0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Shalat adalah ibadah yang utama dalam Islam dan diwajibkan bagi muslim yang telah baligh. Namun kita perlu mengajarkannya sejak dini kepada anak, agar mereka mampu dan terbiasa melakukannya dengan baik dan benar.

Apakah Islam memiliki panduan mengajarkan shalat kepada anak-anak?

Yup, tak hanya soal ibadah itu sendiri yang secara detil dikupas dalam Islam, namun termasuk juga bagaimana cara mengajarkannya kepada anak.

Dalam buku Prophetic Parenting, Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid membagi 3 periode pengajaran shalat untuk anak-anak :

  1. Periode memerintahkan shalat
  2. Periode pengajaran shalat
  3. Periode memerintahkan shalat dan memukul jika enggan

Pertama, periode memerintahkan shalat.

Fase ini disebut sebagai fase pembiasaan. Pada fase ini orangtua dapat mengajak anak untuk melakukan shalat bersama-sama. Secara persis, Rasulullah menyatakan, “Jika seorang anak sudah mengenal dan mampu membedakan tangan kanan dan kirinya, maka perintahkan ia untuk melakukan shalat.” (HR. Thabrani dari Abdullah bin Habib).

Kedua, periode pengajaran shalat.

Di masa ini orangtua mengajarkan anak rukun-rukun shalat, kewajiban-kewajiban dalam menunaikan shalat, hal-hal yang membatalkan shalat dsb. Nabi saw sendiri telah menetapkan bahwa usia tujuh tahun merupakan awal periode pengajaran.

“Ajarilah anak kalian mengerjakan shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah ia jika telah mencapai sepuluh tahun ia mengabaikannya”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dengan sanad shahih).

Rasulullah saw juga meluruskan kesalahan anak dalam menunaikan shalat, yang tertuang dalam hadits berikut. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa ia berkata, “Rasulullah melihat seorang anak yang bernama Aflah, dimana ketika sujud ia meniup (debu yang ada di tanah) lalu beliau pun bersabda, “Wahai Aflah, tempelkan saja mukamu ke tanah” (dengan sanad dhaif).

Setiap hendak mengimami shalat, Rasul juga senantiasa menyampaikan saran agar anak-anak menempati shaf terakhir. Selain itu Rasulullah saw juga mengingatkan anak-anak untuk tidak menoleh ke kanan dan ke kiri saat shalat. Dalam hadits riwayat Tirmidzi, ia meriwayatkan dari Anas ra, “Rasulullah bersabda, ‘Wahai Anakku, janganlah engkau menoleh kesana kemari dalam shalat, karena hal itu dapat merusak shalat. Jika engkau terpaksa melakukan hal itu maka hanya boleh dilakukan dalam shalat sunnah, dan bukan dalam shalat fardhu” (terdapat perawi yang tingkatnya dhaif dalam sanad hadits ini).

Sahabat Nabi seperti Ali bin Abi Thalib juga mengajari anaknya tentang tata cara berwudhu. Sementara Sa’ad bin Abi Waqqash mengajari doa-doa ma’tsur kepada anak-anaknya. Diriwayatkan dari putra Sa’ad bernama Mush’ab, ia berkata, “Sa’ad telah mengaajrkan keapda kami lima hal yang dijadikan sebagai bacaan dan zikir oleh Nabi saw, ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kekikiran, kepengecutan, dikembalikan pada umur yang paling lemah (pikun), fitnah dunia dan siksa kubur.” (riwayat Abu Ya’la dengan sanad shahih).

Pengajaran dengan nasihat dan terlebih lagi, teladan yang dicontohkan langsung oleh orang dewasa, akan sangat membekas pada anak. Anak adalah peniru yang sangat ulung dan mereka belajar dari apa yang dilihat sehari-hari. Maka di masa ini, pendampingan, arahan serta contoh dari orangtua sangat-sangat diperlukan.

Ketiga, periode memerintahkan shalat dan memukul jika enggan

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. Ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Suruhlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka jika mengabaikannya ketika berusia sepuluh tahun serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud dan Hakim).

Syekh Waliyullah Dahlawi menjelaskan hadits ini sebagai berikut,
“kata Balagha dalam hadits ini mengandung dua aspek. Pertama bila ia dianggap sehat secara kejiwaan. Hal ini tewujud atas fungsi akalnya. Tanda berfungsinya akal ini yaitu ketika anak berusia sepuluh tahun. Sejak usia tujuh tahun, seorang anak mulai berpindah kepada fase berikutnya secara jelas dan puncaknya adalah pada usia sepuluh tahun. Ketika berusia sepuluh tahun inilah seorang anak secara normal telah berakal dan bisa mengetahui mana yang bermanfaat dan mana yang mendatangkan madharat. Kedua, ketika anak telah mempunyai kematangan mental dan fisik, yaitu ketika anak berusia lima belas tahun pada umumnya. Di antara tanda-tanda baligh ini adalah mimpi basah dan tumbuhnya bulu kemaluan. Pad afase ini anak sudah mampu mengemban tugas jihad, dapat mengatur masalah harta dan kemasyarakatan serta yang semisalnya.
Dalam hal ini ibadah shalat memiliki 2 fungsi. Pada pengertian baligh pertama adalah sebagai sarana hubungan antara dirinya dengan Sang Pelindungnya yang akan menyelamatkannya dari terjerumus ke dalam neraka. Pada pengertian baligh kedua merupakan bagian dari syiar-syiar Islam yang memang harus dilaksanakan. Dalam hal ini pelanggarnya tentu akan memperoleh sanksi. Demikian juga harus dipaksakan baik suka maupun tidak. Hukumnya adalah seperti perintah-perintah yang lain. Mengingat bahwa usia sepuluh tahun merupakan pemisah antara 2 batas, maka pada usia ini ada tugas tersendiri”.

Memukul yang dimaksud di sini juga memiliki tata cara tersendiri yang diatur dalam Islam. Insyaa Allah akan dibahas di tulisan berikutnya. Jadi orangtua juga tidak boleh memukul anak secara sembarangan. Lebih jauh lagi, orangtua perlu menilik apakah pukulan tersebut dimaksudkan untuk mendidik anak atau sudah terbumbui dengan kemarahan karena emosi/selain karena Allah, yang tentu saja perlu kita hindari.

Demikian cara mendidik anak untuk menegakkan shalat. Sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud ra. Berkata, “Peliharalah shalat anak-anakmu dan biasakan mereka berbuat kebaikan karena sesungguhnya kebaikan itu adalah kebiasaan” (diriwayatkan oleh Tirmidzi).  Dengan meneladani cara yang Nabi dan sahabat lakukan, insyaa Allah akan terbentuk kesadaran diri pada anak-anak muslim untuk melaksanakan shalat.

Pengajaran yang baik, pembiasaan yang dicontohkan, serta penegakkan disiplin menjadi kata kuncinya. Wallaahu a’lam bishshawab.

 

Referensi : Buku Cara Nabi Mendidik Anak, karya Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid, Penerbit Al I’tishom 2009

pict dari http://www.123rf.com/stock-photo/pray.html

%d bloggers like this: