Kali ini kita akan menelusuri kisah seorang wanita mulia Atikah Binti Zaid. Seperti itulah kata orang-orang Madinah, “Siapa ingin mati syahid, menikahlah dengan Atikah binti Zaid.” Atikah binti Zaid pada mulanya menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar. Abdullah kemudian meninggal dunia. Setelah itu Atikah menikah dengan Umar bin Al-Khatthab. Selang beberapa lama Umar terbunuh. Berikutnya Atikah menikah dengan Zubair. Zubair kemudian terbunuh.

Ia adalah seorang shahabat wanita mulia yang menyatukan berbagai kemuliaan dan keutamaan agung yang tak mampu dilukiskan dengan kata-kata.

Ia saudari Sa’id bin Zaid, satu di antara sepuluh shsahbat yang di jamin surga. Ibunya Ummu Kuraiz binti Al-Hadhrami.

Pamannya Alla’ bin Al-Hadhrami, seorang shahabat masyhur yang disebut-sebut Abu Hurairah. Bibinya Sha’bah binti Al-Hadhrami, ibu Thalhah bin Ubaidullah satu di antara sepuluh shahabat yang dijamin surga.

Di antara kaum wanita Quraisy, Atikah binti Zaid dikenal fasih, kuat akal, dan cantik jelita.

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamanya tumbuh subur dengan seizin Allah

Ayah Atikah, Zaid bin Amr bin Naufail, adalah sosok tiada duanya pada masanya. Saat itu, banyak orang yang menyembah berhala, sementara ia menyembah Yang Maha Es, Maha Membalas. Oleh karena itu, keturunannya adalah generasi penuh berkah, khususnya Sa’id bin Zaid, satu diantara sepuluh shahabat yang dijamin surga, dan Atikah binti Zaid, shahabat wanita mulia.

Ia sering menegur orang-orang Quraisy dengan mengatakan, “Kambing itu diciptakan Allah, Allah turunkan air untuknya, Allah menumbuhkan rerumputan untuknya, kemudian kalian sembelih tanpa menyebut nama Allah!”

Zaid bin Amr bin Naufal tetap bertahan, ia tidak memeluk agama Yahudi ataupun Nasrani. Ia meninggalkan agama kaumnya, meninggalkan berhala-berhala, bangkai,darah, sembelih-sembelihan yang dipersembahkan untuk patung, melarang mengubur anak hidup-hidup, dan menyatakan, “Aku menyembah Rabb Ibrahim,” dan terus menegur perilaku dan keyakinan kaumnya.

Menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar

Abu Nu’aim meriwaytkan dari hadits Aisyah, bahwa Atikah pernah dinikahi Abdullah bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. Abu Umar berkata, “Ia termasuk golongan wanita muhajirah. Ia dinikahi Abdullah bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia cantik jelita hingga membuat Abdullah begitu mencintainya dan melalaikan jihad. Ia kemudian diperintahkan ayahnya untuk menceraikannya.

Ia pun bertutur:

Mereka berkata, “Ceraikanlah dia dan carilah penggantinya!”

Padahal jiwa mengharapnya laksan impian orang tidur

Menceraikan keluarga yan aku satukan

Padahal aku berkecukupan, adalah sebuah perkara besar

Abu Bakar kemudian bertekad agar Abdullah menceraikan isrtinya, hingga Abdullah benar-benar menceraikannya, namun mantan istrinya tetap terbayang dalam jiwanya.

Suatu hari, Abu Bakar mendengar Abdullah bertutur ;

Belum pernah aku melihat orang sepertiku yang hari ini menceraikan wanita sepertinya

Tidak juga wanita sepertinya yang dicerai tanpa salah

Abu Bakar merasa iba padanya, lalu mempersilahkan anaknya itu untuk merujuk kembali istrinya. Selanjutnya saat pengepungan Thaif, ia terkena lesakan panah yang menyebabkannya meninggal dunia. Ia meninggal dunia di Madinah. Atikah meratapi kepergiannya melalui bait elegi;

Aku dikaruniai orang terbaik setelah nabinya….

Dan setelah Abu Bakar, ia tidak pernah lalai

Ku bersumpah, mata ini tiada akan pernah berhenti menangis…

Karena kepergianmu, dan kulit ini takkan pernah terlepas dari debu….

Sepanjang waktu selama merapati Atika terus mendekur

Selama pagi bersinar mengusir malam

Mata mana yag pernah melihat pemuda sepertinya

Menyerang, bertahan, dan tabah dalam jihad

Kala pedang-pedang saling menyerang, ia terjun ke sana …..

Menghampiri kematian hingga membiarkan tombak merah berlumur darah

Al-Faruq Umat Ini dan Pernikahan Penuh Berkah

Kala Abdullah bin Abu Bakar Ash-Shiddiq mati syahid dan masa iddah Aatikah berakhir, Al-Faruq umat, Umar menikahinya. Ia meraih kedudukan tinggi di hati Umar. Ia juga banyak belajar dari ilmu, zuhud, dan sifat wara’nya.

Diriwayatkan dari Yahya bin Abdurrahman bin Hathib; Atikah mencintai Abdullah bin Abu Bakar. Abdullah kemudian memberikan sejumlah miliknya untuk Atikah agar ia tidak menikah sepeninggalnya nanti. Abdullah setelah itu meninggal dunia. Umar kemudian mengirim utusan untuk menyampaikan pesan padanya, “Kau telah mengharamkan sesuatu yang Allah halalkan untukmu. Kembalikan uang yang kau terima itu kepada keluarga Abdullah.” Atikah mengembalikan uang itu, Umar meminangnya lalu menikahinya.

Abu Umar menuturkan dalam At-Tahmid, bahwa saat Umar meminangnya, ia mensyaratkan kepada Umar untuk tidak memukulnya, tidak mencegah haknya, juga tidak mencegahnya untuk shalat di Masjid Nabawi.

Diriwayatkan dari Musa bin Uqbah, dari Salim, bahwa Atikah binti Zaid dinikahi Umar. Atikah sering pergi ke Masjid Nabawi. Umar tidak menyukai hal itu. Ada yang berkata kepada Atikah terkait ketidaksukaan Umar ini, lalu Atikah berkata, “Aku akan terus pergi ke Masjid, sampai dia (Umar) melarangku.” Sepertinya Umar segan untuk melarangnya pergi ke Masjid. Setelah Umar, Atikah dinikahi seseorang. Ia melarang Atikah pergi ke Masjid. Aku bertanya kepada Salim, “Siapa dia?’ ‘Zubair bin Awwam’,” Jawabnya.

Perpisahan Pilu

Saat haji wada’, Nabi menyampaikan khotbah lengkap kepada para shahabat. Setelah melalui ujian panjang dalam menyampaikan risalah, Rasulullah ingin menyampaikan nasihat terakhir ke telinga dan hati mereka.

Beliau merasa bahwa rombongan ini akan melalui padang pasir kehidupan seorang diri. Beliau pun berteriak kepada mereka layaknya seorang ayah berteriak kepada anaknya yang berlalu di atas rel kereta api, mewasiatkan kebenaran dan mengingatkan sesuatu yang membawa guna untuknya selamanya.

Seperti itulah Nabi, setiap kali khawatir tipu daya setan terhadap manusia, beliau kembali meneriakkan peringatan. Beliau menumpahkan perhatian yang berada di relung hati. Selanjutnya, beliau menyampaikan petunjuk dan ilmu, menepis alasan-alasan palsu. Rasulullah mengambil kesaksian manusia atas diri mereka sendiri dan juga terhadap beliau bahwa mereka telah mendengar, dan beliau telah menyampaikan.

Ketika Nabi sakit keras dan tidu di atas ranjang kematian. Dalam hitungan hari, ruh beliau naik ke haribaan Sang Pencipta.

Berita berat menyebar dari rumah duka, berdengung di telinga semua orang, beban berat nan menikam jiwa, membingungkan pandangan mata dan hati. Kaum mukminin merasa seantero Madinah gelap, menyisahakan kepedihan mendalam dan membuat mereka bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

Atikah dirundung kesedihan mendalam karena kemaatian Rasulullah hingga nyaris mengoyak hatinya. Ia pun meratapi kepergiaan beliau bait-bait elegi;

Tunggangan-tunggangan beliau kini ditinggal sendiri

Dulu, beliau sering menungganginya hingga membuatnya nampak indah

Kini mereka menangisi kepergian sang tuan…..

Air mata berderai berlinangan

Kini, istri-isrimu belum juga sadar….

Dari kesedihan yang sudah terbiasa

Muka-muka mereka pucat laksana pedang……

Yang sudah tidak lagi digunakan dan pudar warnanya

Mereka merasakan kesedihan mendalam

Sementara di dada merasa sudah dekat saatnya

Dialah orang mulia, tuan, Al-Musthafa

Agamanya menyatu di atas kebenaran

Bagaimana kirannya hidupnya setelah Rasul tiada

Sementara saat kematiannya sudah tiba

Al- Faruq Umat dan Mati Syahid

Bersama Al-Faruq umat, Atikah menjalani hari-hari terindah sepanjang hidup. Ia melihat sikap-sikap besar Umar dalam melayani agama Allah, dan seperti pa kegigihannya mengurus rakyat. Sebab, keislamannya merupakan penaklukan, hijrahnya merupakan kemenangan, dan kekuasaanya merupakan kekuasaan adil.

Ia terus mempelajari banyak kebaikan dari Umar, hingga tibalah hari di manaia terbunuh sebagai syahid, tepat seperti yang dikabarkan Ash-Shadiq  yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu yaitu Rasulullah.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Nabi suatu ketika mendaki bukit Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman. Bukit Uhud berguncang lalu Nabi menjejakkan kaki dan mengucapkan. “Tenanglah Uhud,  diatasmu hanya ada seorang nabi, seorang yang jujur (Imannya) dan dua syahid’.”

Suatu ketika Rasulullah melihat Umar mengenakan bajuyang telah di cuci. Beliau bertanya, ‘Baju baru atau habis dicuci?’ (Bukan baru) tapi habis dicuci,’ jawab Umar. Rasulullah kemudian bersabda, “Kenakan yang baru, hiduplah secara mulia, dan matilah sebagai syahid. Niscaya Allah memberikan kebahagiaan kepadamu di dunia dan akhirat’.”

Kala Umar terbunuh karena tikaman parang Abu Lu’lu’ah Al Majusi, Atikah meratapi kematiannya melalui bait-bait elegi;

Duhai mataku! Bermurah hatilah dengan meneteskan air mata dan ratapan

Jangan pernah kau jemu menangis sang imam nan mulia

Katakan pada mereka yang kesusahan dan sengsara, “Matilah kalian…..”

Karena ajal telah menenggakkan cawan kematian kepadanya

Menikahi Pembela Rasulullah

Setelah Al-Faruq mati syahid, Atikah dinikahi pembela Rasulullah sekaligus satu di antara sepuluh shahabat yang dijamin masuk surga; Zubair bin Awwam.

Zubair adalah ksatria militan yang tidak takut mati di mana pun ia berada. Tak pernah sekalipun absen dalam peperangan yang dijalani Rasulullah.

Bersama Zubair, Atikah menjalani kehidupan mulia, seluruhnya dihabiskan untuk ketaatan kepada Allah. Atikah tahu, suaminya ini akan mati syahid. Sebab, Nabi pernah. Sebab, Nabi pernah menyampaikan kabar gembira mati syahid kepadanya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, suatu ketika Rasulullah berada di atas gunung Uhud. Gunung Uhud berguncang lalu Nabi menjejakkan kaki dan mengucapkan. ‘Tenanglah Uhud,  diatasmu hanya ada seorang nabi atau seorang yang jujur (Imannya) atau seorang syahid.’  Yang ada di atas gunung Uhud saat itu Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.

Imam Nawawi menjelaskan. “Hadits ini menunjukkan mukjizat-mukjizat Rasulullah. Beliau mengabarkan nama-nama yang beliau sebut akan mati syahid nantinya. Mereka semuanya gugur sebagai syuhada selain Nabi dan Abu Bakar. Sedangkan Umar, Utsman, Ali, Thalhah, dan Zubair gugur sebagai syuhada. Mereka dibunuh secara lalim. Kisah pembunuhan UtsmaN, Ali , dan Thalhah sangat terkenal .

Sementara Zubair terbunuh di Wadi Siba’, di dekat Bashrah saat pergi meninggalkan peperangan. Thalhah juga sama, ia terbunuh saat meninggalkan peperangan, terkena anak panah hingga tewas. Dan seperti disebutkan dalam hadits, orang yang terbunuh secara lalim adalah syahid.”

Si pembunuh Zubair, Ibnu Jurmuz. Suatu ketika meminta izin untuk bertemu Ali. Ali pun mempersilahkan masuk. Ali berkata, “Siapa itu?’ ‘Ibnu Jurmuz meminta izin masuk,’ jawab seseorang. ‘Izinkan si pembunuh  Zubair itu masuk, sungguh aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Setiap nabi memiliki pembela, dan pembelaku adalah Zubair,’ kata Ali .”

Disebutkan dalam riwayat lain; kepala Zubair dibawa ke hadapan Ali. Ali kemudian berkata. “Hai badui! Silahkan kau tempati tempatmu dari neraka. Rasulullah pernah menuturkan kepadaku, bahwa pembunuh Zubair berada di neraka.”

Ibnu Jurmuz mengkhianati prajurit terbaik

Kala peperangan, padahal ia tidak melarikan diri

Wahai Amr, andai kau perhatikan dia pasti kau tahu

Ia tidak gegabah, ujung-ujung jari ataupun tangannya tiada gemetar

Apa-apaan kamu ini, memangnya kau bisa mendapatkan orang seperti dia

Di antara mereka yang telah berlalu

Berapa banyak peperangan yang telah ia arungi tanpa berpaling

Demi Allah Rabbmu, jika kau membunuh seorang muslim

Kau akan mendapatkan hukuman pembunuhan yang disengaja.

Zubair memiliki empat orang istri. Masing-masing mendapatkan 1.000.200 dirham. Jumlah total harta Zubair mencapai 50.200.000 dirham.

Tibalah Saat Berpisah

Setelah melalui kehidupan panjang penuh dengan pengorbanan demi membela agama Allah, akhirnya Atikah binti Zaid ini tidur di atas ranjang kematian. Ruhnya naik keharibaan Sang Pencipta. Ini terjadi pada awal masa khilafah Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Atikan binti Zubair meninggal dunia pada tahun 41 Hijriyah.

Semoga Allah meridhainya, membuatnya senang, dan menjadikan surga Firdaus sebagai tempat kembalinya.

Sumber : Referensi Buku 35 Sirah Shahabiyah Rasul

 

Artikel Menarik Lainnya




comments

Artikel InspiratifMuslimah

Yuk hijrah menjadi seorang muslimah yang lebih baik dengan berlangganan newsletter kami. GRATIS!

Pendaftaran kamu berhasil! Setelah ini, kami akan meberitahukan berbagai artikel terbaru melalui email yang kamu daftarkan.