0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Inilah kisah tentang wanita yang paling bertakwa dan gemar menyambung tali silaturahmi, Maimunah binti harist namanya.  Dengan hati dan ruhani, kita masih berdampingan dengan rangkaian tiada duanya yang menyatukan wanita-wanita paling suci dan agung di seluruh alam; istri-istri Rasulullah.

Kali ini, kita ada janji dengan mentari nan muncul di langit keimanan, lalu memancarkan kehangatan dan cahaya ke hati wanita-wanita mukminah, sehingga menjadi teladan dalam iman dan takwa bagi siapa pun yang ingin meniti jalan keselamatan. Kita ada janji dengan ibunda kita nan begitu berharga; Maimunah binti Harits Al-Hilaliyah; mutiara berharga yang masuk ke dalam rumah tangga nabawi nan suci dan mulia.

Asal Usul Nan Suci

Sebelum berdekatan dengan kisah perjalanan Maimunah nan harum, mari kita merenungkan sejenak asal-usul yang diliputi keluhuran dari segala penjuru ini.

Suaminya adalah pemimpin orang-orang terdahulu dan kemudian, diutus Allah untuk membawa rahmat bagi seluruh amal; Muhammad bin Abdullah, itu sudah lebih dari cukup baginya.

Saudarinya, Ummul Fadhl binti Haritsh, istri Abba paman Nabi yang selalu melindugi tetangga, berbagi harta, membantu orang-orang kesusahan, memberi pakaian orang yang tidak punya pakaian, dan memberi makan orang yang lapar.

Ia adalah bibi Abdullah bin Abbas; ulama umat, penerjemah Al-Qur’an yang memenuhi dunia dengan ilmu dan fiqh.

Ia juga bibi pedang Allah yang terhunus, Khalid bin Walid, yang menorehkan lembaran-lembaran cahaya di kening sejarah yang takkan pernah dilakukan dunia secara keseluruhan sepanjang zaman. Rasulullah bersabda tentangnya, “ Khlaid bin Walid pedang Allah yang Allah hunus terhadap orang-orang musyrik.”

Besannya adalah Orang Paling Mulia

Ibunya Maimunah, wanita tua dari Harasy, disebut-sebut sebagai orang dengan besan paling mulia, karena Maimunah adalah istri Nabi. Abbas menikahi saudari sekandungnya, Lubabah. Hamzah menikahi saudarinya, Salma. Hamzah bin Abu Thalib menikahi saudari sekandungnya, Asma’ yang setelah itu dinikahi Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan setelah itu dinikahi Ali bin Abi Thalib.

Tanah Subur

Ibunda kita, Maimunah, hidup di tanah subur di antara individu-individu keluarga penuh berkah. Cahaya iman memenuhi hati dan seluruh tubuhnya, sehingga tiada mendambakan rumah megah dunia atau segala kesenangan dunia nan fana. Karena, ia tahu pasti bahwa dunia di sisi Allah tidak setara dengan sayap nyamuk, dan tempat pijakan kaki orang mukmin di surga lebih baik dari dunia dan seisinya.

Untuk itulah, ia termasuk wanita-wanita pertama yang lebih dulu masuk ke dalam agama Allah, dan termasuk di antara mereka yang diakui Nabi sebagai wanita-wanita beriman.

Harapan Nan Berharga

Menjelang Islam, Maimunah lebih dulu dinikahi Mas’ud bin Amr Ats-Tsaqafi, setelah itu ia dicerai. Berikutnya ia dinikahi Abu Ruhm bin Abdul Uzza. Abu Ruhm kemudian meninggal dunia. Dalam jiwa, ia merasa bahwa Allah akan memberinya seorang suami yang diberkahi, yang meraih tangannya menuju surga duia akhirat. namun, siapa gerangan suami yang diberkahi ini ?!

Sedetik pun tidak pernah terbesit di benaknya jika suatu hari nanti ia akan menjadi salah satu ibunda bagi orang-orang mukmin (Ummul Mukminin), istri pemimpin orang-orang terdahulu dan kemudian, Muhammad. Namun takdir semakin mendekati harapan nan berhargayang didambakan setiap wanita beriman di alam nan luas terbentang ini.

Rasulullah datang bersama para sahabat untuk menunaikan umrah qadha, lalu terjadilah pernikahan penuh berkah itu. Nabi menikahi wanita yang diberkahi itu, Maimunah binti Harits, sepulang dari umrah qadha. Mari kita simak kisah pernikahan penuh berkah ini.

Umrah Qadha dan Janji Bahagia

Saat umrah qadha, kaum muhajirin memenuhi jalan mekah, mereka menghirup aroma harum memori manis mekah, memenuhi ladang tempat menghabiska masa keil dan masa muda dengan senang dan bahagia. Sebagian rumah mereka rata dengan tanh. Namun mereka hanya mentap sepintas semua pemandangan itu tanpa menimbulkan bekas luka dihati yang hanya dipenuhi keimanan terhadap cinta Allah dan Rasul-nya.

Jakim menjelaskan, secara mutawatir, riwayat-riwayat menyebutkan, kala bulan Dzulqa’ah tiba Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk mengqadha umrah, dan siapa pun yang turut serta dalam peristiwa Hudaibiyah jangan sampai ada yang tertinggal. Mereka semua akhirnya berngkat, selain yang sudah gugur sebagai syuhada. Banyak juga kelompok lain yang turut serta untuk umrah bersama bliau, hingga jumlah mereka mencapai 2000 orang, tidak termasuk kaum wanita dan anak-anak (Fathul Bahri)

Pada umrah ini Rasulullah Saw menikahi Maimunah binti Harits Al-Amiriyag. Sebelum memasuki Mekah, beliau sudah mengutus Ja’far bin Abu Thalib untuk menemani Maimunah. Sementara Maimunah sendiri sudah mewakilkan urusannya pada Abbas karena saudarinya, Ummu Fadhl, adalah istri Abbas. Saat keluar Mekah, beliau mewakilkan Abu Rafi’ untuk membawa Maimunah. Hingga bertemu di Sharf dan beliau menggauli Maimunah di sana. (Zadul Ma’ad)

Di Rumah Nubuwah

Setelah pernikahan penuh berkah berlansung, Maimunah Ra masuk ke dalam rumah tangga Nubuwah untuk menjadi salah seorang Ummahatul Mukminin. Betapa kemuliaan puncak yang tiada tertandingi.

Maimunah Ummul Mukminin memasuki Madinah Al-Munawarah, merasaka kebahagiaan tiada tara, seakan hatinya memeluk bintang-bintang orion. Melangkahkan kaki menuju ambang pintu kamar yang telah dipersiapkan Nabi Saw untuknya, kamar yang menebarkan aroma wangi keimanan ke segala penjuru dunia.

Meski sangat sederhana, namun dinding-dinding kamar ini dibangun di atas ketakwaan.

Maimuna Ra hidup di dalam rumah tangga Nubuwwah, mempelajari banyak sekali kebaikan dari Nabi Saw. Ia meniru perilaku, tingkah laku, akhlak, dan ilmu beliau, sehingga imannya kian hari kian bertambah.

Kesaksian berharga

Maimunah Ra berdampingan dengan berkah-berkah wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah Saw dengan sepenuh hati dan seluruh raga, untuk kemudian diamalkan ke dalam aksi nyata. Untuk itu, ia selalu shalat malam, berpuasa, dan melakukan berbagai amal baik, sehingga Nabi Saw memberikan kesaksian iman untuknya dan saudari-saudarinya. Betapa sebuah kesaksian agung yang muncul dari mulut sosok jujur yang tiada berbicara berdasarkan nafsu.

Beliau bersabda, “Empat wanita bersaudara; Maimunah, Ummul Fadhl, Salma, dan Asma’ binti Umais –saudara seibu mereka- adalah wanita-wanita mukiminah.” (H.R An-Nasa’i)

Gigih Menegakkan Hukum-Hukum Allah

Ia sangat gigih menegakkan hukum-hukum Allah, karena ia tahu pasti bahwa kehidupan suci bersih hanya berada dibawah naungan syariat Allah.

Diriwayatkan dari Yazid, bahwa seorang kerabat Maimunah datang berkunjung, lalu Maimunah mencium bau khamr darinya. Maimunah berkata, “Kalau kau tidak keluarmenemui kamum muslimin agar mereka menderamu, jangan pernah lagi masuk menemuiku.

Perpisahan Pilu

Stelah melalui fase singkat kehidupan iman penuh berkah, Rasulullah akhirnya tidur di atas ranjang kematian. Rasulullah pertama kali sakit saat berada dirumah Maimunah.

Diriwayatkan dari Asma binti Uwais ia berkata, “Rasulullah pertama kali sakit dirumah Maimunah. Penyakit beliau semakin parah hingga beliau tidak sadarkan diri. Istri-istri beliau kemudian bermusyawarah untuk mengobati beliau dengan ladud. Saat siuman beliau bertanya, apa ini? Kami menjawab, ‘ini perbuatan wanita-wanita yang datang dari sana,’ perawi menunjuk kearah Habasyah, dan Asma binti Uwais ada diantara mereka. Mereka berkata, kami mengira engkau terkena penyakit radang dada wahai Rasulullah. Belaiu bersabda, ‘penyakit itu tidak akan Allah timpakan kepadaku. Siapa pu yang ada dirumah ini, harus diberi ladud, kecuali paman Rasulullah,’maksud beliau adalah Abbas. Maimunah saat itu juga mengenakan ladud meski sedang berpuasa demi memnuhi tekad Rasululah.

Nabi mengimani shalat maghrib saat pada hari itu. Beliau membaca Al-Mursalat. Diriwayatkan dari Ummul fadhl binti Harits, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah membaca Al-Mursalat saat shalat maghrib, setelah itu beliau tidak (mengimani shlat lagi hingga wafat.”

Pada waktu Isya, penyakit beliau semakin parah hingga tidak mampu keluar. Beliau meminta izin kepada istri-istri beliau untuk dirawat di rumah Aisyah, dan mereka mempersilakan. Diriwayatkan dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, bahwa Aisyah berkata, “Ketika penyakit Rasulullah Saw semakin parah, beliau meminta izin kepada istri-istri beoiau untuk dirawat di rumahku, mereka mengizinkan belaiu.” (H.R.Bukhari)

Tidak lama setelah itu, ruh paling suci di dunia naik menuju sang pencipta. Rasulullah Saw meninggal dunia, seluruh Madinah terasa gelap karena kematian beliau. Maimunah Ra dirundung kesedihan mendalam hingga nyaris mengoyak hati. Namun, ia mengharap pahala di sisi Allah untuk meraih pahala orang-orang sabar. Nabi Saw meninggal dunia dalam keadaan ridha padanya, itu sudah cukup.

Rasul mulia Saw pindah golongan tertinggi dalam keridhaan ridha kepada istri-istri beliau yang berjumlah sembilan orang. Sebagian ulama menggubah bait syair tentang istri-istri Nabi Saw yang ditinggal mati oleh beliau. Ia bersenandung;

Rasulullah wafat meninggalkan sembilan istri
Kepada mereka segala kemuliaan dikaitkan;
Aisyah, Maimunah, Shafiyah
Juwairiyah bersama Saudah, berikutnya Zainab
Demikian pula Ramlah bersama Hindun dan Hafshah
Berjumlah tiga dan enam (sembilan), untaian bait tentang mereka begitu baik

Perawi Hadits Nabi Saw

Imam Adz-Dzhahabi mengatakan tentangnya, “Ia termasuk pemimpin kaum wanita dan meriwayatkan sejumlah hadits.”

Haditsnya diriwayatkan Ibnu Abbas dan keponakannya yang lain; Abdullah bin Syaddad bin Had, Ubaid bin Sabbaq, Abdurrahman bin Sa’ib Al-Hilali, juga keponakannya yang lain; Yazid bin Asham, Kuraib maula Ibnu Abbas, Sulaiman bin Yasar maula keduanya, saudaranya; Atha’ bin Yasar, dan lainnya.

Bagaimana tidak mendapatkan kedudukan nan begitu bernilai ini sementara ia tinggal di dalam rumah Nabi Saw, ia lansung belajar dari sumber nan jernih tanpa perantara, sehingga ia meminum banyak sekali kebaikan ini.

Saatnya berpisah dengan Ummul Mukminin Maimunah

Selepas kepergian Al-Habbib Ra, Maimunah tetap tekut beribadah, shalat, puasa, dan membaca Al-qur’an, hingga jiwanya rindu untuk bertemu Allah. Siapa suka bertemu Allah, Allah pun suka bertemu dengannya.

Tibalah saatnya bagi Maimunah Ra untuk meninggalkan dunia dengan segala kesenangan fana untuk bertemu Rabb Saw. Ia pun tertidur di atas ranjang kematian setelah hidup di bawah naungan khilafah rasyidah. Ia meraih penghormatan para khalifah dan ulama. Umurnya panjang hingga khilafah Mu’awiyah Ra.

Maimunah Ummul Mukminin Ra meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia, ia teringat apa yang pernah Nabi Saw kabarkan kepadanya.

Diriwayatkan dari Yazid bin Asham, ia berkata, “Maimunah, istri Nabi Saw jatuh sakit di Mekah dan sakitnya semakin parah, sementara di sana tidak ada seorang pun di antara anak-anak saudaranya. Ia kemudian berkata, ‘Keluarkan aku dari Mekah, karena aku tidak mati di sana, Rasulullah Saw pernah mengabarkan kepadaku bahwa aku tidak mati di Mekah.’

Yazid berkata, ‘Mereka kemudian membawanya keluar, hingga setelah tiba di Sharf di dekat sebuah pohon  tempat dulu Rasulullah Saw menggaulinya di bawahnya di sebuah tempat di Quba, ia meninggal dunia. Saat kami meletakkannya di dalam liang lahat Ibnu Abbas lalu mengambil pakaian itu dan membuangnya’.(Al-Haitsami)

Diriwayatkan dari Yazid bin Asham, ia berkata, “Kami mengubur Maimunah dii Sharf, di bawah naungan (pohon) tempat dulu Rasulullah Saw menggaulinya di sana selepas haji. Aku dan Ibnu Abbas turun ke dalam liang kuburnya.” (HR. Ibnu Sa’ad)

Demikianlah kisah indah Ummul Mukminin Maimunah Ra pergi untuk bertemu sang kekasih, suami, dan Nabi Saw di taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa.

Semoga Allah meridhainya, membuatnya senang, dan menjadikan surga Firdaus sebagai tempat kembalinya. Semoga kisahnya menginspirasi kita.

Sumber : Buku 35 Shirah Shahabiyah Rasul

%d bloggers like this: