0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Laa ilaha ilallahu wallahu akbar… Allahu Akbar walillahilham!

Alhamdulillah takbir sahut-bersahutan, menggema di pelosok negeri ini menyambut hari dan mulia lagi bahagia hari raya Idul Adha. Kebahagiaan menyelinap dalam relung jiwa, kebahagiaan karena Allah beri kesempatan berbagi rezeki dalam bentuk Qurban atau mungkin kebahagiaan karena mendapatkan daging qurban yang mana memiliki cita rasa dan keenakan tersendiri mungkin disanalah berkahnya. Kebahagiaan lain yang tentu juga dirasakan oleh sahabat, saudara, kerabat dan handai taulan kita yang Allah beri kesempatan untuk menunaikan ibadah haji di baitullah.

Ketika menyambut hari raya Idul adha, hari raya haji atau juga kita sering sebut sebagai hari raya qurban mengingatkan kita pada satu sejarah istimewa yaitu sejarah Nabiyullah Ibrahim AS, yang pada satu ketika Allah uji keimanannya, Allah uji keyakinan, Allah uji keikhlasannya dengan meminta ia mengorbankan putranya tercinta Nabiyullah Ismail AS melalui mimpinya.

Mengorbankan anak yang dicintai, yang dinanti apalagi kita semua tau kalau nabiyullah Ismail AS adalah putra yang beliau tinggalkan sejak masih berada dalam kandungan bersama ibundanya siti hajar ditanah padang tandus dan gersang.

Sebuah kisah yang pada akhirnya diabadikan Al-quran dan menjadi sebuah perayaan yang sakral bagi umat Islam disetiap tahunnya. Ada banyak makna, ada banyak mutiara yang bisa kita ambil dari perayaan hari raya haji ini, diantaranya adalah :

1. Mutiara keikhlasan

Ilmu ikhlas, kalau sahabat semua pernah menonton film “kiamat sudah dekat” karya deddy mizwar yang diperankan oleh andre taulany. Disana terlihat setelah andre diuji dengan beberapa hal mulai dari shalat, baca doa, baca Al-quran hingga yang terakhir diminta harus menguasai ilmu ikhlas sebagai persyaratan untuk bisa menikahi anak bapak haji yang diperankan Deddy mizwar.

Tugas-tugas pertama berhasil dikuasai oleh andre, sampai terakhir ia menemui yang terberat yaitu ilmu ikhlas. Tak perlu saya lanjutkan kisah ini bagi yang sudah menonton tentu paham bagaimana akhirnya. Intinya difilm itu kita belajar tentang ilmu ikhlas, begitu juga dalam kehidupan ini kita selalu belajar dan dituntut untuk menguasai ilmu ini.

Ilmu ikhlas adalah bersedia memberikan apapun yang Allah kehendaki baik itu menyenangkan ataupun terasa sulit (meskipun sejatinya Allah tak pernah menyulitkan hambanya). Ilmu ikhlas adalah menerima apapun ketentuan Allah baik itu hal-hal yang kita sukai maupun tidak kita sukai. Dari nabiyullah ibrahim AS dan putranya Ismail AS kita belajar tentang ilmu ikhlas. Bagaimanapun menyembelih ismail anaknya adalah suatu yang berat dan tidak ringan baginya begitupun bagi Ismail akan tetapi ia tau itu perintah Allah dan ia yakin setiap perintah Allah adalah yang terbaik baginya. Maka disanalah terlihat kualitas ikhlasnya nabi Ibrahim AS dan Ismail AS yang tercatat dalam surah  Ash-Shoffat (37) :

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?” ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

2. Mutiara keimanan yang begitu kuat

Level dan tingkatan keimanan, itulah yang Allah anugrahkan kepada Nabiyullah Ibrahim AS dan Ismail AS. Kalau bahasa kerennya level keimanan Nabi Ismail, Nabi Ibrahim dan Siti hajar ini sudah level tertinggi. Dunia serta isinya sudah dikalahkan oleh keimanan dan kecintaannya kepada Allah SWT serta Akhirat yang kekal kelak.

Keimanan menjadi penentu utama seseorang untuk berkorban, untuk ikhlas, untuk beribadah. Keimanan yang tidak hanya terucap dimulut, dibenarkan hati dan diamalkan dalam perbuatan tapi juga keimanan yang juga hidup bersama jiwanya. Keimanan yang selalu diasah, keimanan yang selalu ditempa sehingga kualitasnya makin hari makin baik dan membanggakan.

Terkadang hanya untuk berkorban kambing Rp.2.500.000,- per tahun atau hanya dengan menabung Rp.6849,- per hari terasa begitu berat bagi kita. Bukan kita tak punya uang, bukan kita belum mampu namun terkadang tingkat keimanan kita belum mencapai hal ini. Kalau kita lihat diluar sana banyak orang yang kondisi ekonominya sangat memprihatinkan sebenarnya tapi bisa berkorban tiap tahun. Semoga Allah sampaikan niat-niat kita untuk mampu berkorban dan juga melaksanakan ibadah haji ditahun-tahun depan.

3. Mutiara Menjadikan Allah sebagai prioritas pertama diatas segala-galanya. 

“Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Q.S. Al-Qoshosh : 77

Dalam surah diatas Allah jelaskan kepada kita untuk menjadikan akhirat sebagai prioritas utama, Allah lanjutkan “jangan kamu melupakan bahagianmu di dunia” .Sebuah kalimat yang begitu indah, menjadikan dunia hanya sekedar “jangan dilupakan” sehingga dunia menjadi sampingan bukan prioritas utama. Orang-orang yang menjadikan Allah dan akhirat sebagai prioritas utamanya inilah yang Allah beri karunia keimanan dengan kualitas terbaik sehingga mampu memberikan korban yang terbaik untuk agama ini. Tidak hanya mengorbankan seekor kambing tentu juga mengorbankan hal-hal lain dibulan-bulan berikutnya untuk Agama Allah ini.

Itulah mutiara hikmah yang bisa kita dapatkan dari perayaan hari raya idul qurban. Semoga menjadi inspirasi kebaikan bagi kita semua.

Sumber foto : www.wartabuana.com

%d bloggers like this: