0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Satu minggu terakhir beredar ava serta photo profil dengan corak pelangi di facebook, bahkan Mark zurkeberg melalui facebooknya ia menciptakan tools khusus untuk mengubah latar foto menjadi warna pelangi. Ada apa dengan warna pelangi?

Tepat 26 Juni 2015 kemaren Mahkamah Konstitusi (MK) Amerika membuat keputusan mengejutkan masyarakat dunia yaitu disahkannya pernikahan sesama jenis dan statusnya diakui oleh negara, keputusan ini berlaku untuk wilayah Amerika beserta 5o Negara bagian Amerika.

Keputusan inipun didukung oleh presiden Amerika Barack Obama, pendiri facebook, pemilik brand-brand ternama didunia hingga artis-artis di negeri ini (Indonesia) pun latah mengikutinya dengan cara memasang photo dengan latar pelangi serta memberikan dukungan melalui berbagai postingan di sosial media dengan tagar #LoveWins

***

LGBT (Lesbian , Gay, Biseksual dan Transgender ) ini bukanlah hal baru di Indonesia, karena beberapa waktu lalu di Indonesia kelompok ini juga sudah mencoba mengajukan kepada pihak pemerintah meminta agar status mereka diakui oleh negara dan pernikahan mereka juga di akui oleh negara. Mereka (kaum liberal) yang memperjuangkan LGBT memandang ini sebagai sebuah gen yang dari sananya, tidak bisa diubah dan bagian dari ciptaan tuhan sehingga mereka ingin kaum LGBT ini memiliki hak yang sama sebagaimana manusia lainnya. Benarkah demikian? untuk mengetahui hal ini secara lebih mendalam ada baiknya anda baca artikel runtuhnya teori gen gay .

Seperti dijelaskan dalam artikel runtuhnya teori gen gay diatas jelas kalau LGBT bukanlah tentang gen atau turunan, namun sebuah penyakit atau kelainan yang disebabkan oleh banyak hal apakah itu pendidikan dari orang tua sejak kecil, lingkungan, teman bergaul, berbagai macam trauma seksualitas dan lain sebagainya. Pada tulisan kali ini kita tidak membahas secara mendetail tentang hal tersebut karena memang sudah banyak dibahas, namun titik berat tulisan ini adalah bagaimana pandangan kita atau sikap kita terhadap kasus LGBT ini.

1. LGBT jelas-jelas bertentangan dengan fitrah manusia dan Islam

Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan adalah untuk melanjutkan keturunan, ini fitrah manusia, tujuannya adalah agar umat manusia ini tidak punah, sementara LGBT yang mereka nikah sesama jenis tentu sangat-sangat bertentangan dengan fitrah manusia. Ini bukanlah hal baru karena tabiat menyukai lawan jenis telah ada sejak zaman nabi luth dahulu kala, hingga Allah memberikan azabnya kepada mereka.

2. Menjaga diri dan keluarga dari “kelainan LGBT”

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”  (At-Tahrim: 6)

Lagi-lagi ini adalah tugas utama bagi para orang tua serta juga mesti dipahami oleh calon orang tua, semua bayi yang lahir kedunia dalam keadaan suci layaknya kertas putih yang bersih tanpa noda. Maka peran orang tuanyalah yang membentuk seperti apa kepribadian dan karakter anaknya. Hal pertama dan utama yang mesti dipahami oleh para orang tua adalah poin-poin penting dalam pendidikan anak diantaranya yang paling fundamental adalah menanamkan akidah dan tauhid pada anak sejak ia masih kecil bahkan sejak di dalam kandungan. Menjaga pergaulannya, menjaga apa yang didengar dan ditonton pastikan yang masuk kepada mata dan telinga anak-anak kita adalah hal positive yang bernilai kebaikan.

3. Peduli kepada LGBT bukan dengan cara mendukung kesalahannya

Terlepas dari apapun penyebab seseorang memiliki kelainan menyukai sesama jenis, salah satu sikap penting kita kepada mereka adalah berusaha meluruskan mereka. Meluruskan kesesatannya dan mengarahkan kepada jalan kebenaran, jika mereka adalah muslim mengingatkan akan hal ini dengan kisah-kisah kaum terdahulu yang telah Allah beri azab seperti kaum nabi luth. Kita tidak boleh memusuhi mereka, kita peduli pada mereka namun kepedulian ditunjukkan bukan dengan mendukung kesesatannya akan tetapi dengan mengingatkannya kejalan kebaikan.

%d bloggers like this: