0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Kali ini kita akan menjelajahi kisah hidup wanita yang disebut-sebut pemegang kemuliaan dan keutamaan , mari kita mulai dengan menjejaki asal-usul dengan mahkota kepemimpinan dan memancarkan kemulian dari segala penjuru.

Ummu Fadhl ia biasa dipanggil. Suaminya adalah Abbas paman Rasulullah, pemimpin Bani Hasyim yang selalu melindungi  tetangga, berbagai harta, membantu orang-orang kesusuhan, memberi pakaian orang yang tidak punya pakaian, dan memberi makan orang lapar. Anaknya adalah ulama umat dan penerjemah Al-quran; Abdullah bin Abbas.

Selain Abdullah, Ummul Fadhl juga punya anak-anak lain; Fadhl yang dengan nama inilah ia dipanggil dengan kuniah Ummul Fadhl, Ubaidullah, Qutsam, Ma’bad, Abdurrahman, dan Ummu Habibah.

Ubaidullah bin Yazid Al-hilali menuturkan tentang Ummul Fadhl;

Tak seorang wanita mulia pun yang melahirkan anak mulia yang dibalut dari perut Ummul Fadhl

Paman Nabi Al-Musthafa pemilik kemuliaan

Entah di pegunungan ataupun ditanah datar yang kami ketahui

Begitu mulianya seorang wanita dan lelaki dewasa

Dan alangkah mulianya penutup para rasul dan sekaligus rasul terbaik

Saudari-saudarinya  adalah Maimunah binti Harits Ummul Mukminin, istri nabi. Nabi menikahinya pada tahun 6 Hijriyah, dan ia termasuk salah satu pemimpin kamu wanita. Saudari-saudari lainnya; Lubabah sibungsu Ashma, izzah dan Huzailah. Mereka semua anak-anak Harits.

Di antara saudara-saudara seibunya; Asma, Sulma, dan Salamah. Mereka semua anak-anak Umais. Perhatikanlah tanaman yang baik dan diberkahi ini. Sungguh ebuah kemuliaan yang tak tertandingi. Ada yang menyebut; Zainab binti Khuzaimah Al-Hilaliyah istri Nabi adalah saudara seibu mereka.

Ia (Ummul Fadhl) adalah bibi Khalid bin Walid yang disebut-sebut Rasulullah, Khalid bin Walid pedang Allah yang Allah hunus terhadap orang-orang musryik. Syaifullah.

Abu Bakar menuturkan tentang Khalid “Para wanita tidak mampu melahirkan orang seperti Khalid” Masih adakah kebanggan lain setelah kebanggaan ini? Adakah kemulian lain setelah kemulian ini?

Manusia Paling Kemulia Kekerabatannya

Ada yang menyebut ibu Ummul Fadhl, wanita tua dari Harasy, sebagai manusia paling mulia kekerabatannya. Sebab, Maimunah adalah istri Nabi, Abbas menikahi saudari sekandungnya, Lubabah. Hamzah menikahi saudarinya, Salma. Ja’far bin Abi Thalib menikahi saudari sekandungnya, Asma. Lalu setelah itu, Asma dinikahi Abu Bakar Ash-Shidiq. Kemudian setelah itu Asma, dinikahi Ali.

Saudai-Saudari yang Beriman

Lebih dari itu, Nabi memberikan kesaksian untuknya, juga saudari-saudarinya sebagai wanita yang beriman. Beliau bersabda, “Empat wanita bersaudara; Maimunah, Ummul Fadhl, Salam, dan Asma binti Umais saudar seibu mereka adalah wanita mukminah.”

Betapa kesaksian agung yang keluar dari mulut Ash-Shadiq yang tiada berbicara berdasarkan hawa nafsu. Sebuah kesaksian yang tulus dan jujur jauh dari niat keduniawiaan.

Termasuk Golongan Wanita yang Lebih Dulu Masuk Islam

Mentari Islam terbit di atas bumi Jazirah, dan wahyu turun kepada Rasulullah. Mereka yang memiliki hati suci dan fitrah lurus pun menghampiri Islam dan mengikuti manusia terbaik. Wanita pertama masuk Islam adalah Khadijah. Lantas, siapa gerangan sahabat wanita mulia yang masuk Islam setelah Khadijah?

Jawabannya adalah Ummul Fadhl, tamu kita kali ini.

Imam Adz-Dzahabi menyebutkan; tak seorang pun dari kalangan kaum wanita yang masuk Islam sebelumnya. Maksudnya setelah Khadijah.

Ummul Fadhl masuk Islam. Ia berada di barisan depan kafilah penuh berkah yang masing-masing di antaranya mendapat pujian Allah melalui firman-Nya, “Dan orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sunagi-sungai.

“Mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”
(At-Taubah: 100)

Sabar dan Mengharap Pahala

Begitu mengetahui keislaman para sahabat Rasulullah, kaum Quraisy lansung melancarkan serangan penyiksaan berskala besar untuk menyiksa mereka agar meninggalkan Islam. Ummul Fadhl menyaksikan para sahabat disiksa. Namun ia hanya bisa menangis, karena tidak punya kuasa apapun.

Saat firman Allah Swt berikut turun; “Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdo’a, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu’.”
(An-Nisa : 75)

Ibnu Abbas, anaknya, berkata, “Aku dan ibuku termasuk orang-orang lemah.” (HR.Bukhari)

Saat Nabi Saw mengizinkan para shahabat berhijrah ke Madinah, Ummul Fadhl tidak bisa berhijrah bersama yang lain, karena suaminya, Abbas, belum masuk Islam saat itu. Salah satu sumber menyebutkan; Abbas sudah masuk Islam sebelum peristiwa hijrah, hanya saja ia tidak memperlihatkan keislamannya.

Ummul Fadhl baru bisa pergi dari Mekah ke Madinah setelah penakhlukan Mekah. Ia sedih  kehilangan kebaikan ini karena tetap tinggal di Mekah, jauh dari Nabi Saw dan para shahabat.

Sikap mulia suami Ummul Fadhl Pada Peristiwa Aqabah

Meski suaminya, Abbas, tetap menganut agama kaumnya. Namun pada peristiwa Aqabah kedua, ia punya sikap mulia yang ia tunjukkan kepada Nabi Saw.

Diriwayatkan dari Ka’ab bin Malik Ra terkait kisah Baiatul Aqabah kedua;

Pada malam itu, kami tidur di tengah rombongan kaum kami. Begitu sepertiga malam berlalu, kami keluar meninggalkan rombongan dan menuju tempat yang telah kami janjikan untuk bertemu Rasulullah Saw. Kami semua berjalan mengendap-endap dengan sangat hati-hati, hingga akhirnya kami semua berkumpul di bukit Aqabah. Jumlah kami saat itu ada 73 lelaki dan 2 wanita, yaitu Nashihbah binti Ka’ab, Ummu Umarah dari Bani Mazin bin Najjar, dan Asma’ binti Amr bin Adi bin Nabi, dari Bani Salamah. Ia adalah Ummu Mani’.

Kami pun berkumpul di bukit menanti kedatangan Rasulullah Saw, tidak lama beliau datang didampingi paman beliau, Abbas bin Abdul Mutthalib, yang saat itu masih musyrik. Meski begitu, ia tetap saja turut serta dalam urusan sang keponakan, dan memastikan kebenaran hal tersebut. Dialah orang pertama yang angkat bicara.

Setelah beliau duduk, orang pertama yang angkat bicara adalah Abbas bin Abdul Mutthalib, paman Rasulullah Saw Abbas menjelaskan :

“Wahai kaum Khajraj!-orang Arab memang menyebut kaum Anshar dengan nama Khajraj, baik untuk suku Khajraj sendiri ataupun Aus- Muhammad bagi kami adalah seperti yang telah kalian tahu. Kami bersusah payah melindungi beliau dari gangguan kaum kami. Beliau kini sudah memutuskan untuk bergabung dan tinggal bersama kalian. Jika kalian mau memenuhi janji seperti yang kalian ajukan pada beliau, melindungi beliau dari siapa pun yang menentang, silahkan kalian ajak beliau. Namun jika kalian sia-siakan beliau tanpa perlindungan setelah beliau pindah bersama kalian, maka biarkan saja beliau disini terhitung sejak saat ini. Karena di tengah kaum dan negerinya ini, beliau adalah orang terhormat dan mendapat perlindungan.”
(Sirah Ibnu Hisyam)

Menuju Madinah Al-Munawwarah

Ummul Fadhl tetap tinggal bersama Abbas di Mekah hingga setelah perjanjian Hudaibiyah. Saat Rasulullah Saw datang bersama kaum muslimin di Mekah untuk menjalankan umrah dan singgah selama tiga hari di sana, beliau meminang Maimunah, saudari Ummul Fadhl. Ia menjanda setelah ditinggal mati suaminya, Abu Ruhm bin Abdul Uzza. Maimunah adalah muslimah dan mukminah, sementara mendiang suaminya tetap menganut kesyirikan. Ia tinggal di rumah saudarinya, Ummul Fadhl, dirawat Abbas.

Setelah itu, Rasulullah Saw bersama para shahabat meninggalkan Mekah. Saat itulah Abbas bersama Ummul Fadhl dan seluruh keluarga berhijrah ke Madinah.

Di Madinah, Ummu Fadhl sering datang ke rumah Rasulullah Saw, baik saat beliau berada di rumah saudarinya, Maimunah Ummul Mukminin, maupun saat berada di rumah istri-istri beliau lainnya. Karena, siapa pun mengetahui keutamaan Ummu Fadhl.

Di sana, mereka tinggal di tempat kaum Anshar yang disebut Allah melalui firman-Nya:

“Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(Al-Hasyr : 9)

Ummul Fadhl termasuk wanita terhormat. Ia gemar menuntut ilmu, sehingga hafal banyak Al-Qur’an dan sunnah. Tidak heran, karena dia adalah ibu ulama umat; Abdullah bin Abbas.

Abbas ikut dalam perang Badar Karena Dipaksa

Sebagian ahli sejarah menyebutkan, bahwa Abbas Ra masuk Islam sebelum peristiwa hijrah dan ia menyembunyikan keislamannya. Kalangan lain menyebutkan, Abbas masuk Islam sebelum penakhlukan Mekah.

Kaum Quraisy merasakan ada ganjalan di hati terkait Abbas. Mereka meragukan keislamannya, namun mereka tidak punya bukti, terlebih secara kasat mata Abbas sependapat dengan mereka. Hingga tibalah waktu perang Badar. Kaum Quraisy ingin menghilangkan keraguan itu dan membuatnya ikut serta berangkat bersama mereka dalam peperangan ini.

Itulah kenapa Nabi Saw melarang para shahabat membunuh Abbas Ra.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Nabi Saw menyampaikan kepada para shahabat, “Aku tahu, ada sejumlah orang dari Bani Hasyim dan lainnya yang diajak serta secara paksa. Mereka tidak merasa perlu memerangi kita. Maka barangsiapa bertemu dengan seorang Bani Hasyim, jangan membunuhnya. Barangsiapa bertemu Abul Bakhtari bin Hisyam, jangan membunuhnya. Barangsiapa bertemu Abbas bin Mutthalib, jangan membunuhnya. Karena ia diajak secara paksa.” (Sirah Ibnu Hisyam)

Keberanian Tiada Tara

Bagus sekali Ummul Fadhl kala menuliskan lembaran ini di kening sejarah dengan goresan-goresan cahaya.

Selain Allah menakdirkan kemenangan untuk kaum muslimin dalam perang Badar, Ummul Fadhl punya sikap agung yang menampakkan keimanan tulus, akidah nan kokoh, dan keberanian gemilang yang ia miliki.

Mari kita mendengarkan kisah Abu Rafi’, maula Rasulullah Saw, yang menuturkan sikap monumental Ummul Fadhl terhadap musuh Allah, Abu Lahab.

Diriwayatkan dari Ikrimah, maula Ibnu Abbas, ia berkata, “Rafi’, maula Rasulullah Saw, menuturkan;

Dulu aku adalah pembantu Abbas. Saat itu beberapa anggota keluarganya sudah masuk Islam. Abbas masuk Islam, begitu pula Ummul Fadhl, dan aku sendiri. Abbas segan kepada kaumnya dan tidak ingin bersilang pendapat dengan mereka. Abbas menyembunyikan keislamannya ini. Ia memiliki banyak harta yang tersebardi tengah-tengah kaumnya. Saat perang Badar, Abu Lahab tidak ikut serta. Sebagai gantinya, ia mengirim Ash bin Hisyam bin Mughirah. Seperti itulah yang mereka lakukan, ketika ada yang tidak ikut perang, mereka mengirim seseorang sebagai pengganti.

Ketika berita kekalahan pasukan Quraisy tiba, Allah membuatnya hina dan rendah. Sementara kami merasa kuat dan perkasa. Sementara aku adalah orang lemah yang bertugas membuat anak panah. Aku meraut sambil duduk di batu pembatas sumur Zam-zam. Demi Allah, saat aku sedang duduk meraut panah dan di dekatku ada Ummu Fadhl yang juga tengah duduk. Kami sangat gembira saat itu, tiba-tiba Abu lahab berjalan dan menyeret kedua kakinya yang lemah, hingga ia duduk di pinggir batu pembatas sumur Zam-zam. Ia sandarkan punggungnya ke punggungku.

“Ini dia Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Mutthalib sudah tiba,” kata orang-orang.

Abu Lahab bertanya, “Kemari! Apa kabar yang kau bawa?”

Abu Sufyan kemudian duduk di dekatnya, sementara orang-orang berdiri di hadapannya.

“Nak, sampaikan kepadaku, bagaimana kabar kaum Quraisy?” tanya Abu Lahab kembali.

Abu Sufyan menjelaskan, “Saat kami berhadapan dengan mereka (kaum muslimin), kami serahkan pundak-pundak kami pada mereka, mereka pun menyerang kami semau mereka dan menawan kami semau mereka. Demi Allah, sekalipun begitu, aku tidak menyalahkan siapa pun. Kami saat itu berhadapan dengan orang-orang berpakaian putih sambil menunggangi kuda perkasa, berkeliaran di antara langit dan bumi. Demi Allah, kuda-kuda itu tidak meninggalkan jejak sedikit pun dan tidak menginjak apa pun.”

Aku (Abu Rafi’) kemudian mengangkat batu pembatas Zam-zam sambil berkata, “Demi Allah, itu adalah para malaikat.”

Abu Lahab mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu memukul wajahku dengan keras. Aku hendak melawannya, namun ia membantingku ke tanah. Ia lalu menindihiku sambil melancarkan pukulan bertubi-tubi. Padahal, aku ini sudah lemah. Ummu Fadhl bangun lalu memungut tiang pembatas zam-zam, lalu memukul Abu Lahab dengan keras sekali hingga menimbulkan luka. Ummu Fadhl berkata, “Engkau berani menyiksa orang ini ketika tuannya tidak ada.”

Setelah itu, Abu Lahab beranjak pergi dengan menundukkan muka. Demi, Allah, Abu Lahab hanya bertahan hidup selama 7 hari setelah itu. Allah menimpakan luka bisul di sekujur tubuh hingga ia mati. (HR. Ibnu Katsir)

Ummul Fadhl Menyusui Pemimpin Kaum Muda Penghuni Surga

Inilah keutamaan agung Ummul Fadhl Ra ; menyusui Husain bin Ali yang bersama Hasan disebut-sebut Rasulullah Saw, “Hasan dan Husain adalah dua pemimpin kaum muda penghuni surga.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

Diriwayatkan dari Simak bin Harb, bahwa Ummul Fadhl berkata, “Wahai Rasulullah, aku bermimpi, sebagian tubuhmu ada di rumahku.’ Beliau berkata, ‘Fatimah akan melahirkan anak lalu kau menyusuinya dengan susu kedermawanan.’ Fatimah kemudian melahirkan Husain, lalu aku membawanya. Saat beliau menciumnya, ia kencing lalu aku mencubitnya hingga menangis. Beliau berkata, ‘Kau telah menyakiti anakku.’ Setelah itu beliau air lalu beliau tuangkan (di bekas kencing Husain)’. (Al-Hafizh Ibnu Hajar)

Riwayat lain menyebutkan; Ummul Fadhl menyusuinya hingga ia bergerak-gerak. Setelah itu, ia bawa kehadapan Nabi Saw kemudian ia dudukkan di pangkuan beliau. Ia kemudian kencing lalu aku memukul di antara kedua punggungnya. Nabi Saw berkata, ‘Kau telah menyakiti anakku, semoga Allah merahmatimu,’” dan seterusnya hingga akhir hadits.

Ulama Umat dan Imam Tafsir

Kebahagiaan Ummul Fadhl tidak sampai di sini. Ia juga bahagia karena anaknya, Abdullah bin Abbas, yang ia lahirkan saat berada di perkampungan di tengah-tengah pengepungan kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim – tiga tahun sebelum hijrah. Ia melihat keunggulan anaknya itu di bidang ilmu-ilmu agama. Ia pun teringat kabar gembira besar yang pernah disampaikan Nabi Saw padanya saat mengandung Abdullah.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ummul Fadhl binti Harits bercerita kepadaku, ia berkata, ‘Suatu ketika aku melintas, sementara Nabi Saw berada di Hijr. Beliau memanggilmu, wahai Rasulullah. ‘Beliau berkata, ‘Kau mengandung anak lelaki.’ Aku berkata, ‘Lalu bagaimana, sementara orang-orang Quraisy sudah saling bersumpah untuk tidak punya anak perempuan?’ Beliau berkata, ‘Apa yang aku katakan benar. Setelah kau melahirkannya, bawalah dia kepadaku.’ Setelah aku melahirkan anakku, aku membawanya kehadapan Nabi Saw. Beliau lalu memberinya nama Abdullah. Beliau lalu men-tahnik-nya dengan air liur beliau. Setelah itu beliau berkata, ‘Bawalah dia, kau akan mendapatinya menjadi (anak) cerdas.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Aku kemudian menemui Abbas lalu aku sampaikan hal itu padanya. Ia tersenyum. Setelah itu, ia menemui Nabi Saw . Abbas adalah orang tampan dan jangkung. Begitu melihatnya, Nabi Saw berdiri menghampirinya lalu mencium di antara kedua matanya dan mendudukkannya di sebelah kanan beliau. Setelah itu beliau berkata, ‘Ini pamanku. Siapa yang mau, silahkan membanggakan pamannya.’ Abbas kemudian berkata, ‘Jangan begitu, wahai Rasulullah.’ Beliau berkata, ‘Kenapa tidak aku katakan seperti itu, sementara kau adalah pamanku, yang tersisa dari ayah-ayahku. Paman adalah ayah’.” (HR. AlHaitsami)

Meraih Do’a Nabi

Abbas Ra mendampingi Nabi Saw selama kurang lebih 30 bulan. Ia adalah lelaki rupawan, tampan, jangkung, berwibawa, sempurna akal, cerdas jiwa, dan termasuk lelaki sempurna.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Nabi Saw merangkulku di dada beliau. Beliau kemudian berdo’a, ‘Ya Allah! Ajarilah dia hikmah’.” (HR. Bukhari)

Riwayat lain menyebutkan ; Ibnu Abbas berkata, “Nabi Saw mengusap kepalaku dan mendoakan hikmah untukku.” (H.R.Bukhari)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Rasulullah Saw suatu ketika berada di rumah Maimunah. Aku kemudian meletakkan air wudhu untuk beliau pada malam hari. Maimunah berkata, ‘Wahai Rasulullah, (air wudhu) ini disediakan untukmu oleh Abdullah bin Abbas.’ Beliau kemudian berdo’a, ‘Ya Allah ! Berilah ia pemahaman dalam agama dan ajarilah ia takwil’.” (HR.Ahmad)

Saat Nabi Saw wafat Ibnu Abbas berusia 13 tahun. Ia adalah ulama umat dan dijuluki “Samudera” karena banyaknya ilmu yang ia miliki. Umar dan Utsman sering memanggilnya, lalu memberikan nasihat kepada kedanya bersama para veteran Badar. Ibnu Abbas memberikan fatwa pada masa Umar dan Utsman hingga ia meninggal dunia.

Seperti itulah Allah membahagiakan hati ibunya kala melihat kedudukan keilmuannya yang kian hari kian terangkat tinggi.

Kecerdasan

Ummu Fadhl menjalani hari-hari terbaik sepanjang hidup, mempelajari perilaku, kesabaran, akhlak, dan ilmu Nabi Saw. Ia meriwayatkan sejumlah hadits. Bahkan kedua anaknya ; Abdullah dan tamam, juga Anas bin Malik, Abdullah bin Harits, dan lainnya, meriwayatkan hadits darinya.

Lebih dari itu, Allah memberikan kemuliaan padanya. Ia iku menunaikan haji wada’ dengan Nabi Saw didampingi sang suami, Abbas. Ia punya sikap agung pada hari Arafah.

Diriwayatkan dari Umair, maula Abdullah bin Abbas, dari Ummul Fadhl binti Harits, bahwa sejumlah orang berdebat di dekatnya pada hari Arafah terkait puasa Rasulullah Saw. Sebagian menyatakan beliau berpuasa. Yang lain berkata beliau tidak berpuasa. Aku (Ummul Fadhl) kemudian mengirim segelas air susu kepada Rasulullah saat beliau tengah wukuf di atas unta ketika di Arafah. Beliau kemudian meminumnya. (H.R Bukhari)

Perpisahan dengan Rasullullah Saw

Kala kebahagiaan keimanan berkibar di atas kehidupan Ummul Fadhl, tiba-tiba awan kesedihan menaungi langit Madinah. Rasulullah Saw meninggal dunia hingga membuatnya sedih tiada terkira, nyaris mengoyak hatinya. Namun ia mengharap pahala di sisi Allah atas musibah kematian Rasulullah Saw untuk meraih pahala orang-orang sabar.

Sepeninggal Rasulullah Saw, Ummul Fadhl tetap rajin beribadah, zuhud, shalat malam, berpuasa, bahkan menuntut ilmu dan bersungguh-sungguh hati dalam berdakwah menuju Allah.

Abu Bakar, Umar, dan Utsman mengetahui kedudukannya di sisi Rasulullah Saw, sehingga ia meraih segala penghormatan. Sebab, ia termasuk orang-orang yang lebih dulu masuk Islam yang rela mengorbankan apa pun jua demi membela agama Allah.

Akhir usia Ummul Fadhl

Setelah melalui perjalanan panjang pengorbanan untuk agama Allah, akhirnya Ummul Fadhl Ra tidur di atas ranjang kematian setelah berbuat banyak. Setelah ia mempersembahkan “ulama umat” Abdullah bin Abbas untuk umat ini, itu sudah cukup baginya. Putranya ini berada di dalam timbangan amal baiknya pada hari kiamat kelak. Sebab Nabi Saw pernah menyampaikan, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga (perkara) ; sedekah yang pahalanya terus mengalir, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (H.R. Muslim)

Ummul Fadhl pergi untuk mendapatkan segala kebaikan, karunia dan nikmat di sisi Rabba, di surga-Nya, tempat rahmat-Nya berada.

Semoga Allah meridhainya, membuatnya senang, dan menjadikan surga Firdaus sebagai tempat kembalinya. Bgeitulah kisah indah nan menakjubkan dari Ummul Fadhl, semoga kisah wanita mulia ini menjadi inspirasi kehidupan bagi sahabat muslimah semua. Menjadi inspirasi yang menggugah dan juga mengubah tentunya.

Sumber : Buku Kisah 35 Shahabiyah Rasul

%d bloggers like this: