0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Iman bukan persolan remeh yang bisa kita lalaikan, sepelekan, atau kita lupakan begitu saja. Sebab, Iman berkaitan dengan keberadaann dan tempat kembali manusia. bahkan bagi saya, Iman adalah persoalan masa depan terbesar dalam sudut pandang manusia.

Iman adalah persoalan kebahagiaan atau justru kesengsaraan abadi. Iman adalah surga atau neraka abadi. Untuk, itu siapa pun yang punya akal harus memikirkan dan memastikan hakikat Iman.

Saat berbicara tentang manfaat dan jejak-jejak iman dalam jiwa dan kehidupan, kami hanya fokus pada iman yang kuat lagi memancar. Iman yang telah mencapai puncak, cahayanya muncul menerangi hati dan mengalir ke dalam jiwa. Bukan iman lemah nan goyah, iman yang terbius dan tidur. Tidak masalah jika pemilik keimanan seperti ini hanya segelintir orang saja, sebab kelompok materialis sangat meragukan nilai Iman. Kisah ini agar mereka tahu bahwa iman yang mereka perangi itu jika semakin meningkat pula pengaruhnya dalam kehidupan individu maupun kelompok.

Kali ini, kita akan menghayati seorang sahabat wanita mulia, di mana pengaruh dan berkah iman terlihat jelas pada dirinya, hingga menggoreskan kata-kata cahaya di kening sejarah. Ia adalah Ummul Mundzir Qais, salah satu bibi Nabi yang berbaiat dua kali dan shalat menghadap dua kiblat

Mari kita membuka lembaran penuh berkah ini dan kita hayati dengan sepenuh jiwa raga.

Bersama Serangkaian Kemuliaan

Allah menyatukan banyak sekali kemuliaan untuk sahabat wanita mulia ini yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Ia adalah salah satu bibi nabi dari garis ayah.

Ibnu Abdillbarr berkata, “ia adalah saudari Sulaith bin Qais. Sulaith adalah salah satu dari kestria hasil didikan madrasah nubuwah. Turut hadir dalam perang badar, uhud, khandaq, dan seluruh perperangan bersama Rasulullah. Ia salah satu pahlawan dalam perang jembatan yang ternama itu bersama bu Ubaidah. Dalam perperangan tersebut , ia gugur pada tahun 14 hijriyah. Ia juga memiliki banyak kisah yang menunjukkan kemuliaan, kedudukan, dan juga keberaniaannya.

Ummul Mundzir juga memiliki dua saudara perempuan lain; Ummu Sulaim binti Qais dan Umairah binti Qais. Keduanya masuk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah.

Ia adalah bunga yang mekar di taman kemuliaan dan keutamaan. Aroma wanginya menyebar keseluruh dunia, agar semuanya tahu bahwa generasi tiada duanya ini tidak akan pernah terulang sepanjang masa.

Buah Dakwah

Selepas baitul Aqabah pertama, Nabi mengutus da’i pertama ke Madinah Al-Munawwarah; Mush’ab bin Umar. Ia belajar lansung dari Rasulullah cara menyampaikan dakwah penuh kasih. Mush’ab pergi dan mulai menyampaikan dakwah pada siapaun disekitarnya dengan hikmah dan tutur kata yang baik, sehingga mereka yang memiliki hati suci dan bertakwa, serta fitrah lurus, menerima dakwah Mush’ab.

Mereka kemudian masuk Islam dan berserah diri untuk merengkuh nikmat tauhid dan ubudiyah kepada Allah.

Di antara buah dakwah penuh berkah ini adalah Ummul Mundzir masuk Islam. Iman menyentuh relung hatinya hingga ia merasa berada di antara kaum wanita yang lebih dulu masuk Islam, dan termasuk di antara mereka yang disinggung Allah dalam Firman-Nya, “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (At-Taubah: 100).

Ummul Mundzir Berbaiat Kepada Rasulullah

Kala esklasi gangguan kaum musyrikin terhadap para sahabat Rasulullah kian meningkat, beliau mengizinkan mereka berhijrah ke Madinah. Tidak lama setelah itu Allah mengizinkan Rasul-Nya untuk berhijrah. Beliau pun berhijrah ke Madinah. Hati kaum Ansar berbunga penuh bahagia karena kedatangan Rasulullah. Ummul Mundzir merasa kebahagiaan memenuhi seluruh jiwa raga. Bersama sejumlah wanita, ia pun pergi untuk berbaiat kepada Nabi.

Berikut, Ummul Mundzir menuturkan sendiri kisahnya saat pergi untuk berbaiat kepada Nabi.

Ia berkata, “Aku datang kepada Rasulullah lalu berbaiat kepadanya bersama sejumlah kaum wanita anshar. Setelah beliau mensyaratkan kepada kami; bahwa kami tidak akan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki kami dan tidak akan mendurhakai beliau dalam urusan yang baik. Beliau kemudian berkata, ‘kalian jangan menipu suami-suami kalian.’ Kami kemudian berbaiat kepada beliau, lalu setelah itu pulang. Aku setelah itu berkata kepada seseorang di antara mereka, ‘kembalilah dan bertanyalah kepada Rasulullah, ‘Apa maksud menipu suami itu?’ Ia kemudian bertanya kepada Rasulullah, lalu beliau menjawab, ‘Mengambil harta miliknya lalu dengan harta itu ia menjalin hubungan dengan laki-laki lain.’

Bersama Iman

Shahabat wanita mulia ini menjalani kehidupan iman ditengah-tengah masyarakat tiada bandingnya di seluruh dunia ini dari sisi akhlak, perilaku, ibadah, dan muamalat. Ia gigih untuk semakin meningkatkan ilmu hari demi hari, giat membaca kitab Allah, dan menghafal hadist Rasulullah. Tak pernah lelah sesaat pun untuk mnyampaikan dakwah menuju Allah. ia menjalani agama ini dengan sepenuh jiwa raga.

Ia shalat bersama Rasulullah menghadap dua kiblat.

Kedudukannya di Hati Rasulullah

Shahabat wanita mulia ini memiliki kedudukan besar di hati Rasulullah. Di hati, Nabi menyimpan segala hormat padanya dan menjaga kedudukannya. Bahkan, sesekali Nabi menyempatkan diri untuk berkunjung ke kediamannya, makan di tempatnya serta berisyarat bahwa makanannya berkah dan bermanfaat.

Diriwayatkan dari Ummul Mundzir binti Qais Al-Anshariyah, ia berkata, “Rasulullah bertamu ke kediamanmu bersama Ali. Ali saat itu belum pulih benar dari sakitnya. Kami memiliki sejumlah tandan buah yang tergantung. Rasulullah kemudian menghampiri tandan-tandan itu lalu beliau makan sebagian. Ali ikut bangun dan hendak makan, Rasulullah berkata kepadanya, ‘Jangan dulu, kamu belum pulih benar.’ Ali pun menahan diri. Aku membuat tepung dan ubi, lalu aku bawakan untuk beliau. Beliau berkata kepada Ali, ‘Ali, makanlah ini. Ini lebih bermanfaat untukmu’.”

Sikap Mulia dalam Prang Bani Quraizhah

Saat pasukan-pasukan kafir bersatu dalam perang Azhab (khandaq) untuk memerangi Nabi dan para shahabat, kala itu ada perjanjian antara Nabi dan Yahudi Quraizhah untuk melawan siapa pun yang hendak menyerang Madinah.

Namun, Yahudi tetaplah Yahudi. Mereka melanggar perjanjian dengan Rasulullah. Mereka berniat untuk membuka jalan bagi para pasukan kafir untuk menghabisi Islam dan kaum Muslimin. Kaum muslimin berada di dalam situasi yang sangat sulit. Sampai-sampai Allah menggambarkan situasi mereka ini dalam kitabnya-Nya. Allah berfirman, “(Yaitu ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu tersesak sampai ketenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah. di situlah di uji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.” (Al-Ahzab: 10-11)

Namun, Allah menurunkan pertolongan-Nya untuk orang-orang mukmin, mengalahkan pasukan sekutu seorang diri, “Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, karena mereka (juga) tidak memproleh keuntungan apa pun. Cukuplah Allah (yang menolong) menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan.”  (AL-Ahzab: 25)

Saat Rasulullah kembali ke madinah, jibril datang menemui beliau diwaktu Zhuhur. Beliau saat itu sedang mandi di rumah Ummu Salamah. Jibril berkata, “Apakah sejata telah diletakkan? Para malaikat sama sekali belum meletakkan senjata. Aku saat ini kembali tidak lain untuk mengejar musuh. Untuk itu, bangkitlah bersama pasukanmu menuju bani quraizhah. Aku akan berjalan didepanmu. Aku akan menggucang benteng-benteng mereka. Dan aku hujamkan rasa takut dihati mereka.” Jibril kemudian bergerak bersama rombongan para malaikat.5

Rasulullah kemudian memerintahkan seseorag untuk menyampaikan kepada kaum muslimin, “Barangsiapa yang tunduk dan patuh, jangan shalat Ashar selain di Bani Quraizhah.”

Rasulullah. Mendatangi mereka dan mengepung mereka selama 25 malam, ketika pengepungan semakin ketat dan kondisi semakin parah, mereka diseru untuk mematuhi putusan Rasulullah.

Namun Abu Lubabah mengisyaratkan kepada mereka, jika mereka mematuhi putusan Rasulullah mereka akan disembelih. Mereka berkata, “kami akan mematuhi putusan Sa’ad bin Mu’adz. “Rasulullah kemudian mengirim utusan memanggil Sa’ad bin Mu’adz. Sa’ad kemudian didatangkan di atas keledai berpelana serabut dan dikelilingi kaumnya. Mereka berkata kepdanya “wahai Abu Amr! Mereka ini para sekutu, maula, dan orang-orang seperti yang sudah kau ketahui. “Sa’ad tidak menjawab sepatah kata pun dan bahkan tidak menoleh ke arah mereka.

Setelah berada di dekat rumah-rumah mereka, sa’ad menoleh ke arah kaumnnya dan berkata, “sekaranglah saatnya bagi Sa’ad untuk tidak memperdulikan celaan siapa pun karena Allah.” Abu Sa’ad menuturkan, “Begitu Sa’ad kelihatan dari kejauhan, Rasulullah Saw bersabda, ‘Hampirilah tuan kalian, turunkan dia!’ Umar berkata, ‘Penolong kami adalah Allah semata’.” Beliau berkata, “Turunkan dia!” Mereka kemudian menurunkan Sa’ad bin Mu’adz. Rasulullah Saw memerintahkan, “Jatuhkan putusan terkait mereka.” Sa’ad berkata, “Putusanku terhadap Yahudi Bani Quraizhah adalah ; kaum lelaki dihukum mati, kaum wanita dan anak-anak ditawan, dan harta benda milik mereka dibagi-bagikan kepada kaum muslimin.” Rasulullah Saw menyahut, “Sungguh, kau telah memutuskan perkara mereka dengan putusan Allah dan Rasul-Nya.”

Setelah itu Sa’ad berdo’a, “Ya Allah! Jika pun masih ada peperangan tersisa melawan kaum Quraisy, maka panjangkanlah umurku hingga aku bisa berjihad di sana. Namun jika engkau telah mengakhiri peperangan antara kami dengan mereka, maka cabutlah nyawaku.” Lukanya seketika itu juga memancarkan darah, padahal sudah sembuh dengan bentuk seperti puting susu.

Aisyah Ra menuturkan, “Sa’ad kembali ke tenda yang dipasang Rasulullah Saw untuknya. Rasulullah Saw kemudian menemui Sa’ad bersama Abu Bakar dan Umar. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, aku mengenali mana tangisan Umar dan mana tangisan Abu Bakar. Saat itu aku masih di kamarku. Mereka seperti yang Allah firmankan, ‘Berkasih sayang sesama mereka.’ Alqamah bertanya, ‘Ibunda! Apa yang dilakukan Rasulullah Saw ? Aisyah menjawab, “Beliau tidak pernah menangisi siapa pun. Hanya saja ketika sedih, beliau memegangi jenggot beliau’” (H.R Ahmad)

Saat kaum muslimin mengeksekusi putusan Sa’ad bin Mu’adz terkait Bani Quraizhah. Pada detik-detik itu Ummul Mundzir Ra berada di dekat Nabi Saw. Ia melihat akhir riwayat Bani Quraizhah. Di antara Yahudi Bani Quraizhah ada Rifa’ah bin Samuel Al-Qarazhi. Ia punya jasa pada Ummul Mundzir dan saudaranya (Salith bin Qais), juga orang-orang perkampungan lainnya. Saat ditahan, ia mengirim utusan untuk menemui Ummul Mundzir Ra dan menyampaikan pesan, “Berbicaralah kepada Rasulullah Saw agar melepaskanku, karena aku punya hak bagi kalian. Dan kau adalah salah satu ibu beliau.”

Nabi Saw melihat rona bingung tergambar jelas di wajah Ummul Mundzir. Beliau lantas bertanya, “Kamu kenapa, Ummul Mundzir?!”

Ia berkata, “Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu wahai Rasululllah. Rifa’ah bin Samuel sering berkunjung ke kediaman kami, dan ia punya hak bagi kami. Maka berikanlah dia padaku.’

Rasulullah Saw melihat Rifa’ah berlindung pada Ummul Mundzir lalu beliau berkata, ‘Baik, dia untukmu. ‘Setelah itu Ummul Mundzir berkata, ‘Wahai Rasulullah, dia akan shalat dan makan daging unta.’

Senyum Nabi Saw mengembang lalu bersabda, ‘Kalau dia mau shalat, itu baik baginya. Namun jika tetap bertahan pada agamanya, itu buruk baginya. ‘Rasulullah Saw pun melepaskan Rifa’ah.

Ummul Mundzir berkata, “Rifa’ah setelah itu masuk Islam’.”

Meraih Ridha Allah dalam Baiatur Ridhwan

Ummul Mundzir Ra kembali berbaiat. Namun, kali ini ia berbaiat di bawah pohon dalam baitur Ridhwan untuk meraih Ridha Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Mendengar keberangkatan Nabi Saw, Quraisy mengadakan pertemuan. Mereka akhirnya memutuskan menghadang kaum muslimin untuk memasuki Ka’bah dan menjalankan umrah. Nabi Saw mengirim Utsman bin Affan Ra sebagai utusan untuk menyampaikan pesan kepada Quraisy bahwa Nabi Saw datang bukan untuk berperang.

Utsman pun berangkat. Namun Quraisy menahan Utsman bin Affan cukup lama. Mungkin saja mereka hendak mengajaknya bermusyawarah untuk memecahkan masalah yang sangat rawan ini. Baru setelah itu, mereka mengembalikan Utsman dengan jawaban yang mereka tulis dalam secarik surat. Karena cukup lama Utsman tertahan di pihak Quraisy, akhirnya merebak isu di kalangan kaum muslimin bahwa Utsman dibunuh. Saat ini terdengar Rasulullah Saw, beliau bersabda, “Kita tidak akan beranjak sebelum membereskan perkara dengan mereka.”

Setelah itu, beliau mengajak para shahabat untuk berbaiat. Para shahabat segera mendekat dan berjanji untuk tidak melarikan diri, sekelompok shahabat bahkan ada yang berjanji untuk mati. Orang pertama yang berbaiat kepada beliau adalah Abu Sinan Al-Asadi. Salamah bin Akwa’berbaiat untuk mati sebanyak tiga kali kepada beliau, yaitu pada gelombang terakhir pembaitan. Setelah itu, Rasulullah Saw memegangi tangan beliau sediri dan mengatakan, “Ini mewakili Utsman.” Setelah prosesi baiat terakhir, Utsman datang dan lansung berbaiat kepada beliau. Semua rombongan ikut dalam baiat ini, kecuali satu orang munafik bernama Jadd bin Qais.

Rasulullah Saw melansungkan baiat ini di bawah sebuah pohon. Saat itu Umar memegangi tangan beliau, sedangkan Ma’qil bin Yasar memegangi salah satu dahan pohon. Ia angkat dahan itu agar tidak mengenai Rasulullah Saw (HR.Muslim)

Inilah Baiatur Ridhwan. Terkait hal ini Allah Swt menurunkan ayat, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (Al-Fath : 18)

Ummul Mundzir ikut berbaiat untuk mati bersama yang lain, hingga meraih kebaikan dunia akhirat. Allah meridhainya dan mengharamkan jasadnya bagi neraka. Sebab, Nabi Saw pernah menyampaikan, “Tidak masuk neraka seorang pun yang berbaiat di bawah pohon.” (HR. Muslim)

“Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai-sungai”

Ummul Mundzir termasuk perawi hadist wanita, karena ia memiliki banyak hafalan hadist Nabi Saw. Sampai-sampai haditsnya diriwayatkan Ummu Sulaith bin Ayyub bin Hakam, Ayyub bin Abdurrahman, dan Ya’qub bin Abu Ya’qub Al-Madani.

Setelah melalui usia penuh berkah dan perjalanan panjang keimanan ini, akhirnya tamu kita, Ummul Mundzir yang berbaiat dua kali dan shalat menghadap dua kiblat ini, tidur di atas ranjang kematian. Ruhnya naik menuju haribaan Sang Pencipta.

Kita tidak kuasa melepas kepergiannya selain membaca firman Allah Swt :

“Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai-sungai , di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa.”
(Al-Qamar : 54-55)

Semoga Allah meridhainya, membuatnya senang, dan menjadikan surga Firdaus sebagai tempat kembalinya.

Sumber : Kisah 35 Shahabiyah Rasul

 

%d bloggers like this: