aku ingkari tuntutan itu, ia kemudian berkata, ‘ Kenapa kau mengingkariku untuk menuntut ? Demi Allah ! Istri-istri Nabi Saw pernah menuntut beliau. Salah seorang di antara mereka pun pernah menjauhi beliau sehari semalam. Aku kemudian pergi lalu menemui Hafshah.

Aku bertanya, ‘Apa kalian pernah menuntut Rasulullah Saw ?’ Ya, pernah jawabnya. ‘Apakah seseorang di antara kalian pernah menjauhi beliau sehari semalam ?’ Tanyaku. ‘Ya, pernah,’ jawabnya. Aku kemudian berkata, Rugi sekali orang yang melakukan hal itu di antara kalian. Bisakah seseorang di antara kalian menjamin tidak terkena murka Allah karena membuat rasul-Nya marah, sehingga ia pun binasa. ‘Rasulullah Saw tersenyum.

Aku meneruskan, ‘Wahai Rasulullah, tadi aku menemui Hafshah, lalu aku berkata padanya, ‘Jangan sampai kau terpedaya, madumu itu lebih cantik dan lebih dicintai Rasulullah Saw daripada kamu (maksudnya Aisyah). Rasulullah Saw kembali tersenyum. Lalu aku berkata, aku minta izin (untuk duduk) wahai Rasulullah Saw, Silakan,’ sahut beliau.

Aku kemudian duduk lalu menatap seisi rumah, demi Allah tak ada sesuatu pun yang aku lihat selain tiga lembar kulit, lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah untuk memberikan kelapangan kepada umatmu, karena Persia dan Romawi tidak menyembah Allah saja diberi keluasaan. ‘Rasulullah Saw yang tadinya bersandar, kini duduk dengan baik lalu berkata, ‘Apa kau meragukanku, wahai Ibnu Khattab ?Mereka adalah kaum yang kebaikan – kebaikan mereka disegerakan dalam kehidupan dunia.’ Aku kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, mintakan ampunan untukku.’

Saat itu, Rasulullah Saw bersumpah untuk tidak masuk ke rumah istri-istri beliau selama sebulan karena beliau marah kepada mereka. Hingga akhirnya Allah Swt menegur beliau.

Setelah 29 hari berlalu, beliau masuk menemui Aisyah dan beliau mulai darinya. Aisyah berkata kepada beliau, Engkau bersumpah untuk tidak masuk menemui kami selama sebulan, dan pagi ini baru 29 malam, kami sudah menghitungnya dengan cermat.’ Nabi Saw berkata, ‘ Bulan itu (kadang berjumlah) 29 (malam).’ Dan bulan saat itu berjumlah 29 malam. Aisyah meneruskan, ‘Saat Rasulullah Saw diperintahkan untuk memberikan pilihan kepada istri-istri beliau, aku yang lebih dulu dipersilakan memilih. Beliau berkata, ‘Aku akan menyampaikan suatu hal padamu, tapi jangan buru-buru memutuskan sebelum meminta izin kepada kedua orang tuamu.’

Aisyah berkata, ‘Beliau tahu bahwa kedua orang tuaku tidak mungkin menyuruhku untuk cerai dengan beliau.’ Aisyah menuturkan, Setelah itu beliau berkata, Allah Swt berfirman, ‘Wahai Nabi ! Katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasaannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.’ Dan jika kamu menginginkan Allah dan Rasul-Nya dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik di antara kamu.’ (Al-Ahzab : 28-29)

Aisyah berkata, ‘Aku berkata, ‘Untuk masalah seperti ini apakah aku harus meminta izin kepada orang tuaku ? Sungguh, aku menginginkan Allah dan Rasul-Nya, dan negeri akhirat. ‘Ia meneruskan, ‘Setelah itu Rasulullah Saw memberikan pilihan kepada istri-istri beliau lainnya. Mereka pun mengatakan seperti yang dikatakan Aisyah’.” (HR. Bukhari)

Itulah secarik kisah, membuktikan bagaimana Aisyah Ra lebih memilih untuk mengutamakan Allah, Rasul-Nya dan hari akhirat.

Memiliki kedudukan istimewa di hati Nabi Saw

Aisyah Ra mendapat kedudukan istimewa di hati Nabi Muhammad Saw. Aisyah begitu istimewa bagi Nabi karena ia satu-satunya wanita perawan yang beliau nikahi dan ternyata Aisyah adalah orang yang paling dicintai Nabi Saw. Sebagaimana yang dikisahkan Amr Bin Ash. Amr bin Ash yang masuk Islam pada tahun 8 Hijriyah, bertanya kepada Nabi Saw, “Siapa orang yang paling engkau cintai?’ ‘Aisyah, ‘jawab beliau. ‘Dari kalangan lelaki?’ ia bertaya. ‘Ayahnya,” jawab beliau. (HR.Bukhari)

Dalam hadits lain diriwayatkan dari Aisyah Ra, ia berkata “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling engkau cintai ?’ ‘Untuk apa ? ‘Tanya beliau kembali. ‘Agar aku mencintai apa yang engkau cintai, ‘jawabku. ‘Aisyah’,” jawab beliau. (HR. Ath Thabrani sanadnya hasan)

Sementara dalam hadist yang diriwayatkan Abu Musa Ra, Nabi Saw bersabda, “Banyak di antara para lelaki yang mencapai kesempurnaan (ada yang menjadi rasul, nabi, khalifah, wali), dan tidak ada wanita yang mencapai kesempurnaan selain Asiyah istri Fir’aun, Maryam binti Imran, (dan Khadijah binti Khuwailid)
Dan kelebihan Aisyah di atas seluruh wanita itu laksana kelebihan roti kuah di atas seluruh makanan.” (HR.Bukhari)

Jibril mengucapkan salam untuk Aisyah

Inilah keutamaan besar di samping rangkaian keutamaan yang ia miliki; Jibril As mengucapkan salam kepadanya. Sungguh sebuah kedudukan nan tinggi.

Diriwayatkan Ibnu Syihab, Abu Salamah berkata, “Aisyah berkata, ‘Suatu hari, Rasulullah Saw berkata, “Wahai Aisy! Ini Jibril, ia mengucapkan salam kepadamu. ‘Aisyah menjawab, “Walaikumsalam wa rahmatullahi wabarakatuhu,’ engkau melihat apa yang tidak aku lihat’,” Rasulullah Saw maksudnya. (HR.Bukhari)

Wahyu turun tatkala Rasulullah berselimut dengan Aisyah

Diriwayatkan dari Hisyam, dari ayahnya, ia berkata, “Orang-orang sengaja memilih untuk memberikan hadiah pada hari (di mana Nabi Saw berada di rumah) Aisyah. Aisyah menuturkan, ‘Teman-temanku (istri-istri Nabi Saw lainnya) menemui Ummu Salamah. Mereka berkata, ‘Hai Ummu Salamah, demi Allah, orang-orang sengaja memilih memberikan hadiah pada hari (Nabi Saw berada di rumah) Aisyah. Perintahkan Rasulullah Saw untuk memerintahkan orang-orang memberikan hadiah kepada beliau di manapun beliau berada, atau di mana pun beliau bergilir.’

Aisyah meneruskan, ‘Ummu Salamah kemudian menyampaikan hal itu kepada Rasulullah Saw.’ Aisyah meneruskan, ‘Beliau kemudian berpaling dariku, saat beliau kembali padaku, Ummu Salamah kembali menyampaikan hal itu lagi, beliau kemudian berkata, ‘Wahai Ummu Salamah! Jangan kau menyakitiku terkait Aisyah, karena wahyu tidak diturunkan kepadaku ketika aku berada dalam satu selimut bersama seseorang di antara kalian, selain Aisyah’.” (HR. Bukhari)

Sifat yang hanya dimiliki Aisyah

Keutamaan Aisyah lainnya adalah ia memiliki sejumlah sifat yang hanya ada pada dirinya. Diriwayatkan dari Aisyah Ra, ia berkata, “Aku memiliki tujuh sifat yang tidak dimiliki seorang wanita pun, selain apa yang diberikan Allah kepada Maryam binti Imran. Aku mengatakan ini bukan untuk membanggakan diri pada seorang pun di antara teman-temanku (istri-istri Nabi Saw lainnya).’

Abdullah bin Shafwan bertanya padanya, ‘Apa saja, wahai Ummul Mukminin?

Aisyah menjawab,

  1. Malaikat jibril datang membawa gambarku kepada Rasulullah Saw.
  2. Rasulullah Saw menikahiku saat aku berusia tujuh tahun, aku diserahkan kepada beliau saat berusia sembilan tahun.
  3. Beliau menikahiku dalam keadaan perawan, beliau tidak memiliki istri perawan selainku.
  4. Suatu ketika wahyu turun kepada beliau saat aku bersama beliau dalam selimut.
  5. Aku adalah salah satu orang yang paling beliau cintai, sejumlah ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan berkenaan denganku di mana umat hampir saja biasa karenanya.
  6. Aku pernah melihat Jibril dan tidak seorang pun di antara istri-istri beliau yang melihatnya selain aku.
  7. Beliau meninggal dunia di rumahku, tidak seorang pun yang berada di dekat beliau selain aku dan malaikat (maut).

(HR.Al-Haitsami)

Zuhud dan besarnya infaq Aisyah

Sifat zuhud dan besarnya infaq Aisyah adalah keutamaan beliau berikutnya. Aisyah tumbuh berkembang di kediaman sang ayah, Ash-Shiddiq Ra sehingga mempelajari sifat zuhud darinya. Ya, demi Allah, dialah sosok yang menyerahkan seluruh harta benda untuk Allah, dan hatinya sesaat pun jua tidak pernah bergantung pada kesenangan dunia nan fana.

Bagaimana sikap zuhud Aisyah Ra bersama Rasulullah Saw bisa kita temukan dalam beberapa hadits di antaranya.

Diriwayatkan dari Urwah, dari Aisyah Ra, ia berkata, “Demi Allah, wahai keponakanku, dulu kami melihat bulan sabit. Hingga bulan sabit sebanyak tiga kali dalam dua bulan, sementara tidak ada api yang dinyalakan di rumah-rumah Rasulullah Saw.’ Aku (Urwah) bertanya, ‘Bibi, lalu apa yang kalian makan?’ Aisyah menjawab, ‘Aswadan; kurma dan air. Hanya saja Rasulullah Saw punya tetangga – tetangga Anshar, mereka memiliki (unta – unta) perah. Mereka memberi Rasulullah Saw susu-susunya. Beliau lalu memberi kami (susu – susu unta itu).” (HR. Ahmad)

Selain zuhud Aisyah, ibu kita. Ummul Mukminin, juga memiliki kedermanan dalam berinfaq. Diriwayatkan dari Urwah, dari Aisyah Ra, ia berkata, “Aku melihatnya (Aisyah) membagi-bagikan tujuhpuluh ribu (dirham), sementara ia sendiri menambal baju panjangnya.” (HR. Imam Ahmad)

Masih dalam riwayat dari Urwah, ia berkata, “Aisyah tidak pernah menyimpan sedikit pun rizki Allah yang datang kepadanya. Semuanya ia sedekahkan.”

Urwah berkata, “Suatu ketika, Mu’awiyah mengirim seratus ribu dirham kepada Aisyah, lalu Aisyah membagi-bagikan uang tersebut hingga tidak menyisakan sedikit pun. Barirah lantas berkata, “Engkau sedang berpuasa, apakah engkau tidak membeli daging satu dirham pun untuk kita dari uang itu?’ Aisyah menjawab, ‘Andai kau mengingatkaku (sejak tadi), tentu aku lakukan’.” (HR. Hakim)

Riwayat Muslim menyebutkan: dari Hadits Aisyah Ra, ia berkata, “Seorang wanita miskin datang kepadaku sambil membawa dua putrinya. Aku kemudian memberinya tiga butir kurma. Ia kemudian memberikan satu kurma masing-masing di antara kedua putrinya. Ia kemudian mengangkat kurma itu untuk ia makan, lalu kedua putrinya memintanya. Ia lantas membelah kurma yang hendak ia makan itu untuk keduanya. Hal itu membuatku kagum lalu aku sampaikan tindakan wanita itu kepada Rasulullah Saw. Beliau lantas bersabda, ‘Sungguh, karenanya Allah mewajibkan surga untuknya, atau karenanya Allah membebaskannya dari neraka’.”

Ahli puasa dan ibadah

Aisyah Ra selain memiliki sikap zuhud dan dermawan juga ahli dalam menjalan ibadah termasuk puasa dan shalat.

Al-Qasim berkata, “Aisyah berpuasa sepanjang masa.” (HR. Ibnu Sa’ad)

Diriwayatkan dari Urwah Ra, bahwa Aisyah terus berpuasa. Diriwayatkan dari Qasim, ia berpuasa sepanjang masa, tidak pernah berbuka selain hari Idul Adha dan hari Idul Fitri.

Diriwayatkan dari Qasim, ia berkata, “Setiap kali pergi pada pagi hari, aku selalu memulai dari rumah Aisyah Ra lalu mengucapkan salam kepadanya. Suatu pagi aku berlalu. Rupanya ia tengah shalat. Ia membaca, “Maka dari Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.’ (Ath-Thur : 27) .Ia berdo’a, menangis, dan terus membaca ayat ini. Aku berdiri sampai merasa bosan. Akhirnya aku pergi ke pasar untuk keperluanku. Setelah itu aku pulang. Ternyata ia masih berdiri seperti sedia kala, shalat dan menangis’.” (As-Simth As-Samin,hlm.90 dikutip dari buku 35 shahabiyah rasul)

Aisyah dan Rasa malunya

Ibunda kita Aisyah, Ummul Mukminin memiliki satu lagi keutamaan yaitu rasa malunya. Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah Ra, ia berkata, “Aku masuk ke dalam rumah di mana Rasulullah Saw dan ayahku Ra dimakamkan di dalamnya, dengan menanggalkan baju. Aku berkata, ‘Dia hanya suami dan ayahku.’ Selanjutnya ketika Umar dimakamkan. Demi Allah, saat masu aku selalu mengencangkan pakaianku karena malu kepada Umar.” (HR. Muslim dan HR. Bukhari)

Takut berbuat zalim

Diriwayatkan dari Aisyah binti Thalhah, dari Aisyah Ra bahwa ia membunuh seorang jin. Dalam mimpinya, ia didatangi (lalu dikatakan kepadanya), ‘Demi Allah, kau telah membunuh (jin) muslim.’ Aisyah berkata, ‘Andai dia muslim, tentu tidak akan memasuki istri-istri Nabi Saw. Dikatakan kepadanya, ‘Ia hanya memasukimu saat kau mengenakan pakaian.’

Pada pagi harinya, Aisyah ketakutan lalu memerintahkan untuk menyedekahkan 12.000 dirham di jalan Allah’.” (Al-Arnauth berkata, “Para perawinya tsiqah”.

Sungguh sebuah lembaran berharga yang mengungkapkan kelembutan hati dan rasa takut kepada Allah, ia takut melakukan kezaliman. Ia sering kali mendengar Rasulullah Saw mengingatkan umatnya agar tidak melakukan kezaliman melalui sabdanya, “Jagalah diri kalian dari kezaliman, karena kezaliman itu kegelapan-kegelapan pada hari Kiamat.” (HR. Muslim)

Nabi Saw bersabda, “Jagalah diri kalian dari doa orang teraniaya, karena (doanya) diangkat di atas awan. Allah berfirman, ‘Demi kemuliaan dan keluhuran-Ku, Aku akan menolongmu meski setelah beberapa waktu lagi.” (HR.Thabrani)

Sumber referensi :

Buku 35 Shahabiyah karya Syaikh Mahmud Al-Mishri

Artikel Menarik Lainnya




comments

Artikel InspiratifMuslimah

Yuk hijrah menjadi seorang muslimah yang lebih baik dengan berlangganan newsletter kami. GRATIS!

Pendaftaran kamu berhasil! Setelah ini, kami akan meberitahukan berbagai artikel terbaru melalui email yang kamu daftarkan.